Note: forwarded message attached.


Blab-away for as little as 1¢/min. Make PC-to-Phone Calls using Yahoo! Messenger with Voice.

******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************




SPONSORED LINKS
Philosophy beauty product Philosophy Philosophy beauty
Philosophy of Philosophy amazing grace Philosophy hope in a jar


YAHOO! GROUPS LINKS




--- Begin Message ---
THE SILENCE WILL BE SPOKEN
OLEH:
AUDIFAX
Peneliti di IISA-Surabaya, Penulis buku “Mite Harry Potter”(2005, Jalasutra)
 
Kisah sejarah adalah nyanyi sunyi orang-orang yang kalah, mereka yang terpinggirkan dalam kultur. Sebaliknya, sejarah adalah Hymne bagi para pemenang kehidupan kultural, karena melalui tangan merekalah kisah sejarah dituliskan. Kisah sejarah yang dituliskan oleh pemenang inilah yang menjadi nyanyian nina-bobo bagi banyak orang, sekaligus membisukan kisah dari mereka yang kalah. Orang, banyak mengamini kisah sejarah sebagai kebenaran tunggal. Tapi apakah memang kisah sejarah selalu menjadi nyanyi sunyi orang-orang yang kalah?
 
Ada sebuah tagline menarik dari film Da Vinci Code yang diputar serentak 19 Mei 2006 di seluruh dunia, yaitu: “The Silence will be broken”. Tagline itu menyiratkan adanya suatu kesunyian yang terpecahkan. Tak pelak, tagline itu merujuk pada kontroversi novel Da Vinci Code karya Dan Brown, yang membuat banyak orang menjadi ragu akan kisah “sejarah” Yesus dalam Kitab Suci. Kontroversi semacam ini, berkemungkinan terjadi pada semua orang menempatkan “Kisah” dalam Kitab Suci sebagai “Sejarah”. Jadi membacanyapun seperti membaca sejarah, yang di dalamnya selalu terandaikan adanya kebenaran. Begitu pula dengan kisah Yesus, baik kelompok orang yang “terpukau nalar dan terguncang iman” atau mereka yang serta merta menyanggah Dan Brown, keduanya sama-sama menempatkan kisah yang selama ini telah dikenal melalui Kitab Suci, tak ubahnya ketika kita belajar sejarah G 30 S/PKI, yang sama-sama terandaikan adanya kebenaran.
 
“Kisah”, apalagi yang bersifat mitologis seperti Yesus, pada kesejatiannya memang bukan kisah sejarah. Barangsiapa membaca kisah-kisah semacam ini sebagai sejarah dan mengandaikan kebenaran di dalamnya, maka seketika itu juga sebenarnya dia tidak mendapat apa-apa, selain kepercayaan. Kisah-kisah mitologis, memang bukan untuk mengatakan kebenaran, tapi menyampaikan pesan kehidupan. Pesan yang menyapa masing-masing dari mereka yang kebetulan bertemu dengannya. Pesan yang hanya bisa diurai melalui perenungan masing-masing. Dan, ketika pesan dari kisah itu memang telah menginspirasi dan menuntun kehidupan seseorang menjadi lebih baik, maka apa perlunya lagi “kebenaran” bagi orang itu?. Manusia yang membutuhkan “kebenaran”, adalah mereka yang membutuhkan “kepercayaan”. Mereka yang membutuhkan “kepercayaan” adalah mereka yang tak sanggup berdiri di kedua kaki sendiri sehingga membutuhkan “kepercayaan” sebagai sandaran.
 
Menurut Plato, manusia adalah mahkluk ganda. Ia memiliki tubuh yang “berubah terus”. Anda bisa melihatnya? Ya, tubuh memang berubah terus, yang paling kelihatan, tubuh berubah seiring usia. Namun, manusia yang memiliki tubuh yang “berubah terus” ini, juga manusia yang tak bisa dilepaskan dari dunia indra serta tunduk pada takdir yang sama seperti segala sesuatu yang lain di dunia ini. Semua hal yang dicandra oleh indra, tak bisa lepas dari tubuh yang “berubah terus”, sehingga tak bisa dipercaya sepenuhnya. Bagaimana bisa percaya? Bukankah indra adalah bagian dari tubuh yang berubah terus? Begitulah kira-kira argumentasinya. Namun, Plato meyakini bahwa manusia juga memiliki jiwa yang abadi, jiwa yang menjadi dunia akal. Oleh karena tidak bersifat fisik, maka jiwa (dalam pengertian Plato) ini dapat menyelidiki dunia ide.
 
Plato kurang lebih menggambarkannya demikian, ketika manusia menemukan berbagai bentuk (arche) di dunia alam, maka sebenarnya suatu ingatan samar-samar menggerakkan jiwanya. Ketika melihat kuda misalnya, sebenarnya ia belum melihat kuda yang sempurna. Ya, ada sesuatu di balik kuda yang tampak itu. Terutama kenapa kuda selalu melahirkan kuda. Seekor kuda selalu melahirkan bentuk mahkluk yang sama, seekor kuda. Seolah ada “cetakan” yang memungkinkan mereka hadir sama. cetakan inilah yang dalam pemikiran Plato adalah arche yang mendahului ‘Ada’ dari kuda itu.
 
Penglihatan atas kuda, sebenarnya sudah cukup untuk membangkitkan arche-type (bentuk utama) akan kuda, sebuah ingatan samar tentang ‘cetakan’ kuda. Sebuah kuda yang sempurna, yang mendahului ‘Ada’, yang tak terjelaskan kata-kata. Hey, tunggu dulu, saya bukan sedang membicarakan kuda pertama di dunia, namun adanya suatu bentuk tak terjelaskan, yang mendahului bentuk kuda, suatu arche-type kuda. Ingatan yang menggerakkan jiwa untuk kembali dengan kerinduan, kembali pada tempatnya yang sejati. Plato menyebut kerinduan ini Eros, yang berarti cinta. Maka, jiwa sebenarnya mengalami kerinduan untuk kembali pada asal-usulnya yang sejati, ketika ia melihat arche-type.
 
Penjelasan ini mirip dengan apa yang dikemukakan Carl Gustav Jung. Melalui konsep yang kurang lebih mirip, yaitu arche-type, Jung menjelaskan bahwa archetype mengaktivasi suatu energi tertentu dalam diri manusia. Energi ini menuntun pada individuasi, keutuhan diri (Self) yang disimbolkan sebagai Mandala. Ya, Mandala juga menjadi banyak simbol dalam agama. Bahkan Salib pun merupakan simbol Mandala. Selama manusia hidup di dunia, ia tak akan mampu mencapai keutuh-bulatan Self atau mandalanya, namun mandala ini selalu ada di depan perjalanan hidup manusia. Arche-type adalah penuntunnya, ia bisa tampil dalam bentuk simbol-simbol, mite, atau berbagai hal.
 
Sepintas, konsep ini memiliki kemiripan di beberapa sisi dengan konsep Ubermensch-nya Nietzche. Seperti dijelaskan, Ubermensch juga tak akan bisa dicapai manusia selama di dunia. Tak ada manusia di dunia yang bisa menjadi Ubermensch, namun Ubermensch ini selalu berada di depan manusia, di depan manusia-manusia yang memiliki Will to Power untuk mengangkat dirinya dari keterjebakan dalam ke-manusia-annya. Manusia yang memiliki Will to Power untuk menatap Ubermensch, bukanlah manusia-manusia dekaden yang membutuhkan ”kepercayaan” untuk sandaran hidupnya. Manusia-manusia ini berani berkata “YA” pada hidup yang sejatinya penuh ketakpastian dan menghadapinya. “Kepercayaan” tak memberi apa-apa, bahkan kepercayaan pada Tuhan sekalipun. Inilah yang secara cerdas pernah disindir oleh Jung dalam sebuah wawancara di BBC, melalui kalimatnya: “I don’t need to believe in God, I know”
 
Jung dan Plato, memberi gambaran suatu jalan hidup yang ideal, sebab tak semua manusia membiarkan jiwanya bebas untuk memulai perjalanan ke dunia ide atau dunia arche. Kebanyakan orang justru bergantung pada “bayangan” ide di dunia indra. Plato, sebenarnya juga menyadari bahwa semua fenomena alam itu hanyalah bayang-bayang dari bentuk ide yang kekal, suatu Arche-Idea. Kebanyakan orang puas dengan kehidupan di tengah bayang-bayang itu. Mereka mengira hanya bayang-bayang itulah yang ada, tanpa pernah menyadari bahwa bayang-bayang tersebut, sesungguhnya hanya bayang-bayang.
 
Plato mengemukakan sebuah mite yang menggambarkan hal ini, yaitu Mite Gua. Di dalam sebuah gua bawah tanah, ada beberapa orang yang duduk membelakangi mulut gua. Tangan dan kakinya terkekang sedemikian rupa sehingga mereka hanya dapat memandang dinding di belakang gua. Di belakang mereka ada api menyala. Ada beberapa budak berjalan-jalan didepan api itu sambil memikul bermacam-macam benda. Hal itu mengakibatkan bayangan-bayangan para budak itu jatuh pada dinding gua, tepat di hadapan orang-orang yang duduk terikat memandang dinding gua tersebut. Karena orang-orang terikat sedemikian rupa sehingga tak bisa menoleh melihat ke belakang, maka yang mereka saksikan tak lebih dari bayangan. Celakanya, bayangan itulah yang kemudian mereka sangka sebagai realitas sebenarnya dan tak ada lagi realitas yang lain. Namun, setelah beberapa waktu, seorang tahanan berhasil melepaskan diri. Ia melihat di belakang mereka, yaitu di mulut gua, ada api yang menyala. Ia mulai memperkiraan bahwa bayang-bayang yang biasa dia saksikan bersama teman-temannya yang terikat, bukanlah realitas sebenarnya. Lalu, ia beranjak ke mulut gua, melihat matahari yang menyilaukan matanya. Mulanya ia berpikir dirinya teah meninggalkan realitas, tetapi setelah merenungkan, ia pun menyadari bahwa justru itulah realitas yang sebenarnya, dan ia menyadari bahwa realitas seperti ini belum pernah dilihatnya, terutama ketika ia masih dalam keadaan terikat di dalam gua. Lalu, ia kembali ke dalam gua, menemui kawan-kawannya yang masih terikat di situ. Ia berkisah pada mereka, dan mengatakan bahwa bayang-bayang yang mereka lihat bukan realitas sebenarnya, melainkan tak lebih dari bayangan, citraan, pantulan. Sayang, kawan-kawannya tak mempercayai perkataannya, dan seandainya mereka mampu, mereka ingin membunuh orang yang berani mengatakan bahwa bayang-bayang yang ada di dinding itu hanya bukan kebenaran.
 
Seperti inipulalah orang-orang yang melihat kisah-kisah Mitologis seperti Yesus sebagai Kisah Sejarah dengan segala kebenarannya. Mereka jadi terperangkap pada bayang-bayang kisah itu ketimbang esensi pesan dari kisahnya sendiri. Mereka mempersoalkan “kebenaran”, sesuatu yang sama sekali tak perlu dipersoalkan dalam kisah mitologis ketika kita sudah mampu menangkap pesannya.
 
Jacques Lacan, psikoanalisis Perancis, pernah mengemukakan pemikirannya yang mirip dengan Mite Gua dari Plato. Seperti dijelaskan Lacan pada mirror stage. Bayi awalnya hanya dapat melihat tubuhnya sebagai bagian-bagian saja, bayi belum mengenal konsep keseluruhan. Ketika bayi bercermin, ia melihat bayangan tentang dirinya (citra, image), ia berpikir bahwa itu adalah dirinya. Padahal itu hanya citraan. Tetapi orang lain (ibu) meyakinkan bahwa citraan dalam cermin itu adalah dirinya. Pengidentifikasian diri ini disebut misrecognition, ketika bayi melihat bayangannya di cermin, ia berpikir bahwa bayangan (citra) itu adalah dirinya. Sehingga Lacan berpendapat bahwa ego atau self atau “I”dentity merupakan fantasy, karena proses pengidentifikasian berasal dari eksternal image dan bukan internal. Kemudian Lacan mengatakan fase demand dan miror stage sebagai realm of the imaginary.
 
Di sinilah kemudian Lacan menjelaskan bahwa hasrat yang menggerakkan manusia, tidak akan pernah dapat dipenuhi.  Hasrat di sini bukan hasrat untuk  beberapa objek  (need) atau hasrat untuk kasih sayang atau bagaimana orang lain menanggapi dirinya (demand) tetapi hasrat untuk menjadi pusat dari sistem, pusat simbol-simbol, pusat bahasa itu sendiri yang disebut sebagai Phallus. Di sini Lacan meminjam teori Freud yaitu oedipus complex. Pada tahap phallic, anak laki-laki mencintai ibunya dan menganggap bahwa ayah merupakan saingannya. Tetapi ayah lebih kuat dibandingkan dirinya, dan ada ketakutan pada diri anak bahwa ayahnya akan memotong penisnya. Oedipus complex digambarkan sebagai situasi dimana anak laki-laki ingin menyatu dengan ibunya, ada hasrat untuk melakukan hubungan intim dengan ibunya. Menurut Freud, konsep kehilangan atau lack direpresentasikan dengan kehilangan penisnya.
 
Konsep Lack inilah yang menimbulkan hasrat untuk memenuhi lack itu. Anak yang ingin menyatu dengan ibunya tapi terhalang ayah, lalu berusaha menjadi ayah, berusaha menjadi phallus. Karena hanya phallus yang bisa menyatu dengan ibu.
 
Implikasi psikologisnya dan implikasi sosial dari penjelasan Freud dapat disimak dari pemaparan berikut. Ketika  bayi mulai mengenal konsep self dan other, pada mulanya lingkupnya kecil, bayi mendefinisikan bahwa self adalah dirinya dan other adalah ibunya. Pada saat beranjak dewasa anak memiliki pemahaman yang berbeda dengan masa kecilnya, konsep self sekarang sudah menjadi semakin luas. Self adalah sukuku, etnisku dan bangsaku, agamaku. Ini merupakan implikasi psikologis, dimana konsep ini lebih menitikberatkan pada ide, imajinasi atau pemikiran anak mengenai self dan other. Pada masa dewasanya self yang semula dirinya berkembang menjadi sukuku, etnisku, bangsaku, agamaku. Padahal, semua konsep self ini adalah citraan cermin, atau mirip dengan bayang-bayang di gua dalam cerita Plato.
 
Begitulah manusia yang terjebak dalam tatanan simbolik. Mereka mengambil begitu saja bayang-bayang di cermin dan menganggap itu dirinya. Mereka sudah tak mampu lagi secara tulus mengisahkan sendiri siapa dirinya, karena begitu banyak kisah-kisah dari citraan di cermin yang diambil sebagai kisah dirinya. Begitu pula mereka yang tak mampu lagi menangkap sapaan dari Kisah Yesus pada kehidupan dirinya, karena ia hanya menangkap bayang-bayang dari kisah itu. Karena ia tak mampu lagi melihat keterhubungan pesan dari kisah itu dengan dirinya. Karena ia hanya membutuhkan kisah itu sebagai kebenaran sejarah yang mampu memberinya kepercayaan, bukan pengetahuan atau pengenalan. Dan orang-orang yang membutuhkan “kepercayaan” dalam hidupnya, tak lebih dari orang-orang lemah yang tak bisa berdiri di kaki sendiri dan membutuhkan kepercayaan itu untuk tempat bersandar. Merekalah orang-orang terikat dalam gua dan tak berani keluar untuk menatap matahari.
 
Ketika kisah Da Vinci Code hadir menohok salah satu bayang-bayang itu, maka seketika orang-orang ini bereaksi. Mereka merasa ada sesuatu yang menelanjangi. Ibarat cerita dongeng mengenai Sang Raja yang telah tertipu oleh penjahit yang mengatakan bahwa Sang Raja tengah mengenakan pakaian mahal yang tak dapat dilihat mata biasa, maka Da Vinci Code adalah anak kecil yang dalam cerita dongeng itu berani mengatakan pada Sang Raja bahwa ia tak mengenakan apa-apa. Inilah sebuah kesalahan dalam memahami “Kisah”. Semua bentuk “kisah” dalam Kitab Suci, sebenarnya bersifat mitologis dan oleh karenanya bertujuan menyampaikan pesan personal bagi masing-masing orang yang kebetulan tersapa oleh kisah itu. Bukan untuk dikenakan sebagai pakaian kebenaran. Tapi, memang tak bisa dipungkiri pula, bahwa kisah-kisah mitologis dalam agama itu, banyak yang telah dirubah sedemikian rupa oleh para penipu menjadi sebuah “kepercayaan”, persis seperti penjahit yang mengatakan tentang pakaian mahal yang tak kelihatan mata.
 
Da Vinci Code sebenarnya adalah sebuah sapaan dalam bentuk lain untuk mencairkan kesejatian kisah. Sapaan untuk mengajak kembali pada bentuk asal, pada dunia ide, dunia arche-Idea. Dunia yang sejatinya dirindukan manusia. Da Vinci Code, sebenarnya adalah ajakan untuk berhening dan mendengarkan suara dari Sang Ilahi. Sesuatu yang dalam konsep Lacan, berada di tatanan Real. Berhening dari segala euforia bayang-bayang, ilusi dan citraan akan kebenaran. Berhening dan kembali pada kesejatian pesan dari kisah Yesus itu sendiri, yang hanya akan menyapa masing-masing dari kita, menyapa nama demi nama dari kita [seperti disimbolkan pada gambar Yesus yang mengetuk pintu], bukan menyapa kita sebagai kerumunan tempat kita mencari sandaran kepercayaan seperti: kerumunan Katolik, kerumunan Kristen dan kerumunan-kerumunan lain. Kerumunan akan menghilangkan keunikan masing-masing dari kita.
 
Jadi, tak perlu usil atau meributkan apakah Yesus menikah dengan Maria Magdalena seperti orang meributkan apakah Bambang Trihatmodjo menikah dengan Mayangsari, karena memang kisah Yesus bukan infotaintment gossip, melainkan sebuah mitologi yang di dalamnya termuat pesan bagi masing-masing dari kita yang berbeda satu sama lain. Pesan yang tak akan tertangkap dalam kehingaran kerumunan. Maka, ketika berhadapan dengan kisah Da Vinci Code, lebih bijak jika kita tak menghadapi dengan kehingaran, tapi justru berheninglah untuk menangkap pesan dari kisah itu pada anda. Dan, dalam keberheningan tersebut, The Silence never be broken. The Silence is Always Silence, but  Now it’s Spoken.
 
© Audifax – 23 Mei 2006
 
NB: Saya mem-posting esei ini ke milis Psikologi Transformatif, Vincent Liong, R-Mania, Pasar Buku, Alumni St. Louis, Club Tarot, Ruang Baca dan Forum Studi Kebudayaan. Mungkin akan ada rekan-rekan dari milis-milis tersebut yang akan mem-forward esei ini ke sejumlah milis lain. Karena keterbatasan waktu, saya hanya akan menanggapi diskusi di milis Psikologi Transformatif. MELALUI ESEI INI PULA SAYA MENGUNDANG SIAPAPUN YANG TERTARIK UNTUK BERDISKUSI DENGAN SAYA UNTUK BERGABUNG DI MILIS PSIKOLOGI TRANSFORMATIF (www.groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif)
 
 


Talk is cheap. Use Yahoo! Messenger to make PC-to-Phone calls. Great rates starting at 1¢/min.
--- End Message ---

Kirim email ke