|
Culture Talk:
Nyadran
Di kampung saya masih sering diadakan upacara
nyadran. Meski frekuensinya sangat berkurang dibandingkan ketika saya masih
kecil dulu. Dulu sewaktu saya masih kecil, setiap bulan 'Ruwah', hampir setiap
rumah mengadakan kenduri untuk mengenang arwah anggota keluarga yang telah
meninggal. Sehingga setiap bulan 'Ruwah', hampir tiap petang saya bisa makan
daging ayam kampung yang direbus. Tapi acara kenduri seperti itupun sekarang
berkurang sekali. Hanya masih tersisa satu dua keluarga yang bersedia
mengadakannya.
Sedangkan 'nyadran' adalah semacam kenduri juga
yang biasa diadakan di tempat keramat. Di kampung kami terdapat dua
tempat keramat ini: Sumur Kidul (sebuah sumur tua dengan pohon beringin besar )
dan Punden (yang dipercaya sebagai tempat peristarahatan Sunan Giri sewaktu
singgah di kampung kami. Kini kampung di mana terdapat petilasan
Sunan Giri tersebut diberi nama kampung Giren (kependekan dari 'Sunan Giri
leren'). Setahun sekali pada peringatan hari bersih desa (sedekah bumi),
orang-orang membawa ayam ingkung lengkap dengan nasi dan lauk-pauknya ke Punden.
Di sana mereka akan saling berbagi: dan dengan demikian memulihkan harmoni
(keselarasan) hubungan manusia dengan sesamanya, manusia dengan alam
semesta, bahkan manusia dengan roh-roh gaib yang tidak kelihatan.
Inti budaya Jawa adalah: Harmoni (keselarasan).
Keselamatan ditemukan di dalam harmoni. Sehingga kenduri disebut juga: slametan.
Di dalam kenduri, orang sekampung berkumpul, dan berbagi makanan dari 'ambeng'
yang sama: hubungan baik dipulihkan, harmoni kembali ditegakkan. Orang Jawa
bukan saja merindukan harmoni dalam hubungan antar manusia tapi juga hubungan
manusia dengan alam semesta, bahkan dengan roh-roh gaib yang tidak kelihatan:
maka diberikanlah sesaji di tempat-tempat angker: sumur-sumur tua dan
pohon-pohon besar. Mereka tidak bermaksud 'menyembah' roh-roh
tersebut, tapi sekedar bermaksud memulihkan keselarasan dengan seluruh alam
(termasuk dengan alam yang tidak kelihatan).
Karena hanya di dalam keselarasan (harmoni) dapat
ditemukan keselamatan. Jika harmoni ini terganggu maka timbulah bencana: banjir
bandang, perang, kerusuhan, terorisme, sakit-penyakit... dan semua
bentuk 'sengkala' lainnya.
Walahualam.
***
****************************************************** Milis Filsafat Posting : [email protected] Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ Website : http://filsafatkita.f2g.net/ Berhenti : [EMAIL PROTECTED] ******************************************************
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
|
- [filsafat] Nyadran yohanes sutopo
- [filsafat] Nyadran yohanes sutopo
