|
Intermezzo:
Hik
Hik adalah tempat saya wedangan setiap hari. Di
warung hik saya dapat menemukan sajian menu-menu yang sederhana dan murah:
wedang jahe, teh panas, kopi, susu (dengan segala variasinya), dan berbagai
gorengan: tempe, tape, tahu susur, tela, rolade (daun singkong yang
dibungkus tahu dan tepung). Juga ada menu nasi kucing, sate usus dan kepala
ayam.
Hik bukan sekedar tempat makan dan minum. Hik juga
merupakan tempat yang ideal untuk bersosialisasi dan menjaga hubungan baik
dengan orang-orang di sekitar kita. Hik juga menjadi sumber informasi!
Berita-berita terkini seputar kampung bisa kita ketahui dengan cepat dari hik.
Bahkan implikasi dari kebijakan-kebijakan pemerintah seperti kenaikan BBM dan
dana kompensasinya bisa kita rasakan dampaknya di warung hik. Di warung hik kita
melihat kebenaran dalam realitas, bukan sekedar kebenaran di atas kertas. Soal
dana kompensasi, misalnya, seorang ketua RT yang juga sering wedangan di hik
tersebut mengeluh bahwa ia didesak rakyatnya agar dana kompensasi itu
dibagi saja merata untuk seluruh warga. Jika tidak, itu akan mempengaruhi
sendi-sendi gotong royong di desa, dan dikhawatirkan pada acara-acara kerja
bakti atau hajatan, akan ada orang-orang yang tak bersedia rewang (kerja gotong
royong) karena tidak menerima dana kompensasi. Hal-hal seperti itu tidak nampak
di atas kertas, tapi di warung hik kita dapat melihatnya begitu
jelas. Pejabat dan menteri saya kira harus rutin mengunjungi hik, agar tahu
realitas yang sebenarnya di masyarakat.
Hik juga merupakan tempat hiburan yang gratis. Saya
dapat bermain catur tiap hari hingga tengah malam. Di warung hik tersebut
akan ngumpul jagoan-jagoan catur di kampung kami. Salah satunya adalah
Kerdil: orangnya pendek dan dia tak terkalahkan. Saya selalu kalah melawan dia.
Salah seorang kawan berkelakar, bahwa Kerdil jago main catur karena tubuhnya
pendek. Apa soal? Karena tubuhnya pendek, maka jarak hati ke otaknya
pun makin singkat: jadi dia lebih cepat menangkap sinyal-sinyal yang memercik
dari hati. Meskipun dia hanya berkelakar, saya merenung dalam: kecerdasan yang
sejati harus mengalir dari hati, bukan dari pikiran semata. Kecerdasan pikiran
melahirkan berbagai ideologi. Satu ideologi melawan ideologi yang lain;
satu sistem melawan sistem yang lain. Dan manusia terhimpit di tengahnya.
Manusia bisa menjadi begitu kejam demi mempertahankan suatu ideologi (atas nama
apapun!). Sedangkan belaskasih, yang mengalir dari hati, tidak bersifat
ideologis. Jika saya harus memilih antara suara hati yang penuh belas
kasih dan tuntutan ideologi, saya akan menolak ideologi tanpa ragu-ragu.
Soal suara hati ini saya teringat essay Mohammad Sobari (pemimpin
Kantor Berita Antara) yang saya dengar di Smart FM:
"Kata hati, mata hati
Bukan kecerdasan, atau kepandaian
Buat apa cerdas dan pandai, tapi tak memiliki mata
hati dan kata hati yang terang.
Mata hati dan kata hati yang selalu bicara
ketulusan dan sikap jujur."
DOA: Ya, Tuhan, pendekkanlah jarak otak dan
Hatiku.
*** ****************************************************** Milis Filsafat Posting : [email protected] Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ Website : http://filsafatkita.f2g.net/ Berhenti : [EMAIL PROTECTED] ******************************************************
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
|
