|
ATHEIS
Dalam sekian detik mereka berdua hanya
terngana-nganga menyaksikan Merapi melelehkan lava pijar pada ujung putingnya.
Memerah melawan gelap malam. Bahkan purnama di pojok langit nampak
tertunduk malu, mengaku kalah bahwa malam ini memang bukan lagi miliknya.
Abdi yang sedari tadi tak pernal lepas meneropong
Merapi dengan kamera telenya pun kini membeku, decak kagum berulang-ulang
spontan meluncur dari mulutnya, tersembur bersama asap rokok kretek yang tak
putus-putus dihisapnya. Matanya membasah. Ia mungkin, haru.
Tuhan memang mengagumkan!, Abdi memecah
kesunyian.
Sarman melempar pandang pada Abdi, seakan ada
sesuatu yang lebih perlu diperhatikan ketimbang eksotisme Sang
Merapi.
Indah ya indah, di!, Sarman mencoba memulai
konfrontasi. "Nggak usah disangkutpautkan sama Tuhan",
Sar, yang indah itu ya karunia Tuhan. Elo setuju
gak kalau si Mita itu indah? Nah dia itu karunia terbesar Tuhan buat gue!,
kelit Abdi, tanpa pernah melepas tatapannya pada gunung itu. Seperti Merapi
ini, adalah termasuk salah satu karunia terbesar Tuhan yang pernah gue
lihat!
Sarman, yang tidak memiliki kebiasaan merokok, kali
ini mulai ikut menyulutnya sebuah. Menghisapnya dalam-dalam, hingga bara di
ujung rokok tersebut menimbulkan bunyi melentik bersautan.
Elo itu terlalu melankolis. Apa-apa loe kaitkan
dengan Tuhan. Waktu elo putus sama Sari, loe bilang berarti Tuhan memang nggak
menciptakan Sari buat elo. Terus, kemarin bencana Jogja, loe bilang itu karena
Tuhan punya pesan tertentu,
Hening. Sekian menit. Kedua sahabat karib itu kini
kembali menatap cahaya di kejauhan.
Coba deh mulai sekarang elo menerima segalanya,
tanpa repot-repot narik-narik Tuhan dalam masalah-masalah elo. Pasti segalanya
akan lebih enteng, dan solusi akan lebih mungkin ditemukan!
Abdi menutup rapat jaket birunya. Dingin menusuk.
Mungkin pula itu pertanda, ia enggan berdebat tentang hal ini.
Jangan sampai loe menyembah sesuatu yang loe
ciptakan sendiri, kayak orang Israel yang menciptakan patung, kemudian
disembah-sembah!, Sarman mulai mencari cara lain memancing Abdi untuk
meresponnya lebih jauh.
Maksud loe, Tuhan itu nggak ada? Tuhan itu cuma
ada di pikiran gue doank? Aslinya emang nggak ada gitu?
Tepat seperti itu!, Sarman melempar batang
rokoknya yang belum juga setengah terhisap.
Bukan Tuhan yang maha kasih, tapi elo, manusia,
yang mau jadi maha pengasih, tapi sadar nggak akan kesampaian, lalu melemparkan
gelar itu ke pribadi luar, yang kemudian disebut Tuhan. Bukan Tuhan yang maha
Adil, tapi manusia yang bercita-cita mau adil, bukan Tuhan yang maha baik, tapi
manusialah yang punya cita-cita mau baik!
Di kejauhan, Merapi nampak makin menyala, badannya
mulai teraliri lava pijar. Semburat membentuk simponi yang
mengagumkan.
Dada Abdi serasa sebah. Ada segumpal sanggahan yang
tak terdefinisikan. Sebuah pikiran yang sulit untuk diartikulasikan. Seakan ada
sebilah pedang terhunus pada lehernya, padahal ia memiliki sebuah pistol untuk
melawan namun tak tahu cara menggunakannya.
Tiba-tiba, wajah Sarman menjadi pucat pasi.
Tubuhnya nampak menggigil, namun pasti bukan karena hawa dingin. Kedua tangannya
mengatup, meruncing menutupi hidung dan mulutnya.
Balik sekarang aja di!, ucapnya gugup. Udah gue
bilang khan tempat ini angker!, Sarman mulai mengemas lensa
telenya.
"Eh, kenapa loe Sar, baru liat apa emang
!"
"Udah, cepetan. Ntar gue ceritain di jalan ! Dan jangan pernah ajak gue lagi ke tempat kayak begini !" ========================
johan wowor
My Blog : http://yuljeworo.sekolah-bisnis.com/
****************************************************** Milis Filsafat Posting : [email protected] Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ Website : http://filsafatkita.f2g.net/ Berhenti : [EMAIL PROTECTED] ******************************************************
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
|
