|
Refleksi:
Pram
Pram (bukan nama sebenarnya) lahir di tengah
keluarga yang terhormat. Kedua orang tuanya bekerja di jawatan pemerintah dan
sangat disegani di desanya. Semua saudaranya, kakak-kakak dan adik-adiknya, jadi
'orang' di kota: ada yang jadi tentara, atau bekerja di bank yang bergengsi, dan
sebagainya... Tapi Pram sendiri yang celaka dalam hidupnya: ia terpuruk di
lokalisasi murahan, di dalam pelukan seorang pelacur yang tidak lagi muda
usianya dan tidak cantik pula wajahnya.
Tentu semua orang dalam keluarga Pram prihatin
atas nasib yang menimpa, atau mungkin sengaja dipilihnya sendiri itu.
Berkali-kali keluarga Pram berusaha membebaskan pemuda malang itu dari
lembah hitam: saudara-saudaranya di kota berulang kali membawa Pram ke
Jakarta dan mencarikannya pekerjaan di sana. Bahkan kedua orang tuanya tak
segan-segan mencarikan seorang istri banginya agar ia mau meninggalkan pelacur
itu, dan hidup normal sebagai seorang petani di desa. Tapi berulangkali
pula Pram mengecewakan keluarganya: ia selalu kembali ke tempat lokalisasi
murahan itu, ke dalam pelukan seorang pelacur tua yang tidak begitu cantik
wajahnya...
Analisa kejiwaan:
Tinggal di tengah keluarga yang terhormat, dan
memiliki saudara-saudara yang jadi 'orang', tidak selalu menjadi hal yang mudah:
tentu akan banyak tuntutan bagi seorang yang berada di tengah keluarga
seperti itu: harus begini, harus begitu... tidak boleh begini, tidak boleh
begitu... Dan tuntutan-tuntutan semacam itu bisa menjadi sangat membebani:
seringkali kita terpaksa harus memakai topeng atau berpura-pura menjadi
orang lain demi memenuhi tuntutan yang berhubungan dengan 'status' yang
ditempelkan orang pada kita. Kita bahkan takut menjadi diri sendiri. Dan
terus-menerus memakai topeng tentu akan sangat melelahkan!
Saat kelelahan itu mencapai puncaknya, maka
sesuatu di dalam jiwa kita pun berontak: kita menepiskan segala kebutuhan untuk
dihormati, disegani, atau bahkan kebutuhan akan hidup yang nyaman. Akhirnya
kita berani melakukan apa saja untuk mendapatkan kebutuhan kita yang paling
dasar: kebutuhan untuk dicintai, untuk diterima sebagaimana diri kita apa
adanya... sehingga kita tidak perlu terus-menerus memakai topeng atau
menjadi orang lain, sehingga kita merasa nyaman menjadi diri kita sendiri. Dan
mungkin di lokalisasi murahan itulah Pram menemukan seorang yang menerima
dirinya apa adanya, sehingga dia tidak harus menjadi orang lain... di dalam
pelukan seorang pelacur tua yang tidak begitu cantik wajahnya.
Pengalaman Pram mengingatkan saya akan apa
yang pernah ditulis oleh Caroline Reynolds: "One day you will come to
realise that you are simply an eternal essence in need of nothing exept
love."
Salam,
***
__._,_.___
****************************************************** Milis Filsafat Posting : [email protected] Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ Website : http://filsafatkita.f2g.net/ Berhenti : [EMAIL PROTECTED] ******************************************************
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
|
