Salah satu pekerjaanku adalah membuat reklame, sebelum memasangnya  biasanya aku survey lokasi terlebih dahulu, sekarang ada order di Ibukota daerah Lebak yang asri dan aku sudah ada di sana.
 
Matahari hampir tenggelam ketika aku berada di ujung baratnya pulau Jawa, kota kecil ini disebut Rangkas Bitung. Mencari alamat di kota kecil tidaklah sulit, hanya  perlu kesabaran.
 
Karena nomor rumah di Jalan Sunan Kali Jaga tidak berurutan, membuatku bertanya kepada pengendara sepeda motor yang tengah berhenti di samping kiri jalan. Ketika dia sedang menjelaskan kepada ku, tiba-tiba saja ada orang lain yang mencoba memeberi informasi juga, hanya saja berlawanan arah, aku menduga orang tersebut tidak waras dilihat dari penampilan rambutnya yang keriting gimbal. Aku melanjutkan perjalananku sejauh lapangan sepak-bola kemudian bertanya lagi kepada supir truk yang tengah memarkirkan kendaraannya.. Dia menyarankan agar kembali lagi ke jalur yang aku lalui hanya saja setelah melewati lampu merah pertama, kemudian berbelok ke kanan kebalikan dari yang kulalui pertama kali. Akhirnya sampailah aku di tempat yang ku tuju, hanya saja berbeda nomornya. Nomor yang aku cari semestinya  299 tetapi  pada daftar tertulis nomor 229, bisa jadi yang mengetik daftar alamat salah ketik sehingga menyulitkan kami yang mencari alamat di lapangan.
 
Kesalahan menulis alamat sudah biasa aku dapati, asal sabar biasanya kami bisa menemukan alamat yang dicari. Tidak kembali lagi seperti salah alamat pada kantor pos, cukup menulis "alamat tidak diketemukan, kembali ke pengirim". Mencari alamat itu seperti mengurai benang kusut.
 
Ada satu pengalaman menarik yang aku alami beberapa tahun silam, tepatnya pada saat aku mencari data statistik populasi kendaraan bermotor  di Timur Tengah, di kota Dubai. Langkah pertama mencari data adalah kantor Biro Pusat Statistik, ternyata di sana aku hanya bisa mendapat info empat bulan ke belakang, tidak ada yang lebih baru, padahal aku harus mendapatkan data up to date. Jalur yang ke dua  yang ku cari adalah kantor municipality (walikota), ternyata di sana aku tidak mendapatkannya.
 
Pada saat aku bertanya tentang kesulitanku ada seseorang penduduk lokal yang berbaik hati akan mengantarkanku ke kantor yang menyediakan data itu. Aku sangat berterimakasih atas kedermawanannya, aku menumpang kendaraannya  dan aku diturunkun di satu kantor pemerintahan di sana, ternyata yang kumasuki adalah Kantor Dinas Polusi Kendaraan Bermotor, tentu saja berbeda "polusi kendaraan" dan "populasi kendaraan", ternyata aku salah masuk, tetapi dari pada nggak ada hasil sama sekali, timbul ide kreatifku  untuk menanyakan berapa kendaraan yang sudah membuat polusi kota Dubai? Dari sana aku bisa menarik data jumlah kendaraan terkini, dari yang sudah mengalami polusi maupun yang belum. Itulah informasi yang aku cari untuk membuat studi kelayakan bisnis. Demikian terkadang untuk mendapatkan yang kita mau jalurnya harus berliku, asal mau sabar dan berpikir positip, Tuhan membantu kita dari jalur yang tidak diduga.
 
Ada pepatah Melayu “Malu bertanya, sesat di jalan”, yang artinya bebasnya apabila kita malu bertanya, tersesat malah lebih memalukan.
 
 
                                                          -o0o-
 
Lalu bagaimana mencari alamatNya dalam dunia spiritual? Ternyata di sana banyak rambu-rambu yang harus dilalui, alih-alih bisa bertemu dengan-Nya malah justru kesesatan yang didapat. Rambu-rambu ini justru diberikan untuk para “pencari” yang mencoba mendaki untuk bertemu dengan “wajahNya”.
 
Pencarian alamat dalam dunia spiritualpun sama dengan dunia konkrit, di sana jalannya berliku, dikisahkan Nabi Ibrahim dalam pencarian Tuhannya, Ibrahim pernah sampai di perbatasan yang “dekat” dengan Tuhannya, karena saking terpananya dengan cahaya perbatasan itu, Ibrahim mengira dirinya telah “sampai”, padahal masih banyak perbatasan yang harus ia tempuh. Inilah halusinasi Ibrahim seperti diungkapkannya sendiri “.. Ketika malam menjadi gelap, ia (Ibrahim) melihat sebuah bintang, lalu berkata : “inilah Tuhanku” .([6]:76).
 
Menurut Al Ghazali, yang dimaksud bintang oleh Ibrahim itu bukanlah benda langit yang bersinar, sebab tentunya Ibrahim sudah melihatnya semenjak ia masih kecil, orang bodohpun tahu bahwa bintang bukanlah Tuhan, tetapi salah satu ciptaanNya. Maka jelaslah bahwa yang dimaksud adalah cahaya diantara cahaya-cahaya yang merupakan hijab Tuhan. Hijab atau penghalang ini berada di tengah perjalanan para “pencari” atau penempuh jalan ruhani, dan tak mungkin mereka mencapai Nya tanpa melalui hijab-hijab ini. Mereka merupakan salah satu hijab dari beberapa yang berbeda ukurannya.  
 
Karena itu ketika Ibrahim sampai pada suatu cahaya, ia membayangkan bahwa dirinya telah “sampai”, tetapi ternyata di balik itu masih ada hijab, sampai akhirnya dia mencapai hijab “terdekat” kata Ibrahim “…Inilah yang lebih besar” ([6]:78), tetapi karena yang lebih besar itu tenggelam, Ibrahim tidak menyukainya, lalu ia melanjutkan “sungguh aku menghadapkan diri kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi…”.([6]:79).
 
Demikianlah orang sekaliber nabi Ibrahim saja masih sempat mengalami gangguan ruhani, salah alamat. Lalu bagaimanakah dengan manusia biasa? Al Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin, menjelaskan tentang rambu-rambu berketuhanan, mengingatkan bahwa kemungkinan salah alamat  atau “mereka yang terkelabui” justru dari golongan “baik-baik”, seperti ulama (ilmuwan), para ahli ibadah, dan para dermawan.
 
Ringkasnya, sehebat apapun orang alim, tanpa kesadaran mata-hati (bashirah) tentang ilmu yang diamalkan (muamalah), ia akan selalu terancam mengalami “terkelabui”. Bahkan setelah ia berupaya mengamalkannyapun ia masih terancam tidak ikhlas, dan setelah itu masih ada bahaya lain yang mengancam. Ibarat jalan panjang, seluruh umat akan binasa kecuali orang berilmu, orang berilmu akan binasa kecuali orang yang mengamalkan ilmunya, orang yang mengamalkan ilmunya akan binasa kecuali orang ikhlas, sementara itu orang ikhlaspun masih dalam keadaan bahaya besar. Demikian menurut  Al Ghazali untuk mengingatkan kita bahwa berTuhanpun ada rambu-rambunya yang mesti kita patuhi. Makanya hati-hati di jalan  agar jangan salah alamat. Hanya Tuhan sajalah yang  mengetahui kebenaranNya.
 
Salam,
http://ferrydjajaprana.multiply.com
 
 
__._,_.___

******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************





SPONSORED LINKS
Philosophy beauty product Philosophy Philosophy beauty
Philosophy of Philosophy amazing grace Philosophy hope in a jar


YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke