Keadilan (1)
 
Pada zaman imperium romawi masih pada puncak kejayaannya, terdapatlah seorang Kaisar yang sangat taat dengan agama Katolik yang dianutnya. Di masa itu kehidupan rakyat terbilang makmur dibandingkan dengan kondisi bangsa kita saat ini -ibarat hidup tak mau, matipun enggan-. Tetapi, dibalik makmurnya imperium, dibalik kemegahan kekuasaan gereja, disebuah kampung terdapat suatu perkumpulan pemuda yang mempunyai pandangan yang cukup berbeda dengan kebanyakan orang pada masa itu, para pemuda tersebut kerap kali melakukan diskusi membahas permasalahan-permasalahan yang orang-orang kebanyakan dianggap sakral dan tidak boleh diganggu gugat, dengan dalih apapun (catat: dengan dalih apapun). Karena permasalahan yang mereka bahas sangat bertentangan dengan pendapat gereja pada masa itu, maka saking taatnya pada gereja, Kaisar yang terkenal adil dan bijaksana memerintahkan tentaranya untuk membunuh semua pemuda yang di vonis melanggar aturan Tuhan itu, pada saat itu panglima tentara kebingungan dan bertanya kepada Kaisar, “Wahai paduka, bagaimana saya harus membedakan pemuda yang salah dan yang tidak”. Dan Kaisar pun menjawab dengan lantangnya, “Bunuh saja semua pemuda itu”. Sekarang panglima tambah kebingungan mendengar perintah Kaisar yang tidak masuk akal, dan kemudian Ia bertanya lagi, “Wahai paduka, bukankah yang bersalah hanya beberapa pemuda saja, kenapa saya harus menghukuim semuanya”. Dengan berang Kaisar menjawab, “Bunuh saja semuanya, biar Tuhan yang memilih mana yang bersalah dan mana yang tidak”. Akhirnya tanpa kebingungan lagi sang Panglima langsung menjalankan titah Kaisar yang telah diberikan, semua pemuda dikampung itu tewas, dan dengan hati was-was Sang Panglima membatin, “mudah-mudahan Tuhan tidak salah pilih”.
 
Mengadili, dan memvonis bersalah mengatasnamakan Agama dan Tuhan, agama sebagai pengadilannya dan Tuhan sebagai hakimnya, tetapi hal ini menjadi rancu seperti cerita Kaisar Romawi diatas, bukan Tuhan hakimnya, tapi Kaisar yang mewakili Gereja sebagai hakimnya, terus dimana posisi Tuhan?. Padahal kita ketahui kebenaran yang hakiki hanyalah kepunyaan-Nya, kita tidak tahu apa yang kita lakukan selama ini adalah benar, kita hanya seorang buta yang meraba-raba mencari kebenaran yang dimaksudkan oleh Sang Khalik.
 
Situasi ini sering terjadi tidak usah jauh-jauh di Romawi, disekitar kita saja pembenaran-pembenaran atas nama agama, pemvonisan kafir, penghalalan darah seseorang yang dianggap sesat, sudah tidak asing lagi terdengar ditelinga kita. Bahkan mungkin masih mending cerita pada zaman romawi tadi, toh yang menghukumkan Kaisar, manusia yang memang dianggap paling berkuasa pada masa itu, akan tetapi, disini, di Indonesia boro-boro kaisar, paling-paling orang yang mengatas namakan front inilah, forum itulah,  tapi dengan kepongahannya sudah kaya Raja atau Tuhan saja, naudzubillahimindzalik,
 
Semua golongan menganggap dirinyalah yang benar, yang bukan merupakan golongan mereka yaitu gerombolan domba-domba tersesat. Dan dengan megendap-endap mereka membatin, ”golongan yang lain adalah kafir, tidak layak hidup”. Waullahu a’lam bisshawab.
 
zahru/24 Juni 2006
 
 
 


-----
Fight back spam! Download the Blue Frog.
http://www.bluesecurity.com/register/s?user=cml6YWxpbnVyMTA%3D

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com __._,_.___

******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************





SPONSORED LINKS
Philosophy beauty product Philosophy Philosophy beauty
Philosophy of Philosophy amazing grace Philosophy hope in a jar


YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke