Sumur Ilmu
Kompas kemarin(3/7)  memuat berita tentang musim kemarau di daerah Adiwerna Tegal. Ternyata kemarau sudah melanda sebagian pantura, terhitung mulai dari Indramayu, Brebes, bahkan sampai Banyumas. Menurut salah satu sumber, menjelaskan bahkan di desa Balapusuh Brebes selatan, sebagian warganya mulai memperdalam sumurnya, karena airnya mulai berkurang.
 
Sebenarnya, kejadian diatas nampaknya bertolak belakang dengan iklim Indonesia secara umum, karena kekeringan justru terjadi pada saat  sebagian daerah di Indonesia kebanjiran, seperti Bolaang Mongondow, Sinjai di P. Sulawesi  dan beberapa daerah di P. Kalimantan.
 
Di daerah-daerah air dari sumur sangat membantu warga untuk keperluan minum maupun MCK (mandi-cuci-kakus), sehingga sumur itu seperti oase di padang pasir, membantu musafir yang lalu-lalang di gurun pasir.
 
Air sumur diperoleh melalui pengeboran ke bumi, ataupun melalui penggalian lubang dipermukaan bumi. Untuk mengisi air pada sumur agar berisi penuh air diantaranya dengan menggali kembali sehingga didapat mata air yang lebih besar, dan yang ke dua sebagai sumur resapan, mengalirkan air dari sisa air hujan, atau mengalirkan air sungai ke dalamnya.
 
Sudah saatnya kita selain memiliki sumur yang bersumber dari bumi, kita juga memiliki sumur resapan, yang berfungsi sebagai penampung air hujan atu air kali, sebagai cadangan air atau tabungan air di saat-saat paceklik atau kemarau seperti sekarang ini sungguh sangat membantu.


Spritualisme Sumur

 
Sumur memang sangat bermanfaat, bahkan ada peribahasa yang menyatakan bahwa ilmu itu seperti sumur. Semakin kita gali semakin banyak ilmu yang kita peroleh, makanya sering kita dengar ucapan atau kiasan "menimba ilmu" yang berarti mencari ilmu. Tentunya dengan menimba ilmu berarti sumbernya adalah "sumur ilmu".
 
Sumur adalah sumber air, layaknya sumber ilmu. Pengadaan air sumur bisa didapat dari dua sumber, pertama melalui sungai dengan mengairinya. Ini ibarat pencarian ilmu dengan mempergunakan akal dan indera kita. Sementara air sumur yang didapat melalui penggalian dalam tanah diibaratkan pencarian ilmu bersumber pada hati, disini ilmu didapat melalui ilham dan dzauq (kenikmatan iman).
 
Dengan menutup sungai yang mengisi air sumur itu bermakna kita berkhalwat (retret) dengan cara menjauhkan diri dari dari keramaian, melalui ibadah menyucikan diri sehingga makrifah terpancar dari lubuk hati. Hati sendiri memiliki dua pintu, pintu pertama pintu menuju alam empiris yang biasanya dibuka oleh ulama dan para hukama, dan pintu alam malakut ataupun lauhul mahfudz yang dibuka oleh para nabi, rosul  dan para awliya.
 
Makrifah tertinggi ilmu ini adalah yang diperoleh oleh ilham ataupun dzauq karena dapat memberi keyakinan dan membuahkan ketenangan dan kesejahteraan bathin.
 
Penjelasan terakhir  ini hanya disetujui oleh kaum sufi tetapi tidak disetujui oleh ulama kalam. Menurut Averroes (Ibnu Rusydi) bahwa metode ilham untuk memperoleh makrifah hanya dibenarkan untuk kaum sufi saja, tidak bisa digeneralisasi secara umum. Metode ini diberikan khusus untuk mengetahui agama yang bersifat metaphisis, yang tidak bisa di nalarkan dengan indera akal dengan maksud memperoleh keyakinan yang hakiki (haqqul yakin).
 
Salam,
Http://ferrydjajaprana.multiply.com
 
 
  __._,_.___

******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************





SPONSORED LINKS
Philosophy beauty product Philosophy Philosophy beauty
Philosophy of Philosophy amazing grace Philosophy hope in a jar


YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke