Rumahku kedatangan tiga tamu kecil, Angger, Asya dan Jyesta. Liburan kenaikan kelas di TK dan SD memang paling OK kalau dihabiskan di rumah Omnya. Kedatangan mereka diantar oleh Nenek mereka, yang tidak lain adalah Ibuku.
Sebagai hadiah kenaikan kelas mereka, kami berikan penawaran untuk berliburan ke Puncak ataupun ke Pantai. Salah seorang paman mereka mengusulkan untuk pergi Ke Ancol saja, lantaran menurutnya wisata ke Puncak sama saja dengan kampung mereka di kaki Gunung Selamet.
Keindahan alam laut cukup terwakili di SeaWorld, diantara puing-puing rumpon kapal pecah, berlarianlah penyu besar, ikan pari dan hewan laut lainnya. Sajian yang paling menarik adalah penyelam memberi makan ikan hiu sirip hitam dan ikan hiu sirip putih. Ikan hiu dengan ukuran besar itu membuat penyelam seakan kecil. Melalui 'lantai berjalan' dibawah akuarium raksasa itu miniatur laut bisa kami saksikan. Jyesta keponakanku yang baru diwisuda di salah satu TK, bertanya tentang siapa penciptanya.
"Om siapa yang membuat ini?" ucapnya seraya menunjukkan sekelompok ikan warna-warni.
" Yang membuat akuarium besar ini manusia, yang membuat ikan itu Tuhan" jawabku sekenanya.
" Lalu Tuhannya di mana?" katanya ingin tahu.
" Tuhan itu ada di mana-mana..." Jawabku, sambil masih bingung dan tidak yakin kalau jawabanku itu menjawab pertanyaannya atau tidak.
Membicarakan sifat Tuhan yang ada dimana-mana itu sulit, karena melawan hukum nalar manusia yang terbelenggu oleh dimensi ruang dan waktu. Tuhan memang sulit dimengerti, bayangkan kemana kita menghadap disitu ada wajah Tuhan, Dia bersifat Lahir dan Bathin, Dia bersifat Yang Awal sekaligus Yang Akhir. Sayangnya kita sebagai orang dewasa selalu menjerumuskan anak-anak dalam jawaban yang harus selalu mengikuti kaidah hukum nalar.
Ada suatu cerita fabel tentang anak ikan hiu yang bertanya kepada induknya.
"Ibu aku mendengar orang-orang yang bercerita katanya di pedalaman laut itu indah, aku ingin ke sana ibu..." demikian pinta anak ikan hiu.
"Aku juga mendengar hal yang sama nak, tapi aku tak tahu dimana air laut itu.." jawab sang induk.
Demikianlah karena ikan hiu dan anaknya sejak lahir dan besar disana, dia sendiri malah tidak tahu kalau dia sendiri sebenarnya sudah di ada di air laut.
Peristiwa serupa terjadi pada anak manusia yang mencari Tuhannya, mereka lupa kalau Tuhan itu Dzat Yang Maha Besar yang Meliputi seluruh alam dan seisinya.
Senjapun menjelang, matahari sudah memerah, kami sudah berada di pantai festival menikmati pemandangan tenggelamnya matahari yang ternyata jatuhnya di daratan bukan di tengah laut. Yang ini diluar skenario harapan kami yang ingin memotret matahari tenggelam di tengah laut.
Salam,
http://ferrydjajaprana.multiply.com __._,_.___
******************************************************
Milis Filsafat
Posting : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "filsafat" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
