|
PENDIDIKAN ataukah BISNIS ?!!! - Pendidikan
[7]
Kalau dulu seingat saya, sempat diterapkan bagi
mereka yang mau sekolah, maka pemerintah akan "membayar" kepada mereka yang mau
sekolah..
Setelah itu terjadi transformasi yang luar
biasa..misal saja di lingkup Pendidikan tinggi, mulai biaya 120 ribu
persemester, 200 ribu, 300 ribu, 500 ribu, 1 juta, dan terus angka bergerak
semakin tinggi, semakin melambung dan semakin tak terjangkau...
Masuk TK di salah satu sekolah swasta bernama
"agama" di jakarta saja sekarang mesti bayar 12 juta..
Di Surabaya, mau masuk SD sudah mesti bayar ada
yang 6 juta, ada juga yang 8 juta...
Bagaimana dengan perguruan tinggi ?
Di Strata 1 saja untuk masuk "Sumbangan Uang
Gedung" 10 juta kemungkinan diterima akan kecil..sudah bergerak ke angka 15
juta..malah dibeberapa jurusan seperti kedokteran sampai tembus di atas 100
juta...Tanya Ken Apa ? he..he..
Yang dulu katanya di Subsidi pemerintah..dan sejak
di tahun-tahun terakhir ini mulai katanya subsidi dicabut dari siswa, maka
jadilah sekolah adalah kerajaan-kerajaan kecil yang mengatur wilayahnya
sendiri-sendiri. Dengan dalih otonomi, maka mulailah sudah pendidikan di
Indonesia menjadi begitu mahal dan sangat mahal....(saya tidak sedang berbicara
tentang kualitasnya :p )
Gak salah jika kemudian dari faham anarkis
mengeluarkan buku dengan judul "ORANG MISKIN DILARANG SEKOLAH" !!!
Sekolah memang merupakan Perusahaan Bisnis yang
sangat berpeluang tinggi..Prospek able katanya...
Maka mulailah menjamur sekolah-sekolah mulai
TK/Playgroup, SD, SMP, SMA sampai perguruan tinggi yang kita tidak sedang bicara
soal kualitas pendidikan dan NIAT AWAL didirikannya sekolah tersebut...hanya
saja secara hitungan Bisnis begitu menggiurkan membikin lidah terjulur dan air
liur menetes..
Sampai-sampai orang rela membayar lebih mahal meski
tanpa kuliah yang jelas dan ilmu yang jelas yang penting bisa segera mendapatkan
gelar dan gelar..yang MBA lah yang MA lah..yang Doktor lah..yang apa
aja....
Mulailah niat luhur dunia pendidikan kemasukan
virus bisnis dimana-mana..
Bayar 1 juta langsung wisuda..boleh milih
sertifikat kelulusan dari Australia atau Amerika..weleh..weleh...enak
tenan..he..he..
Bayar 4 juta, kuliah secukupnya (syarat aja..) dan
segera kantongi ijazah yang keren...
weleh--weleh..lagi lagi para pendidik mengelus dada
dan hatinya menangis darah...
Kadang sekarang mau masuk sekolah mesti
berhitung..
Lebih menguntungkan mana, uangnya dipakai untuk
biaya sekolah? ataukah dipakai untuk modal usaha saja?
Kalau dipakai sekolah, berapa tahun nanti BEP nya
?
Berapa tahun nanti bisa Break Event Pointnya ?
kapan balik modalnya?
Wajah belepotan dunia pendidikan di
Indonesia, yang masih mencari jatidirinya semakin terkoyak dan tercerai
beraikan....
Mau dibawa kemana pendidikan kita ?
Saya masih ingat ketika beberapa tahun yang
lalu..lebih dari 15 tahun yang lalu, Malaysia masih getol mengirimkan rakyatnya
untuk belajar dari Indonesia..sebuah kebanggaan apabila bisa bersekolah di
Indonesia..
Tetapi sejak itu kemudian..begitu jauh kualitas
pendidikan kita dibandingkan dengan Malaysia..
What's Wrong with You Indonesia ??!!
Mau masuk sekolah bayar uang ujian,
bayar uang bimbingan belajar,
kadang bayar uang Joki
juga..he..he..
bayar Uang Gedung,
bayar Uang Bangunan,
bayar Uang Sumbangan,
bayar SPP,
bayar Uang semesteran,
kadang bayar Uang per sks, per kuliah,
bayar Uang Praktikum,
bayar Uang buat Kuliah kerja
Nyata,
bayar Uang pinjem Toga,
bayar Uang Wisuda,
belum lagi..
bayar uang beli alat tulis,
bayar Uang beli buku pelajaran,
bayar Uang fotokopi,
kadang bayar uang amplop Siluman bikin nilai
bagus,
apa lagi ya...?
bayar...bayar...bayar....!!!
Kepala sekolah ditembak oleh bisnismen buku
pelajaran,
"Pak, pakai buku ini sebagai literatur resmi, dan
10% komisi jadi hak bapak yang terhormat dan termulia..." mmm...
Murid tiap tahun memiliki buku wajib yang
berbeda,
dari penerbit yang berbeda..
dari pengusaha yang berani memberikan persentase
komisi lebih besar untuk "sekolahnya"...
Referensi tak lagi tetap, tak lagi
hemat..
Ganti kepala sekolah ganti buku wajib,
Ganti tahun, ganti pula buku wajib,
Ganti mentri ganti sistem pendidikan,
ganti metode percontohan,
dan ganti ..dan ganti..
dan kembali uang dan uang..
dan bayar...dan bayar....!!!
Peribahasa yang mulia ditanamkan,
"ilmu itu memang mahal nak...ilmu itu memang
mahal.."
"wajar...wajar..wajar..."
Dan menjadi wajar ketika mereka yang lulus sekolah
"menjadi orang", maka dengan segala cara akan ditempuh untuk balik
modal..
Yang korupsi..
yang kolusi...
yang mencuri...
yang ...yang..yang..apa saja asal bisa BEP
secepatnya...
Semangat pendidikan sudah bergeser menjadi semangat
menempuh balik modal secepatnya...
Semangat pendidikan sudah bermutasi menjadi
semangat bisnis yang tidak boleh rugi mesti untung selalu...
Semangat luhur pendidikan sudah beralih menjadi
lahan bisnis yang sangat menguntungkan..
Dan sayup-sayup terdengar suara Sosro Kartono -sang
Alif-kakak dari Raden Ajeng Kartini,
"Ing Ngarso Sung Tulodo....
(Di depan memberikan teladan-terj)
Ing Madyo Mangun Karso..
(Di tengah memberikan semangat-terj)
dan lamat-lamat terdengar suara Ki Hajar
Dewantoro,
"Tut Wuri Handayani..."
(Di Belakang selalu memberikan bimbingan dan
arahan-terj)
Dan di jantung hati...pembukaan UUD 45 bersuara
hampir menghilang..
"....turut serta mencerdaskan
bangsa....."
salam keprihatinan
huttaqi ****************************************************** Milis Filsafat Posting : [email protected] Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ Website : http://filsafatkita.f2g.net/ Berhenti : [EMAIL PROTECTED] ******************************************************
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
|
