|
Intermezzo:
The Psycho-therapy
of Dagelan
Kedudukan dagelan dalam seni pertunjukan masyarakat
Jawa sangatlah vital. Dalam setiap seni pertunjukan yang dikenal masyarakat
Jawa, entah itu kethoprak, ludruk, wayang kulit, wayang wong, selalu terdapat
porsi tersendiri yang khusus disediakan untuk dagelan. Dagelan adalah semacam
komedi tradisional dengan citarasa yang sangat Jawa. Bahkan dagelan bisa menjadi
seni pertunjukan yang berdiri sendiri: seperti Kirun Cs, dan di masa lalu
terdapat dagelan yang sangat legendaris: Basiyo dkk, juga terdapat lawakan
Junaidi Cs, dan di Jawa Timur terdapat sang maestro ludruk Kartolo
dkk.
Dagelan menjadi begitu penting karena dagelan dapat
menjadi katup pelepas uneg-uneg dan ketegangan yang tersimpan di alam
bawah sadar. Meminjam psikologi Freud, segala sesuatu yang ditekan ke dalam alam
bawah sadar akan menimbulkan ketegangan syaraf, karena apa yang ditekan tadi
akan terus-menerus berusaha muncul ke dalam pikiran sadar dan minta diakui
keberadaannya. Namun karena tuntutan tata-krama sosial, apalagi dalam budaya
Jawa yang sangat ketat dalam hal unggah-ungguh, sopan santun dan etika,
dorongan-dorongan bawah sadar tersebut tidak bisa dilampiaskan begitu saja...
dan di dalam dagelan semua itu menemukan bentuk ekspresinya yang lucu dan
artistik, dan yang lebih penting lagi diterima oleh masyarakat sebagai sesuatu
yang umum. Kata 'umum' ini penting sekali dalam budaya Jawa, sebab setiap orang
dalam masyarakat Jawa akan menghindari sesuatu yang 'tidak umum', dan akan
selalu berusaha mengikuti norma dan peraturan yang dianggap 'umum'. Tidak umum
berarti identik dengan nyeleneh, eksentrik, atau bahkan tidak
normal.
Namun di dalam dagelan, semua yang tidak umum,
tidak normal, eksentrik dan nyeleneh dimungkinkan dan diperbolehkan untuk
terjadi. Di dalam dagelan ide-ide baru, segar dan kreatif bisa saja dimunculkan
dan diketemukan. Di dalam dagelan orang boleh menemukan pelampiasan yang
artistik segala sesuatu yang menjadi uneg-uneg di dalam alam bawah sadarnya: di
dalam dagelan orang boleh menertawakan kemiskinan, melihat dan menertawakan
kebodohannya sendiri... dan disembuhkan dari luka-luka batinnya.
Bagaimanapun juga tawa tetap menjadi obat
yang paling mujarab.
Yu Painten kleleken timba,
cekap semanten kidungan kula.
Salam,
****************************************************** Milis Filsafat Posting : [email protected] Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ Website : http://filsafatkita.f2g.net/ Berhenti : [EMAIL PROTECTED] ******************************************************
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
|
