Note: forwarded message attached.


Want to be your own boss? Learn how on Yahoo! Small Business. __._,_.___

******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************





YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___
--- Begin Message ---

MIRROR, MIRROR ON THE WALL…
 
OLEH:
AUDIFAX
Peneliti di IISA-Surabaya, Penulis buku “Mite Harry Potter”(2005, Jalasutra)
 
 
 
Kau punya sekelompok lelaki dan perempuan muda yang kuat,
Dan mereka bersedia memberikan hidup mereka untuk sesuatu.
Iklan membuat orang-orang seperti ini
mengejar mobil dan pakaian yang tak mereka perlukan.
Banyak generasi telah bekerja dalam pekerjaan yang mereka benci,
hanya supaya mereka bisa membeli barang-barang yang tak mereka perlukan.
 
Chuck Palaniuk
(Fight Club)
 
 
Seorang eksekutif muda, membaca koran Jaya Pos edisi Minggu, pertama-tama dicarinya rubrik ‘Ramalan Bintang’ yang konon diasuh oleh psikolog yang juga ‘Ahli UFO’. Sang eksekutif muda membaca ramalan tentang dirinya. Sejenak membaca, iapun manggut-manggut membenarkan yang dibacanya. Wah cocok sekali pikirnya! Tapi...Astaga!! Ternyata ia keliru. Ia tadi membaca ramalan untuk yang berzodiak ‘Aquarius’, padahal ia adalah seorang Pisces. Maka segera sang eksekutif muda membaca ramalan untuk bintang Pisces. Tak lama, ia kembali manggut-manggut. Wah, memang benar ramalannya.
 
Cerita eksekutif muda yang membaca ramalan bintang di koran edisi Minggu itu adalah rekaan belaka, karena memang bukan itu yang mau saya bahas dalam tulisan ini. Namun, ilustrasi cerita itu juga menggambarkan bahwa banyak orang memiliki ‘cara berpikir’ yang menyerupai ‘Sang eksekutif muda’ itu. Bukan hanya dalam kaitan dengan ‘Ramalan Bintang’ tapi juga semua ‘ramalan-ramalan’ lain, entah itu dari: iklan, interpretasi psikologi, khotbah-khotbah agama, sinetron-sinetron, tayangan religi, nubuat-nubuat dan sebagainya. Orang-orang ini mirip anak kecil yang melihat ke cermin dan melihat bayangan dirinya, lalu ada orang lain (M/Other) yang mengatakan: “Itu Dirimu!”. Lalu, anak kecil itu percaya bahwa ‘pantulan bayangan’ itu adalah dirinya.
 
Seiring perkembangan ‘teknologi layar’ maka ‘layar-layar’ dalam kehidupan juga menjadi cermin. Kehidupan manusia adalah kehidupan yang dikelilingi ‘layar’. Ketika anda berhadapan dengan monitor seperti saat anda membaca tulisan ini, anda berhadapan dengan ‘layar’. Ketika anda menonton televisi, anda juga tengah berhadapan dengan ‘layar’. Ketika anda membaca sms, anda berhadapan pula dengan ‘layar’ handphone anda. Ketika anda melihat sebuah iklan cetak, anda juga berhadapan dengan ‘layar’ dengan tumpahan cat di atasnya.
 
Semua layar-layar ini berlomba menjadi ‘cermin’ dan berkata: ‘Itulah [semestinya] dirimu!’. Banyak manusia lantas tersia-sia hidupnya di depan layar ini. Terpesona oleh apa yang mereka lihat atau bahkan menjadi gila karenanya, karena tak tahu apakah yang diperlihatkan itu riil atau bahkan mungkin. Bagaimanapun juga, ‘layar-layar’ ini tidak memberi kita baik pengetahuan maupun kebenaran. Mengapa? Pertama, karena apa yang terpantul dalam layar itu tak lebih hanya citraan atau bayangan. Kedua, karena layar itu sendiri telah mem-framing realita yang sesungguhnya. Dalam setiap layar, selalu ada bagian yang bisa ditonjolkan. Layar bisa membingkai ‘hanya’ bagian dari realita yang ingin ditampilkan.
 
Sayangnya karena ketakpahaman akan kedua hal itu, justru orang lebih mempermasalahkan apa yang ditampilkan oleh layar-layar itu. Orang meributkan RUU APP untuk mengatur (salah satunya) bagaimana orang mesti tampil di ‘layar’. Kelompok lain meributkan bagaimana penganut agama tertentu mesti ditampilkan atau menampilkan diri di ‘layar’. Bahkan baru-baru ini salah satu stasiun TV diprotes karena menampilkan film-film Warkop DKI pada pukul 13.00 di layar mereka. Orang-orang ini terjebak untuk meributkan ‘layar’ dan justru mengabaikan apa yang terjadi di realita.
 
Mempermasalah ‘apa yang sebaiknya’ ditampilkan dalam layar-layar itu bukanlah persoalan utama. Saya pribadi tak terlalu ambil pusing dengan apa saja yang mau ditampilkan di layar-layar itu tapi ketidaktahuan orang akan ‘kesejatian’ dari layar itulah yang menjadi keprihatinan saya. Ketika orang bahkan sudah tidak tahu lagi siapa dirinya saat orang lain mengatakan: “Inilah (semestinya) dirimu!”. Persoalan inilah yang jauh lebih urgen ketimbang memperdebatkan ‘apa yang sebaiknya’ ditampilkan di layar-layar tersebut, yang ibarat memperdebatkan mana yang lebih dulu antara ‘telur’ dengan ‘ayam’. Bagaimana ‘budaya berpikir’ kita, itulah yang perlu didiskusikan terlebih dulu, karena manusia pada esensinya bukan sekedar output & input, namun memiliki hasrat yang ‘hidup’ dan menggerakkan dirinya.
 
 
 
© Audifax – 17 Juli 2006
 
NB: Saya mem-posting esei ini ke milis Psikologi Transformatif, Forum Pembaca Kompas, Creative Circle, Vincent Liong, R-Mania, Pasar Buku, Alumni St. Louis, Club Tarot, Ruang Baca dan Forum Studi Kebudayaan. Mungkin akan ada rekan-rekan dari milis-milis tersebut yang akan mem-forward esei ini ke sejumlah milis lain. Karena keterbatasan waktu, saya hanya akan menanggapi diskusi di milis Psikologi Transformatif. MELALUI ESEI INI PULA SAYA MENGUNDANG SIAPAPUN YANG TERTARIK UNTUK BERDISKUSI DENGAN SAYA UNTUK BERGABUNG DI MILIS PSIKOLOGI TRANSFORMATIF (www.groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif)


Do you Yahoo!?
Get on board. You're invited to try the new Yahoo! Mail Beta.


--- End Message ---

Kirim email ke