Think Deep:
 
 
Zen Dan Seni
 
 
Alkisah, terdapat lima orang buta yang meraba seekor gajah: mereka ingin mengetahui seperti apa bentuk gajah. Namun karena besarnya tubuh sang gajah,  kelima orang buta tersebut ternyata hanya memegang sebagian tubuh gajah saja: ada yang memegang perutnya, ada yang memegang kakinya, yang lainnya memegang ekornya, kupingnya, dan belalainya. Usai memegang sang gajah, maka mulailah mereka berdebat tentang seperti apa bentuk gajah itu:
 
"Gajah itu besar seperti tong raksasa," kata si buta yang memegang perut gajah. Yang lain pun menertawakannya.
 
"Gajah itu tegak kokoh seperti batang bambu." Ini keyakinan orang yang memegang kakinya
 
"Gajah itu seperti kipas," karena ia hanya memegang telinganya
 
"Gajah itu seperti selang besar," sebab belalainyalah yang ia pegang
 
"Gajah itu seperti cemeti," sebab ia hanya memegang ekornya saja.
 
Kisah di atas mengilustrasikan betapa mudahnya pikiran manusia terbelenggu oleh konsep yang diciptakannya sendiri karena keterbatasan pengalamannya. Konsep dan praduga semacam itulah yang tak henti-hentinya menciptakan konflik atau bahkan permusuhan yang tak habis-habisnya antara orang satu dengan orang lainnya bahkan antara peradaban satu dengan peradaban lainnya.
 
Karena itulah dalam Zen diajarkan betapa pentingnya seseorang melepaskan pikirannya dari segala macam konsep yang membelenggunya. Hanya ketika seseorang telah lepas dari konsep, ia dapat melihat sesuatu sebagaimana adanya. Hakekat segala sesuatu inilah yang di dalam Budhisme disebut sebagai tathata atau suchness. Uniknya istilah tathata  ini berasal dari ucapan pertama setiap bayi yang belum bisa berkata-kata: da-da-da. Sebab pikiran bayi masih murni, belum tercemari oleh konsep apapun: termasuk konsep yang ada pada kata-kata. 
 
Dalam Zen ditekankan pentingnya lepas dari konsep kata-kata. Biara-biara Zen terkenal dengan cara penyampaian ajarannya tanpa menggunakan kata-kata, tetapi melalui bentuk-bentuk meditasi seperti dalam upacara minum teh seperti yang populer di Jepang. Kata-kata diibaratkan jari yang dapat menunjuk ke bulan, tapi jari itu sendiri bukanlah bulan. Tapi yang sering terjadi adalah: ketika seorang bijak atau seorang suci menggunakan kata-kata (yang serba terbatas jangkauannya) untuk menunjuk pada kebenaran: kebanyakan orang akan terpaku pada kata-kata tersebut, dan kehilangan esensi makna yang sebenarnya dari yang ingin disampaikan oleh si orang bijak tersebut.
 
Soal terlepas dari belenggu konsep dan kata ini, menarik kita amati bahwa terdapat sejumlah karya besar yang sekedar bermain-main dengan kata, tanpa memiliki konsep apapun: tetapi justru menembus makna yang paling dalam: seperti puisi-puisi magis Sutardji Calzum Bachri di masa lalu, maupun lukisan-lukisan abstrak Nashar, kisah-kisah absurd dalam cerpen-cerpen Budi Darma, ataupun penggalan lirik Lewis Carroll Through The Looking Glass (1872) di bawah ini:
 
"Twas brillig, and the slithy toves did gyre in the wabe, all mimsy were the borogoves, and the mome rath outgrabe..."   
 
Dalam budaya Jawa pun dikenal berbagai mantra yang sesungguynya adalah serangkaian kata-kata yang tak bermakna, lepas dari belenggu konsep. Seperti mantra pengusiran dhemit di bawah ini:
 
"Ancak-ancak ali-ali, si ali kebo janggitan, anak-anak kebo dungkul, si dungkul kapan gawene, tiga rendheng anjang-anjang gubuk bala, unine gerenteng cepluk." 
 
 
Salam taklim,
 
 
***
 
__._,_.___

******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************





SPONSORED LINKS
Philosophy beauty product Philosophy Philosophy beauty
Philosophy of Philosophy amazing grace Philosophy hope in a jar


YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke