The Indigenous Psychology 

Psikologi adalah ilmu yang berusaha menguraikan, meramalkan dan 
mengendalikan peristiwa mental dan tingkah laku manusia, "Psychology 
is the science that attempts to describe, predict, and control 
mental and behavioral events."9 Tingkahlaku dan senyuman adalah 
ekpressi jiwa. Untuk memahami makna senyum dan aksi orang seperti 
Amrozi yang tersenyum ketika dijatuhi hukuman mati misalnya 
dibutuhkan Psikologi. Selama ini Psikologi difahami sebagai Western 
Psychology yang mengasumsikan perilaku dan tingkahlaku manusia 
sebagai sesuatu yang universal, tetapi yang sesungguhnya Psychology 
Barat hanya benar untuk menganalisis manusia Barat, karena sesuai 
dengan kultur sekuler yang melatarbelakangi lahirnya ilmu tersebut. 
Di belahan dunia lain, perilaku manusia dipengaruhi oleh sistem 
nilai yang berbeda dengan sistem nilai masyarakat Barat. Apa yang 
diklaim sebagai human universals, haruslah diuji sahih dengan 
multiple indigenous psychology.

Indigenous psychology dapat didefinisikan sebagai pandangan 
psikologi yang asli pribumi, yang tidak trasported dari wilayah 
lain, dan memang didesain khusus untuk masyarakat itu. Dengan kata 
lain indigenous psychology adalah pemahaman yang berdasar pada fakta-
fakta atau keterangan yang dihubungkan dengan konteks kebudayaan 
setempat.

Memahami senyum Amrozi misalnya tidaklah cukup hanya dengan 
membandingkan senyuman orang Barat. Ia harus dicari akarnya pada 
cultur Jawa Timur, cultur santri, cultur pekerja wiraswasta dan 
cultur pejuang bersenjata (mujahid, muqatil), karena dia bukan hanya 
sekedar orang Lamongan, tetapi ia dan teman-temannya (Imam Samudera 
cs) pernah terlibat dalam perang (fisik dan mental) melawan penjajah 
Uni Sovyet di Afganistan, sebagai pejuang anti penjajah komunis 
kafir (mujahid) dan petempur di lapangan (muqatil), dan uniknya, 
dilatih oleh instruktur CIA (Amerika).

Islamic Indigenous Psychology
Jiwa bukan hanya dibahas oleh Psikologi dan filsafat, tetapi juga 
oleh agama. Al Qur'an (dan hadis) lebih dari 300 kali berbicara 
tentang jiwa (nafs), tetapi perbedaan sejarah keilmuan Islam 
menyebabkan ilmu semacam psychologi tidak lahir dari peradaban 
Islam. Di Barat pertumbuhan ilmu pengetahuan terpisah sama sekali-
bahkan bermusuhan- dengan Gereja, oleh karena itu psychology (dan 
ilmu lainya) sama sekali tidak dibimbing oleh agama (Gereja), dan 
oleh karena itu Psychology tidak menyentuh iman, dosa dan keyakinan 
kepada akhirat, mengenal sehat dan tidak sehat tetapi tidak mengenal 
baik bnuruk. Psikologi Agama pun sebagai ilmu Barat tidak berbicara 
tentang kebenaran agama tetapi tentang bagaimana pengalaman beragama 
mempengaruhi tingkah laku penganutnya.

Dalam sejarah keilmuan Islam, al Qur'an sangat mendorong penganutnya 
untuk menggunakan akalnya. Perjalanan ilmu pengetahuan bukan saja 
diilhami oleh kitab suci, tetapi juga dikawal oleh para ulama. 
Kajian tentang jiwa tidak dibahas sebagai tingkah laku, tetapi 
dibahas dalam konteks hubungan manusia dengan Tuhan, oleh karena itu 
ilmu yang lahir bukan psikologi, tetapi ilmu akhlak dan tasauf. Ilmu 
akhlak berbicara bagaimana memperbaiki perilaku manusia, sedangkan 
tasauf berbicara tentang bagaimana manusia bisa merasa dekat 
(mendekatkan jiwa) dengan Tuhan.

Islamic Psychology adalah satu kajian yang bernuansa psikosufistik, 
bersumber dari al Qur'an sebagai sumber utama, dengan assumsi bahwa 
al Qur'an adalah brosur tentang jiwa yang dikeluarkan oleh Sang 
Pencipta. Disamping al Qur'an juga dari hadis dan tradisi keilmuan 
Islam, ditambah penelitian empirik. Psikologi Barat digunakan 
sebagai alat bantu untuk memahami ayat al Qur`an dan konsep-konsep 
psikologi, karena ternyata jejak-jejak pemikiran Ibn Sina tentang 
pengobatan jiwa, Ibn Sirin tentang tafsir mimpi, Imam Gazali, al 
Muhasibi tentang kajian pribadi ternyata sudah diserap dalam 
Psikologi Barat.

Jika Psikologi modern dibatasi hanya untuk menguraikan, meramalkan 
dan mengendalikan peristiwa mental dan tingkah laku 
manusia, "Psychology is the science that attempts to describe, 
predict, and control mental and behavioral events, Psikologi Islam 
menambahkan tugasnya; juga untuk bagaimana membentuk tingkah laku 
yang baik serta mendorong manusia agar merasa dekat dengan Tuhan.

Teori Sepeda Motor
Harus diakui bahwa Psychology sebagai ilmu pengetahuan sudah sangat 
maju, kaya dengan methodology dan kaya dengan hasil penelitian 
empiric, sementara Psikologi Islam masih sangat miskin dengan 
penelitian empiric. Ibarat sepeda motor, Barat langsung menaiki 
sepeda motor itu ke berbagai medan jalanan tanpa melihat brosur dari 
pabriknya. Dari pengalaman lapangan yang banyak itu Barat sudah 
memiliki banyak pengetahuan tentang karakteristik sepeda motor itu. 
Tetapi karena tidak membaca brosur dari pabrik, maka Psikologi barat 
sering mengalami trial and error. Lihat saja bagaimana perkembangan 
lahirnya teori Psikoanalisa, behaviourisme, Kognitip hingga 
Humanisme.. Sekarang Barat baru saja meraba-raba wilayah kecerdasan 
spiritual yang sesungguhnya lebih merupakan wilayah agama. Pada 
saatnya nanti pasti akan ketemu, bahasan kecerdasan spiritual 
Psikologi dan kecerdasan ruhaniyah tasauf (agama).

Sedangkan Psikologi Islam, ketika melihat sepeda motor, yang pertama 
kali dilakukan adalah membaca brosurnya dari pabrik. Al Qur'an 
adalah brosur tentang manusia (dan jiwanya) yang disusun oleh sang 
Pencipta. Sekarang Psikologi Islam baru menguasai karakteristik 
sepeda motor itu dari bahan-bahan yang ada di brosur, belum banyak 
pengalaman empiric di lapangan. Pada saatnya nanti, ketika Psikologi 
Islam juga sudah kaya dengan pengalaman empiric, Psikologi Islam 
akan bisa menjadi mazhab ke lima setelah Psikologi Humanisme

The concept of Islamic Psychology
Sebutan insan dalam al Qur'an bermakna manusia sebagai makhluk 
psikologis, insan berasal dari kata nasiya yansa yang artinya lupa, 
dari `uns yang artinya harmoni dan mesra, dan dari kata nasa yanusu 
yang artinya bergejolak. Jadi psikologi manusia berada diantara 
wilayah kesadaran hingga lupa, dari wilayah mesra hingga benci, dan 
dari wilayah bergejolak hingga tenang. Menurut al Qur'an desain 
kejiwaan manusia diciptakan Tuhan dengan sangat sempurna, berisi 
kapasitas-kapasitas kejiwaan; berfikir, merasa dan berkehendak. Jiwa 
merupakan sistem (disebut sistem nafsani), terdiri dari 
subsistem `Aql, Qalb, Bashirah, Syahwat dan Hawa.

1. `Aql (akal) merupakan problem solving capacity, yang kerjanya 
berfikir dan bisa membedakan yang buruk dari yang baik. Akal bisa 
menemukan kebenaran tetapi tidak bisa menentukannya, oleh karena itu 
kebenaran `aqly sifatnya relatif.

2. Qalb (hati), merupakan perdana menteri dari sistem nafsani. 
Dialah yang memimpin kerja jiwa manusia. Ia bisa memahami realita, 
apa yang aqal mengalami kesulitan. Sesuatu yang tidak rationil masih 
bisa difahami oleh qalb. Di dalam qalb ada berbagai kekuatan dan 
penyakit; seperti iman, cinta dengki, keberanian, kemarahan, 
kesombongan, kedamaian, kekufuran dan sebagainya. Qalb memiliki 
otoritas memutuskan sesuatu tindakan, oleh karena itu segala sesuatu 
yang disadari oleh qalb berimplikasi kepada pahala dan dosa. Apa 
yang sudah dilupakan oleh qalb masuk kedalam memory nafs (alam bawah 
sadar), dan apa yang sudah dilupakan terkadang muncul dalam mimpi. 
Sesuai dengan namanya qalb, ia sering tidak konsisten.

3. Bashirah (hati nurani), adalah pandangan mata batin sebagai lawan 
dari pandangan mata kepala. Berbeda dengan qalb yang tidak 
konsisten, bashirah selalu konsisten kepada kebenaran dan kejujuran. 
Ia tidak bisa diajak kompromi untuk menyimpang dari kebenaran. 
Bashirah disebut juga sebagai nuraniy, dari kata nur, dalam bahasa 
Indonesia menjadi hati nurani. Menurut tasauf, bashirah adalah 
cahaya ketuhanan yang ada dalam hati, nurun yaqdzifuhullah fi al 
qalb. Introspeksi, tangis kesadaran, relegiusitas, god spot, 
bersumber dari sini.

4. Syahwat adalah motif kepada tingkahlaku. Semua manusia memiliki 
syahwat terhadap lawan jenis (seksual), bangga terhadap anak-anak, 
menyukai benda (dan segala sesuatu yang) berharga, kendaraan bagus 
(gengsi dan kenyamanan), ternak dan kebun. Syahwat adalah sesuatu 
yang manusiawi dan netral. Menunaikan syahwat secara benar dan halal 
bernilai ibadah. Memanjakan syahwat berpotensi pada dosa dan 
kejahatan.

5. Hawa (hawa nafsu) adalah dorongan kepada obyek yang rendah dan 
tercela. Perilaku kejahatan, marah, frustrasi, sombong, perbuatan 
tidak bertanggung jawab, korupsi, sewenang-wenang dan sebagainya 
bersumber dari hawa. Karakteristik hawa adalah ingin segera 
menikmati apa yang diinginkan tanpa mempedulikan nilai-nilai 
moralitas. Orang yang mematuhi tuntutan hawa, tindakannya cenderung 
destruktif. Dalam bahasa Indonesia disebut hawa nafsu, atau menurut 
teori Freud disebut id.

Materi psikologi Islam tersebar di literatur klassik abad 
pertengahan, dibutuhkan kerja keras mengolah bahan yang baru 
bernuansa psikologi menjadi psikologi Islam. Jika sekarang masih ada 
orang yang menganggap Psikologi Islam itu tidak ada, itu karena 
orang itu belum tahu, persis seperti ketika bank Islam (bank tanpa 
bunga) diperkenalkan di Indonesia, masyarakat perbankan 
memustahilkan adanya bank tanpa bunga. Seekarang semua bank 
konvensional membuka bank Islam ( di Indonesia disebut bank 
syari`ah), yang pertama buka bernama bank mu`amalah, terutama 
setelah terbukti system bank syari'ah paling kuat ketahanannya 
menghadapi krisis moneter.

Wassalam,
agussyafii
http://agussyafii.blogspot.com
http://mubarok-institute.blogspot.com







******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke