Kepada Teman-Temanku...

Kebahagiaan adalah sesuatu yang dicari oleh kita.
Bagaimana meraihnya....
Ini ada kiriman artikel dari teman
Selamat membaca....

Trims

Andri

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com __._,_.___

******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************





SPONSORED LINKS
Philosophy beauty product Philosophy Philosophy beauty
Philosophy of Philosophy amazing grace


YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___
--- Begin Message ---

Tangga Menuju Kebahagiaan

Di dalam keluarga akan selalu hadir bagi mereka yang tahu dimana
letak tangga sesungguhnya berada. Seringkali kita tersesat pada
tangga semu dalam hidup ini. Gambaran mobil mewah, kekayaan yang
melimpah, kedudukan bagai tangga fatamorgana yang justru menjauhkan
diri kita menuju kebahagiaan. Allah SWT sudah memperingatkan kita
dalam surah al-Anfal (8:63) "Law anfaqta ma fil ardhi jami'an ma
allafta baina qulubihim" Walaupun kau belanjakan semua kekayaan yang
berada dimuka bumi, kau tidak akan bisa mempersatukan hati mereka.
Itu berarti bahwa tangga yang sesungguhnya untuk mencapai
kebahagiaan bukanlah kondisi material namun lebih bersifat essensial.

Oleh sebab itu kondisi materi tidak bisa menjadi tolok ukur
kebahagiaan dalam keluarga, ada keluarga yang sangat kaya raya
bahagia, juga ada keluarga yang tidak punya justru menderita. Namun
sebaliknya ada keluarga yang tidak berpunya namun sangat bahagia dan
ada juga orang yang kaya raya justru menderita karena harta
bendanya. Semua itu tergantung sejauhmana keluarga tersebut
menemukan tangga kehidupan menuju kebahagiaan yang hakiki.

Dalam perjalanan hidup saya pencarian tangga menuju kebahagiaan
seperti tak pernah henti sebagaimana halnya anda. Kali ini saya
menawarkan pilihan tangga bagaimana dalam keluarga untuk bisa
mencapai kebahagiaan.

Tangga pertama, "Man arofa nafsahu wa man arofa robbahu." Kenalilah
dirimu, maka engkau akan mengenal Tuhanmu. Mengenali diri berarti
juga mengenali Tuhan. Kenapa mengenali diri berarti mengenali Tuhan?
Mengenali diri diawali mengenali suara hati kita. Suara hati akan
terdengar jika kita mampu mengendalikan hawa nafsu yang bagaikan
kuda liar. Membiarkan tubuh dikendalikan hawa nafsu akan membuat
tubuh menjadi sarang penyakit. Membiarkan jiwa dikendalikan hawa
nafsu maka berbagai penyakit jiwa akan bersarang. Dengan
mengendalikan hawa nafsu maka akan terdengar suara hati. Pada suara
hati kita melihat Allah SWT sebagai tujuan akhir. "Wa'ailaihi
turja'ul umur" (Dan hanya pada Allah-lah dikembalikan segala
urusan). SQ. Al-Baqoroh 2:210.

Tangga kedua, Belajarlah menerima diri sendiri. Ada cerita seorang
istri yang bersuamikan ekspatriat. Suatu hari sang suami pulang ke
Belanda. Tanpa seijin suaminya sang istri melakukan operasi plastik
untuk memancungkan hidungnya. Begitu suaminya pulang dari Belanda
melihat hidung istrinya yang berubah menjadi mancung membuat sang
suami menjadi marah besar. Istri keheranan, kenapa suaminya marah.
Kata suaminya, "saya itu mencintai kamu karena hidung kamu yang
pesek itu."

Dari cerita itu dapatlah kita petik bahwa menerima diri sendiri
berarti menerima segala bentuk kekurangan dan kelebihan diri kita.
Menerima kelebihan dan kekurangan diri sendiri berarti menemukan
sinergi didalam diri sendiri sebab didalam diri itulah kita juga
terdapat perbedaan.

Tangga ketiga, belajarlah memberi. Ada seorang kawan yang selalu
berbuat baik kepada orang lain. Jika lagi tanggal tua gaji udah
habis, dia malah mentraktir makan soto. Kawan saya itu mengatakan,
jika ingin mendapatkan sesuatu belajarlah dengan memberi. Jika ingin
kebahagiaan, berikanlah kebahagiaan itu pada orang lain. Jika kita
ingin kebaikan berikanlah kebaikan itu kepada orang lain. Jika ingin
kekayaan maka sering-seringlah bersedekah. Maka kita akan
mendapatkan dari apa yang kita berikan pada orang lain.

Tangga keempat, temukanlah guru sejati kehidupan. Disekolah
seringkali saya dipusingkan jika berhadapan dengan siswa yang suka
pacaran disekolah, tidak ikut sholat jumat, datangnya suka terlambat
rasanya tidak tahan menghadapinya, malah ada rekan pengajar yang
mengatakan pada saya, "Kita harus bersyukur sebab dari merekalah
kita sebenarnya menemukan guru sejati kita., kita bisa belajar
sabar, ikhlas, dan membuat kita semakin memahami kehidupan."

Dari ucapan sahabat tersebut maka makna yang bisa dipetik bahwa
bersyukurlah kita jika memiliki istri yang sangat cerewet, atau
suami yang susah diatur, murid yang bandel datangnya suka terlambat
sebab dengan demikian kita akan menemukan guru sejati kehidupan.
Dari sanalah kita bisa belajar makna kehidupan.

Tangga kelima, "baiti jannati." rumahku adalah surgaku. Puncak
tangga didalam keluarga menuju kebahagiaan adalah jika kita mampu
menjadikan rumah sebagai surga. Rangkaian tangga menjadi diri
sendiri, belajar menerima, belajar memberi dan menemukan guru sejati
adalah rangkaian sikap kita untuk membangun rumah tangga kita
menjadi surga pada semua anggota keluarga, baik suami, istri dan
anak-anak. Dengan demikian pada tangga yang terakhir adalah menuju
rumahku adalah surgaku. Lantas bagaimana dengan tangga kehidupan
yang anda miliki?

Wassalam,
Agussyafii
http://agussyafii.blogspot.com


--- End Message ---

Kirim email ke