Musim hujan telah berakhir, kini berganti musim kemarau. Tidak peduli musimnya Suroto petani cabe di desa Ranjeng, Bumiayu, Jateng terus bekerja terkadang menanam, terkadang menyemai, bahkan terkadang mencabut pohon cabe yang sudah tua, yang sudah tidak produktif lagi. Demikianlah ada siklus kehidupan pohon cabe, hidup, tumbuh, berkembang dan mati.
Suroto dengan cabenya sudah menyatu, makanya di kampungnya namanya lebih dikenal dengan Suroto Cengis, cengis bhs Jawa artinya cabe, di Jawa Tengah sudah biasa menamakan seseorang digabung dengan nama profesi untuk membedakan beberapa nama Suroto di desa Renjeng. Di desa Ranjeng lahan pertaniannya cukup beragam,selain budidaya cabe, kobis, kentang, ada persawahan, ada perkebunan, dan ada juga ladang palawija.
Kehidupan bagi seorang petani rasanya paling sulit, karena pendapatannya tidak pasti, disaat musim panen harga-harga biasanya terjungkal murah, tetapi disat permintaan banyak biasanya harga terdongkrak ke atas. Hidup bagi Suroto adalah seperti permainan bola ping-pong, terkadang dapat smes terkadang men-smesnya, tergantung umpan yang diberikan apakah umpan pendek atau lob. Bayangkan, harga cabe biasanya per kg sekitar Rp.8,000,- s/d Rp. 13,000,- tetapi bila menjelang hari lebaran harga cabe bisa mencapai Rp 50,000,-, harga cabe ini merupakan komoditi yang tidak dipatok mati, jadi berfluktuasi mengikuti harga pasar.
Di saat panen menjelang lebaran biasanya Suroto mampu membeli mobil wagon, tetapi nasib juga tak selalu stabil, di saat paceklik terkadang mobil dijual ataupun digadekan.
Rezeki yang Tuhan berikan biasanya akan menghampiri umatnya yang tetap setia pada usahanya, sehingga matang dengan pasang surutnya keadaan karena rezeki itu seperti evolusi bumi terhadap matahari, terkadang terbit terkadang tenggelam, menurut ilmu hakikat sebenarnya tidak ada terbit dan tidak ada tenggelam yang ada adalah pancaran matahari terus menerus, hanya saja bayang-bayang bumi membuatnya menjadikan malam. Pancaran rezeki dari Tuhan adalah senantiasa, hanya saja kita sering larut dalam ego yang menarik surut ke bawah karena di rasa lebih nyaman. Sekarang mampukah kita berselancar melawan dan menerjang arus ombak sehingga menggerakannya maju berselancar?
Peluang itu yang mampu ditangkap oleh Suroto dengan tetap setia pada usahanya bertani cabai dan tetap bersyukur kehadirat Ilahi Robi seirama dengan datangnya cahaya mentari pagi dan jatuhnya keringatnya di permukaan bumi.
Musim kemarau belum juga berakhir, lebaran tidak dikejar tapi datang dengan sendirinya, artinya Suroto sudah siap menjemput rezeki yang bakal mengetuk pintu rumahnya tidak lama lagi, dan irama ini terus bergulir tiap tahun.
Salam,
http://ferrydjajaprana.multiply.com
__._,_.___
******************************************************
Milis Filsafat
Posting : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "filsafat" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
__,_._,___
