Mohon maaf, Termasuk juga fanatik terhadap orang yg tidak bisa melihat salah satunya. yang selalu menyesatkan umat. Ini harus di waspadai !!
----- Original Message ----- From: "agussyafii" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[email protected]> Sent: Thursday, August 24, 2006 10:54 AM Subject: [filsafat] Psikologi Fanatik > Psikologi Fanatik > > Belakangan ini gejala maraknya fanatisme buta sedang melanda dunia, > terutama tumbuh subur di kalangan orang muda. Bentuk-bentuk > fanatisme buta ini sudah mengarah kepada perilaku yang membahayakan > sehingga perlu dikaji secara seksama, menyangkut karakteristiknya, > sebab-sebab timbulnya dan bagaimana upaya meredam dan menghindari > bahayanya. > > 1.Pengertian Fanatik > Fanatik adalah suatu istilah yang digunakan untuk menyebut suatu > keyakinan atau suatu pandangan tentang sesuatu, yang positif atau > yang negatip, pandangan mana tidak memiliki sandaran teori atau > pijakan kenyataan, tetapi dianut secara mendalam sehingga susah > diluruskan atau diubah. (A Favourable or unfavourable belief or > judjment, made without adequate evidence and not easily alterable by > the presentation of contrary evidence) 23. > > Fanatisme biasanya tidak rationil, oleh karena itu argumen > rationilpun susah digunakan untuk meluruskannya. Fanatisme dapat > disebut sebagai orientasi dan sentimen yang mempengaruhi seseorang > dalam; > (a) berbuat sesuatu, menempuh sesuatu atau memberi sesuatu, > (b) dalam berfikir dan memutuskan, > (c) dalam mempersepsi dan memahami sesuatu, dan > (d) dalam merasa. > > Secara psikologis, seseorang yang fanatik biasanya tidak mampu > memahami apa-apa yang ada di luar dirinya, tidak faham terhadap > masalah orang atau kelompok lain, tidak mengerti faham atau filsafat > selain yang mereka yakini. Tanda-tanda yang jelas dari sifat fanatik > adalah ketidak mampuan memahami karakteristik individual orang lain > yang berada diluar kelompoknya, benar atau salah. Secara garis besar > fanatisme mengambil bentuk; > (a) fanatik warna kulit, > (b) fanatik etnik/kesukuan, dan > (c) fanatik klas sosial. > > Fanatik Agama sebenarnya bukan bersumber dari agama itu sendiri, > tetapi biasanya merupakan kepanjangan dari fanatik etnik atau klas > sosial. > Pada hakikatnya, fanatisme merupakan usaha perlawanan kepada > kelompok dominan dari kelompok-kelompok minoritas yang pada umumnya > tertindas. Minoritas bisa dalam arti jumlah manusia (kuantitas), > bisa juga dalam arti minoritas peran (Kualitas). Di negara besar > semacam Amerika misalnya juga masih terdapat kelompok fanatik > seperti: > 1). Fanatisme kulit hitam (negro) > 2). Fanatisme anti Yahudi > 3). Fanatisme pemuda kelahiran Amerika melawan imigran > 4). Fanatisme kelompok agama melawan kelompok agama lain. > > 2.Analisis Terhadap Fanatisme > Fanatisme dapat dijumpai di setiap lapisan masyarakat, di negri > maju, maupun di negeri terbelakang, pada kelompok intelektual maupun > pada kelompak awam, pada masyarakat beragama maupun pada masyarakat > atheis. Pertanyaan yang muncul ialah apakah fanatisme itu merupakan > sifat bawaan manusia atau karena direkayasa? > > 1. Sebagian ahli ilmu jiwa 24) mengatakan bahwa sikap fanatik itu > merupakan sifat natural (fitrah) manusia, dengan alasan bahwa pada > lapisan masyarakat manusia di manapun dapat dijumpai individu atau > kelompok yang memilki sikap fanatik. Dikatakan bahwa fanatisme itu > merupakan konsekwensi logis dari kemajemukan sosial atau > heteroginitas dunia, karena sikap fanatik tak mungkin timbul tanpa > didahului perjumpaan dua kelompok sosial. > > Dalam kemajemukan itu manusia menemukan kenyataan ada orang yang > segolongan dan ada yang berada di luar golongannya. Kemajemukan itu > kemudian melahirkan pengelompokan "in group" dan "out group". > Fanatisme dalam persepsi ini dipandang sebagai bentuk solidaritas > terhadap orang-orang yang sefaham, dan tidak menyukai kepada orang > yang berbeda faham. Ketidak sukaan itu tidak berdasar argumen logis, > tetapi sekedar tidak suka kepada apa yang tidak disukai (dislike of > the unlike). Sikap fanatik itu menyerupai bias dimana seseorang > tidak dapat lagi melihat masalah secara jernih dan logis, disebabkan > karena adanya kerusakan dalam sistem persepsi (distorsion of > cognition). > > Jika ditelusuri akar permasalahannya, fanatik - dalam arti cinta > buta kepada yang disukai dan antipati kepada yang tidak disukai - > dapat dihubungkan dengan perasaan cinta diri yang berlebihan > (narcisisme), yakni bermula dari kagum diri, kemudian membanggakan > kelebihan yang ada pada dirinya atau kelompoknya, dan selanjutnya > pada tingkatan tertentu dapat berkembang menjadi rasa tidak suka , > kemudian menjadi benci kepada orang lain, atau orang yang berbeda > dengan mereka. Sifat ini merupakan perwujudan dari egoisme yang > sempit. > > 2. Pendapat kedua mengatakan bahwa fanatisme bukan fitrah manusia, > tetapi merupakan hal yang dapat direkayasa. Alasan dari pendapat ini > ialah bahwa anak-anak, dimanapun dapat bergaul akrab dengan sesama > anak-anak, tanpa membedakan warna kulit ataupun agama. Anak-anak > dari berbagai jenis bangsa dapat bergaul akrab secara alami sebelum > ditanamkan suatu pandangan oleh orang tuanya atau masyarakatnya. > Seandainya fanatik itu merupakan bawaan manusia, pasti secara > serempak dapat dijumpai gejala fanatik di sembarang tempat dan > disembarang waktu. Nyatanya fanatisme itu muncul secara berserakan > dan berbeda-beda sebabnya. 25) > > 3. Teori lain menyebutkan bahwa fanatisme berakar dari tabiat > agressi seperti yang dimaksud oleh Sigmund Freud ketika ia menyebut > instink Eros (ingin tetap hidup) dan instink Tanatos (siap mati). 26) > > 4. Ada teori lain yang lebih masuk akal yaitu bahwa fanatisme itu > berakar pada pengalaman hidup secara aktual. Pengalaman kegagalan > dan frustrasi terutama pada masa kanak-kanak dapat menumbuhkan > tingkat emosi yang menyerupai dendam dan agressi kepada kesuksesan, > dan kesuksesan itu kemudian dipersonifikasi menjadi orang lain yang > sukses. Seseorang yang selalu gagal terkadang merasa tidak disukai > oleh orang lain yang sukses. Perasaan itu kemudian berkembang > menjadi merasa terancam oleh orang sukses yang akan menghancurkan > dirinya. Munculnya kelompok ultra ekstrim dalam suatu masyarakat > biasanya berawal dari terpinggirkannya peran sekelompok orang dalam > sistem sosial (ekonomi dan politik) masyarakat dimana orang-orang > itu tinggal. Di Indonesia, ketika kelompok Islam dipinggirkan secara > politik pada zaman Orde Baru terutama pada masa kelompok elit > Kristen Katolik(Beni Murdani cs) 27) secara efektif mengontrol > pembangunan Indonesia, maka banyak kelompok Islam merasa terancam, > dan mereka menjadi fanatik. Ketika menjelang akhir Orde Baru di mana > kelompok Kristen Katolik mulai tersingkir sehingga kabinet dan > parlemen disebut ijo royo-royo (banyak orang Islamnya), giliran > orang Kristen yang merasa terancam, dan kemudian menjadi ekstrim, > agressip dan destruktif seperti yang terjadi di Kupang dan Ambon , > Poso, juga Kalteng (juga secara tersembunyi di Jakarta). > > Jalan fikiran orang fanatik itu bermula dari perasaan bahwa orang > lain tidak menyukai dirinya, dan bahkan mengancam eksistensi > dirinya. Perasaan ini berkembang sedemikian rupa sehinga ia menjadi > frustrasi. Frustrasi menumbuhkan rasa takut dan tidak percaya kepada > orang lain. Selanjutnya perasaan itu berkembang menjadi rasa benci > kepada orang lain. Sebagai orang yang merasa terancam maka secara > psikologis ia terdorong untuk membela diri dari ancaman, dan dengan > prinsip lebih baik menyerang lebih dahulu daripada diserang, maka > orang itu menjadi agressif. 28) > Teori ini dapat digunakan untuk menganalisa perilaku agressip (1) > orang Palestina yang merasa terancam oleh orang Yahudi Israel, > agressip kepada warga dan tentara Israel, dan (2) perilaku orang > Yahudi yang merasa terkepung oleh negara-negara Arab agressip kepada > orang Palestina. Teori ini juga dapat digunakan untuk menganalisa > (3) perilaku ektrim kelompok sempalan Islam di Indonesia pada masa > orde baru (yang merasa ditekan oleh sistem politik yang didominasi > oleh oknum-oknum anti Islam), agressip kepada Pemerintah. > > Dari empat teori tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa untuk > mengurai perilaku fanatik seseorang/sekelompok orang, tidak cukup > dengan menggunakan satu teori, karena fanatik bisa disebabkan oleh > banyak faktor, bukan oleh satu faktor saja. Munculnya perilaku > fanatik pada seseorang atau sekelompok orang di suatu tempat atau di > suatu masa. boleh jadi > (a) merupakan akibat lagis dari sistem budaya lokal, tetapi boleh > jadi > (b) merupakan perwujudan dari motif pemenuhan diri kebutuhan > kejiwaan individu/sosial yang terlalu lama tidak terpenuhi. > > 3.Cara Mengobati Perilaku Fanatik > Karena perilaku fanatik mempunyai akar yang berbeda-beda, maka cara > penyembuhannya juga berbeda-beda. > (1).Pengobatan yang sifatnya sekedar mengurangi atau mereduksi sikap > fanatik harus menyentuh masalah yang menjadi sebab munculnya > perilaku fanatik. > (2).Jika perilaku fanatik itu disebabkan oleh banyak faktor maka > dalam waktu yang sama berbagai cara harus dilakukan secara serempak > (simultan) . > > Perilaku fanatik yang disebabkan oleh masalah ketimpangan ekonomi, > pengobatannya harus menyentuh masalah ekonomi, dan perilaku fanatik > yang disebabkan oleh perasaan tertekan, terpojok dan terancam, maka > pengobatannya juga dengan menghilangkan sebab-sebab timbulnya > perasaan itu. Pada akhirnya, pelaksanaan hukum dan kebijaksanaan > ekonomi yang memenuhi tuntutan rasa keadilan masyarakat secara > alamiah akan melunturkan sikap fanatik pada mereka yang selama ini > merasa teraniaya dan terancam. > > 4.Klien dan Konselor Perilaku Fanatik > Pada umumnya orang yang memiliki pandangan fanatik merasa tidak > membutuhkan nasehat dari orang lain selain sesama (in group) mereka. > Oleh karena itu konselorlah yang harus aktif berusaha mendekati > klien. Yang dapat dilakukan oleh seorang konselor terhadap klien > fanatik antara lain : > 1).Mengajak berfikir rationil. Pada umumnya orang fanatik tidak > rationil dalam memandang masalah yang diyakininya benar. Jika ia > dapat kembali berfikir rationil dalam bidang yang diyakini itu maka > secara otomatis sikap fanatiknya akan mencair. > 2). Menunjukkan contoh-contoh yang pernah terjadi akibat dari > perilaku fanatik. Pada umumnya perilaku fanatik berakhir dengan > kekacauan, kegagalan atau bahkan penjara. Orang yang telah sadar > dari kekeliruannya berpandangan fanatik biasanya kemudian > mentertawakan diri sendiri atas kepicikannya di masa lalu. > > Sedangkan konselor perilaku fanatik disamping harus memiliki wawasan > konseling, secara khusus ia harus memiliki pengalaman yang luas > sehingga ia tidak menggurui tetapi menggelitik cara berfikir klien > yang tidak rationil itu. > > Wassalam, > agussyafii > http://mubarok-institute.blogspot.com > > > > > > > ****************************************************** > Milis Filsafat > Posting : [email protected] > Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ > Website : http://filsafatkita.f2g.net/ > Berhenti : [EMAIL PROTECTED] > ****************************************************** > > Yahoo! Groups Links > > > > > > > > ****************************************************** Milis Filsafat Posting : [email protected] Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ Website : http://filsafatkita.f2g.net/ Berhenti : [EMAIL PROTECTED] ****************************************************** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
