----- Original Message -----
Sent: Thursday, August 17, 2006 1:48 AM
Subject: [filsafat] MATERIALISME VS Marifatullah
Ketergantungan manusia akan sesuatu
di luar dirinya
begitu besar, guna memenuhi kebutuhan
hidupnya.
Keinginan untuk makan, minum, memadu cinta serta
berjuta
keinginan lain yang semuanya bermuara pada
hasrat untuk merasakan
kebahagiaan. Kebahagiaan dalam
tolak ukur kebendaan semata, suatu wujud
karena
kepemilikannya akan mendatangkan nilai guna dan nilai
rasa.
Seakan perlombaan hidup manusia dimulai untuk
mencapai kata bahagia, dalam
koridor dunia yang
sebenarnya telah memperdaya. Semua sudut pandang
itu
telah merubah kerangka berfikir manusia, sehingga
mereka berupaya
sekuat tenaga untuk mereguk kenikmatan
sesaat dan mengabaikan kenikmatan
abadi. Seluruh
penajaman kemampuan ilmu, pergulatan tubuh,
pemerasan
keringat diarahkan untuk meraup dunia dengan korban
kekeringan
jiwa. Menjual diri yang merupakan Milik-Nya
dengan pecahan logam materi,
begitu rendah dibanding
dengan apa yang dijanjikan oleh Sang Pencipta.
Begitu banyak tirai yang menutupi Cahaya, menutup
rapat mata manusia
sehingga berada dalam jurang
kegelapan. Hitam pekat seakan membelenggu,
dan
menjadikan dirinya terbelenggu oleh musuh nyata yang
telah menjadi
tawanan kegelapan itu sendiri. Syetan
sejak awal penciptaan telah
memproklamirkan diri bahwa
materinya (Api), lebih mulia dari materi Adam
(tanah).
Meskipun sebenarnya dari tanah yang selalu diinjak
mampu
menghasilkan buah manis, lain halnya dengan api
yang akan membakar apapun
yang mendekati sehingga
lebur tak terkendali. Akhirnya pemuasan diri
hanya
akan menghalangi perjalanan hidup ini menuju ilahi.
Para pemegang
risalah telah banyak mengingatkan
manusia untuk mengejar kesempurnaan jiwa
manusia,
mengabaikan cinta diri (ego) yang senantiasa membawa
kepada
keserakahan, kebinasaan, kebodohan dalam
memahami esensi hidup. Mereka
meyakini bahwa
perwujudan alam dengan segala kesempurnaan
proses
penciptaan, merupakan kemaujudan dari Sang Pencipta
yang lepas
dari ketergantungan apapun diluar Diri-Nya.
Menyadari bahwa tugas utama
manusia hanyalah mengabdi
kepada causa prima, Sumber Penyebab dari segala
sebab
tiap kejadian di alam dunia. Kemudian lahirlah sebuah
usaha untuk
mewujudkan tatanan Ilahiah yang akan
menyelamatkan seluruh manusia dari
pengingkaran
kepada-Nya. Menghantarkan kepada kecintaan seorang
hamba
kepada Sang Pencipta. Pemberi begitu banyak
Kasih Sayang yang tak ternilai
harganya oleh ukuran
materi semata
Rasul menginginkan agar manusia
mencapai kesempurnaan,
(oleh karena itu) sungguh menyakitkan baginya
bila
melihat manusia gagal mencapai kesempurnaan itu.
Manusia yang telah
mencapai maqam itu, atau bahkan
mirip dengannya (pen;sedang menuju
kesempurnaan atau
membawa konsep rasul) tidak akan menarik diri
dari
orang-orang (masyarakat). Malah sebaliknya, mereka
dibebani
(tugas) untuk membimbing orang-orang tersesat
dan meyelaraskan mereka
dengan penampakan-penampakan
Allah itu (pen;membawa manusia menuju ke
jalan Allah),
meski mungkin tak
berhasil.1
__________________________________________________
Do
You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com