Setelah kubuka tudung saji di meja makan, aku kaget dibuatnya karena ada sepiring otak-otak hangat yang sudah siap saji tinggal mengupas pembungkusnya yang terbuat dari daun pisang.
Kutanyakan tentang pengirimnya kepada Opik yang membantu di rumahku, katanya yang membawa adalah adikku.
Adikku sering membawa oleh-oleh, makanan yang sering dibawanya biasanya adalah martabak Lebaksiu, ayam bakar, burung belibis, ataupun jenis goring-gorengan itu adalah kesukaannya. Hari ini dia tak seperti biasanya karena membawa oleh-oleh otak-otak, sehingga membuat aku mau tahu lebih lanjut kenapa seleranya berubah.
Oh.. itu otak-otak aku beli di depan kampus UIN, tadinya aku mau beli martabak telor, tapi saya robah menjadi beli otak-otak karena kasihan sama yang menjual, dia tidak ada yang membeli sementara di penjual martabak yang beli sampai ngantri, demikian jawab adikku.
Aku terkesima dengan jawaban itu, karena lazimnya aku biasa membeli makanan pasti yang pas dengan seleraku tak pernah berfikir merobah selera seperti itu, bukankah selera itu sesuatu yang tidak bisa didiskusikan?
Mengacu pada adegan sebabak di atas, terfikir olehku tentang adanya kontra ilmu promosi, motif yang menggerakkan pembeli bukan karena faktor kebutuhan (need) tetapi karena adanya rasa belas kasihan.
Andai banyak orang yang lalu-lalang di jagad ini demikian, tentunya akan ada kesetimbangan rezeki. Banyak penjual yang terkaget-kaget karena mendapat pembeli yang datang dari jalur yang tidak terduga.
Dorongan dari keinginan adalah rasa lapar tubuh, kemudian untuk memenuhi hasratnya manusia berusaha untuk memenuhinya. Penggerak hasrat ini sama juga dengan yang menggerakkan rasa kasih sayang yaitu Sang Pencipta Yang Maha Berkehendak.
Mari kita mencoba mengurai penjual otak-otak dan pembelinya dari sudut motif pembelian, bukan dari sudut ekonomi.
Rasa kasih sayang pembeli memiliki makna dan kriterianya sendiri, kasih sayang yang dia berikan kepada penjual otak-otak sulit untuk didefinisikan karena kasih sayang ataupun cinta adalah hal yang paling rumit yang bisa kita rasakan.
Kasih sayang mencari kita. Demikian juga kehadiran kita di dunia adalah efek rasa kasih sayang itu. Rasa kasih sayang mendorong kita membuat rencana-rencana, mencari hubungan, dan mempertemukan antar hati. Rasa kasih sayang yang menggerakkan otak untuk membeli otak-otak bukan karena sekedar lapar, tetapi karena belas kasih sesama manusia. Kasih sayang bukan tujuan dari segala sesuatu tetapi sebab dari segala sesuatu.
Kita beranggapan bahwa kita yang mengatur hidup kita, kenyataannya justru sebaliknya, kita ini justru merupakan penggalan kecil dari proses yang besar dan gaib. Kita hanya bisa tahu pada apa yang bisa kita lihat sementara penggalan besarnya justru sedikit yang kita ketahui, seperti gunung es saja layaknya.
Mari kita perhatikan contoh berikut ; Coba anda ketikkan sesuatu pada keyboard sesuka anda, pasti sebagian besar perhatian anda akan terpusatkan pada layar monitor anda bukan sebaliknya pada keyboard. Sama juga pada saat anda memanah, maka perhatian anda pada anak panah, seakan busurnya tidak ada. Demikian juga dengan jiwa, jiwa-jiwa orang mewujud, sedangkan Jiwa dari semua jiwa tersembunyi, tidak terlihat. Jiwa yang tersembunyi itu yang mengasihi kita, menjaga kita dan membimbing kita dalam kehidupan ini. Para Rosul menyebutnya Allah.
Sekarang mari kita tengok penjual otak-otak, menurutnya sungguh dunia amat kejam, hidup ini merupakan penderitaan yang nyata, realitasnya tak ada satupun pembeli sebelum ini yang mau membeli daganganku. Kadang-kadang kita kehilangan kepercayaan terhadap arti hidup bila didera dengan penderitaan hidup, padahal hakikatnya kita sedang diberikan pelajaran, dibalikkan dari satu perasaan ke perasaan lainnya, kita diajari melakukan hal yang bertentangan dan berbeda. Kita terdorong pada realitas aktual, Dzat Yang Pengasih dan Penyayang adalah penguasa alam semesta. Kita menjadi terbebaskan dari rasa takut begitu mengetahui adanya dimensi abadi, yang selalu mengasihi dan menyayangi umatNya. Kita terbebas dari rasa takut akan pemikiran negatif tentang materi, karena materi tidak menguasai kita.
Rasa belas kasih membeli otak-otak yang bukan selera adalah ujud nyata kehendak Sang Pemilik Kasih Sayang, hati digerakkan untuk membeli dengan ikhlas. Ikhlas sendiri merupakan derajat yang tinggi di mata agama. Sebaliknya di mata pedagang otak-otak, kejadian membeli barang dagangannya adalah rahasia Tuhan, bahwa Tuhan memberikan rezeki dari jalan yang tak diduga.
Otak-otak dihadapanku sudah minta untuk dijamah, tak perlu lagi memikirkan otak-otak ini terbuat otak atau dari hati, karena sudah jelas otak ini terbuat dari ikan tengiri dan tinggal menyantapnya. Gitu aja kok repot...
Salam,
http://ferrydjajaprana.multiply.com
__._,_.___
******************************************************
Milis Filsafat
Posting : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
SPONSORED LINKS
| Philosophy | Philosophy of | Philosophy book |
| Citizens of humanity | Citizens of humanity jeans |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "filsafat" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
__,_._,___
