|
Intermezzo:
Eufemisme dan
Werkudoro
Werkudoro adalah sosok pahlawan dalam dunia
wayang kulit yang aneh: ia tidak memiliki postur tubuh seorang ksatria pada
umumnya, seperti postur tubuh Harjuna misalnya, tapi berpostur tubuh
raksasa: tinggi besar, dengan suara menggelegar. Yang juga menarik dari watak
Werkudoro adalah: dia tidak bisa menggunakan bahasa Jawa yang halus, yang sangat
ketat dalam hal tata krama dan unggah-ungguh. Dia hanya bisa
menggunakan bahasa Jawa ngoko, yaitu bahasa Jawa kasar, bahasa Jawa
dari tingkatannya yang paling rendah. Tapi Werkudoro inilah, yang tidak pandai
menggunakan bahasa dengan halus, yang menjadi pralambang kejujuran dalam dunia
wayang kulit. Dia adalah sosok yang jujur dan satu-satunya tokoh wayang yang
dikisahkan berani menyelami Samodera Minang Kalbu sampai ke dasarnya, dan
bertemu dengan Guru Sucinya yaitu, Sang Hyang Dewa Ruci.
Yang menarik untuk diamati dari sosok Werkudoro
ini adalah: nampaknya ada kontradiksi antara penggunaan bahasa yang halus
dan lembut di satu sisi, dan kejujuran yang lugas di sisi lain. Dus,
bahasa mungkin bisa digunakan sebagai alat untuk berbohong, baik
membohongi diri sendiri maupun membohongi publik.
Dalam ilmu bahasa misalnya, dikenal gaya bahasa
eufemisme: yaitu gaya bahasa untuk mengungkapkan sesuatu dengan cara yang lebih
halus, sehingga tidak terdengar kasar atau jorok. Ketika seseorang mau
ke WC misalnya, akan dianggap lebih sopan jika dia berkata, "Saya mau ke
kamar kecil." Bahasa Indonesia, sebagaimana bahasa Jawa, adalah bahasa yang kaya
dengan eufemisme semacam ini. Di masa lalu istilah pelacur dianggap terlalu
kasar, sehingga disebut wanita tuna susila, gelandangan lebih 'terhormat' jika
disebut tunawisma, dan orang yang kerjanya cuma luntang-lantung karena
tidak punya pekerjaan disebut tunakarya. Begitulah dengan eufemisme,
sesuatu yang sebenarnya kurang baik, bisa terdengar lebih sopan. Mungkin ini
akan berguna dalam berinteraksi dengan orang lain: agar kita tidak
menyinggung perasaannya.
Namun celakanya eufemisme ini bisa juga menjadi
alat tipu-diri yang ampuh. Berikut ini adalah contoh yang saya amati
dalam pemakaian bahasa Jawa sehari-hari: acara main (judi) di
tempat orang punya gawe, misalnya, disebut sebagai tirakatan.
Ketika anak-anak muda bergerombol dan mau cari minuman keras, mereka menyebutnya
golek anget-anget. Ketika kita mau utang duit, kita malu menyebutnya
utang, tapi nyrempet. Ketika seorang anak bodoh di sekolah, dia
disebut kendho. Ketika ada seorang pejabat desa yang mabuk dan
melakukan hal-hal yang tidak senonoh, dia dikatakan lagi kurang penak
awake. Ketika seorang istri yang sudah setengah
umur dan mengajak seorang anak muda untuk berselingkuh, dia bilang:
kanggo jamu.... Sedangkan di Solo ada juga sate jamu, yaitu
rica-rica daging anjing.
Saya juga pernah mendengar seorang guru yang
berkata: kalau guru di Indonesia itu telah dibohongi, mereka diberi gelar
Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Gelar yang sangat angker dan serem, tapi jika
kesejahteraan tidak dipikirkan, apa disuruh makan gelar? Begitulah dia
misuh-misuh.
Ketika penggunaan bahasa telah menjadi sedemikian
manipulatif-nya, mungkin kita perlu ingat sosok Arya Bima Sena atau Werkudoro
yang tidak pandai menggunakan bahasa yang lembut dan halus, yang kata-katanya
langsung dan lugas, tanpa tedeng aling-aling. Memang kata-kata yang langsung dan
lugas bisa jadi menyakitkan, sama menyakitkannya ketika mencabut sebutir
peluru yang sudah terlanjur bersarang dalam tubuh... tapi bagaimanapun, itu
jauh lebih baik daripada membiarkan peluru itu bersarang di sana.
Sudahkah kita menggunakan bahasa dengan 'baik' dan
'benar'?
Salam,
****************************************************** Milis Filsafat Posting : [email protected] Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ Website : http://filsafatkita.f2g.net/ Berhenti : [EMAIL PROTECTED] ******************************************************
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
__,_._,___ |
- [filsafat] Eufemisme dan Werkudoro yohanes sutopo
- RE: [filsafat] Eufemisme dan Werkudoro Andi Resnadi
