http://www.kompas.com/kompas-cetak/0608/30/opini/2917890.htm
Enaknya Menjadi Menteri Kita katakan enak karena sepertinya tidak ada tanggung jawab yang harus dipikul. Ketika produksi nasional tidak mencukupi, jawabnya, ya mengimpor saja. Dari DPR kita mendengar kabar bahwa pemerintah mulai melakukan lobi. Mereka mencoba mendapat dukungan politik untuk bisa mengimpor beras karena stok yang ada di Perum Bulog hanya 500.000 ton, padahal kebutuhan stok minimal sekitar satu juta ton. Secara politis, pemerintah memang harus benar-benar aman dengan stok bahan makanan pokok yang satu ini. Sebab, pengaruh yang namanya beras terhadap tingkat inflasi sangatlah tinggi. Jangan tanya kalau sampai terjadi kelangkaan, dampaknya bisa mengganggu stabilitas. Kita tentunya paham akan hal itu. Tetapi, pertanyaannya, mengapa kita harus mengimpor beras? Ketika pertama kali masalah kekeringan diangkat, pemerintah berulang kali mengatakan bahwa kekeringan yang terjadi masih pada tingkat yang wajar. Bahkan selalu dikatakan bahwa kekeringan tidak akan mengganggu produksi. Mengapa tiba-tiba sekarang produksi tidak mencukupi? Pertanyaan lain, apa yang sudah dilakukan Departemen Pertanian? Apakah Deptan telah melakukan tugas utamanya untuk mendorong petani meningkatkan produksi dan menerapkan teknologi terbaru? Di sini sering kali kita merasa terganggu. Seremoni untuk melakukan panen raya begitu sering dilakukan. Namun, kenyataannya, produksi nasional tidak mencukupi dan terpaksa kita harus mengimpor. Terus terang yang ingin kita gugat adalah kebiasaan untuk begitu mudahnya melakukan impor. Bukan hanya terbatas pada urusan beras, untuk komoditas lainnya pun kita begitu entengnya untuk mengimpor. Dengan alasan agar masyarakat bisa mengonsumsi daging, maka impor daging akan dilakukan. Buah-buah impor terus berdatangan masuk. Di Brebes, petani bawang merah pun melakukan protes karena bawang produksi mereka tertekan bawang impor. Dan yang sekarang menjadi kontroversi, tepung daging dan tulang (meat and bone meal) akan diimpor dari AS, padahal negeri itu terjangkit sapi gila dan oleh Badan Kesehatan Hewan Dunia (OIE) komoditas itu dilarang untuk diperdagangkan. Kita ingin mengingatkan, salah satu tugas para menteri itu seharusnya mendorong produksi. Bahkan, dalam kondisi negeri yang sedang terpuruk seperti sekarang, tugas para menteri untuk bisa membuka lapangan kerja dan menyumbangkan devisa kepada negara. Bukan justru berlomba menghambur-hamburkan devisa. Selalu kita ingatkan bahwa kehormatan itu membawa tanggung jawab, noblesse oblige. Sebagai seorang menteri, menjadi pejabat negara banyak privilese yang diberikan rakyat. Di balik kenikmatan yang dirasakan itu, ada tanggung jawab yang harus dipenuhi, yakni menyumbangkan tenaga dan pikiran untuk kemajuan negeri. Jangan hanya kenikmatannya saja yang mau diterima, sementara tanggung jawabnya tidak mau dilaksanakan. Tidak mau turun ke bawah untuk mengetahui apa yang dirasakan oleh rakyatnya, tidak peduli dengan realitas bangsanya. Enak betul jadi menteri di Indonesia kalau hanya kenikmatan yang diterima, kerja kerasnya tidak! __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com ****************************************************** Milis Filsafat Posting : [email protected] Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ Website : http://filsafatkita.f2g.net/ Berhenti : [EMAIL PROTECTED] ****************************************************** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
