Senandung Alam Cibodas adalah taman cagar alam khususnya mengakomodasi alam tumbuh-tumbuhan (botanical garden), di sana berbagai tumbuh-tumbuhan hidup dengan rukun dan damai.
Tiap harinya antara hujan, dengan panas bergantian satu sama lain, dirangkai oleh hembusan angin bulan Oktober, sehingga kecantikan alamnya seolah rajutan yang indah dipandang mata, membuat kita betah berlama-lama berlibur di sana. Kedatanganku di bukit Cibodas disambut oleh taman bunga teratai yang letaknya tak jauh dari pintu gerbang masuk, tempatnya yang strategis itu mengundangku untuk melangkah ke sana menghilangkan rasa capek setelah perjalanan dua jam selepas dari ibukota Jakarta. Bebatuan artificial yang cukup besar ini nyaman sekali diduduki sambil berleha-leha. Sebenarnya perjalananku pagi ini tidaklah terasa capek sekali, karena perjalananku dari Jakarta aku lakukan ba'da Subuh, saat fajar menyingsing, sehingga jalanan yang biasanya macet masih terasa lengang. Hangatnya mentari pagi menggugah minatku untuk berjemur, dan mengambil gambar bunga teratai. Pagi hari adalah saat terbaik untuk mengambil gambar, selain gambar terlihat dimensinya karena efek cahaya matahari pagi juga kita bisa mendapatkan warna emas hasil pendaran cahaya ultra violet sehingga gambar menjadi lebih dramatis. Sekuntum teratai yang kujadikan obyek ini sungguh menarik sekali, betapa tidak disela-sela pengamatanku mengatur fokus kamera dan jarak obyek, menampakkan gerakan mistis, mekar perlahan tapi pasti. Bunga teratai memanifestasikan ketertarikan dan simpatinya pada matahari. Sepelemparan batu dari taman kolam teratai, tumbuh bunga rembulan (selenotropium) dan bunga matahari. Kesamaan kedua bunga ini adalah sangat indah dipandang mata, walaupun demikian kedua bunga ini memiliki ciri yang berbeda, bunga matahari mengikuti peredaran matahari, sementara bunga rembulan mengikuti peredaran bulan. Mengamati bunga matahari membuat imajinasiku melayang-layang, karena bunganya mengikuti kemana arah matahari bergerak layaknya antenna parabola yang selalu memonitor ke arah mana satelit berdiam di angkasa raya. Merenungi (tafakur) ciptaan Sang Khalik membuat aku yakin bahwa pada hakekatnya setiap sesuatu berdoa sesuai dengan jenjang yang ditempati oleh alam ini, mereka menyenandungkan pujian terhadap Ilahi Robbi Sang Pencipta Alam ini, pujian rohani dan pujian jasmani. Bunga matahari bergerak sampai taraf tertentu, ia bebas melangkah mengikuti peredaran, andai saja kita mendengar bunyi udara yang diterpa oleh geraknya, kita akan insaf bahwa itu adalah suatu dendang himne kepada Sang Khalik, sedemikian rupa sejauh kesanggupan yang ada pada tumbuhan untuk berdendang. Dendang alam ini tidak hanya milik bunga matahari karena sebelumnya juga dilakukan oleh bunga teratai, Sebelum sinar matahari muncul, ia terkatup, memekar saat matahari mencapai puncaknya, mengatup dan menutup kembali saat matahari turun. Apa bedanya perilaku manusia yang memuji Dzat Pemilik Cahaya melalui gerakan mulut dan bibirnya, dibandingkan dengan teratai yang memekarkan dan menutup kelopaknya? Kelopak adalah bibirnya dan itu adalah himne alamiah, seperti kita dzikir menyebut Asma Allah "Allah-Allah-Allah..." setiap saat. Salam, http://ferrydjajaprana.muliply.com ****************************************************** Milis Filsafat Posting : [email protected] Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ Website : http://filsafatkita.f2g.net/ Berhenti : [EMAIL PROTECTED] ****************************************************** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/filsafat/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
