Kantor Berita Common Ground
Mitra Kemanusiaan (CGNews-MK) 

Bagi Hubungan Muslim-Barat yang Saling Asah, Asih, Asuh 
 
  13 - 19 Oktober 2006   
 
Jika halaman ini tidak tampil sebagaimana mestinya, klik di sini. 


Kantor Berita Common Ground - Mitra Kemanusiaan (CGNews - MK) 
bertujuan mendorong perspektif dan dialog konstruktif yang berkaitan 
dengan hubungan Muslim-Barat. Layanan ini juga tersedia dalam bahasa 
Arab, bahasa Inggris dan bahasa Perancis. Untuk berlangganan, klik 
di sini. 


Untuk arsip artikel CGNews dan informasi lainnya, silahkan kunjungi 
website kami: http://www.commongroundnews.org. 


Kecuali jika ditentukan khusus, ijin hak cipta telah diperoleh dan 
semua artikel bisa dipublikasikan kembali oleh media massa atau 
surat kabar secara bebas. Silahkan memberitahukan kepada sumber 
artikel asli dan Kantor Berita Common Ground (CGNews). 
  
Dalam edisi ini 
  
1) Kaum Muda Amerika dan Perang Suci oleh Kathryn Joyce

Dalam artikel kelima dari serangkaian tulisan mengenai kebangkitan 
kembali agama dan hubungan Muslim—Barat, Kathryn Joyce, seorang 
penulis yang tinggal di New York, mendeskripsikan beberapa ajaran 
dan kegiatan yang bisa menyeret anak—anak muda ke dalam 
fundamentalisme Kristen. Ia berpendapat bahwa "Semangat kepasrahan 
diri, kepatuhan, dan pengorbanan diri, hingga penghancuran diri 
seperti ini mengilhami gerakan—gerakan muda fundamentalis di semua 
agama." Selain itu ia juga menyatakan, "Para orang tua dan pemimpin 
masyarakat berbagi tanggung jawab menghindarkan anak—anak kita dari 
komitmen robotik dan mengarahkan mereka ke kehidupan yang penuhi 
pilihan—pilihan bermakna." 
(Sumber: Common Ground News Service (CGNews), 10 Oktober 2006) 
     
2) Tradisi, Ramadhan, dan Paus oleh Ibrahim N. Abusharif

Ibrahim N. Abusharif, seorang penulis asal Chicago, mencoba menjawab 
pertanyaan yang terkandung dalam pidato kontroversial Paus belum 
lama ini: hal baru apakah yang dibawa Muhammad? Ia pun mengatakan 
bahwa "Ketika orang dari berbagai tradisi agama benar-benar berusaha 
saling mengenal satu sama lain, tentang peribatan kita dan apa yang 
penting bagi kita, kita semua akan menjadi orang yang lebih arif. … 
Kita semua perlu bersikap rendah hati menyadari kenyataan bahwa tak 
seorangpun yang mempunyai sebuah buku besar yang berisi nama-nama 
orang yang akan masuk surga, atau sebaliknya." 
(Sumber: Common Ground News Service (CGNews), 10 Oktober 2006) 
     
3) 'Benturan' Identitas - Wawancara dengan Samuel Huntington oleh 
Samuel Huntington

Dalam sebuah wawancara dengan Majalah Islamica, Samuel Huntington, 
Profesor Universitas Albert J. Weatherhead III di Universitas 
Harvard, menjernihkan apa makna benturan peradaban. Ia 
menyatakan, "Hubungan antar negara di dekade yang mendatang akan 
mencerminkan komitmen kebudayaan mereka, ikatan kebudayaan mereka, 
dan permusuhan mereka dengan negara-negara lain." Pokok yang 
mengejutkan, barangkali adalah kesimpulannya bahwa ini merupakan 
sebuah tema umum dan tidak menghindarkan hubungan antara dunia 
Muslim dan Barat yang terkadang menghasilkan persekutuan-persekutuan 
lintas budaya berdasarkan kepentingan bersama, ia juga tak 
mengabaikan perbedaan-perbedaan yang hidup dalam dunia Muslim dan 
Barat. 
(Sumber: Islamica Magazine, September 2006) 
     
4) Bagaimana Membeli Citra oleh Ayman El-Amir

Ayman El-Amir, mantan koresponden Al-Ahram Washington, mengatakan 
kepada umat Muslim dan bangsa Arab bahwa berkaitan mengubah 
pandangan Barat, pesan lebih penting dibandingkan menguasai 
medium. "Umat Muslim harus berbuat lebih banyak untuk menciptakan 
kesan yang meyakinkan tentang sistem nilai universal mereka…" Ia 
juga mengingatkan, "Bahkan dalam masa-masa ekstrem dari sebuah dunia 
Muslim yang beragam dan penuh pertentangan, ada kesatuan yang pasti 
dari tujuan dan identitas kebudayaan. Kasih sayang, tenggang rasa, 
dan keyakinan tetap merupakan nilai-nilai yang diyakini umat Muslim 
dan bersifat universal." 
(Sumber: Al-Ahram Weekly, 28 September – 4 Oktober, 2006) 
     
5) Membungkam Dialog oleh Daniel Barenboim

Daniel Barenboim, pianis dan konduktor, mempersoalkan perbedaan 
antara "substandi dan persepsi" dalam konteks keputusan terbaru dari 
Deutsche Oper membatalkan pergelaran karya Mozart Idomeneo. "Dengan 
menyensor diri kita sendiri secara artistik karena rasa takut 
menghina kelompok tertentu, kita tidak hanya membatasi pemikiran 
manusia secara umum, tetapi juga telah menghina kecerdasan sebagian 
besar umat Muslim dan melucuti mereka dari kesempatan untuk 
menunjukkan kematangan berpikir mereka." Ia menyimpulkan bahwa 
pembatalan tersebut "bukannya meletakan umat Muslim sebagai mitra 
untuk mencari suatu penyelesaian, malah mengasingkan seluruh umat 
Muslim dan memposisikan mereka menjadi bagian dari masalah." 
(Sumber: Internasional Herald Tribune, 2 Oktober, 2006) 
     
  
1) Kaum Muda Amerika dan Perang Suci
Kathryn Joyce 
 
  
New York, New York — "Ini adalah perang," demikian pernyataan Ron 
Luce, penulis manifesto pemuda evangelis Battle Cry for a Generation 
dan pendiri gerakan Teen Mania. Waktu itu ia berbicara di hadapan 
para aktivis muda Kristen dalam salah satu kegiatan keagamaannya 
yang diselenggarakan di seluruh pelosok negri. Kegiatan yang begitu 
hingar bingar, tak ubahnya kocokan antara konser musik rock, 
pengakuan dosa di depan altar, demonstrasi anti pernikahan sesama 
gay, yang dibumbui dengan pekikan—pekikan angkat saja kaum 
militan. "Yesus menyeru, mengatakan kepada kita bahwa kekerasan–
yang `penuh kekuatan`–akan melindungi kerajaan… Kalian tak perlu 
tahu banyak tentang Yesus, cukup serahkan seluruh hidup kalian… 
Selamat datang di kerajaan kepasrahan total pada Tuhan."

Di balik ledakan kembang api dan kisah—kisah perang tersebut 
tersirat pesan yang lebih dalam pada para remaja itu: bahwa 
pemberontakan sesungguhnya tak terletak dalam peniruan atau 
pemikiran bebas, tetapi dalam kepasrahan dan kepatuhan total pada 
Kritus dan kekuasaannya di muka bumi. Sebuah counter—intuitive 
truism tentang kepatuhan radikal yang menjadi landasan gerakan 
restorasi Kristen fundamentalis menentang sisa—sisa individualisme 
dan kebebasan bersikap era 60—an.

Pesan Luce seiring sejalan dengan tulisan Mary Pride, seorang mantan 
feminis yang menjadi Kristen fundamentalis dan salah satu penyokong 
utama gerakan bersekolah di rumah yang konservatif pada pertengahan 
1980—an melalui bukunya, The Way Home: Away from Feminism, Back to 
Reality. Buku ini adalah sebuah manual anti—feminis yang berupaya 
mengajak kembali keluarga—keluarga agar mematuhi Injil, menghormati 
kaum pria. The Way Home juga telah membantu mengarahkan energi 
restorasi ajaran Kristen di tingkat dasar. Berbeda dengan revolusi—
revolusi kebudayaan lainnya yang menekankan individualisme dan 
kebebasan sebagai kunci perubahan sosial, Pride justru mendorong 
ketaatan kepada otorita dan tradisi, serta kepasrahan penuh kepada 
Tuhan, dengan cara menyadari posisi diri kita masing—masing dan 
menjaganya laksana seorang prajurit.

"Kepasrahan", tulisnya, "memiliki nafas kemiliteran." Dengan 
menggambarkan peran—peran suami dan ayah, isteri dan ibu, sesuai 
Injil, ia menjelaskan analoginya, "Untuk mencapai tujuan yang lebih 
besar, sang prajurit harus mematuhi perintah perwira atasannya, 
meski ia tidak tak setuju… Generasi ini berada dalam bahaya karena 
lupa bahwa kehidupan Kristen masih dalam kondisi perang… Ketika 
seorang prajurit memiliki komitmen untuk berperang, bersedia 
membuang hasrat pribadinya untuk meraih kemenangan, dan bersedia 
mematuhi pemimpin yang telah dipilih oleh Panglimanya, pasukan itu 
pasti akan menang."

Dalam metafora ini, dan dalam teologi pro—kelahiran, gerakan 
keluarga besar yang tumbuh seperti jamur dalam masyarakat yang 
bersekolah di rumah, peringkat peran—peran itu adalah sebagai 
berikut: Tuhan sebagai Panglima, suami sebagai khalifah Tuhan di 
muka bumi sekaligus pemimpin keluarga, dan isteri sebagai prajurit 
di bawahnya. Anak—anak, sebagaimana disebut dalam ayat—ayat Injil 
adalah anak—anak panah yang memenuhi tempat anak panah (quiver) 
milik ayah mereka. Artinya, mereka akan digunakan untuk melawan para 
musuh orangtua mereka – sebuah pengorbanan suka rela yang dilakukan 
oleh soldadu—soldadu yang dibesarkan dan diajari untuk menempatkan 
kepatuhan di atas kepentingan pribadi.

Semangat kepasrahan diri, kepatuhan, pengorbanan diri hingga 
penghancuran diri ini telah mengilhami gerakan—gerakan muda 
fundamentalis di semua agama, dari para pejuang muda Kristen 
generasi Battle Cry Ron Luce, hingga pemuda—pemudi Muslim yang 
direkrut dan dijadikan senjata hidup bagi sistem perang suci yang 
berbeda.

Dalam buku The Use and Abuse of Holy War, James Turner Johnson, 
seorang ahli agama Islam, mengutarakan bahwa perbedaan sejarah 
antara Barat dan Muslim telah membuat kedua belah pihak berhadap—
hadapan dalam "perang suci". Orang Barat sekuler memandang perang—
perang berdasarkan agama ini sebagai sesuatu yang menyedihkan, 
sementara di negara—negara Muslim, perang agama justru menyatukan 
budaya, mengatasi segala perbedaan sekuler di antara orang—orang 
kini bersatu memasrahkan diri kepada Tuhan mereka.

Di kalangan gerakan kepemudaan yang lebih konstruktif, berbagai 
program layanan seperti Habitat for Humanity, organisasi—organisasi 
aktivis seperti Teen Peace dan The Sierra Student Coalition, atau 
program yang menjangkau masyarakat perkotaan seperti Homies Unidos, 
nilai kepatuhan diletakkan di urutan kedua setelah pengembangan hati 
nurani, ajaran gotong royong, atau perjuangan untuk mencapai tujuan. 
Pertunjukan—pertunjukan musik rock bagi Tuhan dipotong dan dialihkan 
dalam irama yang yang lebih tenang, lebih dewasa, dengan mengajarkan 
bahwa perubahan sosial membutuhkan waktu dan kerja keras, bukan 
sekedar semangat gila—gilaan belaka.

Perang sebagai sebuah tujuan yang dapat menyatukan kaum muda bersama 
ditukar dengan komitmen yang lebih bijak terhadap perdamaian. Para 
orang tua dan pemimpin masyarakat berbagi tanggung jawab 
menghindarkan anak—anak kita dari komitmen robotik dan mengarahkan 
mereka ke kehidupan yang penuh pilihan—pilihan bermakna.

###

* Kathryn Joyce adalah seorang penulis yang tinggal di New York 
City. Ini adalah artikel kelima dari serangkaian tulisan mengenai 
kebangkitan kembali agama dan hubungan Muslim—Barat untuk Common 
Ground News Service, www.commongroundnews.org.

Sumber: Common Ground News Service (CGNews), 10 Oktober 2006, 
www.commongroundnews.org. 
Hak cipta untuk publikasi telah diperoleh. 
  
  
2) Tradisi, Ramadhan, dan Paus
Ibrahim N. Abusharif 
 
  
Chicago, Illinois – Walaupun telah meminta maaf secara terbuka dan 
mencabut pernyataannya, kita mungkin tetap tak dapat memahami 
mengapa Paus Benedict XVI memutuskan untuk membenamkan diri ke dalam 
kolam ingatan akan polemik antara Katolik dan Islam pada Abad 
Pertengahan. Pertanyaan tersebut akan tetap menyembul jika Paus 
mengutip pernyataan lain tentang Protestan atau Yahudi, yang sama 
menggiurkannya dan bejibun jumlahnya.

Ada sebuah pertanyaan dari percakapan Abad XIV yang telah dikutip 
Paus itu yang ketika berdiri sendiri terdengar netral dan tak 
merendahkan Islam: Hal baru apakah yang dibawa Muhammad?

Pertanyaan inilah yang seharusnya dijawab, khususnya ketika 
mempertimbangkan penyebaran neologisme dari inajinasi pemasaran 
politik ("fasisme Islam", "Islam radikal", "Islamis", "Jihadis", 
dsb). Pengulangan kata-kata tersebut merupakan metode yang dipakai 
untuk menenangkan masyarakat agar mau menerima kebijakan-kebijakan 
nasional yang penting dan kembang gula politik. Tetapi kata-kata ini 
semakin menebalkan selubung mitologi yang membebati Islam di Barat 
dan membuat gambaran buruk mengenai umat Muslim di seluruh dunia, 
sebuah wajah menyeringai.

Saya akan menjawab pertanyaan Paus, dengan mengutip langsung dari Al 
Qur'an. Nabi Muhammad tidak diturunkan untuk menciptakan sesuatu 
yang baru tetapi untuk mengembalikan, menegaskan, dan melengkapi 
pesan Ibrahim yang menegakkan prinsip utama dari seluruh proyek 
agama: tidak ada Tuhan selain Allah, yang telah menciptakan langit 
dan bumi. Inilah pesan inti dari seluruh utusan sebelum Ibrahim, 
baik para nabi berdarah Israil (Yakub hingga Isa), maupun mereka 
yang keturunan Ismail, Muhammad sampai nabi terakhir, seperti yang 
diyakini umat Muslim.

Pesan yang mereka bawa tidak pernah lari dari inti ajaran Ibrahim, 
perbedaan yang ada hanya terletak pada rincian hukum suci yang 
disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Obsesi Islam tidak ada 
hubungannya dengan inovasi, tetapi dengan restorasi dan proteksi 
pesan awal tersebut. Tanpa itu, makna dan tujuan hidup akan lenyap, 
atau menjadi angka, hanya menyisakan etos pasca modern yang dingin 
sebagai tempat berlindung.

Islam dan Kristen sebenarnya memiliki banyak kesamaan keyakinan, 
tetapi keduanya dipisahkan oleh cerita penyelamatan yang berbeda. 
Saya sadar, cara seseorang masuk surga di akhirat bukanlah hal remeh 
dalam agama, tetapi masalah siapa yang benar atau salah tidak pernah 
dimaksudkan untuk diselesaikan di dunia, tidak juga dimaksudkan 
untuk menghasilkan rasa benci terhadap "orang lain". Kita semua 
perlu bersikap rendah hati menginngat bahwa tak seorangpun yang 
mempunyai sebuah buku besar yang berisi nama-nama orang yang akan 
masuk surga, atau sebaliknya. Jadi tanggung jawab kita dalam 
kehidupan ini adalah untuk turun dari singgasana kita dan mencari 
kesamaan landasan, bukan karena hal ini merupakan suatu filosofi 
liberal baru, tetapi karena hal tersebut merupakan tujuan utama dari 
agama, yaitu untuk menegakkan kebenaran dalam hubungan antar manusia 
dan untuk hidup berdampingan serukun mungkin. Inilah berjuang di 
jalan Allah; inilah jihad.

Kedatangan bulan Ramadhan, bulan saat umat Muslim berpuasa di siang 
hari dan beribadah malam hari, menekankan inti dari editorial ini. 
Al Qur'an memperkenalkan ritual berpuasa pada bulan Ramadhan 
sebagaimana berikut: "Hai orang beriman, berpuasalah engkau 
sebagaimana orang-orang sebelum engkau." Islam adalah agama yang 
murni, seperti yang diyakini umat Muslim, sebuah lanjutan dari 
sebuah pesan yang berdasarkan logika maupun intuisi tidak akan 
berubah di tingkat esensinya. Jalan menuju keselamatan bagi manusia 
yang pertama, pastilah sama dengan manusia terakhir, demikianlah 
seorang bijak pernah berkata. Cerita yang tidak dapat diubah karena 
akhir yang baik bergantung sepenuhnya pada ampunan Tuhan.

Di antara berbagai aspek yang ada dalam semua agama adalah fakta 
bahwa berpuasa merupakan bagian dari ajaran spiritual mereka. Kita 
masing-masing memiliki tubuh yang mempunyai berbagai kebutuhan, 
tetapi menyerahkan kemanusiaan kita kepada kehendak "tubuh" 
merupakan suatu kelalaian yang selalu diingatkan agama. Selama 
ribuan tahun, orang-orang bijak yang kaya pengalaman telah 
menawarkan pandangan mereka, baik yang hanya diketahui oleh 
segelintir orang maupun yang praktis, tentang berbagai manfaat yang 
berhubungan dengan kerelaan melepaskan diri dari keduniawian selama 
satu waktu tertentu dan dengan tujuan mulia. Mereka telah 
memperluasnya hingga bagaimana alam molekul makanan dan minuman, 
misalnya, mempengaruhi dunia yang tidak kasat mata dari keinginan 
dan pilihan, dari rasa syukur dan nurani, serta bagaimana 
pengetahuan agung tertentu datang hanya kepada mereka yang telah 
menguasai nafsu mereka.

Orang-orang modern yang mengejek mereka yang berpuasa, tak memahami 
bahwa menahan diri dari makan, minum, dan berhubungan intim dari 
subuh hingga maghrib (selama 29 atau 30 hari berturut-turut) adalah 
demi mengembalikan kehalusan jiwa kita dengan mengingatkan kita, 
pertama dan terutama, bahwa kita punya jiwa, karena jiwa adalah 
wadah bagi spiritualitas manusia. Sesederhana itu.

Ketika orang dari berbagai tradisi agama benar-benar berusaha saling 
mengenal satu sama lain, tentang peribatan kita dan apa yang penting 
bagi kita, kita semua akan menjadi orang yang lebih arif. Paus John 
Paul II mengetahui hal ini dengan baik dan sangat dihormati di dunia 
Muslim hingga merasa sangat berduka ketika beliau wafat. Kami 
berharap Paus Benedict XVI akan melanjutkan warisan beliau.

###

* Ibrahim N. Abusharif adalah seorang penulis yang berasal dari 
Chicago. Saat ini ia sedang mengerjakan kamus kecil Al Qur'an. 
Artikel ini disebarluaskan oleh Common Ground News Service (CGNews) 
dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: Common Ground News Service (CGNews), 10 Oktober 2006, 
www.commongroundnews.org. 
Hak cipta untuk publikasi telah diperoleh. 
  
  
3) 'Benturan' Identitas - Wawancara dengan Samuel Huntington
Samuel Huntington 
 
  
Cambridge, Massachusetts – Selama 13 tahun, dua kata telah 
mendominasi wacana hubungan kebudayaan, internasional, dan keagamaan 
terkait dengan kebijakan luar negeri di masa kita, yaitu "Benturan 
peradaban." Seperti yang dinyatakan oleh Profesor Universitas 
Harvard Samuel Huntington, frasa tersebut telah menimbulkan 
perdebatan panas di penjuru dunia, khususnya di kalangan umat 
muslim. Teori Huntington sering kali ditafsirkan sebagai proklamasi 
ketidaksesuaian mendasar antara "Barat Kristen" dan "Dunia Muslim". 
Dampak yang ditimbulkannya pada politik global terkadang sulit untuk 
dipahami. Majalah Islamica berbincang-bincang dengan Samuel 
Huntington tentang 'benturan' identitas dan lobi Israel.

Islamica: Saya ingin memulai dengan sebuah pertanyaan umum tentang 
buku Anda "Benturan Peradaban." Teori Anda tentang benturan 
peradaban menyatakan bahwa "politik global dewasa ini seharusnya 
dipahami sebagai hasil dari konflik yang mengakar antara kebudayaan-
kebudayaan dan agama-agama besar dunia." Tesis ini memperoleh 
momentum pasca 11 September, dan kini perang melawan terorisme 
sering didefinisikan sebagai pertarungan Barat melawan Islam, 
sebagai benturan mendasar dari kedua peradaban ini. Apakah Anda 
merasa bahwa tesis anda telah digunakan dengan tepat dalam 
menggambarkan perang melawan terorisme sebagai perang antara Barat 
melawan Islam? Jika tidak, perubahan-perubahan apa dalam penerapan 
teori Anda yang ingin anda lakukan?

SH: Argumen dalam buku saya tentang benturan peradaban dicerminkan 
dengan baik dalam kutipan singkat yang mengatakan bahwa hubungan 
antar negara di dekade mendatang akan mencerminkan komitmen 
kebudayaan mereka, ikatan kebudayaan mereka, dan permusuhan mereka 
dengan negara-negara lain. Cukup jelas bahwa kekuasaan akan terus 
memainkan peran utama dalam politik global seperti yang selama ini 
selalu terjadi, walaupun biasanya ada sesuatu yang lain. Pada abad 
ke-18 di Eropa, sebagian besar isu melibatkan masalah seputar 
monarki atau monarki melawan gerakan republikan yang tengah bangkit, 
pertama di Amerika dan kemudian di Perancis. Pada Abad 19, bangsa 
dan rakyat berusaha mendefiniskan nasionalisme mereka dan 
menciptakan negara yang mencerminkan nasionalisme mereka. Pada abad 
ke-20, ideologi tampil ke muka, sebagian besar, tetapi tidak 
eksklusif, sebagai akibat dari Revolusi Rusia dan kita memiliki 
fasisme, komunisme, dan demokrasi liberal bersaing satu sama lain. 
Boleh dibilang, semua itu telah berakhir. Dua ideologi (fasisme dan 
komunisme) memang tidak sepenuhnya hilang tetapi telah tergusur ke 
tepian, sementara demokrasi liberal telah diterima di seluruh dunia, 
setidaknya secara teoritik. Jadi pertanyaan sesungguhnya adalah apa 
yang akan menjadi pusat perhatian politik global dalam dekade-dekade 
mendatang. Menurut hemat saya, identitas budaya, permusuhan budaya 
dan berbagai bentuk ikatan lainnya, akan memainkan peranan utama, 
meski bukan satu-satunya. Berbagai negara akan bekerja sama, dan 
akan lebih besar kemungkinannya untuk bekerja sama jika mereka 
memiliki kesamaan budaya, seperti yang diperlihatkan secara dramatis 
oleh Uni Eropa. Kelompok-kelompok lain sedang bermunculan di Asia 
Timur dan di Amerika Selatan. Pada dasarnya, seperti yang saya 
katakan, politik-politik mereka akan menyesuaikan diri berdasarkan 
persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan budaya.

Islamica: Jika tesis Anda sepenuhnya menjelaskan hubungan antara 
negara-negara pasca 11/9, bagaimana Anda menempatkan persekutuan 
antara Pakistan dan Amerika Serikat melawan Afghanistan misalnya, 
atau relasi-relasi yang serupa?

SM: Ya, jelas bahwa Pakistan dan AS merupakan dua negara yang sangat 
berbeda, tetapi kami memiliki kesamaan kepentingan geopolitik untuk 
mencegah komunis menguasai Afghanistan dan karena itu, mengingat 
kesediaan Pakistan, meski pemerintahan mereka berada di tangan 
milier, kami bekerja bersama dalam rangka mendorong kepentingan-
kepentingan bersama kami. Tetapi jelas bahwa kami juga berbeda 
pandangan dengan Pakistan dalam banyak persoalan.

Islamica: Anda mengatakan dalam buku anda, "Selama 45 tahun, Tirai 
Besi merupakan garis pembatas utama di Eropa. Garis itu telah 
berpindah beberapa ratus mil ke timur. Sekarang ia memisahkan bangsa-
bangsa Kristen Barat, di satu sisi, dari bangsa-bangsa Muslim dan 
Ortodoks di sisi lain." Beberapa ahli telah menanggapi analisis 
tersebut dengan menyatakan bahwa pembuatan perbedaan yang begitu 
tegas antara Barat dan Islam mengesankan adanya keseragaman masif 
dalam kedua kategori tersebut. Sebagian lain menambahkan bahwa 
pembagian seperti itu mengesankan bahwa Islam tidak hidup di dunia 
Barat. Saya memahami bahwa ini merupakan kecaman yang sering Anda 
terima. Secara umum, bagaimana tanggapan Anda terhadap analisis 
seperti itu?

SH: Pengertian, yang seperti Anda katakan dipahami sebagian orang, 
sama sekali salah. Saya tidak mengatakan bahwa Barat bersatu, saya 
tidak berpendapat demikian. Jelas bahwa ada perbedaan-perbedaan 
dalam dunia Barat, demikian pula dengan dunia Islam — ada sekte-
sekte yang berbeda, masyarakat yang berbeda, negara yang berbeda. 
Jadi tak satupun yang benar-benar seragam. Tetapi mereka memiliki 
kesamaan-kesamaan. Orang-orang di manapun berbicara tentang Islam 
dan Barat. Agaknya hal tersebut berhubungan dengan fakta bahwa ini 
semua adalah pihak-pihak yang memiliki arti dan mereka memang 
memilikinya. Tentu saja inti dari kenyataan tersebut adalah 
perbedaan-perbedaan dalam agama.

Islamica: Adakah hal yang merekonsiliasi atau titik temu antara, 
sebagaimana yang sering digambarkan, kedua sisi "Tirai Besi" ini?

SH: Pertama, Anda menyatakan "kedua sisi", tetapi seperti yang telah 
saya sampaikan, kedua sisi ini terbagi-bagi, dan negara-negara Barat 
bekerjasama dengan negara-negara Muslim, atau sebaliknya. Saya pikir 
itu adalah suatu kesalahan, saya tegaskan, untuk memikirkan dua sisi 
homogen yang sesungguhnya saling bertentangan. Politik global tetap 
sangat rumit dan semua negara memiliki kepentingan berbeda-beda, 
yang juga akan membawa mereka menjalin pertemanan dan persekutuan 
yang kelihatannya aneh. AS telah dan masih bekerja sama dengan 
berbagai diktator militer di seluruh dunia. Jelas kita menginginkan 
mereka melakukan demokratisasi, tetapi kita melakukannya karena kita 
memiliki kepentingan nasional, entah itu bekerjasama dengan Pakistan 
mengenai Afghanistan atau apapun.

###

* Samuel Huntington merupakan Profesor Universitas Albert J. 
Weatherhead III di Universitas Harvard dan penulis berbagai buku 
terkenal termasuk The Clash of Civilizations and the Remarking of 
World Order (1996). Artikel lengkap dari artikel ini tersedia di 
situs web Majalah Islamica di www.islamicamagazine.com. Artikel ini 
disebarluaskan oleh Common Ground News Service (CGNews) dan dapat 
dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: Islamica Magazine, September 2006, www.islamicamagazine.com 
Hak cipta untuk publikasi telah diperoleh. 
  
  
4) Bagaimana Membeli Citra
Ayman El-Amir 
 
  
Kairo – Orang Arab dan Muslim harus berpikir dua kali sebelum 
mempercayai bahwa memiliki saluran media di Barat dapat mengubah 
cara pandang Barat.

Para pembuat film, rumah busana, perusahaan, jaringan penjual 
makanan eceran, raja minyak, bahkan politisi mengeluarkan biaya 
besar untuk membeli sebuah kesan positif yang akan menarik hati 
ceruk pasar yang mereka incar. Seperti halnya kosmetik, penciptaan 
kesan merupakan sebuah industri miliaran dolar yang keuntungannya 
bisa sangat besar, jika citra tersebut dapat dijual. Para pembuat 
iklan di pasar AS dan Eropa mengakui bahwa para pelanggan terdorong 
untuk membeli sebuah citra, bukan poduk. Tentu saja, produk yang 
bersaing harus memiliki kualitas untuk dijual: pasta gigi harus 
mengkilatkan gigi dan deterjen harus membersihkan pakaian. 
Pertanyaannya, apakah umat Muslim ingin memasarkan sebuah kesan 
postitif tentang Islam di Barat dengan cara yang sama?

Pertanyaan ini diajukan secara tidak langsung pada pertemuan 
Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang baru saja berakhir di Riyadh, 
Arab Saudi. Sekretaris Jenderal OKI, Ekmeledin Ihsanoglu yang 
berasal dari Turki, menyarankan bahwa "para investor Muslim harus 
berinvestasi dalam institusi media besar dunia, yang umumnya membuat 
keuntungan cukup besar sehingga mereka mempunyai kemampuan 
mempengaruhi kebijakan mereka melalui dewan administrasinya." Ia 
mencontohkan multimiliarder Saudi Pangeran Al-Waleed Bin Talal yang 
memiliki sekitar 5,46 peren saham pada Rupert Murdoch's News Corp, 
pemilik saluran Fox News TV yang terkenal anti-Arab.

Kenyataannya, untuk memiliki saham yang dapat mengendalikan 
konglomerat seperti Colgate-Palmolive sama sekali berbeda dengan 
memiliki saham dalam sebuah organisasi media. Organisasi-organisasi 
media adalah pembentuk pendapat orang dan yang bisa memiliki mereka 
dan berapa jumlahnya merupakan isu yang cukup sensitif. Contoh kecil 
tapi berarti untuk disebut adalah keberatan-keberatan Kongres AS 
atas keberhasilan Dubai Ports World di awal tahun ini menawar hak 
pengelolaan tujuh terminal pelabuhan AS. Di bawah tekanan 
kontroversi tersebut, pemerintah Dubai akhirnya menarik 
penawarannya. Belum lagi kesepakatan senilai $1,2 miliar dari Dubai 
International Capital untuk membeli Doncasters Corporation, 
perusahaan pembuat suku-suku cadang berpresisi bagi pesawat tempur 
militer AS dan tank bagi kontraktor-kontraktor seperti Boeing, 
Honeywell, Pratt, dan Whitney dan General Electric, yang bermarkas 
di London dan beroperasi di sembilah tempat di AS.

Kepemilikan sebuah perusahaan media menentukan kebijakan editorial 
dari medium tersebut hingga sejauh mana arah pendapat editorial 
tersebut, entah liberal, entah konservatif, atau mainstream. 
Sesungguhnya, apa yang paling dipedulikan oleh pemilik adalah untung-
rugi, yang ditentukan oleh para pemasang iklan dan perating. Bahkan 
Pangeran Al-Waleed menyadari ini. Dalam demokrasi liberal Barat, 
menyuarakan propaganda tidak akan menarik penonton, justru 
menyebabkan peringkat yang buruk dan kerugian finansial. Komisi 
Komunikasi Federal AS (FCC) telah menetapkan tiga peraturan dasar 
bagi pemberian izin industri penyiaran: keadilan, waktu yang setara, 
dan kepentingan masyarakat. Namun masyarakatlah, dan pemasang iklan, 
yang menentukan kredibilitas sebuah saluran TV, stasiun radio, atau 
sebuah surat kabar. Rating ditentukan oleh kredibilitas dan 
popularitas, yang selanjutnya akan diikuti oleh iklan. Kredibilitas 
ditentukan oleh tingkat kebebasan yang dinikmati, atau yang seakan-
akan dimiliki suatu media.

Sebuah usaha media yang berhasil pasti menjadi bagian tak 
terpisahkan dari jalinan sosio-ekonomi dan politik bangsa. Para 
pembaca dan penonton Perancis akan membaca Le Monde, Le Figaro atau 
l'Humanité bukannya The Washington Post atau The Boston Globe. 
Mereka akan menonton TV5 bukannya CNN atau BBC dalam bahasa 
Perancis. Ini adalah masalah kedekatan dengan kepentingan lokal dan 
nasional. Lebih jauh, negara-negara dunia melindungi kekuasaan 
penyiaran nasional mereka dengan ketat seperti mereka menjaga 
perairan perbatasan mereka. Itu adalah salah satu kesulitan yang 
dihadapi oleh Al-Jazeera Internasional saat mereka merencanakan 
untuk memulai siaran global, dan khususnya bagi para penonton Barat, 
bulan Mei silam. Negosiasi dengan saluran-saluran kabel yang akan 
memasukkan sinyal Al-Jazeera ke dalam jadwal pemrograman mereka yang 
kemudian memungkinkan setasiun terpandang itu menembus pasar 
nasional terbukti lebih sulit daripada yang dibayangkan sebelumnya.

Pertanyaan lainnya: sejauh manakah masyarakat Arab dan umat Muslim 
memiliki kesamaan sistem nilai dengan Barat? Kepentingan-kepentingan 
Barat atas arus pasokan minyak Arab yang berkelanjutan dan dalam 
jumlah besar, penjajahan masa lalu, dan sisa-sisa keantikan 
peradaban kuno yang lebih merupakan daya tarik turis daripada bahan 
kajian serius dan mendalam, boleh dibilang tidak memadai untuk 
disebut sebagai sistem nilai bersama. Bandingkan ini dengan tradisi 
Yudeo-Kristen yang telah dikembangkan oleh lobi Yahudi di AS selama 
empat dekade sejak masa gerakan hak-hak asasi manusia, dan yang 
telah diputarbalikkan oleh kaum neo-konservatif menjadi anti-Muslim 
atau anti-Arab demi membela Israel. Dikotomi sistem nilai inilah 
yang menghentikan kemitraan jangka pendek antara MBC dan BBC (siaran 
berbahasa Arab) pada 1996 dengan alas an perbedaan editorial. Jika 
sebagian harus mengambil langkah gila-gilaan seperti itu dalam 
menuju ekonomi pasar dan konsumerisme sebagai suatu standar nilai-
nilai bersama, kita mungkin menemukan lebih banyak kesamaan dengan 
China atau Singapura tinimbang Barat.

Bagaimana dengan nilai-nilai universal lain? Di antara komoditas-
komoditas moral dan material yang diimpor oleh rezim-rezim 
Arab/Muslim dari Barat, demokrasi, hak-hak asasi manusia, kebebasan 
berpikir dan menyatakan pendapat, keadilan dan kesetaraan di mata 
hokum, merupakan hal-hal yang paling tidak disukai atau dihargai. 
Beberapa pejabat Arab bahkan telah mempertimbangkan hingga begitu 
jauh bahwa Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia sebagai suatu 
ciptaan Barat dan bahwa ketetapan-ketetapannya tidak selalu sesuai 
dengan keunikan tradisi dan sistem nilai kita – suatu mekanisme 
protektif menentang hak-hak asasi manusia yang diakui secara 
universal.

Terkadang ketika para arsitek dari proses berusia satu dekade 
Barcelona masih berjuang untuk membangun landasan-landasan bagi 
sebuah dialog antara kebudayaan Eropa-Mediterania, muncul duri-duri 
yang menyentuh urat nadi. Ucapan Paus Benedict XVI, yang mengutip 
kalimat khusus dari seorang kaisar Byzantine Abad Pertengahan, 
Manuel II, yang menggambarkan Nabi Muhammad dan sifat dasar Islam 
sebagai jahat dan penuh kekerasan, disampaikan pada waktu yang tidak 
tepat dan dengan selera yang rendah. Datang pada saat luka sedang 
disembuhkan akibat dari kartun-kartun penuh penghinaan yang 
ditampilkan oleh harian Denmark, Jylldans-Posten, yang menggambarkan 
Rasul sebagai seorang teroris, rujukan yang tidak bijaksana dari 
Paus mungkin dapat membawa kemunduran dalam hubungan Muslim-Kristen 
hingga ke masa-masa Perang Salib – bisa-bisa membuat ramalan 
Presiden AS George W Bush menjadi kenyataan. Reaksi balik umat 
Muslim mungkin akan lebih keras lagi jika saja Paus tidak meminta 
maaf.

Citra yang ingin ditampilkan masyarakat Arab dan umat Muslim tidak 
tergantung pada mediumnya tetapi pada pesannya. Bahkan dalam masa-
masa ekstrem dari sebuah dunia Muslim yang beragam dan penuh 
pertentangan, ada kesatuan yang pasti dari tujuan dan identitas 
kebudayaan. Kasih sayang, tenggang rasa, dan keyakinan tetap 
merupakan nilai-nilai yang diyakini umat Muslim dan bersifat 
universal. Sumbangan-sumbangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam 
bagi kebangkitan Eropa Abad Pertengahan dari Abad Kegelapan menuju 
Renaissance merupakan warisan bersama yang kurang terdokumentasi 
atau diakui secara memadai. Masa keemasan dunia Yahudi berkembang 
selama kekuasaan Muslim di Andalusia yang bertahun-tahun kemudian 
dibalas dengan inkuisisi Spanyol di bawah Isabelle dan Ferdinan 
telah membunuhi baik umat Muslim dan Yahudi.

Berpura-pura bahwa dunia Islam dan Barat tidak berlawanan arah hanya 
sebuah penyangkalan diri oleh mereka yang mendukung dialog antar 
budaya. Jika Islam memiliki Osama bin Laden, Barat memiliki kaum neo-
konservatif. Keduanya memimpin dunia menuju suatu konfrontasi yang 
akan membawa kehancuran besar. Dialog antar budaya sejauh ini hanya 
menghasilkan usaha-usaha bilateral untuk menghentikan imigran ilegal 
dari Afrika dan Timur Tengah ke Eropa, di samping pertukaran 
informasi intelijen mengenai para agen dan rencana terorisme.

Sejauh ini kedua sistem nilai telah terbukti tidak sesuai satu sama 
lain. Umat Muslim harus berbuat lebih banyak untuk menciptakan citra 
yang meyakinkan tentang sistem nilai universal mereka sebelum 
memutuskan apakah hal tersebut perlu dikomunikasikan melalui gagasan 
tidak masuk akal seperti menguasai dewan konglomerat media, melalui 
satelit penyiaran atau melalui saluran TV pita lebar (broadband) di 
Internet.

###

* Ayman El-Amir adalah mantan koresponden Al-Ahram di Washington, 
DC. Ia juga bertindak sebagai direktur Radio dan Televisi 
Perserikatan Bangsa-bangsa di New York. Artikel ini disebarluaskan 
oleh Common Ground News Service (CGNews) dan dapat dibaca di 
www.commongroundnews.org.

Sumber: Al-Ahram Weekly, 28 September – 4 Oktober, 2006, 
www.ahram.org.eg/weekly 
Hak cipta untuk publikasi telah diperoleh. 
  
  
5) Membungkam Dialog
Daniel Barenboim 
 
  
Jerusalem – Pembatalan pergelaran karya Mozart, Idomeneo, di Berlin 
memunculkan pertanyaan paling penting tentang persepsi kita tentang 
dunia Muslim, sebuah isu yang belum diatasi secara memuaskan.

Produksi tersebut, yang belum sempat saya lihat dan karenanya tidak 
dapat saya komentari, untuk sementara waktu dikeluarkan dari daftar 
lagu Deutsche Oper's musim ini karena berbagai elemen di dalamnya 
yang dapat menyinggung atau menghina orang yang bahkan pada 
kenyataannya belum tentu dapat menyaksikannya.

Adalah tanggung jawab pemerintah untuk melindungi warga negaranya 
dari ancaman kekerasan dan terorisme, tetapi apakah sebuah gedung 
teater juga bertugas untuk melindungi para penontonnya dari 
pernyataan artistik yang mungkin ditafsirkan sebagai penghinaan?

Hubungan antara pernyataan artistik dan hubungan yang ditimbulkannya 
tidak seperti hubungan antara substansi dan persepsi. Kita lebih 
sering mengganti isi untuk menyesuaikannya dengan persepsi. Tentu 
saja, tak ada satu pun cara untuk menentukan hubungan yang 
dibangkitkan oleh seni karena hal tersebut merupakan hak prerogatif 
setiap orang.

Dalam musik, perbedaan antara isi dan persepsi ditentukan oleh 
kertas cetakan. Dalam teater atau opera, jika tidak ada kertas musik 
bagi arahan panggung, hal tersebut menjadi tanggung jawab pribadi 
sang sutradara.

Alasan mendasar dari peran teater dalam masyarakat adalah 
kemampuannya untuk tetap melakukan dialog berkesinambungan dengan 
kenyataan, terlepas dari dampaknya atas kenyataan. Bentuk dialog ini 
bukan merupakan sebuah lambang keberanian, atau kepengecutan, tetapi 
harus muncul dari dalam diri seseorang atau sebuah institusi, sebuah 
kebutuhan untuk mengekspresikan diri.

Membatasi kebebasan berekspresi seseorang sebagai tanggapan atas 
rasa takut sama tidak efektifnya dengan memaksakan pandangan 
seseorang melalui kekerasan militer.

Seni tidak mengenal moral, tidak juga mendidik atau menghina; reaksi 
kita terhadap seni yang membuatnya menjadi apapun yang ada dalam 
pikiran kita. Masyarakat kita semakin lama semakin banyak melihat 
kontroversi sebagai sebuah sifat yang negatif, tetapi perbedaan 
pendapat dan perbedaan antara isi dan persepsi dari suatu karya seni 
merupakan intisari dari kreativitas.

Jika isi dapat dimanipulasi, demikian juga persepsi, bahkan dengan 
hasil dua kali lipat. Dengan menyensor diri kita sendiri secara 
artistik karena rasa takut menghina kelompok tertentu, kita tidak 
hanya membatasi pemikiran manusia secara umum, tetapi juga telah 
menghina kecerdasan sebagian besar umat Muslim dan melucuti mereka 
dari kesempatan untuk menunjukkan kematangan berpikir mereka.

Penyensoran itu merupakan lawan utama dari dialog dan sebuah 
konsekuensi dari ketidakmampuan untuk membedakan antara berbagai 
pandangan berbeda yang ada di dunia Muslim yang luas.

Seni tidak ada urusannya dengan sebuah masyarakat yang menolak apa 
yang saya sebut standar-standar intelijen yang dapat diterima umum 
dan mengambil jalan pintas dengan pembenaran politik, yang pada 
kenyataannya memiliki intisari berbeda dengan fundamentalisme dalam 
beragam perwujudannya.

Baik pembenaran politik maupun fundamentalisme memberikan jawaban 
yang bertujuan bukan untuk lebih memahami keadaan, tetapi untuk 
menghindari pertanyaan-pertanyaan lebih lanjut. Bertindak atas dasar 
rasa takut tidak membawa ketenangan bagi para fundamentalis, yang 
memang sama sekali tidak punya keinginan untuk ditenangkan, dan 
tidak mendorong umat Muslim yang ingin berkembang dan berdialog.

Sebaliknya pembatalan itu bukannya meletakan umat Muslim sebagai 
mitra untuk mencari suatu penyelesaian, malah mengasingkan seluruh 
umat Muslim dan memposisikan mereka menjadi bagian dari masalah .

Dengan melucuti masyarakat kita dari dialog mendasar ini kita akan 
terus mengasingkan orang-orang yang usahanya dalam membangun 
perdamaian tidak boleh dibuang begitu saja demi masa depan tanpa 
kekerasan.

Mungkin dunia Muslim membutuhkan seorang Spinoza modern yang dapat 
menyampaikan sifat dasar Islam dengan cara yang sama seperti Spinoza 
yang mengekspresikan sifat dasar cara pemikiran Yudeo-Kristen, 
sekaligus berada di luarnya, bahkan menolaknya.

Keputusan untuk tidak menampilkan Idomeneo pada akhirnya menjadi 
sebuah keputusan yang tidak membedakan mana kelompok yang 
tercerahkan dan mana yang ekstremis, tak membedakan antara kaum 
intelektual dan kaum dogmatik, antara orang yang memiliki 
ketertarikan budaya dan orang dari manapun atau agama apapun yang 
berpandangan sempit.

Seperti yang saya katakan di atas, saya belum melihat pertunjukan 
ini. Saya hanya bisa berharap bahwa Hans Neuenfels, direktur 
Deutsche Oper, akan menganggap pameran potongan kepala Yesus, 
Muhammad, dan Buddha merupakan kebutuhan absolut dunia dalam yang 
didiktekan oleh musik Mozart.

Mungkin ia seharusnya membiarkan kepala-kepala ini berbicara 
sehingga mereka dapat membuat pengakuan tentang kebijakan agung dan 
kekuatan pemikiran yang mereka wakili bersama-sama.

###

* Daniel Barenboim adalah seorang pianis dan konduktor. Artikel ini 
disebarluaskan oleh Common Ground News Service (CGNews) dan dapat 
dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: Internasional Herald Tribune, 2 Oktober, 2006, www.iht.com 
Hak cipta untuk publikasi telah diperoleh. 
  
  
Pandangan Kaum Muda 

CGNews-MK juga secara berkala mempublikasikan tulisan-tulisan para 
mahasiswa jurnalis yang memperkuat pemahaman antar budaya dan 
mendorong perspektif dan dialog konstruktif di lingkungan mereka 
sendiri. Mahasiswa jurnalis dan para penulis di bawah usia 27 tahun 
dianjurkan untuk menulis kepada Chris Binkley ([EMAIL PROTECTED]) 
untuk informasi lebih lanjut tentang pengiriman tulisan. 
  
Tentang CGNews-MK 

Kantor Berita Common Ground - Mitra Kemanusiaan (CGNews-MK) 
mempublikasikan berita, opini, feature dan analisis oleh para ahli 
baik lokal maupun internasional mengenai berbagai masalah yang 
berkaitan dengan hubungan Muslim-Barat. CGNews-MK mengumpulkan 
artikel-artikel yang berimbang dan berorientasi-solusi dari media 
massa di seluruh dunia. Dengan dukungan dari Pemerintah Norwegia dan 
United States Institute of Peace, layanan ini merupakan inisiatif 
nir-laba dari Search for Common Ground, sebuah Lembaga Swadaya 
Masyarakat (LSM) internasional yang bergerak di bidang transformasi 
konflik. 

Layanan ini merupakan salah satu hasil dari serangkaian pertemuan 
kerja yang diadakan dengan kemitraan bersama Pangeran HRH El Hassan 
bin Talal di Jordania, pada bulan Juni 2003. 

Kantor Berita Common Ground juga membuat dan menyebarluaskan artikel-
artikel berorientasi-penyelesaian masalah yang ditulis oleh para 
ahli baik lokal maupun internasional demi memajukan perspektif yang 
membangun dan mendorong dialog mengenai masalah-masalah Timur Tengah 
dewasa ini. Layanan ini, Kantor Berita Common Ground - Timur Tengah 
(CGNews-TT), juga tersedia dalam bahasa Arab, bahasa Inggris dan 
bahasa Hebrew. Untuk berlangganan, klik di sini. 

Pandangan yang disampaikan dalam artikel-artikel ini merupakan 
pandangan para pengarangnya, dan bukan pandangan CGNews-MK atau 
afiliasinya. 

Kantor Berita Common Ground
1601 Connecticut Avenue, NW Suite #200
Washington, DC 20009 USA
Ph: +1(202) 265-4300
Fax: +1(202) 232-6718

Rue Belliard 205 Bte 13 B-1040
Brussels, Belgia
Ph: +32(02) 736-7262
Fax: +32(02) 732-3033

Email : [EMAIL PROTECTED]
Website : http://www.commongroundnews.org 

Editor
Emad Khalil (Amman)
Juliette Schmidt (Beirut)
Chris Binkley (Dakar)
Emmanuelle Hazan (Geneva)
Nuruddin Asyhadie (Jakarta)
Leena El-Ali (Washington)
Andrew Kessinger (Washington)

Penerjemah
Olivia Qusaibaty (Washington)
Rio Rinaldo (Jakarta)
Zeina Safa (Beirut)


CGNews adalah kantor berita nir-laba.
 






******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke