Saya beragama Kristen. Bolehkah saya mengucapkan Selamat hari Raya Idul Firti kepada saudara/i beragama Islam?
 
Perkenankan saya mengucapkan: Selamat hari Raya Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan Batin. Tuhan yang Maha Esa memberkati. Amin

verri DJ <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Tanggal merah di kalender menunjukkan tanggal 24 Oktober adalah hari Raya Idul Fitri 1427 H, itu adalah hari libur resmi nasional yang merupakan hasil resmi SKB Menag, Menakertrans dan Menneg PAN.

Sesampai di kampung halamanku kembali kami dibingungkan dengan pengumuman yang menyatakan bahwa ada sebagian dari kami yang mengalami lebaran pada tanggal 23/10, dan sebagian lagi tanggal 24/10. Sebenarnya untukku tidak perlu bingung karena dengan berpuasa genap 29 hari ataupun 30 hari artinya sudah genap berpuasa di bulan Ramadhan.

Masalah perbedaan perayaan jatuhnya Idul Fitri tidak hanya menimpa negara kita tercinta, beberapa tahun lalu ketika saya tinggal di salah satu negara di Timur Tengahpun sama, ditingkat rakyat awam biasanya sering terjadi pro dan kontra, tapi mengingat kalau aku hanya mengikuti corong penguasa Harammain (Masjidil Haram dan Masjid Nabawi), jadi tak pernah menjadikannya masalah.

Kakakku berafiliasi ke Nahdatul Ulama sehingga untuk lebarannya menunggu penjelasan hasil pertemuan nanti (23/10), setelah melalui pengamatan kedatangan bulan berikutnya nampak (Arab: hilal wujud). Sementara aku dan adikku mengikuti hasil hisab yang telah ditetapkan. Kalau saudara-saudaraku yang lain, seperti Paman yang mengikuti Persis, dan saudara lain yang ikut majlis lainnya, masing-masing punya pandangan sendiri. Masing-masing punya pendapat yang berbeda walaupun rambut dan agamanya sama.

Di Indonesia banyak sekali golongan-golongan agama Islam, padahal menurut hematku kalau dilihat dari kacamata global masih termasuk dalam wadah Asy'ariyah atau biasa disebut Ahlu Sunnah Waljamaah (Sunni), tak semestinya beberapa golongan yang satu payung itu saling gontok-gontokan. Adapun NU ataupun muhammadiyah hanya kendaraan politik dan organisasi keislaman.
 
“ Metode hisab, baru bisa dipakai apabila rukyatul hilal sebagai penetapan bulan baru sudah dilakukan”, demikian alasan kakakku yang mengacu pada salah satu riwayat yang menyebutkan  sebagai berikut “Dari Abi Umar bin Malik, dari saudara-saudara bapa baginya yang jadi sahabat Nabi SAW, bahwasannya satu kafilah datang dan mereka bersaksi bahwa mereka lihat hilal (tanggal 1) kemarin. Lalu, nabi SAW suruh mereka berbuka dan apabila pagi, supaya  mereka pergi ke tempat shalat mereka. Diriwayatkan oleh Ahmad, dan Abu Dawud, dan ini lafazh dan Isnadnya itu shahih”, demikian menurut kitab Bulughul Maram.

Sebenarnya sayang meninggalkan bulan ramadhan  penuh barokah , tapi waktu tak bisa berhenti dan diam ditempat, karena pendulumnya yang terus bergerak. Lebaran mau tak mau harus datang, walaupun kedatangannya tidak kompak dalam satu rumah tetaplah harus disyukuri. Perbedaan persepsi dan perbedaan hari selama range puasanyanya berkisar 29 atau 30 hari tidak akan menjadi masalah, karena selama hidupnya Nabi Saw hanya sekali berpuasa yang lamanya 30 hari, selebihnya 29 hari.

Apabila dilihat dari syar'i, banyak pendapat berbeda seputar jatuh temponya hari lebaran, tetapi apabila dilihat dari tujuannya satu yaitu agar kita menjadi orang yang bertaqwa. Kesemuanya bermuara pada satu yang hakiki, yang fitri. Keluargaku memahami perbedaan tapi dinamis menerimanya. Perbedaan lebaran diharapkan mampu memberikan pelajaran kepada warga muslim di Indonesia, bukan malah terpecah karena “Perbedaan adalah rahmat”.

Bisa saja lebaran nanti jatuh pada hari yang sama, setelah para ulama yang membidangi ilmu falaq, menyaksikan hilal bertepatan dengan tanggal 24/10, andaikan ini terjadi tentu lebih afdol lagi, karena satu keluarga kompak berlebaran dalam satu hari.

Kalau aku sendiri andaikan mengalami lebaran terjadi dua kali, maka lebih condong ambil lebaran yang pertama, bukan lantaran puasanya lebih singkat, tapi lebih condong pada alasan karena apabila dalam satu negara terjadi  dua hari raya, maka sebaiknya kita juga berbuka, bukankah hari lebaran pertama tidak diperkenankan untuk berpuasa? Tapi ini hanya alasanku saja, anda bebas saja memilih sesuai pemahaman anda. Bila anda tak sependapat mohon saya diberi pengarahan.

Tak lama lagi, hari raya Idul Fitri kan tiba, saatnya aku mengucapkan kepada anda yang merayakannya :

Selamat hari Raya Idul Fitri,
T
aqabballalahu Minaa wa Minkum
Minal Aidzin wal Faidzin
Mohon maaf lahir dan bathin..

Salam,
Http://ferrydjajaprana.multiply.com
 


Get your own web address for just $1.99/1st yr. We'll help. Yahoo! Small Business. __._,_.___

******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************





SPONSORED LINKS
Philosophy Philosophy of Philosophy book
Citizens of humanity Citizens of humanity jeans

Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Kirim email ke