Salah Makam

Seperti tahun-tahun sebelumnya, pagi seusai shalat Iedul Fitri, keluarga besar kami langsung pergi menuju makam, untuk kirim-kirim do’a kepada penghuni makam, khususnya yang masih ada hubungan pertalian darah dengan kami, kegiatan seperti ini  umum dilakukan oleh umat muslim di Indonesia.

Kunjungan ke makam itu seperti ritual tahunan, yang merupakan kegiatan wajib dalam mengisi acara mudik keluarga kami. Jadi, bisa dikatakan kegiatan kunjungan ke makam kami lakukan setahun sekali, tiap usai shalat Idul Fitri yang nota bene lokasinya tak jauh dari lokasi pekuburan desa kami.

Seusai mengunjungi makam kakek, tanteku dan rombongan menuju makam budeku, di sana beliau berdoa dengan khusyu, sambil menitikkan air mata, karena hubungan bude dengan tanteku ini pada masa hidupnya sangat akrab, maka tanteku ‘curhat’ kebetulan apa yang dicurhatkan itu diucapkan sehingga aku mendengarnya. Intinya tentang realitas kehidupan dunia ini yang penuh dengan kesulitan dan tantangan kehidupan. Kami yang hadir mengamini dengan penuh kehusyuan.
Tiba-tiba saja, salah seorang putri mendiang  bude kami yang baru datang menyusul, menghampiri kami dan  menanyakan kepada siapa doa kami ini ditujukan.

Tanteku menjelaskan bahwa kami sedang berdoa untuk mendiang Ibunya. Putri mendiang budeku kaget, karena yang ada dihadapan tanteku itu makam orang lain.
Dijelaskan olehnya bahwa kami telah salah makam, karena semestinya 45 derajat serong ke kanan, bukan 45 derajat serong ke kiri, dari patokan kuburan kakekku. Kontan kami serombongan  menjadi tersenyum simpul dibuatnya, apalagi setelah sampai di makam bude yang sesungguhnya doa kami tidak menjadi lebih khusyu, airmatapun telah kering sudah, sehingga tak mampu membasahi pipi tanteku lagi.
Pengulangan doa yang ke dua ini terasa  'kurang menjiwai' seperti doa pertama tadi, bisa jadi karena teringat kejadian salah makam itu.

Mengingat cerita itu, membuat kami tersenyum lucu, ada-ada saja sampai terjadi salah makam, mungkin ini akibat kedatangan kami yang terlalu jarang, atau akibat tidak ada nama pada nisan sehingga sampai terjadi salah alamat.

Terkadang kita terjebak dalam pemikiran manusia yang terkungkung oleh dimensi ruang dan dimensi waktu, sehingga kita hanya merasa afdol apabila berdoa harus langsung di atas makam yang bersangkutan.

Makam adalah nasihat diam yang diberikan oleh Sang Pemberi Kehidupan. Mengingat kematian sangat bermanfaat bagi kehidupan kita untuk bercermin tentang manfaat  penggunaan waktu selama kita hidup di dunia. Bahkan, menurutku kata-kata akhir pada saat mayat hendak dimakam adalah audit lengkap tentang diri ini, bagaimana tindak-tanduk, dan pemanfaatan waktu selama nyawa dikandung badan, disinilah sebenarnya audit lengkap misi dan visi kehidupan kita, di rasakan oleh umat manusia lainnya.

Untuk check-rechek, sudahkah anda mempersiapkan misi dan visi untuk kehidupan abadi, untuk menjumpai Sang Pencipta Alam, Dzat Yang Maha Kekal?

Salam,
http://ferrydjajaprana.multiply.com
  

__._,_.___

******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************





SPONSORED LINKS
Philosophy Philosophy of Philosophy book
Citizens of humanity Citizens of humanity jeans

Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Kirim email ke