|
Essay:
The Power of
Harmony
Bagi orang Jawa harmoni adalah kebenaran
tertinggi. Dalam literatur kebatinan Jawa: seluruh alam raya ini, dari yang
paling kecil hingga yang paling besar, dari yang paling kasar hingga yang tidak
kasat mata, semua terangkum dalam satu kesatuan harmoni yang maha besar, yaitu:
Hyang Agung. Hyang Agung yang memberi nafas kehidupan kepada setiap makhluk.
"...Hyang Agung adi linuwih ingkang paring pengayoman dumateng sagung
dumadi."
Dari pendekatan sains, kekuatan harmoni ini dapat
dipahami dengan melihat bahwa setiap benda di jagat raya, planet-planet,
bintang-bintang, komet, asteroid, batu-batu
meteor, selalu bergerak di dalam garis lintasan atau
orbit-nya yang sesuai dengan Hukum Harmoni. Seperti yang pernah diungkapkan oleh
Prie GS dalam essay-nya di Smart FM: Hukum Harmoni ini begitu
dahsyatnya, sehingga jika ada sebuah benda langit yang menyalahi garis edarnya,
sebuah meteor misalnya, dan memasuki atmosfir bumi, maka meteor itu akan habis
terbakar sebelum menyentuh permukaan bumi. Begitulah Hukum Harmoni itu mengatur
dan memelihara kehidupan.
Filosofi Jawa sepenuhnya percaya dan bersandar
pada kekuatan Harmoni ini, termasuk dalam menghadapi kejahatan. Dalam
spiritualitas orang Jawa, perbuatan yang jahat disebut sebagai perbuatan yang
ala (jelek), sesuatu yang tidak estetis, yang melanggar Hukum Harmoni.
Tidak ada kata khusus dalam bahasa Jawa yang berarti jahat (evil), yang
ada adalah kata ala atau elek, yang secara harafiah berarti
jelek atau sesuatu yang tidak selaras. Kejahatan dipandang sebagai pelanggaran
terhadap Harmoni... dan seperti batu meteor yang melanggar garis edarnya dan
memasuki atmosfir bumi, dia akan habis terbakar oleh kekuatan Harmoni yang
memelihara kehidupan.
Maka sikap seorang ksatria Jawa dalam
menghadapi kejahatan adalah: berserah diri sepenuhnya kepada Hyang Agung,
Kekuatan Harmoni semesta raya yang memelihara kehidupan... dan tak akan ada
kejahatan yang dapat mengalahkannya. Bahkan para Kurawa yang berjumlah
seratus orang itupun dapat dikalahkan oleh Pandhawa Lima yang hanya
berjumlah lima orang. Sikap berserah diri sepenuhnya pada Hyang Agung ini
diungkapkan dalam sebuah semboyan yang sangat terkenal, yang merupakan
puncak spiritualitas orang Jawa: "Sura sudira jayanikang rat syuh brasta
tekaping ulah dharmastuti", yang kemudian diteruskan dalam ungkapan bahasa
Jawa baru: "Suradira jayaningrat lebur dening
Pangastuti."
Salam,
****************************************************** Milis Filsafat Posting : [email protected] Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ Website : http://filsafatkita.f2g.net/ Berhenti : [EMAIL PROTECTED] ******************************************************
SPONSORED LINKS
Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required) Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe __,_._,___ |
- [filsafat] The Power of Harmony yohanes sutopo
- [filsafat] The Power of Harmony yohanes sutopo
- [filsafat] Re: The Power of Harmony temon_brangti
- [filsafat] The Power of Harmony yohanes sutopo
- [filsafat] The Power of Harmony yohanes sutopo
