Serial Tulisan Kitab Masuk Angin KMA : Sukses Sebagai Ilusi ditulis oleh: Adhi Purwono
Seringkali orang mengatakan, jadilah orang yang sukses berguna bagi bangsa dan negara. Dan berbondong-bondong orang berusaha mengikuti segala formula yang tersedia untuk dapat menjadi orang yang sukses. Hal ini sangat terlihat di dunia kerja dan dunia bisnis. Dan pengertian tentang sukses itu sendiri biasanya setiap orang sudah mendapatkan gambaran di benaknya masing-masing. Gambaran dimana jika telah mendapatkan kesuksesan maka kehidupan yang penuh dengan kebahagiaanlah yang seterusnya dapat dinikmati. Kepenuhan hidup dapat diraih, sehingga dapat menikmati nantinya pensiun penuh dengan kenangan indah dan menjalani kehidupan hari tua dengan damai. Saya saat ini bisa dibilang lagi hidup dengan bergelimang kesuksesan. Saya merasa telah sukses, lagi sukses, dan akan sukses terus-menerus selama-lamanya. Saya tidak mengerti mengapa ada orang yang mengatakan untuk dapat sukses butuh perjuangan. Karena saya merasa raihan sukses saya tidak membutuhkan perjuangan sama-sekali. Malah sepertinya terdapat kontradiksi disini. Semakin saya berjuang untuk mencoba meraih sukses, maka bukan rasa sukses yang saya dapatkan, namun rasa bingung atau rasa tersesat. Aneh saja kalau melihat orang-orang sampai mati-matian mengejar sukses. Sampai-sampai ada yang kena stroke. Ada yang menunda menikmati hasil jerih payahnya sendiri. Ada yang mengalami insomnia, kemudian setelah bangun tidurpun pertama kali yang menghampirinya adalah tekanan/stress, bukannya burung-burung yang bernyanyi dengan begitu indahnya. Aneh saja saya rasa ketika suatu waktu ada teman saya yang mengajak saya bergabung dengan gaya hidupnya dengan menawari saya untuk mengalami stress di pagi hari, stress ketika makan siang, stress ketika pulang kantor, stress ketika mau tidur kembali, sambil menggosipkan/menjelek-jelekkan/menyalah-nyalahkan orang lain. Wah gaya hidup seperti itu mah saya tolak mentah-mentah, walaupun bayarannya adalah sukses. Karena toh, bagi saya sukses itu tak bisa dibeli oleh stress sebagai pembayarannya toh? Sukses itu gratis, ada dimana-mana, dan untuk siapa saja yang berminat. Masalahnya, orang-orang sepertinya lebih berminat sama stress. Entah mengapa. Sukses bagi saya ya dapat merasa aman tiap hari. Saya bisa merasa aman karena bagi saya, tidak ada yang dapat membuat saya dikejar-kejar/ditekan oleh apapun/siapapun itu. Semuanya tampak damai di mata saya. Dengan keadaan ekonomi yang sekarang saya alami, saya rasa saya bisa dibilang aman, nyaman dan serba berkecukupan. Sayang sekali saya masih melihat ada puluhan juta orang dengan keadaan ekonomi yang kurang-lebih sama seperti saya, tidak bisa melihat dirinya aman, nyaman dan serba berkecukupan. Menurut saya, kecuali seseorang sangat miskin banget sampai tidak bisa makan 2 kali sehari, seharusnya mereka bisa menikmati keberlimpahan mereka dengan hati damai dan nyaman. Saya pernah juga kok menjadi orang yang terlihat sangat ambisius. Mengejar penghasilan 2-5 juta perak perbulan dengan mimpi nantinya bisa meningkat sampai puluhan juta perak perbulannya. Lalu dengan cara pandang hidup bahwa hidup saya masih tergantung dengan harta ortu. Uang pensiun dan bunga deposito dari tabungan yang dipikir juga tidak akan mencukupi sampai setidaknya 10 tahun kedepan. Belum lagi keinginan untuk mandiri dan mapan sehingga dapat menarik lawan jenis untuk dapat menikah dan membangun keluarga. Belum lagi ongkos gaya hidup untuk meningkatkan citra diri seiring dengan target market/pelanggan yang dituju adalah kelas menengah atas. Kalau diingat-ingat sekarang sih susah untuk membayangkan stressnya, tapi saya tahu dulu saya selalu merasakan betul stress beserta tekanan sekaligus ketegangannya. Seolah-olah tiada hari tanpa perjuangan hidup-mati yang mencekik. Belum lagi rasa takut yang semakin besar karena ketakutan akan kegagalan dan akan persaingan semakin menghantui. Dan terutama sebenarnya stress karena mengetahui diri ini sedang menjalani kehidupan yang terlalu memaksakan diri. Terlalu ingin meniru orang lain yang telah sukses. Terlalu INGIN SUKSES! Tidak mau melihat realita, selalu membuat realita mimpi/visi. Silahkan mencoba membuat realita mimpi/visi anda sendiri, maka anda akan tahu stressnya akan seperti apa menjalani hidup melalui filter mimpi/visi anda. Citra diri anda akan menjadi seperti boneka. Dan tali-talinya sebenarnya adalah pikiran anda sendiri yang tertutup oleh program-program meraih sukses yang sedang anda jalani. Itulah yang persisnya yang pernah saya alami dulu. Inilah yang sekarang ini saya sedang tinjau kembali, tentu dari sudut pandang baru. Sudut pandang kompatiologi. Tanyakanlah mengapa frasa kerja keras adalah frasa yang paling populer dalam mengejar kesuksesan. Dan tanyakan lagi mengapa kerja hampir selalu dilawankan dengan bermain. Lalu mengapa sedikit sekali orang yang bisa menikmati pekerjaan. Dan lihatlah pula pada frasa pengorbanan, frasa prihatin, frasa kemauan yang kuat dlsb. Pada frasa-frasa seperti itulah merupakan tanda yang sangat kuat bahwa mengejar kesuksesan merupakan perjuangan bukan pelesiran. Dan frasa perjuangan pun bukan dalam konteks permainan seperti dalam ungkapan perjuangan dalam permainan bola yang bukan urusan hidup-mati. Melainkan dalam konteks perjuangan hidup-mati, sampai sanggup membuat orang-orang bisa bunuh diri ditengah-tengah perjuangannya! Wajarlah kalau banyak orang rindu karena telah kehilangan kedamaiannya. Kedamaian yang pernah dicicipi penuh ketika di masa kecilnya. Kedamaian dimana bukan status, uang, pekerjaan, citra diri yang menjadi taruhannya. Melainkan berasal dari kepolosan bermain, belajar dan saling membantu dalam pekerjaan keseharian yang kesemuanya diiringi oleh senyum karena hangatnya kedekatan antar keluarga/teman/sesama. Semua itu seolah hilang ditelan oleh dinginnya suasana ibu kota yang dimana individu-individunya tidak bisa saling mengenal secara luwes lagi. Dimana masing-masing harus menunjukkan kedudukan, status atau jenjang sosialnya. Dimana semua begitu terkotak-kotak. Oleh karena itulah saya telah menyatakan mundur dari permainan pura-pura seperti itu. Bosan oleh stress dan tekanannya. Bosan menjadi diri orang yang (akan) sukses. Bosan oleh intrik-intriknya. Bosan oleh pancingan materi tapi kosong kehangatan manusiawinya. Bosan dengan PENGINDUSTRIANNYA! Semuanya serba diproduksi masal sehingga hampir semua produk tidak ada kehangatannya lagi, termasuk produk budaya ini yaitu KESUKSESAN! Tidakkah ada yang menyadari bahwa kesuksesan itu merupakan suatu produk hasil dari industri. Dimana mempunyai tujuan industri yaitu menyajikan kesuksesan seperti produk masal sehingga semakin banyak orang yang mendapatkan kesuksesan dengan beragam pilihan metoda dan formula yang sudah dipatenkan/dibakukan? Ah sudahlah dengan segala tetek-bengek kesuksesan. Saya lebih baik menikmati diri saya selagi saya muda. Buat apa dicetak oleh dunia industri untuk menjadi manusia produk sukses ala industri? Itulah mengapa saya saat ini memilih tidak bekerja kantoran dengan suatu perusahaan. Saya memilih tidak menghabiskan waktu saya yang sangat berharga 8 jam sehari boo hanya untuk mendapatkan pekerjaan kemudian menjadi mapan ala industri/budaya modern. Saya melihat itu hanyalah buang-buang waktu dan tenaga sahaja. Buat apa sih mengikuti dalam-dalam budaya industri/modern dengan bekerja di kantor kalau hasil bersihnya nanti banyak orang yang merasa kehilangan kedamaian atau malah kehilangan dirinya? Banyak lho orang yang mencari pekerjaan bukan karena senang dengan pekerjaan tersebut melainkan hanya mencari status dan kemapanan tertentu. Kalaupun senang, cepat atau lambat akhirnya juga harus bersikap pragmatis dengan pekerjaannya, yang artinya makin lama kesenangan akan bekerjanya semakin pudar karena ditekan oleh budaya industri yang telah diadopsi oleh pikirannya tersebut. Sayang sekali. Dari tadi saya menyebutkan budaya industri/modern. Apa sih itu sebenarnya? Mari kita telisik lebih jauh. Saya akan memakai contoh diri saya sendiri. Ketika saya melihat realitas apa-adanya keadaan keuangan diri saya sekaligus keluarga saya (ortu saya maksudnya), maka waktu itu saya baru menyadari bahwa tanpa bekerja mencari uang pun saya aman. Sedemikian amannya sehingga hampir-hampir saya sulit untuk mempercayainya karena udah keseringan diprogram bahwa kita selalu tidak aman dalam posisi keuangan kita sekarang ini. Nah saat itu lah saya menghembuskan nafas yang sangat lega sekali. Saya tidak perlu melakukan apapun untuk mempertahankan rasa aman saya tersebut. Ternyata selama ini keamanan adalah merupakan berkat yang tersembunyi dari pandangan saya, dan juga sekarang bagi ibu saya sendiri dalam memandang kondisi keuangannya sendiri. Ibu saya sampai heran mengapa dulu suami (ayah yang sekarang telah meninggal), begitu stress melihat keuangan keluarga sampai melototin pergerakan bunga bank. Yang ternyata sekarang dengan pikiran yang jauh lebih tenang, kita-kita ini malah lebih kreatif dalam berinvestasi sehingga tujuan keamanan pasti/telah tercapai. Memang keamanan itu relatif. Tapi justru disitulah kuncinya. UNTUK MENDAPATKAN KEAMANAN FINANSIAL, KITA HARUS MERASA AMAN DULU. Jika kita telah dapat merasa aman, maka tiba-tiba pandangan kita menjadi jauh lebih cerah. Otak kita akan jauh lebih kreatif pula. Tiba-tiba semuanya telah begitu jelas. Dan keamanan keuangan yang hanya selalu diimpi-impikan ternyata teronggok di sana begitu saja menunggu untuk dinikmati. Dan yah, kita sekeluarga sekarang kerjaannya tinggal ketawa-ketiwi menikmati deposito, investasi, dan yang paling penting rasa aman yang juga dapat menghangatkan hubungan para anggota di keluarga saya tersebut. Tak ada lagi terpikir apakah kita akan kekurangan duit. Malah kita merasa duit selalu ada menghampiri kita, tidak perlu kita usaha capek-capek memutar otak untuk dapat mengembang-biakan duit. Semua telah tersedia. Manis untuk dinikmati. Melimpah. Tinggal ketawa-ketiwi. Nah lo.. anda bingung atau malah anda mengira saya adalah keluarga super kaya? Oh tidak kok. Kami hanyalah keluarga dengan pengeluaran per bulan rata-rata 4 juta saja (itu sudah semua). Kami, dalam konteks tulisan ini saya, telah lama meninggalkan konsep bekerja untuk mencari uang. Saya sekarang memakai konsep uang menghasilkan kebahagiaan, begitu pula sebaliknya, kebahagiaan terutama bahagia dalam bekerja sambil bermain selalu menghasilkan uang. Jadi berlipat-lipat deh, uang menghasilkan kebahagiaan yang menghasilkan uang. Nah anda bisa melihat khan sumber kelimpahan saya? Penghasilan keluarga saya yang diterima dari bunga atau hasil investasi merupakan hasil dari kebahagiaan kita sekeluarga dalam menanamkan uang tersebut di bank atau di suatu investasi, sehingga kita merasa hasil bunga yang didapat lebih dari cukup! Mengapa bisa seperti ini? Ada dua penyebab : 1. Kebahagiaan tak ternilai 2. Kebahagiaan begitu murah cenderung gratis Dua penyebab inilah yang mengakibatkan uang kita hampir selalu berhasil kita tukarkan dengan barang yang tak ternilai harganya, yaitu kebahagiaan. Dan itu makin lama makin terasa murah, hampir setiap bulan kita bisa semakin menabung karena kita hanya membeli kebahagiaan. Alias untuk membeli kebahagiaan makin membutuhkan uang yang semakin sedikit, padahal kebahagiaan itu tak ternilai harganya! Betapa murahnya bukan? Bahkan kebahagiaan bisa menghasilkan uang! Karena apa? Karena kita (dalam konteks tulisan ini saya), menjual kebahagiaan ke orang-orang lain melalui pekerjaan/permainan saya. Bayangkan transaksi yang terjadi. Ketika mitra dagang saya akhirnya benar-benar yakin dia telah mendapatkan kebahagiaan dari saya, mendadak semua uangnya dirasa tidak cukup untuk membayar/merefleksikan nilai kebahagiaan yang telah dia dapat (karena dia merasakan sendiri kebahagiaan itu tak ternilai). Dia tidak begitu peduli lagi dengan jumlah uangnya melainkan bisa melihat kembali fungsi uang yang sebenarnya sebagai alat tukar belaka. Maka akibatnya bayangkan orang yang telah diberikan kebahagiaan oleh kita akan merasa utang budi dengan kita sehingga kerjasama bisnis apapun akan berlangsung mulus. Selain karena utang budi, juga karena ketulusan yang akhirnya dapat dia ekspresikan melalui kondisi kebahagiaannya ketika sedang bertransaksi dengan diri kita. Nah bisnis apa lagi yang bakal akan terus menguntungkan keduabelah pihak selain bisnis yang didasari oleh ketulusan hati dalam meningkatkan nilai kehidupan melalui perdagangan? Inilah sumber uang yang abadi. Tidak hanya dari peningkatan kuantitas jumlah uangnya, melainkan kualitas nilai tukarnya. Kita akan mendapatkan uang hasil dari hubungan baik yang membahagiakan kita semua, itu membuat uang yang kita terima menjadi sangat berharga karena telah merupakan lambang ekspresi ketulusan dan kebahagiaan hati. Dan uang bahagia tersebut tentu akan ditukarkan lagi dengan barang-barang yang dapat membahagiakan empunya tersebut. Sadarkah bahwa bagaimana cara kita menukarkan uang kita merupakan akibat dari cara kita mendapatkan uang tersebut? Jika kita stress ketika mendapatkan hasil uang (uang stress), maka kita tukarkan secara stress pula dan kita tidak menuai kebahagiaan (biasanya berupa pelampiasan untuk menetralkan stress yang didapat, yang sayangnya orang malah kecanduan pelampiasannya, bukan berusaha untuk bahagia secara mandiri). Sebaliknya jika kita bahagia ketika mendapatkan hasil uang tersebut (uang bahagia), maka penukaran kita akan kita lakukan dengan bahagia pula, menghasilkan barang-barang yang dibeli adalah barang-barang yang membahagiakan. Lalu anda bertanya lagi. Apakah saya tidak pernah merasa menderita? Oh tentu saja saya bisa merasa menderita dan juga pernah, sedang dan akan menderita lagi. Itu adalah suatu kewajaran. Tapi masih ingat khan ilustrasi saya mengenai penderitaan dalam permainan olah raga? Tanyakan pada pemain bola yang kakinya dijegal. Menderitakah dia? Tentu saja menderita. Tapi dia menderita dalam konteks bahagia (jika memang bermain bolanya murni bermain). Dijegal tidak apa-apa. Malah bisa mendapatkan tendangan bebas atau pinalti sekalian jika dijegal di depan gawang musuh. Ataupun jika harus diganti, masih tetap bisa merasakan atmosfer permainan teman-teman yang telah mempunyai nuansa pertemanan yang sangat-sangat akrab dan kompak. Hal itu saja sudah sangat menghibur dirinya sehingga tulang kering yang terasa nyeri, sakitnya sebentar saja sudah terasa hilang karena terhibur oleh aksi teman-temannya yang kocak atau yang keren. Itulah konteks ketika saya sedang mengalami penderitaan. Menyenangkan bukan penderitaan seperti itu? Pengalaman yang manis. Alih-alih malah jadi ahli dan sangat menikmati dalam permainan, seperti sang pemain bola yang sudah keseringan dijegal, sehingga akhirnya dia dapat menciptakan gerakan menggiring bola yang meliuk-liuk seperti pemain balet yang sangat sulit untuk dijegal oleh lawan. Jadi saran saya, tidur sianglah yang banyak, nikmati hidup sepuasnya bagi para penganggur kerja. Bagi yang sudah bekerja, lupakan tekanan pekerjaan anda. Tak ada guna mengingat-ingat tekanan pekerjaan anda. Anggap semua orang yang stress adalah hasil budaya yang menggilai stress. Kerjakan pekerjaan anda dengan tempo anda sendiri. Jika tidak memungkinkan, buatlah negosiasi dengan atasan, katakan sejujurnya kemampuan anda sendiri. Hal ini sekaligus mensyaratkan anda mulailah jujur pada diri anda sendiri apakah anda sekarang ini bekerja berdasarkan angan-angan dan citra diri yang anda ingin dilihat oleh orang lain atau memang bekerja karena ingin? Jika anda hanya berusaha menyenangkan orang lain (terutama atasan anda), hasil bersih yang akan anda dapat adalah stress dan ketakutan anda sendiri. Anda akhirnya takut anda telah mencapai batas kepura-puraan anda. Lalu anda bisa saja meledak tak keruan, atau malah melarikan diri seperti seorang pengecut. Yah ini wajar saja terjadi, karena pada mulanya pun anda memulai seperti seorang pengecut berusaha tampil besar tapi hanya pura-puranya bisa, tidak berani jujur pada orang lain sebenarnya kemampuan kita sampai dimana. Anda akan menyadari di titik ini, anda akan muak dengan kepura-puraan anda sendiri. Herannya orang lain malah dapat memaklumi kepura-puraan anda sendiri, karena sepertinya mereka pun juga sama seperti anda, pura-pura juga. Kalau gak percaya lihatlah bualan para sales yang mewakili perusahaan. Semuanya menjual kecap nomor satu. Hampir semua menjual pelayanan/produk muluk-muluk yang menjadi target yang hampir tidak masuk akal bagi sdm-nya. Salah siapa coba? Kura-kura dalam tempurung, pura-pura tidak tahu hehehe! Kalau mau ekstrim, bagi yang lagi punya pekerjaan, coba bisakah bolos sebentar dari pekerjaan (barang sehari-dua hari), lalu leyeh-leyeh di rumah sambil merasa bahagia dan tidak stress karena pekerjaan? Nah 95 persen orang akan bilang tidak mungkin! Nah anda pasti akan terkaget-kaget kalau saya katakan di barisan 95 persen itu ada orang-orang dengan jabatan direktur dengan gaji 50 juta perbulan, plus aset tabungannya sekian puluh milyar rupiah. Dan mereka tidak akan mau disuruh leyeh-leyeh di rumah melepaskan kekhawatirannya barang sehari jua mengenai pekerjaannya. Dan hal ini jangan salah, dapat diterapkan kepada status kekayaan seperti kita juga (kelas menengah). Pengemis di jalan akan terkaget-kaget melihat kita ogah leyeh-leyeh di rumah menikmati aset tabungan kita sambil berbahagia melupakan stress di pekerjaan. Kalau mau dilihat secara teliti, ternyata hampir di seluruh tingkat sosial-ekonomi permasalahan kekurangan duit, sulit bahagia, kebanyakan stress, selalu ada. Masalahnya, orang selalu diajari mengejar kesuksesan. Tidak pernah diajari bagaimana menikmati kesuksesan. Bagaimana menikmati kegagalan. Bagaimana melepaskan candu akan perjuangan meraih sukses. Atau sekalian jika ada orang yang menyadari bahwa sukses ternyata hanyalah ilusi, hasil bersihnya berbaring tenang di ruang ICU, dapat diajari bagaimana dia paling tidak bahagia di ranjang ICU-nya, tidak dendam sama industrialis karena telah menciptakan ilusi kesuksesan ala stroke, sakit jantung, tumor, kanker, dan segala penyakit kritis lainnya. Jika tidak mau bangkrut karena penyakit kritis, hubungi saya, karena saya juga agen asuransi kesehatan Prudential. Saya akan memberikan kebahagiaan kepada anda semua. Salam, Adhi Purwono. Ciledug, 26 November 2006 CDMA : 021-68812660 (praktik dekons atau konsultan asuransi / tabungan) Email (YM) : [EMAIL PROTECTED] (informasi lebih lanjut) Tulisan di atas adalah satu diantara berbagai macam peng-aplikasi-an ilmupengetahuan Kompatiologi ke bidang-bidang yang lebih spesifik. Untuk bergabung dalam diskusi ilmupengetahuan Kompatiologi & berbagai jenis apilkasinya, klik satu diantara link di bawah ini: http://tech.groups.yahoo.com/group/Komunikasi_Empati/message/789 http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/18720 http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/12796 http://groups.yahoo.com/group/R-Mania/message/4593 dan bergabunglah di maillist-maillist yang membahas ilmupengetahuan Kompatiologi, diantaranya: http://groups.google.com/group/komunikasi_empati http://tech.groups.yahoo.com/group/Komunikasi_Empati/join http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/join http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/join http://groups.yahoo.com/group/join I K L A N K O M P A T I O L O G I Mau di-Dekons ala Kompatiologi ?! Kompatiologi dengan praktek dekons-nya baik sebagai terdekons maupun sebagai dekoner / pendekon (tandem maupun independent) adalah kegiatan yang mengasikkan. Buktinya begitu banyak terdekon yang setelah mengalami 1x menjadi terdekon mendaftarkan diri untuk menjadi dekoner / pendekon tandem hingga menjadi dekoner / pendekon independent. bahkan banyak yang membuat kitab dan manual guide / buku panduan pendekonan sendiri-sendiri untuk bidang-bidang spesifik disesuaikan dengan pekerjaan, hobi dan tujuan masing-masing dengan versi teori dan definisi masing-masing. Harapan pendiri (Vincent Liong) memang para terdekon dan dekoners / pendekon diharapkan untuk menjadi orang independent lepas dari Vincent Liong dalam hal ikatan keguruan, SOP, objective pendekonan & definisi yang dugunakan. maka dari itu tidak ada keanggotaan tertulis dalam Kompatiologi (organisasi tanpa bentuk / sistem cell terputus), juga tidak ada pencatatan soal siapa yang pernah didekon atau belum didekon. Jadi jangan heran kalau banyak dekoner / pendekon bahkan kitab kompatiologi palsu yang bermunculan dari orang-orang yang tidak tahu menau soal kompatiologi, meski demikian sebagai pendiri saya tidak ambil pusing, bodo amat lah, rejeki di tangan masing-masing. Ilmu kompatiologi disebarluaskan menggunakan sistem cell terputus dalam penyebaran ilmunya, dengan sengaja tulisan-tulisan dan text book nya dibuat samar-samar tetapi menggunakan sistem cell dimana ter-ajar bisa jadi peng-ajar dan merekrut ter-ajar lagi dalam waktu yang singkat, dan langsung bisa diaplikasikan secara mandiri dan costumize ke bidang masing-masing karena sifatnya yang mendasar. Bebeda dengan ilmu ala negara barat kebanyakan, dimana ilmu disebar melalui text book yang penjelasan 'logikanya'(di ranah pemikiran) jelas tetapi hanya bisa diajarkan & digunakan oleh kaum exklusif yang telah sekolah (memiliki hak menggunakan) di bidang tertentu (dengan pengkotak-kotakan jurusan yang sempit tetapi jelas) dengan terikat pada institusi tertentu untuk jangka waktu yang panjang misalnya dengan pencantuman ijasah. GIMANA CARANYA DI_DEKONS? Hubungi dekoners-dekoners / pendekon independent kami yang sedang status aktif untuk membuat appointment ketemuan: * Vincent Liong (pendiri Kompatiologi) (pekerjaan: Mahasiswa) CDMA: 021-70006775 Phone: 5348567, 5348546 Fax; 021-5348546 * Merkurius Adhi purwono (pekerjaan: Agen Asuransi&IT) CDMA: 021-68812660 * Bimo Wikantiyoso (pekerjaan: dosen) Hp: 0816746770 * Ondo Untung (pekerjaan: Journalist) Hp: 08128599710 CDMA: 021-92862617 * Rudi F Hidayat Hp: 081511406666 Dibantu oleh pada dekoner / pendekon tandem kami yang sedang aktif diantaranya: Cornelia Istiani, Juswan Setyawan, Warsita, Aviandry Syahril, dlsb... ATURAN & BIAYA DEKONS: Untuk saat ini untuk tujuan memperluas jaringan, maka kami sepakat menerapkan peraturan soal biaya sbb; 1. Biaya antar jemput / taxi / diantar jemput oleh pihak ter-dekon. 2. Biaya makan besar 1x & minum kopi di cafe 1x pendekon ditanggung pihak ter-dekon. 3. Biaya membeli jenis-jenis minuman tertentu untuk peralatan praktik dekons sebesar (+/-) Rp.50.000 - Rp.70.000 yang dibeli di supermarket bersama dengan pendekon harap dibayar oleh ter-dekon. 4. Uang jasa yang dibayarkan kepada pendekons diberikan dengan cara dimasukkan ke amplop tertutup (terpisah dengan biaya No 1 dan 2 tsb di atas). Jumlah biaya sesuai kemampuan dan balas jasa yang ingin diberikan kepada pendekons atas waktu, perhatian dan tenaga yang diluangkan untuk menemani ter-dekons. Hal ini diterapkan dalam aturan kami karena biasanya hubungan antara pendekons dan terdekons seperti keluarga dekat ketemu gede (teman akrab) tidak hanya saat dekons tetapi berlanjut setelah / pasca-dekons. 5. Pendekons yang telah mendekons anda dapat dimintai nomor telepon-nya untuk sewaktu-waktu dimintai bantuan berkaitan atau tidak berkaitan dengan dekons. Harap pihak terdekons yang menelepon agar tidak menghabiskan biaya telepon dekoner / pendekons. 6. Para ter-dekon yang telah lulus 1x dekons dapat minta diikutkan menjadi dekoner / pendekon tandem untuk dapat memahami sudut pandang yang berbeda antara menjadi ter-dekon dan pen-dekon. Juga bila berminat bisa belajar bertahap untuk menjadi dekoner / pendekon independent yang aktif. Dekoner tandem harap membayar ongkos transport & makan sendiri sebelum aktif menjadi dekoner / pendekon independent yang mampu meng-handle ter-dekons didikannya sendiran sesuai 'SOP'(Standart Operation Prosedure) ala Kompatiologi. Bilamana sudah menguasai sebagai dekoner / pendekon independent diharapkan mampu lepas dari kompatiologi membentuk alirannya sendiri dengan gaya dan SOP yang dikembangkan sendiri. Pengumuman / peraturan ini berlaku sekarang hingga pengumuman selanjutnya. ttd, Vincent Liong (Pendiri Kompatiologi) Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com ****************************************************** Milis Filsafat Posting : [email protected] Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ Website : http://filsafatkita.f2g.net/ Berhenti : [EMAIL PROTECTED] ****************************************************** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/filsafat/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
