Renungan Senin 3 Des 06

Assalamu'alaikum Wr.Wb

Kemaren saya mendapatkan pertanyaan menarik dari salah seorang teman melalui 
sms,
"cak huttaqi apa mau ngikuti jejak AA Gym ?"

Saya yang sudah lama gak ngikuti perkembangan zaman ganti bertanya,"Emang Ada 
Apa dengan AA Gym?"

"Lho masak ndak tahu? kan dia nikah lagi ma janda beranak 3 "

"Oooo...", gumam saya kagum (he..he..he...)

Terus saya katakan,"Saya gak ngikut AA Gym, kamu kan tahu saya punya jalan 
sendiri"

di balas sama temen itu,
"Maksudnya jalan sebagai pengikut Nabi Muhammad saw ? jadi gak ngikut 
poligaminya tapi ada kemungkinan poligami juga, ngikut Nabi ?"

Saya jawab,"kepingin saya sih memang ngikut nabi Muhammad saw, tapi bagaimana 
lagi, saya memiliki takdir sendiri"

Kemudian tak ada lagi balasan sms dari temen tersebut,

Saya kemudian merenung...

Kejadian yang di alami AA GYM bukanlah kejadian yang aneh, bukan pula kejadian 
yang luarbiasa....
tapi menjadi heboh karena Beliau adalah publik figur, orang yang senantiasa 
disorot media...tokoh masyarakat, seorang ulama, tokoh bisnis, dan seabrek 
kelebihan Beliau...

Sudah terlanjur umum memang di Indonesia ini, kalau orang nikah lagi alias 
poligami, maka hebohlah, seolah yang melakukan poligami itu sudah melakukan 
dosa yang sangat besar...sementara kalau selingkuh masih dikategorikan 
setia..he..he...
Aneh memang budaya di Indonesia ini,
Poligami dirasa sebagai sebuah kesalahan,
sementara selingkuh seolah menjadi hal yang wajar-wajar saja...
atau mungkin saya salah ya ??

Mulai zaman Adam sampai zaman sekarang ini, masalah hubungan antara laki dan 
perempuan sudah menjadi salah satu titik permasalahan yang akan muncul sampai 
zaman kapanpun...

Adam jatuh ke dalam dosa juga persoalan ini,
Keluarga Ibrahim terpisah antara Hajar dan Sarah juga sebab ini...
Bahkan di dalam keluarga Nabi Muhammad saw pun terjadi konflik internal juga 
masalah ini..blok Aisyah dan Blok Zainab binti Jahsy, atau dengan Mariam al 
Qibtiyah....

Meski di dalam al Quran ada dibolehkan, apakah selalu berarti poligami itu 
dibolehkan ?
Bagaimana seandainya dasar niatnya bukan menjalankan perintah Allah melainkan 
nafsu belaka?
Darimana engkau tahu itu berniat menjalankan perintah Allah atau sekedar 
pelampiasan nafsu belaka?

Begitu samar ....Begitu halus....dan setelah itu...
siapa yang tahu kenyataan kebenarannya ?
Who Knows ???

Ada yang poligami terus terang dengan mengatakan dia didorong oleh nafsunya...
Ada juga poligami yang ditutupi dengan mengatakan menjalankan perintah Allah...
Sudahkah perintah itu turun kepadamu ?!?!?!
ataukah sekedar nafsu tersembunyi yang samar dan menggoda ??

hmm..hmmm..
Jangankah seorang ulama, bahkan seorang Nabipun mendapat cap dan stempel hanya 
memenuhi nafsu syahwat saja ketika poligami dilakukan...

Saya jadi teringat pertemuan mula antara KH Agus Salim dengan Bung Karno,
Ketika itu Bung Karno ngotot bahwa idealnya sebuah keluarga ya 
berpasang-pasangan, satu dengan satu, satu suami dengan satu istri. tanpa 
Poligami...

Sementara KH Agus Salim mengatakan, bahwa menurut syariat agama, poligami itu 
dibolehkan...

Perdebatan dan dialog ini tak berkesudahan...
Sampai beberapa tahun kemudian, terjadi lagi pertemuan antara Bung karno dengan 
KH Agus salim..
KH Agus Salim masih tetap beristri satu, meski dia mengatakan poligami 
dibolehkan oleh syariat agama,
dan Bung Karno sudah beristri lebih dari satu, meski awalnya bersikukuh 
pasangan itu hanya satu dan satu...

tapi benarkan berpasangan itu berarti satu dan satu ?

.....
huttaqi berhenti merenung masalah ini..
Masih banyak masalah besar yang harus diselesaikan

Awal Desember 06
..........................

Kirim email ke