Note: forwarded message attached.
 
---------------------------------
Need a quick answer? Get one in minutes from people who know. Ask your question 
on Yahoo! Answers.
--- Begin Message ---
HASRAT YANG TERSEMBUNYI
   
  Oleh:
  AUDIFAX
  (Penulis buku “Imagining Lara Croft”, 2006, Jalasutra)
   
  Ada sebuah ‘kebetulan’ yang saya rasa bukan kebetulan dan menjadi berita 
hangat di penghujung 2006 ini. Apalagi kalau bukan soal pernikahan kedua Aa Gym 
dan terbongkarnya skandal seks anggota DPR dengan seorang penyanyi dangdut. Tak 
urung, meski kedua peristiwa itu merupakan wilayah personal seseorang, tetapi 
karena ‘modal simbolik’ dan ‘modal kultural’ yang dimiliki kedua orang itu, 
terutama Aa Gym, persoalan itupun lantas menjadi persoalan publik. Banyak orang 
yang—entah sadar atau  tidak bahwa itu bukan persoalannya—mengambil persoalan 
(terutama persoalan Aa Gym) menjadi persoalan pribadinya. Apa yang bagi saya 
menarik di sini, kenapa orang begitu berhasrat untuk mempersoalkan sesuatu yang 
sebenarnya merupakan wilayah pribadi seseorang?
   
  Bahkan persoalan yang sebenarnya merupakan wilayah pribadi Aa Gym dan Yahya 
Zaini (serta orang-orang terdekat yang terlibat langsung dengan keduanya) 
sampai bisa diambil pula oleh presiden sebagai persoalan negara. Pagi ini, di 
harian Pikiran Rakyat (Minggu, 10 Desember 2006), halaman depan bagian Geulis 
(bacaan khusus perempuan) bahkan membahas khusus masalah poligami. Nah, di 
sinilah menariknya bagi saya, terutama menyimak pendapat Marissa Haque, yang 
saya rasa juga merupakan pendapat yang banyak dikeluarkan oleh berbagai 
kalangan (terutama perempuan) di berbagai media. Umumnya pendapat itu bertema 
“Rasa kasihan terhadap Teh Ninih, istri Aa Gym selama ini.
   
  Marissa mengomentari SBY yang ‘terinspirasi’ oleh Aa Gym untuk merevisi  UU 
tentang poligami demikian: “Dengan ikut membaca kegelisahan yang terjadi di 
masyarakat, berarti secara tidak langsung SBY memberi perlindungan bagi kaum 
perempuan dalam menjaga ketentramannya di masyarakat”. Seakan membenarkan 
pernyataan tersebut, Marissa kemudian menggambarkan bahwa meski Teh Ninih 
mengatakan tengah belajar ikhlas, tetapi ekspresi Teh Ninih menyiratkan adanya 
senyum penderitaan. Di sinilah saya mulai tertarik. Apa yang diucapkan Marissa 
itu hanyalah satu dari banyak ucapan senada.
   
  Lalu sayapun mencoba berpikir. Kenapa justru banyak yang kasihan pada Teh 
Ninih, kenapa bukan kasihan pada Sharmila, istri Yahya Zaini itu? Mana yang 
lebih menyakitkan antara melihat suami menikahi secara sah istri kedua dengan 
‘nonton bareng’ momen ketika suaminya berselingkuh? Aku pikir Teh Ninih justru 
mendapatkan keberhargaan dirinya sebagai perempuan ketika ia mampu menghadapi 
(entah apapun yang ada di hatinya) pernikahan kedua suaminya, tetapi bagaimana 
keberhargaan diri seorang Sharmila ketika ia justru mendapat tantangan dari 
Maria Eva yang mengatakan ia tak mau dijadikan istri kedua?
   
  Jujur saja saya jadi ragu dengan semua yang mengatasnamakan pembelaan 
perempuan dengan menempatkan Teh Ninih sebagai konteks. Terutama ketika membaca 
ucapan Marissa yang mengatakan bahwa poligami adalah pilihan bagi seseorang, 
namun menjadi masalah ketika itu dilakukan Aa Gym yang notabene adalah tokoh 
nasional (lha apa Yahya Zaini bukan tokoh nasional?) yang tentu sudah menjadi 
panutan yang kadang diikuti apa yang dilakukannya. Lebih ragu lagi ketika di 
penutup saya membaca ungkapan Marissa yang menyatakan ketaksetujuan terhadap 
poligami: “Saya mendambakan dalam keluarga itu yang terjadi adalah keberadaan 
satu istri, satu suami sampai mati. Kalau keluar dari apa yang digariskan ini, 
saya yakin banyak yang tersakiti, enggak perlu diperpanjang pun sudah bisa 
dibayangkan siapa dan apa dampak yang akan terjadi bila hal itu dilakukan dan 
terjadi pada sebuah keluarga”.
   
  Nah, lalu sebenarnya masalahnya ada di Aa Gym, kasihan pada Teh Ninih atau 
ketakutan bila suaminya sendiri melakukan poligami? Dari kata-kata kunci 
seperti “panutan”, “tokoh nasional”, “saya mendambakan..” bisa terlihat bahwa 
persoalannya adalah kecemasan para perempuan ini jika mengalami dipoligami. 
Jadi sama sekali bukan sebuah solidaritas pada Teh Ninih. Mungkin buat Marissa 
akan lebih tulus jika dia berkata saja: “Saya takut Ikang kawin lagi”, 
ketimbang berputar-putar membicarakan orang lain yang sebenarnya tidak 
diketahui benar perasaannya. Hal yang sama juga pada semua yang berputar-putar 
bicara keprihatinan pada Teh Ninih. Dalam psikoanalisa, ini adalah sebuah 
bentuk mekanisme pertahanan diri untuk menyamarkan hasrat yang sebenarnya. 
Mirip cowok yang naksir cewek tapi tidak berani mengutarakan, yang biasanya 
lalu justru membuat gosip kalau teman cowoknya yang lain yang naksir cewek 
tersebut. Pada dasarnya ini merupakan ketakasertivan untuk menghadapi sebuah
 ketakpastian hidup. Ketakpastian apa? Ketakpastian bahwa mungkin saja 
laki-laki yang menjadi pasangan ‘meneladani’ Aa Gym dan menjadikannya argumen 
untuk berpoligami.
   
  Hasrat-hasrat yang tersamar semacam ini, menjadi pelik ketika semakin 
disamarkan sehingga jauh dari persoalan sebenarnya, yaitu ketakutan diri 
sendiri mengalami dipoligami. Dan ketakutan semacam ini, sebenarnya personal 
karena berhubungan dengan sejauh mana seorang perempuan mengenal laki-laki yang 
menjadi pasangannya dan sejauh mana laki-laki ini berpotensi untuk poligami. 
Tetapi tak urung maslaah yang personal ini malah membuat orang lain yang 
sebenarnya tak ada urusannya dengan ketakutan pribadi ini, turut tertekan, 
misalnya Teh Ninih atau Alfarini yang menjadi istri kedua Aa Gym. Menjadi lebih 
rumit dan jauh dari masalah ketika sejumlah ‘tokoh perempuan’ mengangkat 
masalah ini dengan mengatasnamakan “perempuan”. Perempuan yang mana dulu? Apa 
bukan dengan mentotalisasi nama demi nama ke dalam sebuah nama phallosentrik 
“perempuan” justru perjuangan mengatasnamakan perempuan ini menjadi sangat 
patriarkis?
   
  Lebih rumit lagi ketika muncul statement-statement tak berdasar seperti 
dikeluarkan Meutia Hatta yang mengatakan bahwa polemik poligami ini muncul 
karena pada dasarnya budaya di masyarakat kita adalah monogami. Budaya 
masyarakat yang mana? Di desa-desa kecil, seperti di daerah Madura salah 
satunya, di sana budayanya poligami. Di suku-suku seperti di Papua, di sana 
juga budayanya poligami, seorang kepala suku bisa punya lebih dari satu istri. 
Raja-raja di kerajaan-kerajaan nusantara juga menunjukkan kalau para raja itu 
beristri lebih satu plus selir-selirnya. Belum terhitung para pejabat dan 
orang-orang yang punya istri simpanan. Dan jangan lupa, founding father negeri 
bernama Indonesia ini, Soekarno, adalah juga penganut budaya poligami. Jadi 
pernyataan budaya masyarakat kita adalah monogami itu sama sekali tidak 
menyelesaikan persoalan tetapi justru menyamarkan dalam sebuah statement yang 
tidak jelas rujukannya.
   
  Apa yang mau saya sampaikan di sini? Sebelum merasa menjadi orang pertama 
yang layak ‘melempar batu’ kepada sang pendosa, lebih baik kenalilah terlebih 
dulu apa sebenarnya hasrat yang tersembunyi di dalam diri anda. Jangan-jangan 
persoalannya bukan berada di luar sana, tetapi justru di dalam diri sendiri. 
Bukankah Rene Descartes pernah berkata bahwa “Aku berpikir maka aku Ada”? 
Jangan-jangan adanya “persoalan” itupun justru hanya di dalam diriku sendiri 
yang tengah berpikir. Lebih parah lagi, jangan-jangan persoalan yang ada dalam 
diriku inipun kutolak keberadaannya dan kutempatkan sebagai persoalan Liyan? 
Ok. Now, better you start sniffin’ your own!
   
   
   
  © Audifax – 10 Desember 2006
   
  NB: Saya mem-posting esei ini ke milis Psikologi Transformatif, Forum Pembaca 
Kompas, BeCeKa, Mediacare, Vincent Liong, R-Mania, Pasar Buku, Alumni St. 
Louis, Club Tarot, Ruang Baca dan Forum Studi Kebudayaan. Mungkin akan ada 
rekan-rekan dari milis-milis tersebut yang akan mem-forward esei ini ke 
sejumlah milis lain. Karena keterbatasan waktu, saya hanya akan menanggapi 
diskusi di milis Psikologi Transformatif. MELALUI ESEI INI PULA SAYA MENGUNDANG 
SIAPAPUN YANG TERTARIK UNTUK BERDISKUSI DENGAN SAYA UNTUK BERGABUNG DI MILIS 
PSIKOLOGI TRANSFORMATIF (www.groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif)
   
   
  Mailing List Psikologi Transformatif
  Mailing List ini merupakan ajang berdiskusi bagi siapa saja yang berminat 
mendalami psikologi. Mailing list ini dibuka sebagai upaya untuk 
mentransformasi pemahaman psikologi dari sifatnya selama ini yang tekstual 
menuju ke sifat yang kontekstual. Anda tidak harus berasal dari kalangan 
disiplin ilmu psikologi untuk bergabung sebagai member dalam mailing list ini. 
Mailing List ini merupakan tindak lanjut dari simposium psikologi 
transformatif, melalui mailing list ini, diharapkan diskusi dan gagasan 
mengenai transformasi psikologi dapat terus dilanjutkan. Anggota yang telah 
terdaftar dalam milis ini antara lain adalah para pembicara dari simposium 
Psikologi Transformatif : Edy Suhardono, Cahyo Suryanto, Herry Tjahjono, Abdul 
Malik, Oka Rusmini, Jangkung Karyantoro,. Beberapa rekan lain yang aktif dalam 
milis ini adalah: Audifax, Leonardo Rimba, Vincent Liong, Mang Ucup, Prof 
Soehartono Taat Putra, Bagus Takwin, Amalia “Lia” Ramananda, Himawijaya, Rudi 
Murtomo, Felix
 Lengkong, Kartono Muhammad, Ridwan Handoyo, Dewi Sartika, Jeni Sudarwati, FX 
Rudy Gunawan, Arie Saptaji, Radityo Djajoeri, Tengku Muhammad Dhani Iqbal, 
Anwar Holid, Elisa Koorag, Kidyoti, Priatna Ahmad,  J. Sumardianta, Jusuf 
Sutanto, Stephanie Iriana, Yunis Kartika.
   
  Jika anda berminat untuk bergabung dengan milis Psikologi Transformatif, klik:
   
  www.groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif
   

 
---------------------------------
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta.

--- End Message ---

Kirim email ke