masalah kepemimpinan sangatlah menarik, namun apakah kita bisa menarik suatu garis lurus yang secara langsung menganalogikan sebuah kenyataan langsung, yang dicontohkan dengan membandingkan kondisi negara Indonesia saat ini yang disempitkan dengan menengok beberapa kasus di aspek kehidupan tertentu dan diperbandingkan dengan masa yang lain dengan aspek kehidupan yang berbeda untuk menarik sebuah kesimpulan.
rasanya tidak adil bila dasar bahan yang disajikan tidak lengkap dan menyeluruh untuk mengambil sebuah kesimpulan dan menjatuhkan sebuah nilai kepada kesimpulan tersebut. dengan tidak mengurangi esensi nilai yang diinginkan oleh penulis, namun masalah kepemimpinan perlu dilihat dulu dari hakekat negara, masyarakat, individu yang juga akan menyinggung mengenai kesusilaan. semoga tanggapan ini tidak dianggap sebagai kritik yang destruktif tapi sebagai komentar saja dari pembaca yang tertarik. salam --- In [email protected], "agussyafii" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Kepemimpinan Masa Kini > > Membahas masalah kepemimpinan dari masa ke masa, ibarat membuka > kalender kehidupan, sambung menyambung tiada henti. Sebab usia > kepemimpinan itu sendiri seiring dan sejalan dengan peradaban > manusia. Apa yang telah diuraikan di bagian depan, hanyalah sekelumit > dari timbunan yang bak gunung dalam gudang sejarah nan luas, tak > bertepi dan tak beratap. Buat kita yang penting adalah sejauh mana > bisa memetik hikmah dan pelajaran darinya. > > Penulis yang cukup menggemparkan dunia menjelang akhir abad ke-20, > Sammuel P. Huntington, dalam akhir tulisan di buku The Third Wave: > Democratization in The Late Twentieth Century > > 1) menyatakan, bahwa gelombang demokrasi telah terus menerus tanpa > henti menghantam pantai kediktatoran. Dan untuk mewujudkan demokrasi, > para elit politik di masa depan harus percaya bahwa demokrasi adalah > bentuk pemerintahan yang paling sedikit keburukannya. Oleh karena itu > mereka harus memiliki ketrampilan untuk mewujudkannya, terutama dalam > menghadapi golongan konservatif yang pasti akan terus mencoba > bertahan. Demokrasi itu sendiri mempunyai dua dimensi kema syarakatan > dan dimensi kekuasaan/pemerintahan. > > 2) Pada tingkat kemasyarakatan prinsipnya adalah masyarakat demokrasi > itu memiliki kebebasan, dan hanya dibatasi oleh konstitusi, hukum dan > etika. Sebaliknya pada tingkat pemerintahan, pada dasarnya terbatas, > sehingga pemerintahan dalam demokrasi disebut "Governing" dan > bukan "rulling". Governing adalah satu proses pengelolaan kekuasaan > di mana keputusan-keputusan diambil berdasarkan konsensus. Tidak ada > pemerintahan atau pengambilan keputusan secara sepihak, tetapi > dirundingkan melalui proses tawar-menawar yang demokratis dan > transparan. > > Perubahan dalam sistem ketatanegaraan tersebut membawa dampak besar > dalam aturan main dan gaya kepemimpinan atau pemerintahan. Namun > demikian berbagai literatur klasik maupun modern menunjukkan bahwa > syarat, etika dan moral kepemimpinannya tidaklah berubah. Syarat, > etika dan moral itu merupakan benang merah kepemimpinan dari suatu > negara yang bermoral yang mengutamakan keadilan, ketenteraman, kese > jahteraan dan kemakmuran masyarakatnya suatu kebutuhan universal. > > Bagi masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam, dan juga > telah mengalami masa transisi dengan berbagai kerajaan Islam sebelum > Proklamasi Kemerdekaan, termasuk Keraton Kasunanan Surakarta, secara > teoritis masalah kepemimpinan yang Islami bukanlah hal yang baru > lagi. Sedangkan pemerintahan dan kepemimpinan yang Islami sebagaimana > dicontohkan Nabi Muhammad Saw, dalam kehidupannya di Madinah, adalah > justru banyak dicita-citakan. > > Sayang sekali, sejarah juga menunjukkan tidak banyak pemimpin maupun > pemerintahan Islam yang berhasil melaksanakan ajaran Rasulullah Saw, > tersebut. Baru dalam hal keikhlasan dan proses menjadi pemimpin saja, > sesungguhnya telah banyak pemimpin-pemimpin Islam yang gagal di > tengah jalan. Betapa banyak tokoh kita yang secara ambisius dan > terang-terangan meminta jabatan, bahkan jika perlu merebutnya dengan > segala cara. Padahal Rasulullah Saw. tidak menyukai hal tersebut. > > Pernah, sahabat Abu Dzar Ra, berkata, "Wahai Rasulullah, mengapa > paduka tidak mengangkatku sebagai pejabat?" Mendengar itu Rasulullah > menepuk punggungnya seraya bersabda, "Wahai Abu Dzar, sesungguhnya > engkau orang yang lemah, padahal sesungguhnya jabatan itu adalah > amanah, yang pada hari kiamat nanti akan memunculkan cela dan > penyesalan, kecuali bagi orang yang dapat melaksanakan hak amanat itu > dan kewajibannya sebagai pejabat, sebagaimana seharusnya." (HR. > Muslim dan Abu Daud) > > Petunjuk Rasulullah tadi bukan hanya dikemukakan kepada Abu Dzar > saja, tetapi juga kepada Abdurrahman bin Samurah, "Wahai Abdurrahman! > Janganlah kamu meminta pangkat kepemimpinan. Apabila kamu sampai > diberi, maka hal itu akan menjadi suatu beban yang berat bagi dirimu. > Lain halnya kalau kamu diberi tanpa meminta, maka hal itu tidak > menjadi masalah bagimu". Bahkan kepada Abu Musa dan dua orang > keponakannya, Rasulullah kembali menegaskan, "Demi Allah, aku tidak > akan memberikan pekerjaan tersebut kepada seorang yang memintanya, > apalagi kepada seseorang yang amat loba kepadanya." (HR. Muslim) > > Kini, Republik kita sedang mengalami krisis kepemimpinan. Imam Al > Ghazali dalam risalahnya "Nasihat Bagi Penguasa" mengulas sebab- sebab > seorang penguasa yang kehilangan kekuasaanya dengan menyatakan antara > lain bahwa penguasa tersebut tertipu oleh kekuasaan, kekuatan dan > kesenangannya akan pendapat dan pengetahuannya. > > Ia melupakan musyawarah, dan menyerahkan kekuasaan kepada para > petugas yang tak berpengalaman, melupakan petugas senior dan > berpengalaman. Ia telah menyia-nyiakan kesempatan dan peluang yang > tepat, tidak banyak berpikir tentang peluang itu, dan tiada pula > melaksanakan pada saat yang diperlukan. Ia kurang tanggap pada tempat > yang harus siap segera, dan kurang cepat menggunakan kesempatan dan > kesibukan untuk memenuhi segala keperluan. Para utusan dan pembantu > yang tidak jujur serta berkhianat dalam menyampaikan risalah, hanya > karena kepentingan perut mereka, menurut Al Ghazali, juga sangat > menimbulkan keburukan. Betapa banyak kerajaan menjadi hancur karena > ulah mereka. > > Islam mengajarkan sabda Rasulullah, "Apabila Allah berkenan untuk > munculnya kebaikan bagi seorang pemimpin, maka Allah akan memperun > tukkan baginya menteri yang jujur, yang bila ia lupa, maka ia > (menteri) akan mengingatkannya, dan bila ia ingat maka menteri pun > akan membantunya. Dan apabila Allah berkehendak selain itu, maka > Allah akan menyediakan baginya menteri yang jahat, yang bila ia > (pemimpin) lupa, maka sang menteri tidak mengingatkannya, dan bila > ingat maka sang menteri tidak membantunya". (HR. Abu Daud) > > Kalaulah kerajaan di masa lalu kita analogkan dengan Republik dan > Raja kita analogkan dengan para pemimpin bangsa, maka tergolong > pemimpin yang manakah kita sekarang ini? Melihat keamanan yang > semakin tidak terjamin, keadilan yang semakin jauh dan kian > memudarnya kepastian masa depan, rasanya sudah seharusnya jika kita > semua sekarang ini mau secara jujur bercermin diri, memohon ampun > kehadirat Ilahi dan kembali bersama-sama berjuang mewujudkan Negara > Idaman, Negara Utama yang Bermoral. Insya Allah. > > Wassalam, > agussyafii > http://mubarok-institute.blogspot.com > ****************************************************** Milis Filsafat Posting : [email protected] Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ Website : http://filsafatkita.f2g.net/ Berhenti : [EMAIL PROTECTED] ****************************************************** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/filsafat/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
