----- Forwarded Message ----
From: Toha al-Jufry <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; islam_alternatif 
Moderator <[EMAIL PROTECTED]>; "[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL 
PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; "[EMAIL 
PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]>; arief ludiantoro <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL 
PROTECTED]
Sent: Tuesday, February 6, 2007 9:33:16 PM
Subject: [islamalternatif] Penghulu Para Sufi









  


    
            
   Penghulu Para Sufi 
  
KH. Jalaluddin Rakhmat
   
  Di antara sekian banyak sahabat Nabi, hanya Ali bin Abi Thalib-lah yang 
diberikan sebutan karamallahu wajhah
;
sebuah sebutan yang juga berarti doa "Semoga Allah memuliakan wajahnya"
atau "Allah telah memuliakan wajahnya." Semua ulama sepakat bahwa doa
itu hanya dikhususkan untuk Imam Ali saja seperti halnya sebutan shalallahu 
'alaihi wa alihi wassalam
untuk Nabi Muhammad. Ada beberapa riwayat yang menjelaskan hal ini.
Salah satu riwayat di antaranya menjelaskan alasan tentang doa itu. 


  Pertama,
di antara semua sahabat Nabi SAW, hanya Ali bin Abi Thalib yang tidak
pernah menyembah berhala. Dia masuk Islam dalam usia yang masih kecil
sehingga tak sempat beribadah kepada berhala. Artinya, wajahnya tak
pernah disujudkan kepada berhala. Ali kecil langsung sujud kepada Allah
swt. 

Alasan
kedua, Imam Ali adalah orang yang dikenal tak pernah melihat aurat,
baik aurat dirinya sendiri maupun aurat orang lain. Dalam sebuah
pertemuan di Shiffin, pasukan Imam Ali bertemu dengan pasukan Muawiyah.
Sebelum perang berkecamuk, biasanya diadakan mubarazah atau duel antara
dua orang yang mewakili pasukan yang akan bertempur. Imam Ali menantang
Muawiyah ber-mubarazah namun Muawiyah tak berani dan Amr bin Ash
menggantikannya. Dalam duel itu, Amr terdesak dan mengalami kekalahan.
Ketika Imam Ali hendak memukulkan pedangnya ke kepala Amr, Amr lalu
membuka auratnya sehingga Imam Ali segera berbalik memalingkan wajahnya
dan meninggalkan Amr. Karena Imam Ali tak mau melihat aurat, selamatlah
Amr. 

Semasa hidupnya, Imam Ali dikenal sebagai seorang pria
yang gagah dan tampan. Banyak hadis yang meriwayatkan Imam Ali memiliki
kepala yang agak botak sehingga orang yang tak senang pada Imam Ali
memberikan julukan ashla yang berarti "Si Botak". Umar bin Khattab pernah 
berkata, "Sekiranya tak ada si ashla, celakalah Umar!" Ketika banyak sahabat 
lain mengecam Imam Ali dengan memberikan julukan 
ashla, Rasulullah SAW berkata, "Janganlah kalian mengecam Ali karena ia sudah 
tenggelam dalam kecintaan kepada Allah." 

Imam
Ali sering menjadi fana atau larut dalam kecintaannya kepada Allah.
Pernah suatu hari, Abu Darda menemukan Ali terbujur kaku di atas tanah
seperti sebongkah kayu di sebuah kebun kurma milik seorang penduduk
Mekkah. Dengan tergopoh-gopoh, Abu Darda mendatangi Fathimah untuk
berbelasungkawa, karena ia mengira Ali telah meninggal dunia. Fathimah
hanya berkata, "Sepupuku, Ali, tidak mati melainkan ia pingsan karena
fana dalam ketakutannya kepada Allah. Ketahuilah, kejadian itu sering
menimpanya." 

Bagi
Imam Ali, shalat tidak merupakan peristiwa biasa namun adalah pertemuan
agung dengan Allah swt. Imam Al-Ghazali mengisahkan hal ini dalam kitab
Ihya Ulumuddin: 

Suatu hari, menjelang waktu shalat, seorang
sahabat menemukan Imam Ali dalam keadaan tubuh yang berguncang dan
wajah yang pucat pasi. Ia bertanya, "Apa yang telah terjadi, wahai
Amirul Mukminin?" Imam Ali menjawab, "Telah datang waktu shalat. Inilah
amanat yang pernah diberikan Allah kepada langit, bumi, dan gunung
tetapi mereka menolak untuk memikulnya dan berguncang dahsyat
karenanya. Sekarang, aku harus memikulnya." 

Dengan sikapnya
itu, Imam Ali ingin mengajarkan sahabatnya bahwa shalat bukanlah
kejadian biasa. Shalat adalah amanat yang di dalamnya mengandung
perjanjian mulia antara seorang hamba dengan Tuhannya. Alangkah anehnya
bila kita masih belum merasakan kekhusyukan itu di dalam shalat kita.
Tuhan berfirman, "Sungguh beruntung orang-orang mukmin itu; yaitu
mereka yang khusyuk di dalam shalatnya." (QS. Al-Mukminun; 1) 

Imam
Ali juga dikenal karena shalatnya yang khusyuk. Banyak sahabat yang
memuji shalat Ali sebagai shalat yang mirip dengan shalat Rasulullah
SAW. Puluhan tahun sejak kematian Rasulullah, seorang sahabat bernama
'Umran bin Husain, shalat di belakang Imam Ali di Basrah. 'Umran
berkata, "Lelaki itu mengingatkan aku pada shalat yang dilakukan
Rasulullah SAW." 'Umran terkesan akan shalat Ali bukan karena gerakan-gerakan 
lahiriahnya melainkan karena kekhusyukannya. 

Ibn
Abi Al-Hadid, seorang tokoh Mu'tazilah, bercerita tentang ibadah Imam
Ali. Ia menyebutkan Ali sebagai orang yang paling taat beribadah dan
yang paling banyak shalat dan puasanya sehingga dari Ali-lah orang
banyak belajar tentang shalat malam. Selain itu, Ali senantiasa
melazimkan wirid dan menunaikan ibadah-ibadah nafilah. "Dalam
Perang Shiffin," Al-Hadid bercerita, "di tengah-tengah perang yang
berkecamuk, Ali masih mendirikan shalat. Sesudah shalat, ia membaca
wirid. Dalam kesibukan perangnya, ia tak meninggalkan wiridnya padahal
anak panah melintas di antara kedua belah tangan dan di antara kedua
daun telinganya." 

Banyak
hadis meriwayatkan kehidupan Imam Ali yang teramat sederhana. Ali
bekerja keras membanting tulang untuk nafkah keluarganya. Istrinya,
Fathimah, setiap hari menggiling gandum sampai melepuh tangannya. Suatu
saat, setelah memenangkan sebuah peperangan, kaum muslimin memiliki
banyak tawanan perang. Fathimah berkata pada Ali, "Bagaimana jika kita
meminta salah seorang tawanan kepada Rasulullah untuk menjadi pembantu
kita?" Ali enggan menyampaikan permohonan ini pada Rasulullah karena
merasa sangat malu. Ia meminta Fathimah-lah yang memintakan hal itu.
Pergilah Fathimah menemui Rasulullah SAW. Begitu ia berada di hadapan
Nabi yang mulia, Fathimah tak kuasa menyampaikan maksudnya. Ia pulang
lagi ke rumahnya. Imam Ali lalu pergi untuk menyampaikan hal itu dan ia
pun tak kuasa mengutarakan keinginan itu dan kembali lagi. Akhirnya
keduanya memutuskan untuk pergi bersama-sama ke tempat Rasulullah.
Disampaikanlah hajat itu tapi Rasulullah tak menjawab permintaan
mereka. Keduanya pulang dengan perasaan malu dan takut akan kemurkaan
Rasulullah. 

Malam
harinya Nabi datang ke rumah Ali. Nabi menyaksikan Ali hanya
berselimutkan sarung yang amat pendek padahal malam teramat dingin.
Jika selimut itu ditarik ke atas, terbukalah bagian bawah dan jika
selimut itu ditarik ke bawah, terbukalah bagian atas. Rasulullah
terharu melihat kesederhanaan Ali. Ia berkata kepada keluarga mulia
itu, "Maukah kalian aku berikan pembantu yang lebih baik dari seluruh
isi langit dan bumi?" Rasulullah SAW kemudian memberikan wirid untuk
dibacakan oleh keluarganya itu seusai shalat. Wirid itu berisi 33 kali
tasbih, tahmid, dan takbir. Begitu setianya Imam Ali dengan wiridnya
itu, ia tak pernah meninggalkannya bahkan saat perang sekali pun. Ia
melazimkannya dalam setiap keadaan. 

Di
masa kekuasaan Muawiyah, karena kebencian Muawiyah yang teramat sangat
kepada Imam Ali, para khatib Jumat diperintahkan untuk mengakhiri
setiap khutbahnya dengan kecaman kepada Ali. Cacian dan makian ini
berlangsung selama hampir puluhan tahun. Ketika Umar bin Abdul Aziz
berkuasa, perintah ini dihapuskan. Namun meskipun Muawiyah begitu
membenci Ali, ia harus mengakui keutamaan sifat-sifat Ali. Suatu saat,
Darar bin Dhamrah Al-Khazani diminta Muawiyah untuk bercerita tentang
Imam Ali kw. Ia tak mau memenuhi permintaan itu. Ia takut, bila ia
menceritakan keadaan Ali apa adanya, ia akan dianggap sebagai orang
yang mengutamakan Ali, dan ia akan dihukum. Oleh sebab itu Darar hanya
berkata, "Ampunilah aku, wahai Amirul Mukminin! Jangan perintahkan aku
untuk mengungkapkan hal itu. Perintahkan aku untuk melakukan hal lain
saja." 

"Tidak," ujar Muawiyah, "aku takkan
 mengampunimu. " Akhirnya Darar bercerita tentang Ali dalam bahasa Arab yang 
teramat indah. Terjemahannya sebagai berikut: 

"Ali
adalah seorang yang cerdik cendekia dan gagah perkasa. Ia berbicara
dengan jernih dan menghukum dengan adil. Ilmu memancar dari kedalaman
dirinya dan hikmah keluar dari sela-sela ucapannya. Ia mengasingkan
diri dari dunia dengan segala keindahannya untuk kemudian bertemankan
malam dengan seluruh kegelapannya, di sisi Allah. Air matanya
senantiasa mengalir dan hatinya selalu tenggelam dalam pikiran. Ia
sering membolak-balikkan tangannya dan berdialog dengan dirinya. Ia
senang dengan pakaian yang sederhana dan makanan yang keras." 

"Demi
Allah, ia dekat kepada kami dan kami senang berdekatan dengannya. Ia
menjawab bila kami bertanya. Namun betapa pun ia dekat dengan kami,
kami tak sanggup menegurnya karena kewibawaannya. Jika tersenyum,
giginya tampak bagai untaian mutiara. Ia memuliakan para ahli agama dan
mencintai orang miskin. Orang kuat tak berdaya di hadapannya karena
keadilannya sementara orang yang lemah tak putus asa di sisinya." 

"Aku
bersaksi demi Allah, aku sering melihatnya berada di mihrab pada
sebagian tempat ibadahnya. Malam telah menurunkan tirainya dan
gemintang tak tenggelam, saat itu ia memegang janggutnya dan merintih
dengan rintihan orang yang sakit. Ia menangis dengan tangisan orang
yang menderita. Seakan-akan kudengar jeritannya Ya Rabbana, ya
Rabbana..... " 

"Ia menggigil di hadapan kekasihnya. Kepada
dunia, ia berkata: Kepadaku kau datang mencumbu. Kepadaku kau merayu.
Enyahlah dan pergi! Tipulah orang selain aku. Aku telah menjatuhkan
talak tiga kepadamu. Usiamu pendek, posisimu rendah. Betapa sedikitnya
bekal dan betapa jauhnya perjalanan, dan betapa sepinya perantauan." 

Muawiyah
mendengar Darar yang bercerita dengan penuh perasaan. Meskipun ia amat
membenci Ali, tapi ia tak kuasa menahan tangisan begitu mendengar
penuturan Darar. Pada kesempatan lain, Darar pernah ditanya, "Bagaimana
kerinduanmu kepada Ali?" Darar menjawab, "Aku rindu kepadanya seperti
kerinduan seorang perempuan yang kekasihnya disembelih di pangkuannya.
Air matanya takkan pernah kering, dukanya panjang dan takkan pernah
usai." 

Imam
Ali selalu mengisi malamnya dengan tangisan dan orang-orang yang
mengenalnya akan mengisi kisah Ali dengan tangisan pula. Dalam tasawuf,
menangis termasuk salah satu hal yang harus dilatih. Imam Ali berkata,
"Salah satu ciri orang yang celaka adalah ia yang memiliki hati yang
keras. Dan ciri hati yang keras adalah hati yang sukar menangis." 

Nabi
SAW bersabda, "Jika engkau membaca Al-Quran, menangislah. Jika tidak
bisa, berusahalah agar engkau menangis." Pada salah satu doanya yang
teramat indah, Imam Ali memohon: 

"Tuhanku, berilah daku kesempurnaan ikatan kepada-Mu. Sinarilah bashirah
hati kami dengan cahaya karena melihat-Mu sehingga kalbu kami
menorehkan tirai cahaya dan sampailah ia pada sumber kebesaran; arwah
kami terikat pada keagungan kesucian-Mu. Air mata tidak mengering
kecuali karena hati yang keras dan hati takkan keras kecuali karena
banyaknya dosa." 

Keharuman Pribadi Imam Ali Bin Abi Thalib 

Dalam
rangka usaha meluruskan pengertian kaum muslimin mengenai ajaran agama
Islam yang berkaitan dengan kewajiban berusaha mencari nafkah
penghidupan, Imam 'Ali selalu memberi pengertian kepada kaum muslimin
mengenai beberapa pokok ajaran Islam, antara lain: 

1). Nilai seseorang tergantung pada kadar kemauannya. 

2). Bukankah
kemiskinan itu termasuk cobaan hidup? Ketahuilah, bahwa kemiskinan yang
terberat itu adalah penyakit jasmani. Dan penyakit jasmani yang
terparah adalah penyakit hati. Kesehatan badan lebih berharga daripada
kecukupan harta, dan hati yang bertaqwa lebih berharga daripada badan
yang sehat. 

3). Barangsiapa yang enggan bekerja ia akan menghadapi cobaan hidup, dan Allah
 tidak membutuhkan orang yang tidak mengindahkan nikmat yang dikaruniakan dalam 
harta dan jiwanya. 

4). Orang
yang bahagia adalah yang dapat menarik pelajaran dari orang lain, orang
yang sengsara ialah orang yang tertipu oleh hawa nafsunya. 

5). Hai
para hamba Allah, janganlah sekali-kali kalian terkecoh oleh kebodohan
kalian, dan jangan pula kalian menuruti hawa nafsu kalian. Orang yang
tunduk kepada dua hal itu ia berada di tepi jurang terjal. 

6). Ilmu
pengetahuan wajib diikuti dengan amal perbuatan. Barangsiapa berilmu ia
harus beramal. Dengan amal ilmu akan meningkat tinggi dan tanpa amal,
ilmu akan merosot. 

7). Amal perbuatan adalah buah ilmu
pengetahuan. Orang berilmu yang berbuat tidak sesuai dengan ilmunya,
sama dengan orang bodoh yang kebingungan dan tetap bodoh. Bahkan orang
seperti itu kesalahannya lebih besar, lebih pantas disesali dan di
hadirat Allah ia akan menjadi orang yang paling menyesal. Orang yang
bekerja tanpa ilmu sama dengan orang yang bepergian tanpa kenal jalan,
sehingga orang lain yang melihatnya akan bertanya-tanya: "berpergiankah
atau pulang?!?" 

8). Barangsiapa
dikaruniai kekayaan oelh Allah hendaklah ia memperhatikan kaum
kerabatnya, menghormati dan menjamu tamu sebaik-baiknya, membebaskan
tawanan perang dan melepaskan orang dari penderitaan, membantu kaum
fakir miskin dan orang yang tenggelam di dalam hutang demi kebajikan,
dan hendaknya ia bersabar tidak menuntut hak karena ingin mendapatkan
pahala semata-mata. Sifat-sifat demikian itu merupakan keberuntungan
yang akan menghantarkan orang ke arah kemuliaan di dunia dan insya
Allah merupakan pembuka jalan baginya untuk memperoleh kebahagiaan di
akhirat. 

9). Bekerjalah dengan sekuat tenagamu, janganlah engkau menjadi penumpang hasil 
kerja orang lain. 

10). Janganlah
engkau malu kalau hanya dapat memberi sedikit, karena dapat memberi
sedikit lebih baik daripada tidak dapat memberi. Jadilah engkau seorang
yang penyantun, tetapi jangan menjadi seorang yang pemboros. Jadilah
engkau seorang yang hemat, tapi jangan menjadi seorang yang kikir. 

11). Janganlah
engkau menjadi orang yang tidak mempan peringatan, karena orang yang
berakal cukup diperingatkan dengan tutur-kata yang baik, sedangkan
hewan tak dapat diperingatkan kecuali dengan pukulan. 

12). Hati
manusia dapat merasa jemu dan lesu sebagaimana badan juga merasa jemu
dan lesu. Karena itu carilah ilmu dan hikmah sebagai obatnya. 


Imam
'Ali berpendapat, orang yang hidup dicengkeram kemelaratan tentu
kehilangan ketenangan dan ketentramannya. Sukar baginya untuk
menghayati kejujuran, perilaku yang baik dan menghias dirinya dengan
sifat-sifat utama. Sukar pula baginya untuk membuang rasa iri hati dan
dengki dari lubuk hati. Maka itu ia mudah terperosok ke dalam
penyelewengan yang tidak baik. 

Benar bahwa Imam 'Ali hidup
zuhud dan menganjurkan kezuhudan, demikian juga dengan beberapa sahabat
Nabi semisal Abu Dzar Al-Ghifari. Akan tetapi mereka tak pernah
menganjurkan untuk lebih suka hidup melarat daripada berkecukupan. Imam
'Ali tidak jemu-jemunya mengingatkan kepada kaum muslimin, "Bekerjalah
untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selama-lamanya, dan bekerjalah
untuk akhirat seakan-akan engkau mati esok hari." 

Menurut
Imam 'Ali upaya memperoleh rizki dengan jalan yang benar dan lurus
tidak akan mendatangkan hasil lebih besar daripada yang diperlukan
untuk mengatasi kebutuhan. Dengan tegas dan jelas Imam 'Ali berkata:
"Jika kalian menempuh jalan kebenaran, tentu akan terbuka jalan yang
menyenangkan kalian dan tidak akan ada orang lain yang menggantungkan
penghidupannya kepada orang lain." 

Berdasarkan pengamatan yang
tajam dan cermat Imam 'Ali as yakin bahwa kemelaratan dapat
menjerumuskan manusia ke dalam kekufuran. Karena itulah ia memerangi
segenap kekuatan yang ada, serta dengan tegas dan tandas mencemoohkan
orang-orang yang menganjurkan atau membagus-baguskan kemelaratan dengan
dalih kezuhudan. Memang kalau hidup zuhud akan menambah iman dan taqwa
kepada Allah Ta'ala, akan tetapi kalau kemelaratan akan membawa ke
dalam kekufuran. Dimana nanti kita akan 'menyembah' selain-Nya. Itu
bisa harta dan juga kekuasaan. Maka itu seumpamanya kemelaratan itu
berupa manusia, seharusnya kita membunuhnya. 

Ini
hanya secuil dari sekian banyak hikmah yang bisa kita temukan dalam
diri Imam 'Ali, karena Imam 'Ali as adalah mahasiswa utama yang menimba
ilmu dari mahaguru umat sedunia, Muhammad SAW. Yang mana, Rasulullah
SAW bersabda: "Hai 'Ali, Allah telah menghias dirimu dengan hiasan yang
paling disukai-Nya, Allah mengaruniaimu perasaan mencintai kaum lemah
hingga Allah membuatmu puas (ridho) mempunyai pengikut mereka dan
mereka pun puas engkau menjadi pemimpin mereka."[]







    
  

    
    




<!--

#ygrp-mlmsg {font-size:13px;font-family:arial,helvetica,clean,sans-serif;}
#ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}
#ygrp-mlmsg select, input, textarea {font:99% arial,helvetica,clean,sans-serif;}
#ygrp-mlmsg pre, code {font:115% monospace;}
#ygrp-mlmsg * {line-height:1.22em;}
#ygrp-text{
font-family:Georgia;
}
#ygrp-text p{
margin:0 0 1em 0;
}
#ygrp-tpmsgs{
font-family:Arial;
clear:both;
}
#ygrp-vitnav{
padding-top:10px;
font-family:Verdana;
font-size:77%;
margin:0;
}
#ygrp-vitnav a{
padding:0 1px;
}
#ygrp-actbar{
clear:both;
margin:25px 0;
white-space:nowrap;
color:#666;
text-align:right;
}
#ygrp-actbar .left{
float:left;
white-space:nowrap;
}
.bld{font-weight:bold;}
#ygrp-grft{
font-family:Verdana;
font-size:77%;
padding:15px 0;
}
#ygrp-ft{
font-family:verdana;
font-size:77%;
border-top:1px solid #666;
padding:5px 0;
}
#ygrp-mlmsg #logo{
padding-bottom:10px;
}

#ygrp-vital{
background-color:#e0ecee;
margin-bottom:20px;
padding:2px 0 8px 8px;
}
#ygrp-vital #vithd{
font-size:77%;
font-family:Verdana;
font-weight:bold;
color:#333;
text-transform:uppercase;
}
#ygrp-vital ul{
padding:0;
margin:2px 0;
}
#ygrp-vital ul li{
list-style-type:none;
clear:both;
border:1px solid #e0ecee;
}
#ygrp-vital ul li .ct{
font-weight:bold;
color:#ff7900;
float:right;
width:2em;
text-align:right;
padding-right:.5em;
}
#ygrp-vital ul li .cat{
font-weight:bold;
}
#ygrp-vital a {
text-decoration:none;
}

#ygrp-vital a:hover{
text-decoration:underline;
}

#ygrp-sponsor #hd{
color:#999;
font-size:77%;
}
#ygrp-sponsor #ov{
padding:6px 13px;
background-color:#e0ecee;
margin-bottom:20px;
}
#ygrp-sponsor #ov ul{
padding:0 0 0 8px;
margin:0;
}
#ygrp-sponsor #ov li{
list-style-type:square;
padding:6px 0;
font-size:77%;
}
#ygrp-sponsor #ov li a{
text-decoration:none;
font-size:130%;
}
#ygrp-sponsor #nc {
background-color:#eee;
margin-bottom:20px;
padding:0 8px;
}
#ygrp-sponsor .ad{
padding:8px 0;
}
#ygrp-sponsor .ad #hd1{
font-family:Arial;
font-weight:bold;
color:#628c2a;
font-size:100%;
line-height:122%;
}
#ygrp-sponsor .ad a{
text-decoration:none;
}
#ygrp-sponsor .ad a:hover{
text-decoration:underline;
}
#ygrp-sponsor .ad p{
margin:0;
}
o {font-size:0;}
.MsoNormal {
margin:0 0 0 0;
}
#ygrp-text tt{
font-size:120%;
}
blockquote{margin:0 0 0 4px;}
.replbq {margin:4;}
-->







Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke