--- Begin Message ---
Nude Raider
Oleh:
Audifax
Peneliti di IISA-Surabaya dan Penulis buku Imagining Lara Croft (Jalasutra,
2006)
Mang Ucup:
Dear all!
Mang Ucup mengalami problem kejiwaan nih, mungkin ada rekan2 yg bisa bantu,
masalahnya berdasarkan tulisan saya bahwa foto bugil itu tidak haram, maka saya
mendapatkan komentar dari seorang psikolog perempuan, dimana ia juga sekalian
mo nge-test apakah junior nya mang Ucup masih bisa "ON" tidak, hanya sayangnya
tetap azah "OFF" tuh padahal test sudah dijalankan sebaik mungkin, keadaan
kesehatan mang Ucup juga normal 100% jadi tidak impotent, bahkan punya istri yg
usianya 25 th jauh lebih muda, apakah ada yg tidak beres dgn kejiwaan saya???
Pls help me[1]
Lia Sexy:
Hmm..tapi saya pribadi sependapat lah dengan pak Taat dan mas (ato mbak?)
gotho ini. Untuk model pengetesan yang diberikan oleh ibu psikolog itu,
sepertinya kurang apropiate deh mang. Karena proses imajiantif sendiri (yang
tidak dilakukan berdasarkan impuls pribadi, melainkan karena command2 tertentu)
sangat bergantung dari sikonnya juga. Semisal, untuk membayangkan wanita cantik
nan sexy, plus bugil tentunya, tidak hanya cukup membayangkan saja (apalagi
perintahnya dari email, apa ga keganggu tuh proses imajinatifnya?). Tapi
perintah untuk berimajinasi tersebut juga dipengaruhi oleh suara insturkturnya
juga. Sama seperti kita melakukan proses relaksasi antar psikolog-client, si
client bakal kesusahan tuh berelaksasi-ria via email, walaupun perintah di
email diminta untuk membayangkan pegunungan yang sejuk, dengan kicau burung
yang riang, bla..bla..bla..
satu hal lagi, terlalu banyak melihat yang bugil2 itu mang, memang bisa
me-reduce sensitifitas juga. So, ga salah juga, kalo mang ucup udah "kebal"
sama yang bugil, karena sudah sangat terbiasa. Di lain pihak, bukankah yang
sedikit "mengintip" akan lebih menimbulkan deg-deg serr tuh?..karena
curiousitasnya lebih tinggi.
Tapi..overal...saya masih bisa bilang, kalo mang ucup sehat-sehat mawon
koq,[2]
Mang Ucup:
Bagaimana kalau mang Ucup di test lagi dgn praktek nyata jadi bukannya hanya
di dunia maya saja melainkan boleh ngintip mba Lia secara real
Hanya sekedar test lho:- ) Untuk membuktikan bahwa teori mba Lia itu tokcer
Itu tadi sekelumit dialog antara Mang Ucup dan Lia Sexy di bulan September
2005 di milis Psikologi Transformatif. Ya, memang yang sedikit mengintip akan
lebih menimbulkan ded-deg serr, seperti dikatakan Lia atau bisa saya katakan di
sini sesuatu yang tidak utuh justru menimbulkan hasrat untuk mengutuhkannya
sesuai apa yang dihasrati pelihat. Atau apa yang berjarak justru memberi
kemungkinan pada pelihat untuk mengisi sendiri jarak antara diri dan yang
dilihat, dengan pemaknaan yang memang diinginkan.
Di sinilah saya ingin membahas lebih jauh mengenai voyeur dan fetish [bukan,
bukan bumbu yang di Jawa Timur biasa dipake campuran rujak atau tahu campur,
itu Petis bukan Fetish). Kalau anda kebetulan membaca esei yang saya tulis
ini secara online, anda mungkin menyadari bahwa ada begitu banyak pose
telanjang yang tersedia di internet, yang mengindikasikan ada begitu banyak
juga Penelusur Ketelanjangan atau Nude Raider. Tapi coba anda renungkan
juga, bukankah ketelanjangan yang tersedia di internet ini erat kaitannya
dengan sesuatu yang tak utuh dan sesuatu yang berjarak? Ia tak utuh karena kita
sebenarnya cuma dibolehkan mengintip oleh para pelaku ketelanjangan itu dan
ia berjarak, karena anda bisa melihat jarak antara anda dan layar monitor dan
jika anda perhatikan dari layar monitor ke arah objek juga ada jarak lagi
(kedalaman 3 dimensi).
Di sini jelas juga bahwa yang dicari bukan ketelanjangan yang biasa, seperti
yang dalam cerita Mang Ucup di atas dan dijelaskan lebih jauh oleh Lia bahwa
memang wajar sudah tak bisa ereksi dengan ketelanjangan yang biasa. Jika mau
membahas hal ini, memang ada begitu banyak pintu masuk, tetapi untuk kali ini,
saya akan membahas melalui pintu Voyeur dan Fetish, karena kebetulan juga saya
pernah melakukan penelitian seputar ini dalam Imagining Lara Croft, yang bisa
anda beli di toko buku jika ingin mendalaminya lebih jauh. Voyeur secara
sederhana bisa kita katakan sebagai keingintahuan yang telah meningkat menjadi
obsesi ngintip, sedangkan fetish adalah pemujaan terhadap tubuh atau bagian
tertentu dari tubuh, bisa rambut, sepatu hak tinggi, kaki, baju tertentu,
payudara dan sebagainya, variannya bisa macam-macam.
Konon, ketika objek Nude itu tak lengkap dan berjarak, justru ada
keasyikan tersendiri. Ketika objek tak lengkap, tetapi membentuk pola tertentu
yang menstimulasi, maka secara psikis individu melakukan Gestalt atau upaya
mengutuhkan, melengkapi sendiri bagian yang hilang melalui proses imajinasi
perseptualnya. Begitu pula seperti dijelaskan Jacques Lacan, psikoanalis
Perancis, yang mengatakan bahwa pada jarak antara mata dan objek yang dilihat
manusia mengisikan pemaknaan yang melapisi objek tersebut, sehingga objek itu
tak sekedar objek, tetapi memiliki makna tersendiri bagi pelihatnya.
Fenomena ini sempat saya bahas mendalam pada Imagining Lara Croft dalam
pembahasan mengenai Nude Raider. Nude Raider dalam Lara Croft ini adalah
nama plesetan dari Tomb Raider, yang digunakan untuk menamai sebuah fenomena
melihat Lara Croft secara telanjang dalam permainan Tomb Raider. Lho kok bisa?
Bisa saja!. Tidak percaya? Kalau anda kebetulan saat ini sedang online, cobalah
search dengan Yahoo atau Google dengan kata kunci Nude Raider, maka anda akan
menemukan sejumlah situs yang menyediakan patch file Nude Raider secara gratis.
Patch file itu, jika anda pasang dalam permainan Tomb Raider, maka Lara
Croftnya sudah tak akan lagi muncul dalam pakaian minim seperti biasa,
melainkan telanjang. Lalu anda bisa memainkan Lara Croft tanpa busana,
menembak, berlari, berguling. berenang, melompat dan lain sebagainya.
Patch file Nude Raider ini diciptakan oleh penggemar Lara Croft dan telah
mendunia. Nude Raider ini terlepas dan bukan tanggung jawab dari Eidos, karena
yang bikin adalah para penggemar Lara Croft yang tak puas dengan baju minim
Lara Croft dan pingin melihat ketelanjangan yang tidak biasa. Tapi benarkah
Eidos sepenuhnya terlepas? Nah, di sinilah kita bisa membahas lebih lanjut apa
yang saya jelaskan sebagai Gestalt. Seperti anda tahu, kostum Lara Croft
sendiri, sejak awal game ini keluar, sebenarnya dalam dunia nyata tidak make
sense untuk semua tugas yang mesti dijalani. Kostum itu sudah setengah
terbuka. Lalu dalam edisi terbaru Tomb Raider, yaitu Angel of the Darkness
penggemarnya bisa menyaksikan tampilan grafis yang mendekati sempurna. Lara
tampil begitu riil dengan baju yang menerawangkan isinya dan ketika Lara
melompat, (maaf) payudaranya pun dapat turut bergoyang, seakan-akan nyata.
Di sinilah saya ingin mengundang terlebih dulu pendapat-pendapat dari
rekan-rekan yang kebetulan membaca esei ini mengenai fenomena di atas. Bukankah
sesuatu yang melapisi objek pandang ini juga kerap kita lihat di iklan-iklan
atau sinetron? Dan pemirsa juga lalu melakukan Gestalt sesuai hasratnya
masing-masing? Apakah dalam hal ini perempuan memang menjadi objek seksual dari
para pemegang modal? Lebih detil lagi, karena kita sekarang di dunia cyber,
apakah dunia cyber adalah sebuah arena yang memberi kesempatan luas untuk
mengeksploitasi perempuan dan karenanya mengandung bias gender?. Atau anda yang
membaca buku "Imaging Lara Croft" bisa juga mendiskusikan hal-hal yang saya
bahas dan temukan di dalamnya. Dengan pertimbangan agar diskusi terfokus dan
makin memperkaya satu sama lain, saya mengundang anda untuk berdiskusi di milis
Psikologi Transformatif (www.groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif).
© Audifax 29 Januari 2007
Sekilas Mailing List Psikologi Transformatif
Mailing List ini merupakan ajang berdiskusi bagi siapa saja yang berminat
mendalami psikologi. Mailing list ini dibuka sebagai upaya untuk
mentransformasi pemahaman psikologi dari sifatnya selama ini yang tekstual
menuju ke sifat yang kontekstual. Anda tidak harus berasal dari kalangan
disiplin ilmu psikologi untuk bergabung sebagai member dalam mailing list ini.
Mailing List ini merupakan tindak lanjut dari simposium psikologi
transformatif, melalui mailing list ini, diharapkan diskusi dan gagasan
mengenai transformasi psikologi dapat terus dilanjutkan. Anggota yang telah
terdaftar dalam milis ini antara lain adalah para pembicara dari simposium
Psikologi Transformatif : Edy Suhardono, Cahyo Suryanto, Herry Tjahjono, Abdul
Malik, Oka Rusmini, Jangkung Karyantoro,. Beberapa rekan lain yang aktif dalam
milis ini adalah: Audifax, Leonardo Rimba, Vincent Liong, Mang Ucup, Prof
Soehartono Taat Putra, Bagus Takwin, Amalia Lia Ramananda, Himawijaya, Rudi
Murtomo, Felix
Lengkong, Kartono Muhammad, Ridwan Handoyo, Dewi Sartika, Jeni Sudarwati, FX
Rudy Gunawan, Arie Saptaji, Radityo Djajoeri, Tengku Muhammad Dhani Iqbal,
Anwar Holid, Elisa Koorag, Kidyoti, Priatna Ahmad, J. Sumardianta, Jusuf
Sutanto, Stephanie Iriana, Yunis Kartika.
Jika anda berminat untuk bergabung dengan milis Psikologi Transformatif, klik:
www.groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif
---------------------------------
CATATAN_CATATAN:
[1] Mang Ucup; Tes Ngaceng; available at:
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/1549
[2] Lia Sexy; Reply: Tes Ngaceng; available at:
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/1554
---------------------------------
Expecting? Get great news right away with email Auto-Check.
Try the Yahoo! Mail Beta.
--- End Message ---