Pembahasan / Dokumenter Kompatiologi akan tampil di
program televisi:
* Kick Andy di Metro TV ; topik: Fenomena Indigo
Ditayangkan pada Kamis, 8 Maret 2007 jam 22.30 WIB dan
Minggu, 11 Maret 2007 jam 15.05 WIB.
* Fenomena di Trans TV ; topik: Indigo
Jam tayang belum diketahui. 
=====================================================


Serial Tulisan Kitab Masuk Angin
KMA : Menyatukan Pecahan Diri 
Penulis: Adhi Purwono

Dalam perjalanan hidup ini, kita memiliki kebiasaan
untuk selalu mengaitkan diri kita dengan sesuatu
penilaian maupun pelabelan. Kebiasaan ini telah
meresap di segala dimensi kehidupan diri kita. Mungkin
hal ini tidak begitu kita sadari benar. Namun,
herannya, ketika menghadapi persoalan hidup,
serta-merta kita membutuhkan suatu pegangan. Suatu
acuan. Suatu arah. Ataupun suatu
pengalaman/pengetahuan. Ketakutan dan stress juga
begitu alami meresap setiap kita mencoba menyelesaikan
suatu masalah. Frasa ‘penderitaan’ merupakan frasa
yang mengungkapkan pengalaman yang tidak enak tersebut
dalam menghadapi masalah kehidupan. Bahkan
terbentuknya ‘masalah’ itupun menyiratkan
ketidakberdayaan kita dalam menentukan tujuan-tujuan
hidup kita sendiri. Bagaimana cara kita menikmati
kehidupan. Bagaimana cara kita mengejar kesenangan
maupun menghindari penderitaan. Masalah akan terus
mendera kita. Ketakutan dan stress akan menjadi teman
setia kita. Penderitaan tanpa disadari malah  akan
tetap menjadi tujuan favorit hidup diri kita. Karena
masalah akan selalu menyebabkan perubahan nilai-nilai.
Dan sayangnya perubahan/benturan nilai seringkali
diiringi/melalui jalan kekerasan.  

Dan memang kita semua telah/terlalu terbiasa dengan
yang telah diungkapkan oleh paragraf di atas tersebut.
Rasanya saya sendiri pengen berteriak melepaskan
belenggu kekerasan yang begitu ulet mengelilingi
kehidupan kita. Namun tak bisa. Karena saya sendiri
menyukai kekerasan. Sama seperti anda semua. Dan
hendaknya mulailah kita bertanya. Saya mengajak anda
semua untuk mulai bertanya ke diri kita masing-masing.
Darimanakah semua kekerasan ini muncul? Apakah
kekerasan hidup juga merupakan hakikat kehidupan,
seperti juga kelembutan atau kedamaian atau cinta yang
telah dipercaya sebagai hakikat kehidupan? Apakah ada
gunanya juga kita bertanya yang juga sekaligus
menyelidiki perihal kekerasan ini? Jikalau ternyata
kekerasan hanyalah sisi relatif dari cinta, lalu
apakah dengan demikian penderitaan mendapatkan
justifikasinya? Mendapatkan alasan hakikinya untuk
selalu terombang-ambing bersama-sama dengan
kebahagiaan? Saya sendiri merasa semua ini relatif.
Semua ini hanya masalah bagaimana kita mau
memaknainya. Semua ini bisa dijadikan sebagai
pelajaran maupun aktualisasi diri. Penderitaan maupun
kebahagiaan sama-sama memiliki kemampuan mencerahkan
bagi manusia. Romantis sekali! Hanya saja,
satu-satunya yang tetap menjadi masalah sesungguhnya
adalah mendapati diri kita yang terkoyak-koyak dalam
gelombang penderitaan-kebahagiaan,
kesedihan-kesenangan. Dan saya akui pula, diri saya
lebih terkoyak ketika mendapatkan kebahagiaan. Oleh
karena itulah saya lebih sering menyabotase diri saya
sendiri supaya tidak sering-sering mendapatkan
peristiwa-peristiwa yang membahagiakan.

Nah, dalam tulisan ini saya mencoba memperhalus
koyakannya. Menyatukannya sedikit-demi sedikit.
Mencari penyebab-penyebab koyakan tersebut. Tapi saya
di sini bukanlah diumpamakan sebagai pemulung koyakan.
Bukan pula sebagai pemungut pecahan diri. Masa itu
sudah lewat. Sebab saya sedang tidak depresi sehingga
sampai perlu mengajak pembaca untuk ikut serta
memungut pecahan diri saya (yang notabene memang mirip
dengan pecahan anda-anda juga). Bukan-bukan itu tujuan
saya. Saat ini saya sedang dalam keadaan sehat mental
dan jasmani. Dan justru di saat sehatlah baik sekali
kita bisa mengadakan penyelidikan ini. Alasannya,
ketika sehatlah, koyakan itu menjadi tidak begitu
jelas. Pecahan diri kita sedang berada di bawah sadar.
Sehingga sangat baik untuk mengetahui asal-mula dari
keterpecahan diri. Ketika lagi sakit, kita tidak bisa
melihat asal-mulanya lagi. Karena jelas diri kita
sedang terpecah/terkoyak

Saya masih ingat pengalaman ketika saya kecil dan
masih di SD kelas dua. Ketika itu guru sedang
membagikan hasil ulangan. Saya saat itu sudah mengerti
saya hanya mendapatkan nilai 2. Namun lucunya, ketika
itu saya tidak merasa minder. Kemudian, saya juga
melihat melalui jendela, ibu saya yang akan menjemput
saya pulang karena saat itu pelajaran sebentar lagi
akan berakhir. Malah dengan entengnya saya
melambai-lambaikan kertas ulangan saya dan sedikit
berteriak tertawa-tawa murni alasannya karena saya
hanya mendapatkan nilai 2 saat itu. Tidak ada perasaan
bersalah. Tidak ada perasaan takut dimarahin. Tidak
juga perasaan tertekan atau iri dengan anak lain yang
lebih mendapatkan nilai bagus. Ibu saya juga akhirnya
ikut tertawa-tawa melihat kepolosan saya. Kepolosan.
Orang dewasa (seperti kita saat ini) tahu secara
intuitif (karena dirinya juga pernah menjadi anak
kecil), kebahagiaan macam seperti ini, dan ini disebut
sebagai kepolosan. Dari pengalaman seperti ini jugalah
yang sebenarnya memberikan warna kebahagiaan dalam
pengalaman ibu saya sebagai orang tua. Terus,
ketidaktahuan/kepolosan saya masih berlanjut, sampai
suatu saat ayah saya mulai menerapkan kekerasan pada
diri saya. Sebenarnya bukan kekerasan yang terutama
membuat saya menjadi mulai penakut, minder dan
sebagainya. Tapi penerapan standarisasi nilai yang
mulai diterapkan oleh ortu saya dan diganjarkan
melalui kekerasan maupun hadiah-hadiah. Itulah
pelajaran pertama saya. Sabetan-sabetan sapu lidi
masih bisa saya rasakan kalau saya mau hingga
sekarang. Bukan sakit fisiklah yang teringat di memori
saya, melainkan perlawanan pertama/awal-awal saya
terhadap pengharapan, aturan, standarisasi,
sopan-santun, prestasi, dsb, dari ortu saya. Itulah
yang membuat saya kesulitan. Itulah pertama kali saya
mulai memeluk konsep keselamatan (survival). Disitulah
saya mulai memetakan, mana-mana yang mendukung
keselamatan saya sebagai anak kecil, mana-mana yang
masih bisa saya lawan, dan mana-mana yang saya
benar-benar harus menghindari/mematuhinya.
Lama-kelamaan, perlawanan dan kepatuhan berjalan
seiring dengan munculnya sifat penakut, minder, cari
aman, dsbnya. Perlu diketahui, di sini saya bukan
ingin mengkontraskan nilai-nilai (takut itu jelek,
pemberani itu bagus, minder itu jelek, pede itu bagus,
dsb). Tapi saya ingin menunjukkan bahwa pemetaan yang
saya lakukan asli/murni dari tarikan antara
pembentukan diri saya yang sangat saya inginkan (yang
berupa idealisme seperti memiliki prestasi yang bagus,
dapat bermain terus-menerus, dsb), dengan tarikan atau
lebih tepat melatih diri untuk merasa bersalah,
minder, dsb, atas perbuatan-perbuatan yang tidak
disukai oleh ortu. Lama-kelamaan pula, diri saya mulai
nempel pada tujuan idealisme seperti cerita
kepahlawanan, prestasi sekolah yang bagus,
mainan-mainan yang canggih, bahkan
kesombongan-kesombongan gaya anak kecil. Dan semakin
saya nempel dengan hal-hal seperti itu, semakin saya
bisa merasakan sakitnya tidak mendapatkan hal-hal
seperti itu lagi. Dan dari hal-hal yang mulanya saya
tiru dari orang dewasa, mulai mendapatkan
justifikasinya dalam pelampiasan-pelampiasan rasa
sakit (tentu melalui proses ‘pembelajaran’ dari
televisi, majalah, game, teman-teman, ortu, orang
dewasa lain, dsb). 

Untuk lebih jelas lagi, contoh yang paling simpel akan
saya perlihatkan dalam ilustrasi berikut ini.
 
Seorang anak saat itu pertama kali menunjukkan hasil
ulangannya kepada ibunya . Kebetulan si anak
mendapatkan nilai 8 (bagus) dalam ulangan
matematikannya tersebut. Si ibu menjadi senang dan
terus memuji-mujinya secara agak berlebihan (maklum
ibu muda baru senang-senangnya punya anak SD).
Kemudian, si anak ternyata pada kesempatan-kesempatan
beberapa ulangan berikutnya nilai-nilainya tidak
pernah di bawah nilai 8. Ibunya secara terburu-buru
karena senang, menilai anaknya jenius/ber-IQ tinggi.
Dan mulailah si anak dipuji-puji setinggi langit.

Oke, saya stop dulu ilustrasinya sampai di sini. Apa
yang telah dipelajari dari sikap ibunya oleh si anak
tersebut? Si anak berdasarkan pola sikap dan cara
berpikir ibunya mulai belajar untuk terikat dengan
nilai bagus (sama seperti ibunya yang telah terikat
dengan hal-hal lain). Saya lanjutkan ilustrasinya.    


Suatu saat ketika mengerjakan ulangan, si anak
menyadari dia mengalami kesulitan dalam
mengerjakannya. Padahal dia sudah mati-matian belajar
(ingat! Anak ini sudah terikat dengan nilai bagus). Si
anak menjadi takut nanti hasil ulangannya jelek. Si
anak juga sudah menyadari alternatif yaitu menyontek
saja, untuk menyelamatkan (konsep keselamatan)
ulangannya. Namun keinginan menyontek terbentur dengan
kebanggaan diri akibat dari pujian-pujian ortunya, dan
dari moralitas yang diajarkan oleh guru dan ortunya.
Maka akhirnya si anak tetap memutuskan untuk menyontek
saja. Namun ketika itulah untuk pertamakalinya, si
anak merasakan rasa bersalah. 

Dari ilustrasi tersebut tersirat bahwa, diri anak itu
terkoyak dan untuk menutupinya si anak menimbulkan
rasa bersalah dalam dirinya. Sampai di sini saya harap
saya sudah menunjukkan dengan jelas hasil dari
gelombang kelekatan akan kebahagiaan yang berubah
menjadi penderitaan pada diri kita. Dan sengaja saya
berikan contoh masa kecil karena pada saat-saat itulah
kita memulai pada segala hal. 

Lalu hal-hal seperti ini berlanjut terus sampai kita
dewasa dan sampai liang kubur. Jika kita mau pikir
lebih dalam dan mengaitkannya dengan ilustrasi masa
kecil seperti di atas, maka sesungguhnya kejahatan
hanyalah hasil dari usaha yang keras untuk tetap lekat
pada kebaikan. Mengapa disebut sebagai usaha yang
keras? Karena kelekatan pada hal-hal yang baik ketika
gelombangnya terlalu besar yang artinya ada suatu saat
kebaikan/idealisme tidak dapat diterapkan, maka
dirinya akan terpecah, dan penyatuan pecahan-pecahan
tersebut membutuhkan usaha yang keras/dengan
kekerasan. Dan kekerasan inipun disebut juga sebagai
kejahatan. Persis seperti ilustrasi anak kecil tadi
yang akhirnya tidak dapat lagi mencapai hasil ulangan
yang diinginkan, namun karena dirinya sudah terlekat
dengan tujuan hasil ulangan yang bagus, maka akhirnya
anak itu memutuskan untuk merubah nilai moralitasnya
dengan harga yang harus dibayarnya yaitu rasa bersalah
dan keterpecahan dirinya untuk seterusnya (mungkin
sampai harga dirinya pulih kembali). Dengan demikian,
bagi dirinya yang terpenting adalah dirinya tetap
terlekat pada label anak jenius/pintar. Inilah yang
dimaksud dengan usaha keras. Yaitu merubah nilai
moralitas dengan harga yang berat supaya bisa tetap
melekat pada hal-hal/label-label yang idealis/baik..
Harga yang harus dibayar bisa saja bukan hanya rasa
bersalah. Bisa juga minder, takut, tidak pede,
intovert. Bahkan juga keberanian, nekat, keras kepala,
kepura-puraan, dlsb.

Tulisan ini juga saya persembahkan bagi Vincent Liong
teman saya yang terkasih yang dianggap indigo. Dan
juga semua anak yang diberikan pelabelan yang telah
mengikat anak-anak tersebut. Juga untuk kita sendiri
yang tanpa kita sadari juga sering dilabelkan
macam-macam oleh orang lain yang kemudian kita menjadi
terlekat dengan pelabelan tersebut. Pujian memang
memabukkan. Apalagi pujian yang telah menjadi label
diri kita dimana kita terikat dengannya. Namun saya
tidak berhenti sampai kesimpulan di sini saja. Sesuai
dengan misi kompatiologi yang dibawa oleh Vincent si
anak yang dianggap indigo, maka mari kita lanjutkan
penyelidikan pada paragraf berikut ini.

Mungkin telah terlihat solusi termudah dari semua
persoalan ini adalah menjadi tidak terikat dengan
pelabelan. Tapi hal ini mudah mengatakannya daripada
melaksanakannya. Dan tetap saja paradoksnya, usaha
untuk melepaskan lekatan pada label malah membuat kita
terlekat dengan usaha tersebut yang ujung-ujungnya
ketika kita tidak sanggup lagi berusaha seperti itu,
kita kemudian akan merasakan lagi tarik-menarik
keinginan diri kita (pemecahan diri kita) antara
mempertahankan usaha tersebut (yang idealis) atau
merubah lagi paradigma beserta harga yang harus
dibayarnya (misalnya menjadi pragmatis, pendiam,
menarik diri, masa bodoh, topeng kejiwaan, dlsb). Lalu
sebagai antisipasi hal ini kitapun mengambil
kesimpulan sebaiknya jangan diusahakan, melainkan
merupakan kesadaran sendiri yang pada saatnya datang
untuk lepas dari keterlekatan (ingat, bukan
melepaskan, karena menyiratkan usaha). Lalu kita akan
terpancing lagi bertanya, kapan kesadaran itu akan
datang? Dan bilamana kesadaran itu akan datang?
Benarkah satu-satunya cara supaya terbebas dari
pertentangan keinginan (pemecahan diri) adalah dengan
terlepas dari keterlekatan? Hidup seperti apakah lepas
dari kelekatan itu? Kesempuranaankah? Pencerahankah?
Menjadi bijakkah? Di sinilah biasanya konsep
spiritualisme masuk. Ingat lho… saya lagi-lagi tidak
sedang mengontraskan antara spiritualisme dengan
kompatiologi. Karena yang saya tuju sebagai bahan
penyelidikan adalah konsep-konsep, yang pada konteks
ini dilabelkan sebagai konsep-konsep spiritualisme.
Mungkin saya harus menjelaskan lebih lanjut bahwa,
konsep-konsep sejatinya hanya merupakan
kumpulan-kumpulan ide tentang sesuatu (dalam hal ini
spiritualitas), bukan spiritualitas itu sendiri.
Karena memang spiritualitas sejatinya adalah
pengalaman hidup yang unik. Konsep hanyalah usaha
untuk generalisasi saja. Saya berikan sedikit contoh.
Banyak konsep spiritualisme menyarankan supaya
bermeditasi sambil menunggu kesadaran datang (yang
tanpa usaha tersebut). Namun karena hanya mengikuti
konsep tanpa benar-benar mengerti bahwa asal-mula
konsep itu muncul beserta keunikan situasinya, maka
banyak orang hanya mengeneralisasikan saja kalau ikut
metoda konsep tersebut maka hasilnya akan sama bagi
mereka (yaitu berupa kesadaran yang
datang/diharapkan). Padahal melakukan suatu metoda
dari suatu konsep tanpa mengenal diri sendiri adalah
merupakan suatu tarik-menarik antar dalam dirinya
sendiri. Mengapa saya katakan seperti ini? Karena ciri
khas dari mengikuti konsep adalah komitmen. Dan
komitmen adalah bukti langsung bahwa yang dilakukannya
tidak begitu sesuai dengan keinginannya sehingga
sampai harus membuat komitmen. Sedangkan mungkin ada
pembaca yang sudah menyadari bahwa spiritualitas itu
murni pengalaman hidup yang unik. Pengalaman hidup
yang unik ini akan sulit dilabelkan hanya dengan salah
satu polaritas saja (misalkan dianggap pengalaman
bijaksana, mengalami pencerahan, dlsb). Karena apa?
Karena seperti yang telah kita ketahui, seluruh
pengalaman hidup adalah unik dan karena itu seluruh
pelabelanpun/sifat/kriteria tercakup (misalnya dapat
dipastikan pengalaman hidup kita tidak hanya yang
bijak-bijak saja melainkan perbuatan yang bodoh dan
jahatpun tercakup). Dan saya yakin, orang-orang yang
sudah berumur mengerti hal ini ketika mereka mengenang
masa lalu mereka. Dan dari situlah sumber dari segala
sumber ajaran/konsep spiritualisme yang ada di bumi
ini. Dari mengenang masa lalu.

Jika begitu, apakah dengan demikian keterlekatan dan
keterpecahan diri adalah suatu keniscayaan? Sama
seperti ketidakterlekatan dan penyatuan diripun
merupakan keniscayaan? Mereka hanyalah seperti koin
yang sama tapi berbeda permukaan? Melepaskan diri dari
kelekatan menyebabkan pertentangan, demikian pula
mempertahankan kelekatan. Bahkan menyatukan diripun
menimbulkan pertentangan diri juga atas kenyamanan
status quo diri yang terpecah sebelumnya. Apalagi
mempertahankan keadaan diri yang terpecah. Atau bahkan
mempertahankan konfigurasi pecahan diri tertentu!
Inilah terlihat bahwa keinginan kita dari
melepaskan-mempertahankan sesuatu hanyalah mempunyai
arti cuma merubah konfigurasi pecahan diri kita
belaka. Alias lagi-lagi penderitaan akibat ayunan
emosi dari pecahan diri kita akan tetap menjadi teman
setia kita.

Ada fenomena pemikiran menarik dari kasus pelabelan
indigo pada diri  Vincent Liong. Saya sendiri tidak
begitu jelas inventarisasi/standarisasi dari
kumpulan-kumpulan sifat seperti apa yang disebut
sebagai indigo. Banyak hal dan variabel yang
berkembang dalam wacana kumpulan sifat indigo seperti
warna aura, dapat melihat roh, dapat meramal,
menguasai bahasa asing, bersikap dewasa sebelum
waktunya, dlsb. Namun dalam kasus Vincent Liong, saya
mulai menyadari bahwa kompatiologi merupakan salah
satu ekspresi reaksinya (atau aksinya) terhadap
pelabelan indigo. Vincent pernah mengatakan dia
menganggap (dan banyak juga orang yang menyadarinya)
sifat-sifat yang diinventarisir sebagai sifat indigo
banyak terdapat pada anak kecil, terutama balita dan
batita. Dan beberapa masih dapat diamati rata-rata
sampai anak SMP.  Tapi kebanyakan dari kita
menganggapnya sebagai kepolosan. Saya rasa memang
tetap ada perbedaan antara anak-anak yang terlalu
mencuat sifat indigonya (kadang sampai dewasa) dengan
anak-anak biasa yang hilang sifat keindigoannya pada
saat mulai masuk sistem sekolah. Namun bagi saya hal
ini tidak menutup makna yang ingin ditunjukkan oleh
Vincent bahwa indigo akhirnya hanyalah pelabelan.
Kumpulan sifat-sifat seperti indigo ternyata pernah
dimiliki oleh sebagian diri kita. Dan wajarlah dengan
sifat alam yang penuh variasi ini (variasi dna), ada
anak-anak yang lebih terlihat dan lebih tahan lama
sifat indigonya. Hanya saja, ternyata lama tidaknya si
anak memiliki sifat-sifat indigo juga tergantung
(selain dari kekuatan anak itu sendiri) dari sistem
pendidikan sosial kolektif yang diterapkan oleh
lingkungan masyarakat. Inilah salah satu hal yang
terpenting yang ingin ditunjukkan oleh si Vincent
dalam ilmu kompatiologinya. 

Berdasarkan konteks dan latar belakang lingkungannya
(yang membuat dirinya menjadi seperti memiliki
kelebihan indigo), anak ini (Vincent Liong) memiliki
kesempatan yang bagi yang lain sangat langka untuk
dapat tidak sejalan dengan sistem kolektif yang sudah
ada. Kemampuan untuk dapat tidak sejalan ini selain
berasal dari garis keturunan (dna), juga sebagaian
besar berasal dari kesempatan yang terbuka dari jalan
kehidupan, konteks dan latar belakang yang disediakan
oleh dunia untuk dirinya. Dan kesempatan ini tidak
disia-siakan oleh Vincent yang salah satu hasil
penemuannya adalah Kompatiologi. Pembahasan mengenai
kompatiologi sudah banyak dibahas ditulisan awal saya
di KMA ini dan juga sudah dijelaskan secara lengkap
dan di-up to date oleh si Vincent sendiri. Jadi
paragraf berikutnya saya akan lanjutkan lagi
penyelidikan kita dalam konteks penyatuan pecahan diri
ini.

Munculnya pelabelan indigo ataupun pelabelan yang lain
seperti autis, jenius, debil, anak emas, dlsb,
sebenarnya semuanya berasal dari sistem kolektif yang
berlaku saat ini. Sistem kolektif seperti apa? Ya itu,
sistem yang sesungguhnya telah saya jelaskan panjang
lebar di beberapa paragraf sebelum ini. Sistem yang
memproduksi dualitas kelekatan pada konsep-konsep.
Ketidaklekatan maupun kelekatan seperti yang telah
kita bahas sama-sama menuju keterpecahan diri. Usaha
untuk lepas maupun tidak berusaha untuk lepas sambil
menunggu kesadaran datang tetap saja secara implisit
mensyaratkan komitmen yang lagi-lagi menyiratkan
ketidaksesuaian dengan keinginan
(tarik-menarik/keterpecahan diri juga). Melakukan
gabungan kedua hal itupun hanya akan menghasilkan
gelombang/dualitas kehidupan yang sangat kita kenali.
Bahkan spiritualitas akhirnya hanya merupakan hikmah
dari kenangan masa lalu. Apakah itu berarti tugas kita
yang tersisa hanyalah menjalani saja? Rahasianya
sebenarnya terletak pada masa kecil kita (seperti
sebagian yang telah diuraikan pada beberapa paragraf
awal). Munculnya pelabelan sesungguhnya merupakan
refleksi dari harapan-harapan semu kita akan
kesempurnaan. Yang mana kesempurnaan yang dimaksud
sama-sekali tidak menggambarkan gelombang/dualitas
kehidupan. Tetap akan ada pelabelan seperti indigo,
jenius, pintar, cerdas, baik, bodoh, labil, debil,
autis, pas-pasan, dlsb, yang semuanya mau
menggambarkan seluruh usaha kita untuk mencapai
kesempurnaan. Kita rame-rame mengagumi kecerdasan,
kejeniusan, keindigoan, keemasan, hanya karena kita
sangat-sangat merindukan kesempurnaan. Saya rasa akan
masih sangat sulit bagi sebagian besar balita yang
bisa menghindari pelabelan tersebut dan dengan
demikian bisa menghindari pula luka akibat terlalu
lekat dengan label-label yang selalu menarik-narik
atau memecah-mecahkan dirinya. Kalau masih ada dari
anda yang penasaran dimana sih posisi yang ingin diisi
oleh kompatiologi. Maka saya akan langsung mengatakan,
di sinilah salah satunya kompatiologi akan bekerja
(tentu masih ada bidang-bidang yang lain). Bersama
Vincent dan juga orang-orang lain yang telah menyadari
keterpecahan dirinya dan ingin menyelidiki dari nol
(bukan dari acuan konsep tertentu).

Mari kita lanjutkan penyelidikannya. Setelah kita
mengetahui keadaan yang serba mengambang seperti ini.
Tentu pilihan yang tersisa hanyalah tinggal menjalani
kehidupan apa-adanya saja. Bukan begitu? Namun kalau
begini, jebakan status quo telah menganga lebar.
Karena apa yang disebut sebagai menjalani apa-adanya
hanyalah kata lain dari tetap menjalani hidup dengan
metoda dan konsep yang dulu, alias tidak ada perubahan
apapun! Dan justru di sinilah poin pentingnya! Orang
jarang konsisten dengan apa yang dijalaninya hanya
karena kekurangan integritas diri (alias memang karena
keterpecahan dirinyalah dia mencari hal yang lebih
baik, sehingga konsekuensinya dia menjadi kurang
konsisten). Namun integritas diri tidak akan terbentuk
kalau dirinya tertarik/tarik-menarik ke segala-arah
akibat ingin membentuk jati diri/integritas diri dari
suatu konsep yang sudah ada. Jadi, bukanlah pasrah
yang saya sarankan. Karena pasrah masihlah merupakan
reaksi pasif, yang berarti masih melekat pada konsep
(yaitu konsep pasrah). Melainkan berkomunikasi empati
dengan alam semesta. Empati di sini artinya
sama-dengan. Komunikasi empati adalah komunikasi
‘sama-dengan’. Jadi berkomunikasi empati dengan alam
semesta (semesta ini juga berarti dengan sesama
manusia juga), berarti terhubung (komunikasi)
‘sama-dengan’ atas alam semesta. Mari kita coba
terapkan definisi di atas dengan suatu contoh kasus. 

Diri yang terpecah, berarti logisnya diri kita
tersebar dimana-mana di alam semesta. 

Mari kita selidiki satu-persatu apa yang sesungguhnya
terjadi:         
                            
Pertama. Menyatukan diri terlihat seperti perbuatan
sia-sia, karena selalu ada tarikan kepentingan dan
keinginan dari dalam diri kita sendiri, alias selalu
timbul aksi-reaksi yang memang alami dan memang
merupakan hukum alam.

Kedua. Diri yang terpecah bila disadari sesungguhnya
adalah akibat dari peristiwa-peristiwa yang terpisah
dalam lingkup ruang-waktu kehidupan diri kita.

Ketiga. Sebaran pecahan diri kita banyak yang
tersimpan di memori masa lalu, dan banyak juga yang
merupakan bentuk kekhawatiran akan masa depan. 

Keempat. Usaha yang kita lakukan tanpa kita sadari
juga ikut andil memperbanyak pecahan diri kita (atau
usaha memperbanyak tekanan dan tarikan
kepentingan/keinginan yang kita rasakan).

Kelima. Pecahan diri itu memang nyata ada karena kita
membutuhkannya untuk ekspresi dan pelabelan diri juga
alam semesta. Dan kecenderungannya bukan semakin
sedikit melainkan semakin banyak seiring dengan usaha
yang kita lakukan di bumi ini dan seiring dengan
penuaan diri kita (sehingga makin banyak pengalaman
yang kita miliki, makin banyak kesempatan
peristiwa-peristiwa yang dapat memecah-mecah diri
kita). 

Lima poin tersebut dapat disimpulkan bahwa pecahan
diri kita tersebar di segala peristiwa dalam lingkup
ruang waktu alam semesta. Singkatnya, pecahan diri
kita tersebar di alam semesta. Komunikasi empati diri
kita dengan alam semesta adalah hubungan diri kita
yang ‘kita sama-dengankan’ dengan alam semesta. Dengan
‘menyama-dengankan’ kita tidak berusaha mengambil
pecahan diri kita melainkan memetakan (secara
harafiah) diri kita terhadap pecahan diri kita di
ruang waktu alam semesta. Jadi ilustrasi mudahnya
adalah seolah-olah kita memiliki peta yang menunjukkan
dimana letak semua pecahan diri kita di alam semesta.
Lalu kita tidak mengambil pecahan-pecahan tersebut,
melainkan menyamadengankannya konsep diri kita dengan
pecahan yang nyata berada di alam semesta. Inilah
komunikasi empati sesungguhnya dengan alam semesta.
Inilah juga berarti mirip dikatakan sebagai pembesaran
ego/diri sebesar pecahan ego/diri yang mencakup alam
semesta. Sederhananya, semakin kita bisa memetakan
secara lebih lengkap, maka kita tinggal memperbesar
diri/ego kita sebesar luasan alam semesta yang dicakup
oleh pecahan-pecahan ego/diri tersebut. Terdengar
rumit? Saya akan mencoba memberikan contoh yang sangat
sederhana di bawah ini.

Tentu hampir setiap diri kita pernah mengalami
insomnia. Masalah sulit tidur sering-kali dicoba di
atasi dengan teknik-teknik menyibukkan, menghipnotis,
mengalihkan diri, dlsb. Namun jikapun teknik-teknik
itu memang berhasil, apa sih yang sesungguhnya
terjadi? Saya akan bahas dalam sudut pandang
keterpecahan diri. 

Jelas sekali, dalam fenomena susah tidur, terjadi
perpecahan diri antara kubu yang ingin tidur segera
dengan kubu yang masih ingin aktif/stress. Biasanya
diusahakan kubu yang masih aktif untuk dialihkan,
ditekan, diabaikan, dlsb, sampai kesadaran kita
terjatuh dan tertidur, dan saat itu boleh dianggap
kubu yang menginginkan aktif telah kalah dan lenyap,
yang tertinggal hanyalah kubu yang ingin tidur segera.
Namun bagaimana bila teknik-teknik itu tidak berhasil?
Atau takut kalau bisa menyebabkan ketergantungan fisik
maupun mental terhadap teknik atau obat-obatan
tertentu? Maka, ketika itu saya melakukan percobaan
kecil. Saat saya susah tidur, saya sengaja berdamai
dengan kedua kubu saya. Bukan pasrah. Karena kalau
pasrah berarti saya terikat dengan konsep. Yang
artinya saya malah menciptakan satu kubu lagi, yaitu
kubu pasrah yang berharap dengan pasrah bisa tertidur.
Ingat, saya tidak berusaha untuk tidur. Setelah saya
juga melepaskan pasrah, kemudian saya membiarkan diri
saya terjatuh kesadarannya, lalu aktif kembali, lalu
terjatuh lagi, bolak-balik. Saya akui diri saya pecah
dengan segera. Dan menerimanya sebagai kenyataan susah
tidur. Apa yang terjadi? Saya memang bolak-balik susah
tidur hampir selama 3,5 jam. Gelisah bukan main. Tapi
tetap saya terapkan dengan sabar kesadaran
berkomunikasi empati (pemetaan) saya dan menerimanya
seolah-olah diri saya ya mencakup pecahan diri saya
juga. Saya melayani pikiran-pikiran liar saya
sekaligus rasa kantuk saya. Akibatnya malah agak aneh.
Saya dapat menyadari saat-saat mau masuk ke alam mimpi
hampir dalam keadaan belum tidur. Dan lama-kelamaan,
saya merasa saya dapat berdamai dengan kedua kubu
tersebut yang berarti saya berdamai dengan
keterpecahan diri saya. Lalu saya menjadi tenang, dan
senyum-senyum sendirian bahwa saya malah mendapatkan
hikmah bonus yang tidak saya sangka-sangka. Yaitu
hakikat disiplin. Disiplin bukanlah pemaksaan diri
untuk berkomitmen atau dengan kata lain sengaja
memecah diri lalu berjuang mengatasi perpecahannya.
Misalnya melakukan kegiatan mendisplinkan diri dalam
belajar 2 jam sehari dengan pemaksaan melawan
keinginan hura-hura. Bukan seperti itu. Bukan melawan
keinginan. Melainkan memetakan seluruh
keinginan/perpecahan diri dan
menerimanya/menyamadengankannya sebagai kenyataan.
Itulah komunikasi empati. Dapat membawa serta seluruh
pecahan karena telah dapat mengenal baik dan harmonis
pada setiap pecahan. Bukan berusaha memaksakan
menyatukan diri sehingga muncul aksi-reaksi. Disiplin
menjadi sederhana. Jika saya ingin mendisiplinkan diri
untuk tidur ketika insomnia. Maka yang saya lakukan
hanyalah tidur bersama pecahan-pecahan diri saya
bersama-sama. Itu saja. Tak ada perlawanan keinginan.
Keinginan manapun dari pecahan tersebut tetap saya
penuhi walaupun tema saya adalah tidur. Tentu bakal
ada pertanyaan. Bagaimana kalau keinginannya berupa
kegiatan fisik yang mengharuskan tidak tidur? Ya
pilihan yang mudah sebenarnya. Dari hasil pemetaan,
akan terlihat sendiri tubuh kita sebenarnya butuh
tidur atau tidak? Jika butuh tidur, maka akan terlihat
keinginan itu lebih lemah dan lebih mudah dicari
alternatif pemuasannya sehingga bisa sinkron lagi
dengan keinginan tidur. Jadi di sini yang paling
penting adalah mendapatkan hasil pemetaan yang jujur
terlebih dahulu. Selebihnya menjadi mudah untuk
mengharmonisasikan (memenuhi/mentransformasikan setiap
permintaan) pecahan-pecahan diri.

Jadi kesimpulannya. Diri/ego adalah kumpulan pecahan
diri yang tersebar pada seluruh peristiwa dalam
lingkup ruang waktu alam semesta. Berkomunikasi empati
dengan alam semesta berarti dapat memetakannya dan
menyamadengankannya sehingga semua pecahan yang telah
diempatikan (disamadengankan) telah dikenal,
diharmonisasikan dan diterima sebagai kesatuan
keluarga besar diri/ego. Memang tidak mungkin hanya
dengan sekali memetakan dapat mengkoordinatkan semua
pecahan diri/ego. Namun, sejalan dengan waktu, semakin
sedikit pecahan yang masih yatim-piatu, dan kita bakal
semakin mengenal diri kita jauh lebih baik melalui
pecahan yang telah kita empatikan. Bahkan dengan
semakin banyaknya pecahan yang dapat kita empatikan,
semakin memperbesar kemampuan kita menerima
umpan-balik dan informasi dari alam-semesta mengenai
diri kita, kehidupan kita dan alam semesta itu
sendiri. Anda dilabelkan indigo, pintar,jenius? Tidak
masalah. Jikapun terlekat dengan label itupun tetap
bukan masalah. Karena anda telah menerima keterlekatan
tersebut sebagai keluarga besar diri anda. Anda
dilabelkan sebagai tolol, bodoh, lambat, telmi,
pas-pasan? Tidak masalah juga. Kalaupun anda terlekat
dengan label-label negatif tersebut, anda tidak
mengaggapnya sebagai masalah. Karena justru karena
telah menerima ada diri yang terpecah dan terlekati
dengan pelabelan tersebut, maka anda bisa mendapatkan
banyak informasi yang berharga via
ekspresi/label/pecahan negatifnya. Dan anda tidak
merasa seluruh diri anda menjadi negatif bukan? Karena
anda telah menganggap itu hanyalah salah satu anggota
keluarga pecahan diri/ego anda. Semakin anda berumur,
semakin luaslah cakupan pengalaman dari
pecahan-pecahan diri/ego anda. Semakinlah anda
mengenal keluasan mekanisme proses alam-semesta ini
melalui pecahan-pecahan diri anda. Dan bila
kelihatannya ego/diri anda diserangpun, yang mana sih
diserang? Setiap luka bisa menjadi pecahan
diri/informasi yang berharga. Dan setiap kemenangan
tidaklah memabukkan karena kelekatannya telah anda
terima sebagai pecahan saja, tidak berusaha disatukan
ke diri anda. Tapi perlu diketahui bahwa bukan berarti
senangnya cuma terasa seperti pecahan belaka. Kalau
lagi senang ya senang sepenuh-penuhnya. Mengapa bisa?
Karena memang khan kesenangan itu sudah tidak dianggap
sebagai faktor konflik/bahaya/tarik-menarik antar
pecahan diri/ego. Jadi tidak perlu lagi sikap
hati-hati yang munafik. Hanya menjalani apa yang lagi
ada di pecahan diri. Lagi senang ya senang… tidak
masalah. Lagi sedih ya sedih, abis itu tidak masalah.
Lama-kelamaan, ayunan emosi akan semakin terkontrol
karena memang sudah tidak ada lagi konflik sebagai
sumber ayunan emosi. Cuma semakin mengenal diri anda
dan mengenal alam-semesta melalui diri anda. 

Akhirnya, semua yang saya tulis di atas cumalah
konsep. Jadi tidak benar-benar mewakili apa yang saya
rasakan saat ini. Saya tidak sanggup menjelaskannya
sehingga menjadi seperti copy-paste kepada anda. Tidak
ada yang seperti itu lho…! Anda punya pengalaman unik
sendiri dan tidak akan sama seperti saya. Apa yang
saya rasakan sendiripun tidak sanggup saya mencari
penjelasan yang paling tepat bagi diri saya sekalipun.
Ini semuanya hanyalah hasil interpretasi dari apa yang
saya rasakan. Inilah permainan utama kompatiologi
dengan metoda dekonstruksinya. Bermain interpretasi
atas perasaan yang telah didapat.


Salam,

Adhi Purwono.

CDMA : 021-68812660 (janji dekons)
EMAIL (YM) : [EMAIL PROTECTED]
Ciledug, 15 Februari 2007



=====================================================
Untuk mendapatkan produk kompatiologi yang bisa
digunakan sebagai installasi operating sistem indigo
dapat menghubungi para pen-dekon ala kompatiologi::
JAKARTA: Adhi Purwono 021-68812660, Ondo Untung
08128599710, Cornelia Istiani 081585228174 &
021-68358037, Juswan Setyawan 08159162193, BANDUNG:
Tandang 022-91554184, Iwan 0811200270, PURWOKERTO:
Bimo Wikantiyoso 0816746770 & 08888405843.

Harap membaca: Rincian Tarif Minimum
Dekon-Kompatiologi
http://tech.groups.yahoo.com/group/Komunikasi_Empati/message/1002
http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/19569

Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com 


******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke