Sayang hari2 ini tak ada yang bisa aku bopong! haha....
Bagus sisc!!  critanya seru walaupun dengan setting orang 'sono'. 
sekaligus proses mengerti bagaimana kehidupan itu di dirasakan bukan 
tuk diujarkan semata!

Cerita  ini mengajarkan pada saya alangkah ramainya warna cinta 
didunia ini, ada sesuatu yang 'bicara' disana, tapi jg terselip 
sebuah romantika yang sepertinya agak sepi untuk terjadi ditengah 
kultur budaya kita. 

Aku jg suka  terngangah, bagaimana tidak jk angka perceraian di  AS 
misalnya mencapai angka yang sangat sangat fantastik dan membuat kita 
menghela nafas panjang! kehidupan disono sudah sedemikian mekanis  
sehingga raut duniapun disantroni dalam arah yang sama! 

Lalu bagaimana dengan kita...............?! ayo neng cari cerita 
lagi, atau kita berbagi cerita..?!
Hup!  thanks


--- In [email protected], "non_sisca" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> 
> Lagi2 saya mendapat kiriman kisah, yang ingin saya bagikan. Kisah 
> yang menurut saya indah, tentang perjuangan, kesetiaan dan 
> konsistensi dalam cinta kasih. Kisah yang mudah2an berguna buat 
> pasangan yang udah married.
> 
> Yeah, barangkali ada yang menganggap saya konyol dengan 
menghadirkan 
> kisah di bawah ini, tapi mudah2an ada juga yang menganggap sedikit 
> berguna -- ini mengenai cinta kasih yang monogami and till death do 
> us apart nya White Lion. 
>   
> 
> WHEN YOU DIVORCE ME, CARRY ME OUT IN YOUR ARMS (dikutip kembali 
> sebagaimana yang telah saya baca) (sender : ???) 
> 
> 
> Pada hari pernikahanku, aku membopong isteriku. Mobil pengantin 
> berhenti di depan flat kami yg cuma berkamar satu. Sahabat-
sahabatku 
> menyuruhku untuk membopongnya begitu keluar dari mobil. Jadi 
kubopong 
> ia memasuki rumah kami. Ia kelihatan malu-malu. Aku adalah seorang 
> pengantin pria yg sangat bahagia. Ini adalah kejadian 10 tahun yg 
> lalu.
> 
> Hari-hari selanjutnya berlalu demikian simple seperti secangkir 
air  
> bening. Kami mempunyai seorang anak, saya terjun ke dunia usaha dan 
> berusaha untuk menghasilkan banyak uang. Begitu kemakmuran 
meningkat, 
> jalinan kasih di antara kami pun semakin surut. Ia adalah pegawai 
> sipil. Setiap pagi kami berangkat kerja bersama-sama dan sampai di 
> rumah juga pada waktu yg bersamaan. Anak kami sedang belajar di 
luar 
> negeri. Perkawinan kami kelihatan bahagia. Tapi ketenangan hidup 
> berubah dipengaruhi oleh perubahan yg tidak kusangka-sangka.
> 
> Dew hadir dalam kehidupanku.
> 
> Waktu itu adalah hari yg cerah. Aku berdiri di balkon dengan Dew yg
> sedang merangkulku. Hatiku sekali lagi terbenam dalam aliran 
> cintanya. Ini adalah apartemen yg kubelikan untuknya.
> 
> Dew berkata, "kamu adalah jenis pria terbaik yg menarik para gadis."
> Kata-katanya tiba-tiba mengingatkanku pada istriku. Ketika kami baru
> menikah, istriku pernah berkata, "Pria sepertimu, begitu sukses, 
akan
> menjadi sangat menarik bagi para gadis." Berpikir tentang ini, Aku
> menjadi ragu-ragu. Aku tahu kalau aku telah menghianati istriku. 
Tapi 
> aku tidak sanggup menghentikannya.
> 
> Aku melepaskan tangan Dew dan berkata, "kamu harus pergi membeli
> beberapa perabot, O.K.? Aku ada sedikit urusan di kantor". 
Kelihatan 
> ia jadi tidak senang karena aku telah berjanji menemaninya. Pada 
saat 
> tersebut, ide perceraian menjadi semakin jelas di pikiranku 
walaupun 
> kelihatan tidak mungkin.
> 
> Bagaimanapun, aku merasa sangat sulit untuk membicarakan hal ini 
pada
> istriku. Walau bagaimanapun kujelaskan, ia pasti akan sangat 
terluka.
> Sejujurnya ia adalah seorang istri yg baik. Setiap malam ia sibuk
> menyiapkan makan malam. Aku duduk santai di depan TV. Makan malam 
> segera tersedia. Lalu kami akan menonton TV sama-sama. Atau aku 
akan 
> menghidupkan komputer, membayangkan tubuh Dew. Ini adalah hiburan 
> bagiku.
> 
> Suatu hari aku berbicara dalam guyon, "seandainya kita bercerai, 
apa 
> yg akan kau lakukan? " Ia menatap padaku selama beberapa detik 
tanpa 
> bersuara. Kenyataannya ia percaya bahwa perceraian adalah sesuatu 
yg 
> sangat jauh dari dirinya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ia 
> akan menghadapi kenyataan jika tahu bahwa aku serius.
> 
> ketika istriku mengunjungi kantorku, Dew baru saja keluar dari
> ruanganku. Hampir seluruh staff menatap istriku dengan mata penuh 
> simpati dan berusaha untuk menyembunyikan segala sesuatu selama 
> berbicara dengannya. Dia kelihatan sedikit curiga. Dia berusaha 
> tersenyum pada bawahan-bawahanku.
> Tapi aku membaca ada kelukaan di matanya.
> 
> Sekali lagi, Dew berkata padaku,"He Ning, ceraikan ia, O.K.? Lalu 
kita
> akan hidup bersama." Aku mengangguk. Aku tahu aku tidak boleh ragu-
> ragu lagi.
> Ketika malam itu istriku menyiapkan makan malam, aku memegang
> tangannya.
> "Ada sesuatu yg harus kukatakan".
> 
> 
> Ia duduk diam dan makan tanpa bersuara. Sekali lagi aku melihat ada
> luka di matanya. Tiba-tiba aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi 
ia 
> tahu kalau aku terus berpikir. "Aku ingin bercerai", ku ungkapkan 
> topik ini dengan serius tapi tenang.
> 
> Ia seperti tidak terpengaruh oleh kata-kataku, tapi ia bertanya 
secara
> lembut, "kenapa?" "Aku serius." Aku menghindari pertanyaannya. 
Jawaban
> ini membuat ia sangat marah. Ia melemparkan sumpit dan berteriak 
> kepadaku, "Kamu bukan laki-laki!".
> 
> Pada malam itu, kami sekali saling membisu. Ia sedang menangis. Aku
> tahu kalau ia ingin tahu apa yg telah terjadi dengan perkawinan 
kami. 
> Tapi aku tidak bisa memberikan jawaban yg memuaskan sebab hatiku 
> telah dibawa pergi oleh Dew.
> 
> Dengan perasaan yg amat bersalah, aku menuliskan surai perceraian
> dimana istriku memperoleh rumah, mobil dan 30% saham dari 
> perusahaanku. Ia memandangnya sekilas dan mengoyaknya jadi beberapa 
> bagian. Aku merasakan sakit dalam hati. Wanita yg telah 10 tahun 
> hidup bersamaku sekarang menjadi seorang yg asing dalam hidupku. 
Tapi 
> aku tidak bisa menarik kembali apa yg telah kuucapkan.
> 
> Akhirnya ia menangis dengan keras didepanku, dimana hal tersebut 
tidak
> pernah kulihat sebelumnya. Bagiku, tangisannya merupakan suatu
> pembebasan untukku. Ide perceraian telah menghantuiku dalam 
beberapa 
> minggu ini dan sekarang sungguh-sungguh telah terjadi.
> 
> Pada larut malam, aku kembali ke rumah setelah menemui klienku. Aku
> melihat ia sedang menulis sesuatu. Karena capek aku segera 
ketiduran. 
> Ketika aku terbangun tengah malam, aku melihat ia masih menulis. 
Aku 
> tertidur kembali.
> Ia menuliskan syarat-syarat dari perceraiannya : ia tidak 
menginginkan
> apapun dariku, tapi aku harus memberikan waktu sebulan sebelum
> menceraikannya, dan dalam waktu sebulan itu kami harus hidup bersama
> seperti biasanya. Alasannya sangat sederhana : Anak kami akan segera
> menyelesaikan pendidikannya dan liburannya adalah sebulan lagi dan 
ia 
> tidak ingin anak kami melihat kehancuran rumah tangga kami.
> 
> Ia menyerahkan persyaratan tersebut dan bertanya," He Ning, apakah 
> kamu masih ingat bagaimana aku memasuki rumah kita ketika pada hari
> pernikahan kita? Pertanyaan ini tiba-tiba mengembalikan beberapa 
> kenangan indah kepadaku. Aku mengangguk dan mengiyakan. "Kamu 
> membopongku di lenganmu", katanya, "jadi aku punya sebuah 
permintaan, 
> yaitu kamu akan tetap membopongku pada waktu perceraian kita. Dari 
> sekarang sampai akhir bulan ini, setiap pagi kamu harus membopongku 
> keluar dari kamar tidur ke pintu."
> Aku menerima dengan senyum. Aku tahu ia merindukan beberapa kenangan
> indah yg telah berlalu dan berharap perkawinannya diakhiri dengan 
> suasana romantis.
> 
> Aku memberitahukan Dew soal syarat-syarat perceraian dari istriku. 
Ia
> tertawa keras dan berpikir itu tidak ada gunanya. "Bagaimanapun 
trik 
> yg ia lakukan, ia harus menghadapi hasil dari perceraian ini," ia 
> mencemooh. Kata-katanya membuatku merasa tidak enak.
> 
> Istriku dan aku tidak mengadakan kontak badan lagi sejak kukatakan
> perceraian itu. kami saling menganggap orang asing. Jadi ketika aku
> membopongnya dihari pertama, kami kelihatan salah tingkah. Anak kami
> menepuk punggung kami,"wah, papa membopong mama, mesra sekali". 
Kata-
> katanya membuatku merasa sakit. Dari kamar tidur ke ruang duduk, 
lalu 
> ke pintu, aku berjalan 10 meter dengan dirinya dalam lenganku. Ia 
> memejamkan mata dan berkata dengan lembut,"mari kita mulai hari 
ini, 
> jangan memberitahukan pada anak kita." Aku mengangguk, merasa 
sedikit 
> bimbang. Aku melepaskan ia di pintu. Ia pergi menunggu bus, dan aku 
> pergi ke kantor.
> 
> Pada hari kedua, bagi kami terasa lebih mudah. Ia merebah di dadaku,
> Kami begitu dekat sampai-sampai aku bisa mencium wangi di bajunya. 
Aku
> menyadari bahwa aku telah sangat lama tidak melihat dengan mesra 
> wanita ini. Aku melihat bahwa ia tidak muda lagi. Beberapa kerut 
> tampak di wajahnya.
> 
> Pada hari ketiga, ia berbisik padaku, "kebun diluar sedang 
dibongkar.
> Hati-hati kalau kamu lewat sana." Hari keempat,ketika aku
> membangunkannya, aku merasa kalau kami masih mesra seperti sepasang 
> suami istri dan aku masih membopong kekasihku dilenganku.
> 
> Bayangan Dew menjadi samar.
> 
> Pada hari kelima dan keenam, ia masih mengingatkan aku beberapa hal,
> seperti dimana ia telah menyimpan baju-bajuku yg telah ia setrika, 
> aku harus hati-hati saat memasak, dll. Aku mengangguk. Perasaan 
> kedekatan terasa semakin erat.
> 
> Aku tidak memberitahu Dew tentang hal ini. Aku merasa begitu ringan
> membopongnya. Berharap setiap hari pergi ke kantor bisa membuatku
> semakin kuat. Aku berkata padanya, "kelihatannya tidaklah sulit 
> membopongmu sekarang"
> 
> Ia sedang mencoba pakaiannya, aku sedang menunggu untuk membopongnya
> keluar. Ia berusaha mencoba beberapa tapi tidak bisa menemukan yg 
> cocok. Lalu ia melihat, "semua pakaianku kebesaran". Aku tersenyum. 
> Tapi tiba-tiba aku menyadarinya, sebab ia semakin kurus, itu 
sebabnya 
> aku bisa membopongnya dengan ringan bukan disebabkan aku semakin 
> kuat. Aku tahu ia mengubur semua kesedihannya dalam hati. Sekali 
> lagi, aku merasakan perasaan sakit.
> 
> Tanpa sadar ku sentuh kepalanya. Anak kami masuk pada saat tersebut.
> "Pa, sudah waktunya membopong mama keluar." Baginya, melihat 
papanya 
> sedang membopong mamanya keluar menjadi bagian yg penting. Ia 
> memberikan isyarat agar anak kami mendekatinya dan merangkulnya 
> dengan erat. Aku membalikkan wajah sebab aku takut aku akan berubah 
> pikiran pada detik terakhir. Aku menyanggah ia di lenganku, 
berjalan 
> dari kamar tidur, melewati ruang duduk ke teras. Tangannya 
memegangku 
> secara lembut dan alami. aku menyanggah badannya dengan kuat 
seperti 
> kami kembali ke hari pernikahan kami. Tapi ia kelihatan agak pucat 
> dan kurus, membuatku sedih.
> 
> Pada hari terakhir, ketika aku membopongnya di lenganku, aku 
melangkah
> dengan berat. Anak kami telah kembali ke sekolah. Ia berkata,
> "sesungguhnya aku berharap kamu akan membopongku sampai kita tua." 
> Aku memeluknya dengan kuat dan berkata "antara kita saling tidak 
> menyadari bahwa kehidupan kita begitu mesra".
> 
> Aku melompat turun dari mobil tanpa sempat menguncinya. Aku takut
> keterlambatan akan membuat pikiranku berubah. Aku menaiki tangga. 
Dew
> membuka pintu. Aku berkata padanya," Maaf Dew, aku tidak ingin
> bercerai. Aku serius".
> 
> Ia melihat kepadaku, kaget. Ia menyentuh dahiku. "Kamu tidak demam."
> Kutepiskan tanganya dari dahiku. "Maaf Dew, aku cuma bisa bilang 
maaf
> padamu, aku tidak ingin bercerai. Kehidupan rumah tanggaku 
membosankan
> disebabkan ia dan aku tidak bisa merasakan nilai-nilai dari 
kehidupan,
> bukan disebabkan kami tidak saling mencintai lagi. Sekarang aku 
> mengerti sejak aku membopongnya masuk ke rumahku, ia telah 
melahirkan 
> anakku. Aku akan menjaganya sampai tua. Jadi aku minta maaf padamu".
> 
> Dew tiba-tiba seperti tersadar. Ia memberikan tamparan keras 
kepadaku
> dan menutup pintu dengan kencang dan tangisannya meledak. Aku 
menuruni
> tangga dan pergi ke kantor.
> 
> 
> Dalam perjalanan aku melewati sebuah toko bunga. Ku pesan sebuah 
buket
> bunga kesayangan istriku. Penjualnya bertanya apa yg mesti ia tulis 
> dalam kartu ucapan? Aku tersenyum dan menulis : "Aku akan 
membopongmu 
> setiap pagi sampai kita tua."
>




******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke