Metafisika:

Dhemitology
Atawa:
The Science of Dhemit in Java


Di kalangan masyarakat Jawa dikenal berbagai macam makhluk halus, yang 
masing-masing memiliki ciri yang khas dan karakter yang berbeda-beda. Mereka 
diyakini berasal dari manusia yang kandheg lakunya, yaitu: terhenti perjalanan 
spiritualnya untuk kembali kepada Gusti Kang Murbeng Dumadi. (Namun perlu 
dicatat, ada juga makhluk halus yang dipercaya memang sudah diciptakan demikian 
dari sono-nya: seperti setan, yang diciptakan dari anasir nafsu amarah, atau 
jin dan peri yang diciptakan dari anasir nafsu supiyah).

Saya sendiri bukan seorang paranormal dan tidak memiliki kemampuan untuk 
melihat hantu atau hal-hal semacam itu. Dan meskipun spiritualitas sebenarnya 
bukanlah persoalan tentang hantu, dalam literatur-literatur kebatinan Jawa, 
soal hantu ini dibahas juga. Bukan persoalan klenik yang menjadi titik 
beratnya, namun pelajaran spitiual yang bisa diambil daripadanya: bahwa tujuan 
akhir perjalanan spiritual adalah kembali kepada Sang Khalik. 

Dalam pandangan kebatinan Jawa, dikatakan bahwa manusia memiliki kelima anasir: 
badan jasmani, nafsu mutmainah, nafsu amarah, nafsu supiyah, dan angen-angen 
atau akal budi. Badan jasmani sendiri diliputi nafsunya sendiri, yaitu nafsu 
luamah. 

Seluruh nafsu tersebut memilki badan juga, yang bersifat halus. Dan di antara 
badan kasar dan badan halus tersebut terdapat semacam 'separasi' yang tidak 
terhingga jumlahnya, yaitu badan-badan yang bersifat semi-halus, dan dimensinya 
masih dekat dengan dimensi kita. Mungkin itulah sebabnya mengapa ada orang yang 
bisa melihat hantu. Makhluk-makhluk halus ini tergolong tingkat rendahan, dan 
mereka selalu memiliki kadar nafsu luamah (nafsu jasmani) yang tinggi, yang 
berpadu dengan nafsu-nafsu lainnya. Paduan nafsu luamah dengan nafsu-nafsu 
lainnya tersebut menciptakan berbagai macam varian makhluk halus yang tidak 
terbilang banyaknya: dhemit, hantu, banaspati, wewe, cepet, lampor, thethekan, 
bajag angkrik, nyai blorong, keblek, janggitan, ilu-ilu.... 

Walahuallam.


Salam,
www.catatanrenungan.blogspot.com

Kirim email ke