--- In [email protected], "non_sisca" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>kontemplasi diri merupakan ajang kejujuran diri kita untuk berani
> mengatakan bahwa kita salah dan harus dibenahi, terkadang
> kontemplasi juga bisa menjadi pengukuhan atas keputusan-keputusan
> yang pernah dan mungkin harus kita tetapkan, hanya saja bagi kita
> sering kalimenemukan sosok yang mengatakan bahwa dirinya benar ke
> orang-orang disekitarnya namun padahal didalam dirinya ketika
> kontemplasi, keangkuhan dirinya hancur berkeping-keping karena dia
> mengetahui kelemahan dirinya ini kalo boleh saya katakan karakter
> bagaikan burung merak, yang memamerkan kehebatan diri tapi sang
> merak kakinya buruk rupa.... Namun ada pula ketika orang mengakui
> kelemahan dirinya ke setiap orang tetapi di proses kontemplasi
tidak
> merasakan dirinya salah dan lemah...( sambungan...)karakter ini bisa
kita identitaskan sebagai keangkuhan terselubung yang justru mencari
simpati ke sana ke sini...namun bila kita mengatakan  bahwa kemampuan
kita tidak ada apa-apanya ke lingkungan sekitar sedangkan disaat
kontemplasi kita ternyata memang sesuai yg kita ucapkan maka ini bisa
 jadi kepolosan kita selaku manusia....apakah ini sebuah kejujuran
ataukah ini sebuah kepolosan? tentu makna kejujuran tidak bisa
disamakan dengan makna kepolosan.... apakan yang jujur itu polos?kalau
kita bercermin bahwa anak-anak kecil yang ada disekeliling kita yang
konon katanya masih polos, tentunya akan mengatakan secara jujur apa
yang dilihatnya? tanpa melihat kanan-kiri, samping depan belakang, mau
di depan presiden ataupun di depan pak RT sekalipun sosok anak kecil
berkata dengan kepolosannya...bila karakter jujur di identikan dengan
kepolosan maka kita tidak perlu susah-susah mencari pemimpin yang
jujur...cukup sosok anak kecil aja yang dijadikan pemimpin...bila
memang yang dewasa tidak mampu berkata dan berlaku
jujur....oh....pasti kita akan berkomentar bahwa anak kecil itu belum
memiliki kapasitas ilmu dan pengalaman hidup yang cukup, masih perlu
polesan-polesa karena mereka masih polos.....jadi? dengan ilmu anak
manusia yang polos itu di poles?? bisa jadi...karena banyak anak
manusia yang polos di poles menjadi brilian...eh malahan mem poloskan
hutan-hutan kita yang bisa jadi menjadi gurun...entahlah...kembali
kepada kita makna kontemplasi apa yang kita inginkan?? yang
jelas...kembali lagi kepada diri kita untuk secara cerdas dan jujur
untuk menjawabnya...bahwa saya mencoba memahami...jangan percaya
kepada orang yang mengatakan dirinya jujur...karena kejujuran hanya
ada di dalam diri kita walaupun bisa tercermin di karakter
kita...namun bukan dengan sepantasnya kita mengatakan bahwa kita jujur....
> 
> yeah, barangkali anda benar, tapi ditunggu penjelasan lebih 
> lanjutnya, tks
> salam, sisc
> 
> 
> --- In [email protected], "arydaffaataki" <arydaffaataki@> 
> wrote:
> >
> > --- In [email protected], "non_sisca" <non_sisca@> wrote:
> > >kontemplasi diri merupakan ajang kejujuran diri kita untuk berani 
> > mengatakan bahwa kita salah dan harus dibenahi, terkadang 
> > kontemplasi juga bisa menjadi pengukuhan atas keputusan-keputusan 
> > yang pernah dan mungkin harus kita tetapkan, hanya saja bagi kita 
> > sering kalimenemukan sosok yang  mengatakan bahwa dirinya benar ke 
> > orang-orang disekitarnya namun padahal didalam dirinya ketika 
> > kontemplasi, keangkuhan dirinya hancur berkeping-keping karena dia 
> > mengetahui kelemahan dirinya ini kalo boleh saya katakan karakter 
> > bagaikan burung merak, yang memamerkan kehebatan diri tapi sang 
> > merak kakinya buruk rupa.... Namun ada pula ketika orang mengakui 
> > kelemahan dirinya ke setiap orang tetapi di proses kontemplasi 
> tidak 
> > merasakan dirinya salah dan lemah..., nanti sambung lagi yah..bye-
> bye
> > 
> > arydaffa
> > > 
> > > "Lebih dari semuanya, Socrates sahabatku," lanjut Diotima, "ini 
> > > adalah wilayah di mana kehidupan seseorang harus dijalani dengan 
> > > perenungan tentang keindahan mutlak."
> > > 
> > > salam, sisc
> > > 
> > > 
> > > --- In [email protected], muchlishine dewan 
> > > <muchlis_dewan@> wrote:
> > > >
> > > > MAAF NON SISKA
> > > > 
> > > > HIDUP MEMEANG BUKAN KEADAAN GAWAT DARURAT 
> > > > TAPI APAKAH ANDA MERASA BAHWA HIDUP TERASA AMAT BAHAGIA
> > > > KADANG 
> > > > KALA 
> > > > MANUSIA
> > > > HANYA
> > > > DENDAM
> > > > DAN 
> > > > MERASA 
> > > > SANTAI
> > > > DAN
> > > > KARENA
> > > > HIDUP
> > > > HANYA
> > > > TENTANG
> > > > ULANG
> > > > KAN
> > > > LAMPAU
> > > > BAK
> > > > MASA
> > > > LALU
> > > > KIAN
> > > > JAUH
> > > > NAN
> > > > AMAN
> > > > TENTRAM GURAH 
> > > > KERENA
> > > > 
> > > 
> > 
> GILAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA............................
> > .
> > > .......!
> > > > 
> > > > 
> > > > 
> > > > ----- Pesan Asli ----
> > > > Dari: non_sisca <non_sisca@>
> > > > Kepada: [email protected]
> > > > Terkirim: Rabu, 25 Juli, 2007 1:23:38
> > > > Topik: [filsafat] DICARI : CARING PERSONS
> > > > 
> > > > 
> > > > 
> > > > Apakah anda merasa paham dengan orang yang mementingkan diri 
> > > > sendiri ? 
> > > > Ah, mereka hanya mengalami sakit gigi. 
> > > > 
> > > > Apakah anda pernah mengalami sakit gigi ? 
> > > > Dan siapakah yang anda pikirkan ketika gigi anda sakit ? 
> > > > 
> > > > Tentu saja, anda sendiri. 
> > > > 
> > > > Itulah pemahamannya. Orang yang mementingkan diri sendiri 
> > > menyakitkan 
> > > > bagi orang lain. Kepahitan mereka menyedot habis perhatian 
> > mereka. 
> > > > 
> > > > Dan pemahaman ini akan membuat kita merasa lebih nyaman dan 
> > lebih 
> > > > bahagia. 
> > > > 
> > > > Actually, it is like this ...
> > > > 
> > > > You are born a creature of needs. You need food to sustain you 
> > in 
> > > > life. You need to be warm and kept clean and dry. You need to 
> be 
> > > > surrounded by loving parents who hold you and caress you. You 
> > grow 
> > > > into self-awareness as they stimulate you through the sense of 
> > > touch. 
> > > > When this latter is lacking, the child suffers pain. Two 
> > reactions 
> > > > follow. You will scream, cry, go into a tantrum of childish 
> rage 
> > > > until you receive satisfaction. Or if you do not receive from 
> > your 
> > > > parents or those around you such physical signs of affection, 
> > you 
> > > > will seek to shut off the pain by supressing the need. 
> > > > 
> > > > Karena itu dicari : cinta tak bersyarat dari caring persons, 
> > yang 
> > > > akan berkata begini : 
> > > > 
> > > > Aku mencintaimu, engkau tidak perlu berjuang untuk mendapatkan 
> > > > cintaku. Engkau tidak perlu membayar dengan apapun untuk 
> > > mendapatkan 
> > > > cintaku. Engkau tahu, engkau tidak akan sanggup membelinya. 
> > Tidak 
> > > ada 
> > > > tiket tanda masuk. Engkau dapat memperolehnya dengan cuma2. Ini 
> > > > adalah pemberianku yang tulus bagimu. Aku mencintaimu. 
> > > > 
> > > > 
> > > > 
> > > > 
> > > > 
> > > >       ________________________________________________________ 
> > > > Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang 
> > Anda! 
> > > Kunjungi Yahoo! Answers saat ini juga di 
> > http://id.answers.yahoo.com/
> > > >
> > >
> >
>




******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke