sorga dan neraka itu kiasan , nduk
ngapain kau bicara transenden2
Kok menanyakan apakah aku itu Tuhan, apa tidak o'on siiih, kamu
Kalau berfikir sedikit saja, apa bisa apa tidak, siiih ?
Jangan cuma bisanya copy paste fikiran orang lain
Lalu dibekoarkan.

Muhammad Friss <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                               
menentukan arah sendiri bisa.....berdua dengan kekasih bisa........berjama'ah 
juga bisa (rapat dulu donk)...............dlaruri (keyakinan), karena semua 
gelap, pake senter aja.....cari' yang putih (terang) untuk membelai yang 
hitam..........................sayang ..........................apa sorga emang 
ada? apa keselamatan transenden ada? yang mana? siapa yang tahu? Tuhan...? apa 
kamu Tuhan? siapa Tuhan?
 

 
 ----- Pesan Asli ----
Dari: as as <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Sabtu, 1 September, 2007 10:09:53
Topik: Re: Hal: [filsafat] Harmoni dan Keselamatan

  Orang berjalan di kegelapan harus menentukan sendiri arahnya
Arah harus ia yakini, karena semua gelap
Bukan masalah pura2 tidak tahu

Muhammad Friss <[EMAIL PROTECTED] co.id> wrote: 
  
  salah satu keunggulan mereka yang terlalu "Pe-De" dengan kebenaran metafisika 
terhadap dirinya sendiri adalah mereka kaya dengan janji keselamatannya, indah 
dan meyakinkan dengan janji sorganya, dan begitu pasrah dengan Tuhan abstraknya.
 yang dilahirkan atas semua ini adalah "Kepastian yang imagi" alias lha wong 
sama-sama g tahu, kok pura-pura tahu, klo g mau menyebut sok tahu
 he he he.......kok ada......... ........yah, yang spt itu
  
 

 
 ----- Pesan Asli ----
Dari: yohanes sutopo <[EMAIL PROTECTED] net>
Kepada: beceka <[EMAIL PROTECTED] com>; filsafat <[EMAIL PROTECTED] s.com>; 
gerehtersenjoem <gerehtersenjoem@ yahoogroups. com>; Indonesia_Damai 
<indonesia_damai@ yahoogroups. com>; kajian budaya <kajianbudaya@ yahoogroups. 
com>; Komunikasi Empati <komunikasi-empati@ yahoogroups. com>
Terkirim: Jumat, 24 Agustus, 2007 5:39:35
Topik: [filsafat] Harmoni dan Keselamatan

  
 Budaya:


Harmoni dan Keselamatan
 Atawa:
 The Interpretation of Kidung Mantra Wedha


Dhandhanggula:

Ana kidung rumeksa ing wengi
Teguh hayu luput ing lelara
Luputing bilahi kabeh
Jim setan datan purun
Paneluhan tan ana wani
Mungguh penggawe ala
Gunaning wong luput
Geni atemahan tirta
Maling adoh tan wani marak ing mami
Tujuh guna pan sirna


Kidung adalah manifestasi dari harmoni. Bagi orang Jawa harmoni adalah penjaga
keselamatan: ana kidung rumeksa ing wengi... terdapat sebuah kidung (harmoni
semesta raya) yang menjaga kehidupan. Inti budaya Jawa adalah harmoni. Di dalam
harmoni-lah ditemukan keselamatan. Jika harmoni ini terganggu, akan timbul
bencana atau sengkala. (Untuk teks Kidung Mantra Wedha lengkap dari bait 1-10, 
lihat di blog kami: www.catatanrenungan .blogspot. com).
 
Semua ritual dalam tradisi Jawa didasarkan pada prinsip ini: untuk menjaga atau
memulihkan harmoni. Misalnya: slametan, atau kenduri. Dengan kenduri orang
sekampung berkumpul dan berbagi makanan dari ambeng yang sama: sehingga hubungan
baik antar sesama dipulihkan dan harmoni kembali ditegakkan. Ketika ada seorang
yang sakit misalnya, bagi mereka yang masih menjalankan tradisi ini, akan
mengadakan slametan, dengan dipulihkannya hubungan baik dengan orang-orang di
sekitarnya, diharapkan si sakit dapat sembuh kembali.

Ilmu kedokteran modern pun meyakini bahwa hubungan (relationship) yang sehat dan
hormonis dengan orang-orang di sekitar kita sangat besar dampaknya pada
kesehatan kita. Orang-orang yang hubungannya dengan orang-orang di sekitarnya
tidak harmonis, selalu diwarnai percekcokan dan perang urat-saraf akan rentan
dengan penyakit stres dan serangan jantung. Orang Jawa telah  menyadari hal ini
jauh hari sebelumnya, dengan ritual kenduri mereka mengharapkan pemulihan
hubungan yang harmonis dan sehat dengan para tetangga.

Orang Jawa bukan saja meyakini adanya alam yang kelihatan tapi juga alam yang
tidak kelihatan, yang tidak kasat mata. Dan hubungan yang harmoni dengan alam
yang tidak kasat mata itupun harus dijaga: maka diberikanlah sesaji di
tempat-tempat keramat. Mereka tidak bermaksud menyembah roh-roh gaib itu tapi
sekedar menjaga harmoni dengan mereka.

Demikian juga harmoni dengan alam: dengan sawah ladang, pepohonan, hewan-hewan
piaraan. Pada keluarga-keluarga tertentu yang masih sangat kuat tradisi Jawanya,
mereka akan mengadakan slametan bukan saja dalam setiap momen kehidupan seperti
kelahiran, sunatan, mantenan, atau kematian tapi juga dalam momen-momen yang
penting dalam hubungan manusia dengan alam: seperti saat panen, atau ketika sapi
mereka beranak... setiap momen  adalah anugerah dan layak disyukuri.


Salam,
www.catatanrenungan .blogspot. com

  


 



 
---------------------------------
 Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers 


  

---------------------------------
 Be a better Heartthrob. Get better relationship answers from someone who knows.
Yahoo! Answers - Check it out.  


 



       
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers
     
                               

       
---------------------------------
Building a website is a piece of cake. 
Yahoo! Small Business gives you all the tools to get online.

Kirim email ke