terima kasih atas penjelan anda yang begitu gamblang.

Anda tentu paham kata-kata "tuhan"
Penihilan terhadap tuhan telah ada sejak zaman para Nabi.
sayangnya Nietzsche tidak membaca tentang sejarah Arabian,
ia hanya tau tentang sejarah Yunani.
bila ia tahu,
ia pasti akan menjadi Rohaniawan.

ketika penihilan terhadap tuhan mengemuka,
kaum agamawan, terutama, dari kristen
seperi kebakaran jenggot.
karena memang ideologi mereka 
yang dijadikan sample
begitu juga dengan Islam, 
ketika paham ini merambah.
begitu pula dengan keyakinan lainnya.

Lambat laun, bahkan sebaliknya, 
penihilan terhadap Tuhan (T besar),
dipersepsikan sebagai "tuhan" (t kecil).
tuhan (t kecil), yang diadakan  oleh manusia sendiri.
pemujaan terhadap tuhan bisa berupa  harta, duit, atau lainnya.

pertanyaanya, 
Siapa yang tidak mao duit?
siapa yang menolak harta?

kita semua memuja tuhan 
duit dan harta.

ketika tuhan ternihilkan
tidak ada surga dan neraka.
 
selanjutnya saya serahkan ke anda untuk
melengkapinya

La Ilaha Ila Allah ....
(tidak ada tuhan, kecuali Allah)
itu adalah bentuk penihilan terhadap tuhan...


----- Pesan Asli ----
Dari: aderai daneva <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: Filsafat <[email protected]>
Terkirim: Rabu, 5 September, 2007 8:59:31
Topik: FW: [filsafat] Re: Moyang kita dari Neraka, bukan Sorga.









  


    
            



 

-----Original Message-----
From: aderai daneva 
[mailto:iceorefenas @gmail.com]
Sent: 04 September 2007 
19:58
To: [EMAIL PROTECTED] s.com
Subject: RE: [filsafat] 
Re: Moyang kita dari Neraka, bukan Sorga.



Ketika Tuhan 
ternihilkan,

maka tidak ada dosa 
dan pahala.

 

Saya sih mau ikut 
nimbrung tentang nenek moyang kita "mungkin" berasal dari 
"neraka".

Entahlah "mungkin" 
dan "neraka" secara ansich atau juga hanya sebagai permainan kata  dalam 
rimba semiotika.

Atau hanya gelembung 
kognitif dalam ruang nisbi. Atau mungkin sebuah ungkapan diskontinuitas antara 
tanda dan petanda sebagaimana 

pada 
 fragmen:

 


  Ketika Tuhan 
  ternihilkan,

  maka tidak ada dosa dan 
  pahala.


   

  Lalu apa yang kita pegang, ketika 
  semua dalam keadaan nihil? Ketika beradada dalam wilayah nisbi? dan hanya 
  sekekdar gelembung kognitif belaka? Tidak ada sama sekali, saya kira, kecuali 
  kita sendiri yang jatuh tersungkur dalam nihilisme itu sendiri. Dimana kaki 
  kita bersandar ketika kita kena demam nihilisme? Ya, itu mungkin yang kita 
  namakan neraka, sebuah "tanda" yang merupakan oposan dari "surga"  dalam 
  sistem opisisi biner. Sebuah wilayah dimana "Kehampaan", "Kekosongan" , 
  "ketidakberartian" ,"kekacauan makna" atau turbolensi makna lainnya. "Neraka" 
  di sini tidaklah berada jauh dari wilayah yang tidak terdefinisikan, 
melainkan 
  berada diantara kita dan bersama kita, maka ungkapan "neraka" dalam 
keseharian 
  menjadi riil. Boleh jadi nenek moyang kita berasal dari neraka ini, neraka 
  yang terdefinisikan, atau boleh jadi surga juga memunculkan sebuah generasi 
  baru, semacam kita, dalam sistem hereditas sosial. Sesuatu yang logis,  
  saya kira. Persoalannya, kita tidak hanya ada dalam wilayah yang 
  terdefinisikan, tidak hanya dalam wilayah nihilisme, melainkan juga yang 
tidak 
  terdefiniskan, melampau nihilisme. Karena sesuai dengan fakta, cerapan 
  persepsi manusia sangat dibatasi secara ansich oleh wilayah tempat persepsi 
  itu sendiri berada dan fakta bahwa secara empiris dualisme makna hadir di 
  mana-mana. Maka diluar sana ada sesuatu yang tidak kita pahami, mungkin itu 
  yang dinamakan "neraka" dan "surga" dengan definisi yang lain. Boleh jadi, di 
  sana ada Tuhan, ada neraka dan ada surga. Meski pada dimensi sekarang, kita 
  membuat sebuah hipotesa "nihilisme", dimensi lain tidak pernah terganggu 
dalam 
  keadaan yang sesungguhnya. Sebagaimana, "bulan tetap berputar" meski kita 
  membuat sebuah hipotesa "bulan sudah berhenti 
  berputar".

   

  
  
    Ketika Tuhan 
    ternihilkan,

    maka tidak ada dosa dan 
    pahala.

     

    hanya sebuah langkah 
    pertama dalam permainan bahasa, yang berujung pada diskontnuitas itu 
    sendiri. Bagaimana kita harus bertanggung jawab pada diri kita sendiri 
kalau 
    memang itu sebagai sebuah hipotesa yang tidak bisa diuji? Andalah yang 
lebih 
    tahu.

     

     

     


   

   -----Original 
  Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] s.com 
  [mailto:filsafat@ yahoogroups. com]On Behalf Of 
  temon_brangti
Sent: 04 September 2007 16:50
To: 
  [EMAIL PROTECTED] s.com
Subject: [filsafat] Re: Moyang kita dari 
  Neraka, bukan Sorga.



  
  Konon, cola justru mengakibatkan gas di lambung. Kalau terkena panas 
  
dalam, silahkan coba minum segelas syukur nikmat, semoga 
  bermanfaat.

--- In [EMAIL PROTECTED] s.com, 
  Mamat Peci Peci 
<mamat_peci_ [EMAIL PROTECTED] > 
  wrote:
>
> tentang neraka dan surga 
> 
> ketika tuhan 
  ternihilkan, 
> maka tidak ada dosa dan pahala
> pada saat 
  bersamaan tidak ada siksaan dan kenikmatan
> apa yang di siksa dan 
  dimana disiksa?
> kenikmatan apa yang di dapat, dan di mana kenikmatan 
  itu.
> karena tuhan yang menciptakan keduanya kini telah 
  ternililkan.
> 
> Benar apa yang dikatakan oleh Juragan ..... 
  (sapa tuh)...
> Sorga dan neraka hanya .... 
> dan sebuah 
  manifestasi dari ketidakberdayaan .
> 
> ketika filsafat ketuhanan 
  tereliminasi oleh post ....
> di mana kata-kata, bahasa dan tanda 
  menjadi maskot 
> sungguh ..... neraka dan surga 
> bisa di 
  katakata, dibahasa dan ditanda
> 
> ketika disbutkan 
  "neraka"
> struktur apa yang membias darinya..
> sebuah siksaan 
  kah, kondisi depresi, iklim yang amat panas, 
> kekejaman dunia, 
  kesulitan yang bertubi-tubi, atau ....
> 
> apa "struktur" yang 
  kita pahami ketika kita mendengar
> "hidup ini bagai neraka"
> 
  "waduh... nih panas dah kae di neraka "
> 
> Ketika, Q mengajarkan 
  anak-anak tentang ketuhanan
> Q mengatakan. " Neraka lebih abang sukai, 
  ketimbang Surga"
> "Mengapa demikian bang"
> "Lalu apa manfaatnya 
  kita ibadah"
> "yang kita harapkan selama ini kan surga"
> "semua 
  yang kita lakukan hanya untuk surga"
> "abang dah gila, kali ya"
> 
  "kebanyakan makan filsafat tuh"
> 
> Ah ..... mereka benar, mereka 
  tdak salah .... 
> mereka pantas mencibirku .....
> Q hanya 
  nyengir sambil garuk-garuk kepala dibalik peciku yang 
semakin 
  buluk.
> 
> (1) ah ..... adam dan hawa aja ga betah di surga, 
  apalagi Q... 
pikirku.
> mungkin mereka "kepanasan bagai di 
  neraka".
> jadinya pengen turun ke bumi.
> mungkin itu.
> 
  
> (2) Atau memang benar nenek moyang kita dari neraka
> karena 
  jutaan taon yang lalu, bumi ini "panas bagai neraka"
> 
> (3) 
  Lingkungan yang sangat keras
> dan berhadapan dengan species yang sangat 
  ganas.
> gelombang kelelelahan dan ketidakberdayaan yang dihadapi nenek 
  
moyang kita
> untuk tetap survive sebagai species, seperti ungkapan 
  "hidup bagai 
neraka"
> 
> Semoga semuanya benar,,,,, dan 
  semoga semuanya Salah ...
> 
> DEMI PARA FILOSOF YANG AGUNG 
  
> berilah aku sepiring spageti .... dan segelas es cola
> perut 
  ini panas banget seperti neraka ....
> 
> (wah neraka di 
  perut)
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
  
> 
> 
> 
> 
> 
> 
  ____________ _________ _________ _________ _________ ________ 
  
> Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang 
  
Anda! Kunjungi Yahoo! Answers saat ini juga di 
http://id.answers. yahoo.com/
>





    
  

    
    




<!--

#ygrp-mkp{
border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:14px 0px;padding:0px 14px;}
#ygrp-mkp hr{
border:1px solid #d8d8d8;}
#ygrp-mkp #hd{
color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:bold;line-height:122%;margin:10px 0px;}
#ygrp-mkp #ads{
margin-bottom:10px;}
#ygrp-mkp .ad{
padding:0 0;}
#ygrp-mkp .ad a{
color:#0000ff;text-decoration:none;}
-->



<!--

#ygrp-sponsor #ygrp-lc{
font-family:Arial;}
#ygrp-sponsor #ygrp-lc #hd{
margin:10px 0px;font-weight:bold;font-size:78%;line-height:122%;}
#ygrp-sponsor #ygrp-lc .ad{
margin-bottom:10px;padding:0 0;}
-->



<!--

#ygrp-mlmsg {font-size:13px;font-family:arial, helvetica, clean, sans-serif;}
#ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}
#ygrp-mlmsg select, input, textarea {font:99% arial, helvetica, clean, 
sans-serif;}
#ygrp-mlmsg pre, code {font:115% monospace;}
#ygrp-mlmsg * {line-height:1.22em;}
#ygrp-text{
font-family:Georgia;
}
#ygrp-text p{
margin:0 0 1em 0;}
#ygrp-tpmsgs{
font-family:Arial;
clear:both;}
#ygrp-vitnav{
padding-top:10px;font-family:Verdana;font-size:77%;margin:0;}
#ygrp-vitnav a{
padding:0 1px;}
#ygrp-actbar{
clear:both;margin:25px 0;white-space:nowrap;color:#666;text-align:right;}
#ygrp-actbar .left{
float:left;white-space:nowrap;}
.bld{font-weight:bold;}
#ygrp-grft{
font-family:Verdana;font-size:77%;padding:15px 0;}
#ygrp-ft{
font-family:verdana;font-size:77%;border-top:1px solid #666;
padding:5px 0;
}
#ygrp-mlmsg #logo{
padding-bottom:10px;}

#ygrp-vital{
background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;padding:2px 0 8px 8px;}
#ygrp-vital #vithd{
font-size:77%;font-family:Verdana;font-weight:bold;color:#333;text-transform:uppercase;}
#ygrp-vital ul{
padding:0;margin:2px 0;}
#ygrp-vital ul li{
list-style-type:none;clear:both;border:1px solid #e0ecee;
}
#ygrp-vital ul li .ct{
font-weight:bold;color:#ff7900;float:right;width:2em;text-align:right;padding-right:.5em;}
#ygrp-vital ul li .cat{
font-weight:bold;}
#ygrp-vital a{
text-decoration:none;}

#ygrp-vital a:hover{
text-decoration:underline;}

#ygrp-sponsor #hd{
color:#999;font-size:77%;}
#ygrp-sponsor #ov{
padding:6px 13px;background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;}
#ygrp-sponsor #ov ul{
padding:0 0 0 8px;margin:0;}
#ygrp-sponsor #ov li{
list-style-type:square;padding:6px 0;font-size:77%;}
#ygrp-sponsor #ov li a{
text-decoration:none;font-size:130%;}
#ygrp-sponsor #nc{
background-color:#eee;margin-bottom:20px;padding:0 8px;}
#ygrp-sponsor .ad{
padding:8px 0;}
#ygrp-sponsor .ad #hd1{
font-family:Arial;font-weight:bold;color:#628c2a;font-size:100%;line-height:122%;}
#ygrp-sponsor .ad a{
text-decoration:none;}
#ygrp-sponsor .ad a:hover{
text-decoration:underline;}
#ygrp-sponsor .ad p{
margin:0;}
o{font-size:0;}
.MsoNormal{
margin:0 0 0 0;}
#ygrp-text tt{
font-size:120%;}
blockquote{margin:0 0 0 4px;}
.replbq{margin:4;}
-->








      ________________________________________________________ 
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi 
Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/

Kirim email ke