Maka, Abu Said al Khudri
dalam pencarian menuju Tuhannya yang haqiqi
melepaskan semua yang bersifat duniawi.

Dia menyadari
dengan mengikuti nafsu duniawi
maka semua keinginan meski tercapai
tetap masih melunjak mengikuti 
nafsu amarah, luwwamah yang merusak hati

menyadari, dia buang pride diri
converted menjadi rendah hati
nafsu sufiyah dan muthmainnah melingkupi hati

Mengingat Tuhan haqiqi adalah mengimplementasi kasih sayang suci.

non_sisca <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                               
 
 Abû Sa'îd dalam suatu sisi asketisme nya berkata : 
 
 Suatu hari aku berkata pada diriku sendiri, 
 
 "Pengetahuan, pekerjaan, dan meditasi - semuanya kumiliki; 
 sekarang aku ingin keluar dari itu semua (ghaibati az in)."
 
 Dengan pertimbangan bahwa satu2nya jalan untuk mencapainya adalah 
 dengan berlaku sebagai hamba dari para darwis, 
 karena saat Tuhan ingin menolong manusia, 
 Dia menunjukkan padanya jalan perendahdirian.
 
 Pernah juga Abu Sa'id menyatakan begini : 
 
 Buku ! Kau adalah panduan luar biasa, tetapi sungguh absurd bersusah 
 payah dengan panduan setelah tujuan tercapai.
 
 Al-Jili dengan gaya sufistiknya menyatakan : 
 
 Setiap orang yang diingat oleh Yang Maha Pengasih diberkahi-Nya, dan 
 tak ada sesuatu pun yang tidak diingat oleh Yang Maha Pengasih. 
 Ingatan Tuhan (dzikr) tentang segala sesuatu identik dengan 
 eksistensi mereka yang diwujudkan-Nya.
 Oleh karena itu, setiap sesuatu yang maujud adalah objek kasih sayang.
 
 
     
                               

       
---------------------------------
Looking for a deal? Find great prices on flights and hotels with Yahoo! 
FareChase.

Kirim email ke