Kok vincent liong masih hidup ya? Katanya udah mati?
Kayaknya dari awalnya memang Vincent Liong yang mengganggu duluan orang2 dan
milis2 dengan mengirim teori2nya yang goblok dan sok tau itu, lalu orang
bereaksi dengan beramai2 berusaha menindas dia, jadi ya wajar dong...ibaratnya
kalo aku lagi kongkow n nongkrong sambil ngobrol ma temen2ku tiba2 ada anjing
yang datang mengganggu dengan menggonggong tanpa brenti pasti kami beramai2
akan lempar batu ke itu anjing sampe pecah kepalanya dan brenti
menggonggong...bukan karena apa2, cuman gara2 si anjing brisik aja....nah,
anjing itu kelakuannya mirip vincent liong: datang, lalu mengonggong
sekeras2nya, lalu kami yang terganggu bereaksi dengan berusaha membunuhnya....
Vincent Liong <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Kompatiologi: Sukses itu Hak Milik Setiap Orang
Ditulis oleh: Liong Vincent Christian
Tempat, Hari& Tanggal: Jakarta, Sabtu, 13 Oktober 2007
... Kelulusan dari jenjang pendidikan hanyalah
sepuluh persen dari tiket jaminan kesuksesan hidup,
sisanya yang sembilan puluh persen adalah tergantung
pada masing-masing individu pelaku. ...
Kurang lebih kalimat ini yang didengar seorang sahabat
saya saat seorang profesor di sebuah fakultas di
Universitas Indonesia membuka sebuah acara penerimaan
mahasiswa baru (jenjang pendidikan S1) sekian puluh
tahun silam.
Paragraf tsb di atas menjadi paragraf pembuka dari
tulisan saya kali ini Sukses itu Hak Milik Setiap
Orang. Tujuannya adalah untuk membahas segala
tekan-menekan mulai dari cacimaki, teror pribadi dan
keluarga dengan sita jaminan, manipulasi data untuk
perusakan nama baik, hingga gertakan tertulis tentang
penangkapan dan pemenjaraan terhadap diri Vincent
Liong dengan membuat korban palsu melalui jalur
kepolisian, dari pihak-pihak berlatarbelakang
pendidikan di universitas menara gading mulai dari
yang S1, S2, S3, dlsb. Semua ini dilakukan tanpa ada
istirahat sejenak(sepanjang tahun) sejak Vincent
Liong lulus SMU dan memutuskan masuk ke their private
club (sebuah member only club bernama menara gading
pendidikan). Di luar masalah dengan oknum-oknum
berlatarbelakang pendidikan resmi menara gading
kompatiologi samasekali tidak ada masalah.
Semua tindakan dan rencana ini dibahas secara terbuka
oleh-masing-masing oknum lulusan menara gading
pendidikan dengan mencantumkan nama asli mulai dari
bulan April 2007 saat ini masih berjalan di
maillist: [EMAIL PROTECTED]
e-link:
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/messages
.
Hal ini dilakukan demi meluruskan (membenarkan)
keyakinan mereka tentang hukum kesuksesan yang hanya
menjadi hak bagi mereka yang menempuh jalur
pendidikan resmi (S1, S2, S3, Profesor). Dimulai dari
tertarik pada sebuah jurusan di sebuah universitas,
mendaftar sebagai mahasiswa baru dengan membayar uang
pangkalnya yang mahal, hingga jadi mahasiswa, hingga
lulus menerima ijasah dan mulai masuk pada realita
dunia kerja yang tidak seideal janji-janji tiket
jaminan kesuksesan hidup, yang didalaminya dan
diamininya selama sekian tahun menempuh jenjang
pendidikan.
Sebelum lulus SMU dan masuk ke private club bernama
universitas resmi, Vincent Liong yang memang hobi
melakukan penelitian sendiri lepas dari keterlibatan
lembaga resmi apapun tidak pernah mendapat konflik
begitu berkelanjutan dan begitu serius mau menghabisi
masa depan pribadi Vincent Liong, bukan menghabisi
ilmu kompatiologi-nya. Paling-paling sebagai penulis
ada diskusi, tetapi ya bukan pribadi. Tidak ada
konflik yang bertahan lama lebih dari seminggu, itu
pun paling-paling hanya konflik perbedaan pendapat
setahun sekali.
Pertanyaan dalam hati mereka para lulusan menara
gading ini adalah:
Mengapa Vincent Liong yang tidak lulus S1 (hanya
lulusan SMU dan mengundurkan diri dari fak Psikologi
Unika Atmajaya di semester empat) boleh bernasib
sukses? Misalnya:
1. Sukses mendapat pengakuan, perhatian dan
kepercayaan masyarakat awam dari mulai proses
penelitian ilmu kompatiologi (tanpa cap ilmiah dari
universitas sebagai pemilik resmi hak label keilmiahan
yang boleh dipakai oleh yang member of the private
club saja) hingga berhasil dan mulai memasarkan
kompatiologi.
2. Sukses mendapat uang untuk diri sendiri dan membuka
lapangan pekerjaan dari menjual kompatiologi yang
dikembangkannya melalui penelitian dari nol bukan dari
literatur yang adalah hak milik lembaga pendidikan.
Atas dasar pelanggaran terhadap hukum kesuksesan
yang mereka yakini (para oknum dari lembaga
pendidikan menara gading) maka segala tindakan
merugikan pribadi Vincent Liong dianggap sebagai
tindakan untuk mendidik dan memperbaiki Vincent
Liong dari pelanggarannya terhadap hukum kesuksesan
ala menara gading pendidikan.
Dalam pola pikir mereka; sesuatu yang baik dan
benar, haruslah sesuatu yang bisa
dipertanggungjawabkan secara ilmiah, kepercayaan
masyarakat tidak dihitung di sini. Masalahnya, cap
ilmiah sendiri hanyalah hak milik eksklusif lembaga
pendidikan menara gading. Tidak ada orang di luar
private club yang member only ini yang boleh memiliki
hak ilmiah. Jadi masalah bukan ada pada Vincent Liong
atau mereka. Masalah ada pada perbedaan pola pikir
tentang hak atas suatu karya dianggap baik dan benar.
Dalam penelitian ilmiah sendiri, kebanyakan penelitian
dalam lembaga pendidikan dilakukan sekedar untuk
memenuhi syarat kelulusan atau prosedural pendidikan
di lembaga pendidikan menara gading saja, sehingga
tetap saja tidak sampai pada penggunaan secara luas di
masyarakat. Jadi apakah suatu hasil karya penelitian
mau sekedar dianggap baik dan benar, atau mau berguna
bagi orang banyak ;adalah dua hal yang sangat berbeda.
Para pembaca dan pemerhati penelitian kompatiologi,
dengan membaca tulisan singkat saya ini saya
mengharapkan saudara-saudara sekedar membiarkan dan
tidak perlu peduli pada segala usaha untuk
menghancurkan pribadi saya dari oknum-oknum lulusan
lembaga pendidikan menara gading ini. Masih banyak hal
lebih bermanfaat yang bisa kita kerjakan.
Mereka (oknum-oknum lembaga pendidikan menara gading
ini) mempunyai masalah pemenuhan komitment; dalam
hubungan diri mereka sebagai pribadi dengan komitment
lembaga pendidikan menara gading yang mereka yakini
terhadap diri mereka, tentang hak kesuksesan.
Sekedar menunjukkan perasaan tidak puas pada
janji-janji lembaga pendidikan menara gading
pendidikan terhadap konsumennya yaitu mahasiswa dan
lulusan mereka sendiri.
Bila mereka (oknum-oknum lembaga pendidikan menara
gading) ini masih berniat baik maka masih banyak hal
yang lain yang lebih perlu dikerjakan. Misalnya
memperbaiki kwalitas lembaga pendidikan menara gading
terhadap konsumennya di masa yang akan datang yaitu
para calon mahasiswa baru atau yang masih sedang
menjadi mahasiswa. Menyalahkan pihak di luar
perjainjian jaminan kesuksesan ala member only club
lembaga pendidikan menara gading atas ketidakadilan
nasib ini hanya akan membuang waktu dan tenaga.
Sekali lagi Sukses itu Hak Milik Setiap Orang bukan
kalau berijasah dijamin sukses dan yang tidak
berijasah tidak boleh sukses.
... Kelulusan dari jenjang pendidikan hanyalah
sepuluh persen dari tiket jaminan kesuksesan hidup,
sisanya yang sembilan puluh persen adalah tergantung
pada masing-masing individu pelaku. ...
Saya Vincent Liong tidak berijasah (S1, S2, S3)
kemungkinan saya untuk bernasib sukses memang
berkurang sepuluh persen tetapi saya masih punya yang
sembilan puluh persen untuk diperjuangkan.
Ttd,
Vincent Liong
Jakarta, Sabtu, 13 Oktober 2007
Monyet Koshima Pasca Badai Tsunami
Ditulis oleh: Juswan Setyawan
e-link:
http://groups.yahoo.com/group/Komunikasi_Empati/message/2690
Sudah tiga bulan lamanya, yaitu sejak bulan Juli yang
lalu saya melakukan tapa mahesa brata (kebo bungkem)
untuk tidak bekoar di milis Komunikasi Empati ini.
Saya memerlukan masa untuk back to cave menurut
istilah John Gray, penulis buku Men Are from Mars,
Women Are from Venus.
Saya pikir untuk apa melibatkan diri dalam peperangan
dalam dunia maya di mana orang-orangnya tidak bisa
membedakan lagi mana realitas di dunia maya dan mana
yang merupakan realitas di dunia nyata. Semula yang
main perang-perangan justru terhanyut nafsu amarah
dan berubah menjadi perang bharata yudha beneran yang
hantam kromo. Kawan-kawan yang dulunya dekat
tahu-tahu menjadi musuh bebuyutan yang saling membuka
aib di jalur umum yang kemungkinan bisa dibaca banyak
orang.
Ini sudah tidak sehat lagi. Maka harus ada karantina.
Kalau para pelaku edannya tidak bisa dikarantina, maka
yang masih punya akal sehat satu per satu mulai
menjauh seperti orang Sakai lari ke gunung menjauhi
gelombang maut tsunami.
Dalam pekan terakhir saya mendapat kontak dari Dr.
Tony Setiabudhi, Ph.D. (Psikiatri & Gerontologi) dan
Dra. Cornelia Istiani. Msi. untuk kembali membahas
secara serius masalah-masalah yang berhubungan dengan
komunikasi-empati. Menurut Dr. Tony ada titik temu
tertentu antara proses dekon dengan metode therapy
psikitari tertentu. Hal ini perlu diteliti lebih
lanjut, dibuat metodologinya yang jelas sehingga
teknik tersebut memiliki validity dan realibility.
Kemudian ada juga berita bahwa rekan Titus Budyanto
([EMAIL PROTECTED]) seorang rohaniwan muda
dengan bakat spiritual healing menunjukkan
ketertarikannya kepada komunikasi empati dengan
nglakoni sendiri apa yang dinamakan proses dekon
tersebut.
Saya pikir perang di dunia maya telah berhasil
menyadarkan kebanyakan kita semua bahwa perang itu
sifatnya selalu non-empatik sehingga semua yang
(masih) berminat kepada komunikasi empati harus
mengambil sikap yang jelas dan tegas untuk say no to
war... any kind of war... dan tidak pantas untuk
terlibat dalam peperangan apapun. Tidak juga (senang
atau cenderung) mengambil sikap agresif ofensif untuk
melempar batu ke rumah dan kepala orang lain... entah
musuh ataupun kawan sendiri...
Monyet-monyet Koshima yang naik pohon tinggi saat
gelombang tsunami melanda kawasan pantai tetapi
tidak sempat sampai ke pegunungan sudah waktunya
untuk turun pohon dan mencuci ubi-ubinya. Kini bukan
lagi telah terdapat monyet ke seratus yang mencuci
ubinya tetapi monyet-monyet dari Bali, Kalimantan,
Sumatra dan Bangka juga sudah mulai mencuci ubi-ubinya
sebelum disantap...
Jakarta, 11 Oktober 2007.
Mang Iyus (Juswan Setyawan)
Kasus Hukum Ilmu Kompatiologi
Bersama dengan email ini saya juga menginformasikan
tentang upaya-upaya yang sedang dilakukan oleh
oknum-oknum berbackground pendidikan (S2, S3, dlsb)
untuk membasmi praktisi dan pendiri kompatiologi
menggunakan jalur kepolisian (penangkapan &
pemenjaraan). Oknum-oknum tsb diantaranya (bukti dapat
dilihat dari tuliasan asli mereka sendiri di maillist
psikologi_transformatif):
* Nurudin Asyhadie (South east asia editor dari Kantor
Berita Common Ground Mitra Kemanusiaan (CGNews-MK))
* Sinaga Harez Posma (berlatarbelakang Psikologi)
* Ratih Ibrahim (ahli Psikologi Perkembangan yang
sering muncul di televisi)
* Goenardjoadi Gunawan (Penulis dan pembicara
motivasional bertema seputar hati nurani, Goenardjoadi
juga adalah murid dari Aa Gym)
Pembahasan rencana dengan memanfaatkan jalur hukum
secara terang-terangan sedang dilakukan di maillist
[EMAIL PROTECTED]
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif
. Sesuai informasi yang mereka tulis sendiri konon
Vincent Liong akan diperkarakan di jalur hukum agar
diperas uangnya, ditangkap dan dipenjarakan dalam
kasus perusakan nama baik (karena Vincent Liong
membuka aib mereka tentang tindakan manipulasi data
yang mereka lakukan, misalnya manipulasi tentang
keberadaan korban yang fiktif) dan laporan adanya
korban dari pengamat kompatiologi yang bukan pengguna,
tetapi sampai hari ini belum ada satupun laporan
tertulis dari korban sendiri, yang ada hanya laporan
tentang banyaknya korban dari pihak-pihak berbacground
pendidikan ini tanpa ada nama dan identitas korban
yang jelas. Lucunya lagi, kok makin ditekan
kompatiologi makin banyak peminatnya.
Pihak-pihak ini sudah mencoba melalui terror keluarga
sejak April 2007 melalui gerakan yang dipimpin oleh
Nurudin Asyhadie yang gagal menjatuhkan kompatiologi.
Jadi cara selanjutnya adalah dengan menangkap dan
memenjarakan pendiri dan para praktisi kompatiologi
agar ilmunya tidak menjadi saingan bagi ilmu-ilmu
resmi yang sudah ada. Bila tidak bisa menggunakan
jalur kepolisian (penangkapan dan pemenjaraan) mungkin
akan dilakukan penghilangan paksa, bisa aja ada yang
dimatikan.
Nah, yang menarik dari kasus ini; Kompatiologi sampai
hari ini tidak pernah mendapat masalah dalam hubungan
dengan lembaga agama apapun dan pemerintah.
Kompatiologi ingin dibasmi dengan segala cara kotor
oleh oknum-oknum berlatarbelakang pendidikan resmi.
Biasanya kaum pendidikan adalah pihak-pihak yang
menumbangkan pemerintah yang menyalahgunakan
kekuasaan, atau pihak yang mendidik masyarakat agar
tidak terbawa kekerasan akibat fundamentalisme agama.
Tetapi dalam kasus kompatiologi oknum-oknum
berlatarbelakang pendidikan resmi inilah yang
menyaingi cara kotor ala pemerintah yang
menyalahgunakan kekuasaan atau fundamentalisme agama.
Entahlah apakah lembaga psikologi atau filsafat resmi
(Sinaga Harez Posma & Ratih Ibrahim berlatarbelakang
psikologi dan Nurudin Asyhadie berlatarbelakang
pendidikan filsafat) terlibat atau tidak, terlalu
generalisasi kalau dikatakan demikian. Yang jelas
oknum-oknum yang dihasilkan berprilaku lebih konyol
daripada penguasa yang zalim dan agama fundamentalis
yang kejam. Jadi pendikan pun bisa menghasilkan
fundamentalisme bukan saja agama atau penguasa.
Kompatiologi ilmu baru yang segede kutu saja mau
dibasmi dengan mengorbankan nama baik segala
lembaga-lembaga pendidikan besar, hahaha lucu sekali.
Kita tunggu saja tanggal mainnya, tentu akan menjadi
fenomena yang lucu sekali. Vincent Liong tidak takut
kok kalau dipenjara gara-gara menemukan kompatiologi.
Jaman sekarang belum beda dari jaman Galileo yang
dimana penemu selalu berakhir di penjara.
Ttd,
Vincent Liong
Jakarta, Selasa, 9 Oktober 2007
Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com