http://guntur.name/

Jawa Pos, 14 November 2007
  Sesatnya Kriteria Sesat
  Islam diturunkan sebagai misi penyelamatan, bukan amunisi penyesatan. Namun, 
cita-cita ini tidak terjadi pada beberapa kalangan di Majelis Ulama Indonesia 
(MUI), khususnya mereka yang mengeluarkan sepuluh kriteria ajaran/kelompok yang 
dianggap "sesat dan menyesatkan".
  Terbitnya kriteria itu semakin meyakinkan publik bahwa mereka -dengan 
berlindung di balik otoritas Islam- bisanya hanya melakukan penyesatan dan 
pengafiran, tidak memperbanyak bimbingan terhadap umat.
  Kriteria penyesatan versi mereka harus ditolak karena bertentangan dengan 
prinsip-prinsip akidah dan etika dakwah Islam. Dalam akidah Islam, hak 
pengimanan dan penyesatan hanya milik Allah. Ketika wahyu Allah yang diturunkan 
kepada Nabi Muhammad terhenti dengan meninggalnya Nabi, semua orang atau 
kelompok memiliki derajat yang sama, yaitu berusaha memahami wahyu tersebut.
  Derajat mereka hanya sampai pada pencarian kriteria "benar dan salah" dalam 
menentukan ajaran agama, tidak sampai pada derajat mengetahui "iman dan kafir". 
Wilayah "benar dan salah" adalah lahan manusia yang menjadi bidang garapan 
"ijtihad", yakni usaha manusiawi yang sungguh-sungguh untuk memahami. Dalam hal 
itu pun, hakikat kebenarannya masih sampai pada tahap "kebenaran manusiawi". 
Bukan "kebenaran ilahi".
  Oleh sebab itu, ulama terdahulu (salaf) begitu selesai membahas satu 
persoalan lantas mengakhirinya dengan pengakuan yang sangat terkenal: wallahu 
a’lam bi al-shawab (Dan Allah yang Maha Mengetahui yang benar). Pengakuan jujur 
dan mendalam bahwa yang mengetahui hakikat kebenaran hanyalah Allah.
  Wilayah "iman dan kafir" jauh di atas wilayah perdebatan "benar dan salah", 
yang tak seorang pun bisa memasukinya meskipun membawa dalil-dalil agama. 
Sebab, wilayah itu bukan lagi ruang penafsiran dan pemahaman yang bisa dimasuki 
oleh manusia seperti derajat "benar dan salah". Wilayah itu juga berupa ruang 
sangat pelik yang tidak bisa diketahui, yaitu "hati manusia".
  Syariat hanya bisa menghukumi hal-hal yang tampak, di sinilah sabda Nabi 
menemukan konteknya: nahnu nahkumu bi al-dlawahir wallahu yatawalla al-sara’ir 
-"kita (manusia) hanya bisa menghukumi yang lahiriah dan hanya Allah yang bisa 
menguasai yang batiniah".
  Kriteria benar dan tidaknya salat (sah atau batal) adalah cakupan ilmu fikih 
yang membahas syarat dan rukun yang tampak sesuai dengan mazhab fikih yang 
diyakini. Namun, tak ada seorang pun yang tahu kriteria mazhab mana salatnya 
yang paling diterima oleh Allah?
  Maka, kriteria sesat itu, selain melanggar batas, juga "menyesatkan". 
Maksudnya, kriteria tersebut akan menyesatkan orang yang dituding tersesat, 
bukan menunjukkan mereka arah dan jalan yang lurus.
  Bisakah kita membayangkan apa yang ada dalam pikiran dan hati seseorang yang 
malah menyesatkan orang yang telah tersesat?
  Munculnya aliran dan pandangan yang dituding tersesat bukan malah meramaikan 
pentingnya bimbingan dan ajakan, tapi justru menegaskan penyesatan, seolah-olah 
mereka yang paling tahu mana yang tersesat dan mana yang tidak.
  Lebih dari itu, kriteria penyesatan itu akan menumbuhkan tradisi yang buruk 
(sunnah sayyi’ah) di kalangan umat karena akan menutup pintu dialog dan 
menggiring ke ruang konflik yang penuh dengan kekerasan.
  Umat dipancing agar bereaksi keras bila terdapat sebuah kelompok atau 
keyakinan yang berbeda, bukan diajak untuk memahami dan mengenalinya terlebih 
dahulu.
  Padahal, bila ada perbedaan, maka itulah rahmat yang disebutlah oleh sabda 
Nabi: ikhtilafu ummati rahmah (perbedaan umatku adalah berkah). Dan bila 
terdapat kesalahan, maka diperlukan bimbingan dan ajakan karena manusia 
merupakan tempat salah dan alpa (al-insanu mahallul khatha’ wa al-nisyan).
  Namun, dasar tersebut tidak menjadi pijakan kriteria sesat itu. Tengoklah 
poin kesepuluh kritertia itu yang ambigu dan bisa "menyesatkan". Bagi mereka, 
kriteria kelompok sesat adalah "mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil syar’i 
seperti mengkafirkan muslim hanya karena bukan kelompoknya". Hakikatnya, poin 
itu masih membuka kesempatan boleh "mengafirkan sesasama muslim dengan dalil 
syar’i".
  Padahal, yang seharusnya ditradisikan adalah larangan mengafirkan sesama 
muslim meskipun bersenjata dalil syar’i karena selama ini tidak ada pengafiran 
tanpa digunakannya dalil syar’i. Misalnya, Khawarij yang mengafirkan Imam Ali 
Ra. Mereka mengunakan dalil-dalil syar’i, mengutip ayat-ayat Alquran dan Hadis.
  Sejarah juga mencatat, praktik pengafiran yang terjadi sesama orang Islam 
melibatkan penggunaan dalil-dalil syar’i. Oleh karena itu, yang perlu dijadikan 
dasar adalah bukan karena tidak adanya pengggunaan dalil syar’i maka pengafiran 
itu harus dilarang, namun karena praktik pengafiran itu sendiri -meskipun 
dengan alasan dan dalil syar’i sekalipun- harus dilarang.
  Maka, kriteria sesat tersebut bisa dianggap gugur dan batal; bukan karena 
dalam kriteria-kriteria itu tidak ada poin-poin yang "benar", namun karena 
berpijak pada dasar yang keliru, yakni bisa terjadi penyesatan, bukan 
penyelamatan.
  Di situlah perlu diserukan kembali ajakan dan bimbingan agama sesuai dengan 
jalur asalnya. Yakni membuka lajur penyelamatan. Agama adalah kebaikan yang 
memang diturunkan bagi mereka yang belum atau tidak "baik".
  Agama menyempurnakan sesuatu yang kurang. Memperbaiki yang rusak. Bukan 
sebaliknya, mengurangi yang kurang dan merusak yang rusak. Wallahu a’lam bi 
shawab
  Mohamad Guntur Romli, host Kongkow Bareng Gus Dur di KBR68H
  Sumber Jawa Pos Rabu 14 November 2007,
  http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=312539 
   
  
       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

Kirim email ke