DAS KOPIkenTAL: PatanYali Factors B (PF-B)


Sebelum melanjutkan tulisan DAS KOPIkenTAL: TaiGigical Intellignece
selanjutnya, berjudul Gelitikif Intelligence.  Warkop Institute merasa
perlu nimbrung sebagai  obrolan warung kopi dalam rangka mengomentari
Indonesia sebagai tuan rumah Konferensi COP ke 13.

Untuk itulah dalam DAS KOPIkenTAL kali ini menuliskan apa yang tersurat
dalam PatanYali Factor B, yakni: Reinterpretasi Rahmatan Li´l alamien
Sesuai Realita Aktual Secara Universal.

Dan untuk itu, bahan yang akan di ½gelitikin½ berikut ini
mengambil beberapa kutipan dari tulisan berjudul, Teologi Ramah
Lingkungan, oleh Yonky Karman. (Sumber:
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0711/23/opini/4017442.htm
<http://www.kompas.com/kompas-cetak/0711/23/opini/4017442.htm>  )

Quote: Indonesia mendapat kehormatan menjadi tuan rumah Konferensi Ke-13
Para Pihak atau COP-13 dalam Konvensi Kerangka PBB tentang Perubahan
Iklim. Sekaligus itu juga tantangan sejauh mana bangsa yang mengklaim
diri religius mampu memberi kontribusi positif dari kekayaan tradisi
keagamaannya. End of quote.

Kopitalisme: Sepertinya, setelah berbagai penelitian akademik dilakukan
melalui berbagai standard ilmiah tersebut, dari kalimat diatas, yang
½ditantang½ kemudian adalah klaim ½kaum religius½... (sorry
sebentar, saya numpang ngakak dulu... Hahahahaha!)... Oke deh, udah
selesai ngakaknya.

Sebelumnya komunitas religius di Amerika –dalam hal ini kelompok
Evangelist- juga telah dan sedang dalam debat panjang mengenai topik
Global Warming, and apa yang mereka bisa lakukan. Lalu, 8 Februari 2006,
dilaunchinglah apa yang disebut ECI (Evangelical Climate Initiative)
Tertuliskan  kemudian dalam From Climate Control to Population Control:
Troubling Background on the ½Evangelical Climate Initiative½.

Bagaimana konteks –so called- kaum religius di Indonesia, mensikapi
hal tersebut, setelah kongres COP-13 berlalu, nantinyat? Apa langkah
selanjutnya? Ataukah –seperti biasannya- hanya ramai-ramai saat ada
acara seremonialan? Sudahkah ada semacam ½grounding½ dan
½backgrounding½ yang bisa dijadikan pijakan oleh kaum religius
tersebut, dalam mensikapi issue global warming ini, seperti halnya yang
dilakukan oleh ECI, lebih dari setahun lalu?

Saya menyinggung dulu sedikit tentang Penerima Nobel Perdamaian, Al
Gore.

Dalam sebuah artikel mengatakan bahwa Al Gore sebagai Penerima Nobel
Perdamaian beberapa waktu lalu, mengatakan bahwa masalah Global Warming,
adalah juga masalah spiritualisme. Jika ya,  mengapa Al Gore, sepertinya
cendrung mengenyampingkan bahwa GW tersebut adalah masalah
politik-ekonomi, dan penguasaan sumber-sumber energy? Lalu, kok larinya
ke aspek spiritualisme? Entah dari mana dan kapan pernyataan itu
dikeluarkan, bukan point itu yang ingin saya jadikan masalah disini.

Saya melihatnya, bahwa, meskipun mekanisme yang di gunakan oleh IPCC
dalam hitung-hitungan mengenai dampak Global Warning, menggunakan metoda
saintifik, itu adalah satu aspek. Meminimalisir akibat buruk GW,
terhadap bumi dan isinya adalah aspek yang lain.  Dalam rangka
meminimalisir tersebut terbitlah beberapa point dalam bentuk proposal,
diantaranya adalah Gore´s 10 point plans, seperti yang diposting oleh
David Roberts di Grist. (Pada point ke 7, ada disebutkan Raise CAFE
standards.)... Hidup The Cafeist! Hahahaha...

Dilain pihak, penelitian-penilitian secara akademik, terhadap alam dan
gejalanya seperti menemui jalan buntu jika ditempuh melalui jalur
politik (setidaknya pengalaman Al Gore sebagai Wakil President US)
Mangkanya beberapa waktu lalu, Al Gore menyatakan mundur dari medan
politik praktis. Sekalipun, ada yang disebut the ½green½ party,
hingga saat ini Amerika belum menanda tangani Protokol Kyoto, bukan?
Malah, terakhir melalui Life Earth 7-7-07- Al Gore memilih jalur ...ART?

Demikianlah Al Gore, NOBEL, SCIENCE dan ART... Nema još politike...
No more politics... Golput!

Sekarang, di Indonesia, bagaimana hasil penelitian-penelitian akademik
dilapangan? Kok sekarang ada kalimat: Sekaligus itu juga tantangan
sejauh mana bangsa yang mengklaim diri religius mampu memberi kontribusi
positif dari kekayaan tradisi keagamaannya...

Mandulkah segala penelitian ilmiah tersebut? Buntu di jalur politik?
Atau hanya berupa bagian dari profesi teliti-meneliti yang hasilnya akan
mengisi rak-rak perpustakaan?

Selain itu, bagaimana akses masyarakat biasa dan lokal untuk hasil-hasil
penelitian ilmiah tersebut? Karena kita tahu, kajian-kajian itu adalah
berbahasa dan berstandard ilmiah dimana rakyat kecil sebagai komunitas
yang langsung bersentuhan dengan lingkungan-alamnya sendiri, adalah
masalah ½apa yg bisa saya makan hari ini½ tentunya waktu yg dia
gunakan adalah bergulat untuk memenuhi kebutuhan rutin harian tersebut,
takkan punya waktu untuk memahami bahasa dan standard ilmiah tersebut.
Lalu? Apa wujud dari hasil penelitian-penelitian itu, bagi masyarakat
kecil, yang –misalkan- harus mengikuti kemauan sang mandor menebang
hutan, atau harus menggunakan bom ikan di laut?  Do they have any
choice?...

Mengaharapkan bahwa stagnasi itu diisi oleh move spiritualisme di
Indonesia? Spiritualisme yang bagaimana?...  Organized-institionalized
spiritualism (religion)? Atau yang bagaimana?...

Karena, yang lebih memiliki potensi memberi kontribusi kedepan untuk
masalah lingkungan, justru terletak pada kearifan lokal daerah
masing-masing di Nusantara, yang ironisnya -entah itu dengan alasan
nasionalisme, modernisme, professionalisme, agamisme- justru terkikis
sampe tipis...



Quote: Klaim agama-agama monoteis, dunia milik Tuhan, tidak serta-merta
membuat teologi lingkungan berkembang. Malah, model iman yang berkembang
tidak peduli lingkungan. End of quote. (Teologi Ramah
Lingkungan/Kompas/Yonky Karman)

Kopitalisme: Disinilah mengapa dalam Kopitalisme ada tertuliskan
½PatanYali Factor-B½ (PF-B) yakni: Reinterpretasi Rahmatan Li´l
alamien Sesuai Realitas Aktual Secara Universal.

PF-B adalah salah satu point dari essay bertajuk "ReStart Indonesia"
yang saya tuliskan tanpa background jurnalism, tetapi lebih pada
penulisan gaya nobel... Ekh, maksud saya bergaya novel.  (soale, cuman
hobby baca NOVEL sih gua... Kalau ada hadiah NOBEL gara-gara baca novel,
saya pasti masuk kategori, wakakakaka)

Eniwei, ½Restart Indonesia½ itu saya bagikan kepada 4 wartawan
lokal kota Makassar, di cafe 'Gola Gong' jl. Boulevard, Panakkukang Mas,
Makassar.  Kepada empat reporter tersebut adalah  'Fajar', 'Berita
Kota', 'Tribun Timur' dan 'RRI' ketika temu wicara soal ketidak
realistisannya anggaran serah terima jabatan Walikota baru Makassar,
pada April 2004. Tiga tahun lalu.

Reinterpretasi yang dimaksudkan tidak merujuk pada debat ayat, dogma dan
doktrin yang menyangkut aqidah. Tetapi lebih pada berupa pertanyaan
sederhana:

1.       Apakah Rahmatan Li´l alamien itu berupa visi? Atau klaim?
Yang harus diterima secara taken for granted?

2.      Mengapa Rahmatan Li´l AlAMien? Mengapa bukan Rahmatan Li´l
MUSLIMien? Atau Rahmatan Li´l AKHIRATien?

Alasan Kopitalisme tiga tahun lalu tersebut mendorong PF-B, dalam
hubungannya dengan topik lingkugan hidup dan kelestarian alam, adalah
karena:

1. Secara saintifik, belum atau tidak ada hitungan yang fixed yang bisa
diterapkan -baik secara hukum, maupun secara kultur- terhadap seseorang
-individually- dalam rangka mencari, memiliki setiap privelej atau
–bahkan- kemewahan dalam menjalani hidupnya. Selama metoda
kepemilikan itu, sah secara hukum, maka setiap orang berhak menikmati
kekayaannya sendiri.

  2. Penggunaan jaringan informasi hingga ke pelosok-pelosok desa dalam
rangka awareness terhadap lingkungan dan alam, akan sangat efektif jika
menggunakan pendekatan medium dan ikon keagamaan. Setidaknya, amatan
tersebut pada konteks sosio-kultural masyarakat Sulsel.

Kendala-kendalanya bahwa pada point nomer 2 di atas, syahwat politik
–cendrung- pragmatis, adalah tantangan yang paling nyata. Selain
itu, kearifan-kearifan lokal telah hampir habis terpupus. Dan –the
worst case- malah cendrung terkontaminasi virus Unfortunate Culture,
hampir di berbagai aspek kehidupan, nastionaly dan locally.

Demikianlah El Kopitalista, NOVEL, CAFE dan ART... Nema još
politike... No more politics... Golput!



May FUN be with you



Tuhantu

http://kopitalisme.tk <http://kopitalisme.tk>

http://hole-spirit.blogspot.com <http://hole-spirit.blogspot.com>

http://warkop-institute.blogspot.com
<http://warkop-institute.blogspot.com/>



Kirim email ke