Mungkin ini yang
sering disebut-sebut oleh filsuf sebagai ilusi individualitas


  
 

Ehm, saya mencoba memperlihatkan
faktor-faktor tertentu yang ternyata bisa saja timbul secara otomatis dalam
sistem psiko komunikasi yang jelas saja hanya secara umum dan dalam tahap
ketika ia mencapai titik monopolistiknya ikut mempengaruhi perkembangan
kepribadian seseorang, apalagi jika seseorang itu dalam situasi merasa tidak
berdaya, kesepian, cemas dan tidak aman. Ada kondisi-kondisi khusus di ruang 
diskusi manapun yang secara sadar, spontan, dan intersubjektif
atau apalah, banyak membuat beberapa pesertanya yang terlibat secara aktif
menjadi tanah subur bagi proses dialogis yang cenderung ideologis yang kemudian
memunculkan apa yang disebut dengan otoriter. Otoriter dengan idea. 


  
 

 Ada 
yang saya perhatikan, emosi dikerdilkan, peserta aktif juga tidak
bisa menghindar dari kontrol diri saat berlaku dipublik, keramahan, keriangan,
marah, semuanya seperti dijalankan sebagai reaksi otomatis secara elektrik dan
harus elegan. Walau jelas, ada beberapa oran g yang bisa
menghindarinya dengan peran aktifnya yang tidak bisa dipungkiri, dilihat dari 
begitu sadar peserta diskusi dengan tindakannya, yang hanya sekedar gerak
gelombang yang berubah menjadi isyarat, disitu ia melepas kontrol dari dirinya;
walau ada juga yg saya lihat dalam beberapa hal seperti kehilangan kesadaran
juga kemampuan untuk membedakan antara perasaan yang semu dan keramahan yang 
spontan,
disitu ia dikontrol. Mengkontrol disini adalah berupaya mengontrol agar ia
berjalan dengan aman dari persepsi yang mengganggu atau sudah menyiapkan semua
jawaban atas semua persepsi atau pertanyaan yg akan muncul, dan melepas kontrol 
disini adalah melepas
kontrol agar ia jalan secara alamiah dan persepsi apapun itu dibiarkan menjadi
bagian darinya.


  
 

Menjadi
emosional semakin menjadi identik dengan menjadi ‘tidak sehat’ atau ‘tidak
seimbang’. Dan dengan penerimaan terhadap standar seperti ini, individu
justru semakin menjadi lemah pemikirannya, semakin kerdil dan dipangkas oleh
pengetahuannya sendiri akan sesuatu yang hanya ‘katanya’, saya setuju dengan 
itu. Tapi, ada persoalan lain, ketika (karena memang)
emosi-emosi itu tidak bisa dimusnahkan, kita kemudian mengharuskan diri
mempunyai eksistensi yang merupakan wujud dari kepribadian dan intelektualitas
yang ingin dicirikan oleh peserta komunikasi lainnya, sebagai lawan atau orang
yang hanya numpang baca/dengar/lihat. Dan kita sudah tahu arahnya, apalagi kalo
bukan sentimentalitas yang ciri-cirinya lagi-lagi menyerupai apa yang laku
dijual dipasar sebagai informasi yang sifatnya hiburan bagi semua pelanggan
yang emosinya dibatasi.  


  
 

Tman2,
kenapa? Dikalangan yang dekat dengan filsafat sekalipun, individu2nya
menutupi kesadaran akan sesuatu yang hanya akan menghadapkan dia secara satu
lawan satu dengan tragedi. Doktrin belajar secara metodologis dan sistematiskah
yang membuat mereka otomatis seperti itu, atau pemisahan antara kronologis dan
tematik yang membuat mereka terhindar dari itu. Lalu apakah itu sesuatu yang
harus dihindari. Kesadaran bahwa kita memang sedang melakukan hal yang
‘memalukan’ dan kita tidak perlu merasa malu karena itu. 


  
 

Dan, salah satu teman ada
yang mencoba membongkar itu secara halus. Dibalik setiap komunikasi selalu ada 
tujuan,
termasuk disetiap karya selalu ada tujuan, itu yang harus lebih kita lihat.
Sebagai ujung dari proses bukan awal. Dan tujuannya tidak harus selalu tersurat
dalam apa yang tertulis. Bisa jadi tujuannya adalah respon, yang bentuknya
sebuah tuduhan. Tentu saja tuduhan yang memang benar- tentang isi karya itu
seperti apa terlihatnya.       


  
 

Lalu, apakah
benar makna dalam kata akan mati kalau kita cari?


Lalu, bisa
dibenarkankah politisasi dalam filsafat?


Entahlah, yang
pasti apapun itu dibuat dengan tujuan, dan mungkin saja tujuan tersebut baru
diketahui setelah pembuatnya sendiri baru benar2 mengerti mengenai keseluruhan
karya buatannya (proses dan wujud pemadatannya). Atau apakah kita akan
berkata, itu bukan tujuan namanya. Itu tujuan!, saat itu dianggap sebagai
strategi. Awalnya kita tulis 1 dengan tujuan A tapi setelah 1 jadi tujuannya
menjadi B. Bisa saja…. 


Hah, sudahlah
ini cuma pembelaan dari sidang yang dibuka samara-samar. (filsafat tidak
seharusnya mengajari tapi mengajak semua untuk belajar)


  
 

  
 

Salam Bingung
selalu, Abu 







      
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing.  Make Yahoo your home page. 
http://www.yahoo.com/r/hs

Kirim email ke