--- Begin Message ---
Di bawah ini adalah tulisan dari Ratih Ibrahim. Jika anda tertarik
mendiskusikan esei ini, silahkan bergabung di milis Psikologi Transformatif.
Esei ini ada pada link:
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/37080
Sekilas Mailing List Psikologi Transformatif
Mailing List Psikologi Transformatif adalah ruang diskusi yang didirikan oleh
Audifax dan beberapa rekan yang dulunya tergabung dalam Komunitas Psikologi
Sosial Fakultas Psikologi Universitas Surabaya. Saat ini milis ini telah
berkembang sedemikian pesat sehingga menjadi milis psikologi terbesar di
Indonesia. Total member telah melebihi 2000, sehingga wacana-wacana yang
didiskusikan di milis inipun memiliki kekuatan diseminasi yang tak bisa
dipandang sebelah mata. Tak ada moderasi di milis ini dan anda bebas masuk atau
keluar sekehendak anda. Arus posting sangat deras dan berbagai wacana muncul di
sini. Seperti sebuah jargon terkenal di psikologi Di mana ada manusia, di situ
psikologi bisa diterapkan di sinilah jargon itu tak sekedar jargon melainkan
menemukan konteksnya. Ada berbagai sudut pandang dalam membahas manusia, bahkan
yang tak diajarkan di Fakultas Psikologi Indonesia.
Mailing List ini merupakan ajang berdiskusi bagi siapa saja yang berminat
mendalami psikologi. Mailing list ini dibuka sebagai upaya untuk
mentransformasi pemahaman psikologi dari sifatnya selama ini yang tekstual
menuju ke sifat yang kontekstual. Anda tidak harus berasal dari kalangan
disiplin ilmu psikologi untuk bergabung sebagai member dalam mailing list ini.
Mailing List ini merupakan tindak lanjut dari simposium psikologi
transformatif, melalui mailing list ini, diharapkan diskusi dan gagasan
mengenai transformasi psikologi dapat terus dilanjutkan. Anggota yang telah
terdaftar dalam milis ini antara lain adalah para pembicara dari simposium
Psikologi Transformatif : Edy Suhardono, Cahyo Suryanto, Herry Tjahjono, Abdul
Malik, Oka Rusmini, Jangkung Karyantoro,. Beberapa rekan lain yang aktif dalam
milis ini adalah: Audifax, Leonardo Rimba, Nuruddin Asyhadie, Mang Ucup,
Goenardjoadi Goenawan, Ratih Ibrahim, Sinaga Harez Posma, Prastowo, Prof
Soehartono Taat Putra,
Bagus Takwin, Amalia Lia Ramananda, Himawijaya, Rudi Murtomo, Felix
Lengkong, Hudoyo Hupudio, Kartono Muhammad, Helga Noviari, Ridwan Handoyo, Dewi
Sartika, Jeni Sudarwati, FX Rudy Gunawan, Arie Saptaji, Radityo Djajoeri,
Tengku Muhammad Dhani Iqbal, Anwar Holid, Elisa Koorag, Lan Fang, Lulu
Syahputri, Kidyoti, Priatna Ahmad, J. Sumardianta, Jusuf Sutanto, Stephanie
Iriana, Yunis Kartika dan masih banyak lagi
Perhatian: Milis ini tak ada moderator yang mengatur keluar masuk member.
Setiap member diharap bisa masuk atau keluar atas keputusan dan kemampuan
sendiri.
Jika anda berminat untuk bergabung dengan milis Psikologi Transformatif, klik:
www.groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif
Note: forwarded message attached.
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.--- Begin Message ---
*Keluarga Yang Baik adalah Keluarga Yang Bahagia?*
Oleh Ratih Ibrahim, psikolog
Keluarga yang bahagia?
Siapakah yang tidak mengidamkannya?
Bahkan sejak sepasang sejoli jatuh cinta, lalu bersama bersepakat untuk
merajut masa depan sebagai pasangan, mereka memimpikan punya sebuah keluarga
yang baik, yang bahagia.
Dan tentunya ingin hal tersebut akan abadi untuk selama-lamanya.
Lalu, sebagai umat Katolik kita merujukkannya kepada keluarga kudus dari
Nazareth :
Yosef – sang bapak, Maria – sang ibu, dan Yesus – anak mereka.
Merekalah yang dijadikan panutan, sebagai tolok ukur semua upaya untuk
membangun sebuah keluarga yang baik.
Sebagai orang yang dibaptis sejak kecil, saya juga meyakini keluarga kudus
tersebut sebagai keluarga yang baik.
Tetapi jika ditanya lebih lanjutm apakah mereka - sang keluarga kudus ini
- bahagia atau tidak,
terus terang saja, saya tidak tahu.
Yang saya tahu adalah, setiap keluarga memiliki dinamika romantikanya
masing-masing.
Untuk itu saya lalu mencoba membayangkan bagaimana ya, seandainya mereka
bertiga hidup di zaman kita saat ini.
Hmmmm….. Apakah akan tetap menjadi lebih mudah untuk mengurus Yesus,
karena dia adalah seorang anak tunggal?
Atau bahkan sebaliknya? Bukankah anak tunggal memiliki karakteristiknya
sendiri yang juga tidak mudah?
Atau jika keluarga itu ternyata menjelma menjadi keluarga tetangga saya,
seperti apa ya mereka?
Atau jika justru terjelma sebagai keluarga saya sendiri.
Apakah mereka akan bertengkar juga seperti kita?
Atau mereka akan mesra?
Atau tampil dengan tersenyum selalu, meski di balik senyum itu ada banyak
sekali masalah yang sedang berlangsung.
Yang jelas, ternyata ada banyak sekali kemungkinan yang bisa terjadi.
Buat saya, semuanya merupakan sebuah misteri besar.
Yang saya yakin apapun jadinya, semuanya bisa saja sesuai dengan segala
macam potret keluarga masa kini yang kita jumpai dimanapun.
Yang saya tahu, sebuah keluarga terbentuk dari sebuah perkawinan.
Nah, sebuah perkawinan yang baik biasanya akan membuahkan sebuah keluarga
yang baik.
Tetapi apakah sebuah keluarga yang baik juga otomatis akan menjadi sebuah
keluarga yang bahagia?
Ternyata tidak juga!!!!
Selama perjalanan karir profesi saya sebagai psikolog, saya berjumpa
dengan banyak orang.
Latar belakang mereka juga sangat beragam.
Ada yang datang sendirian, ada yang bersama pasangannya, ada yang membawa
seluruh keluarganya.
Kebanyakan dari mereka merasa punya masalah.
Dan dari segala masalah yang ada, ternyata semuanya tidak bahagia.
Terutama tentang perkawinan mereka...
Kok?
Lalu, bagaimana cara mengidentifikasikan adanya ketidak bahagiaan tersebut?
Ternyata mudah.
Caranya?
Perhatikan saja bagaimana cara yang bersangkutan menjawab pertanyaan kita.
Juga dari isi jawabannya.
Ketika bertemu seseorang bisanya kita saling menyapa dengan saling
melontarkan pertanyaan bukan?
Pertanyaan yang paling umum adalah : "Apa kabar?".
Dan biasanya secara otomatis kita menjawab : "Baik", "Baik-baik saja",
"Oke".
Pertanyaannya, apakah betul dia memang dalam keadaan baik?
Belum tentu.
Ini adalah sebuah jawaban basa-basi yang standard!
Nah, perhatikan juga cara ia menjawab.
Apakah antusias? Bersemangat? Atau datar-datar saja? Atau malahan lesu?
Semuanya itu mencerminkan keadaan dia saat itu, bagaimana ia menghayati
kehidupannya.
Perhatikan juga isi jawabannya.
Jawaban standard seperti, "biasa-biasa saja", "lumayan", "okelah", "tidak
baik tidak buruk",
menunjukkan kualitas hidup yang standard juga.
Jika keduanya digabungkan, kita bisa memperoleh gambaran tentang keadaan
yang bersangkutan secara lebih pasti.
Begitupun ketika ingin tahu tentang bagaimana kualitas hidup perkawinan
seseorang.
Sekarang mungkin Anda jadi berpikir, apa sih yang salah dengan
jawaban-jawaban tersebut?
Bukankah itu jawaban yang biasa diberikan oleh semua orang?
Nah, justru di situ letak permasalahnya yang utama.
Sebagian besar dari kita terlena dengan pendapat bahwa kehidupan yang
"baik-baik saja" itu sudah cukup.
Bahwa relasi dengan pasangan yang "lumayan" sudah cukup.
Faktanya, tidak. Tidak cukup. Mengapa?
Jika benar-benar sudah cukup, mengapa ada begitu banyak orang yang datang
dan ternyata tidak bahagia di sini?
Dan jika benar-benar bahagia, mengapa tidak menjawab bahwa dengan, "Luar
biasa", "Menyenangkan", "Asik", "F*abulous"*, "Keren", " Bahagia"? Mengapa
tidak dengan antusias, bersemangat dan berbinar ketika menjawab?
Lalu bagaimana dengan anak-anak?
Dari pengalaman saya bersama mereka, saya menemukan bahwa semakin muda usia
anak-anak,
maka peran orangtua menjadi semakin penting! Mengapa?
Apakah karena anak-anak ada dari orangtuanya?
YA! Selain itu, bagaimanapun tokoh pertama sekaligus tokoh utama bagi anak
untuk belajar tentang hidup
dan tentang kehidupan itu sendiri adalah orangtua.
Sejak kapan? Sejak anak tumbuh di dalam rahim ibunya!
Nah, bicara tentang peran orangtua, jelas melibatkan ayah dan ibu.
Karena anak tidak menjadi begitu saja.
Dengan demikian peran sebagai orangtua adalah peran ayah dan ibu, berdua.
Dari tadi saya mengatakan ayah dan ibu bukan?
Adanya ayah dan ibu itu identik dengan adanya suami dan istri.
Relasi antara ayah dan ibu adalah relasi antara suami dan istri.
Dalam hal ini berarti relasi antara seorang lelaki dan seorang perempuan
dalam sebuah hubungan perkawinan.
Ketika seseorang menikah, ia akan menjadi seorang suami atau seorang istri.
Dan pada suatu ketika, berdua, mereka akan menjadi seorang ayah dan seorang
ibu.
Bersama dengan anak-anak, mereka semua bersatu dalam sebuah keluarga.
Jadi, kunci sebuah keluarga yang baik dan bahagia terletak pada dua pelaku
utamanya bukan?
Suami dan istri.
Jika sebagai suami dan istri mereka bahagia, kebahagiaan itu akan terpancar
ke dalam keluarganya.
Dengan demikian seluruh keluarganya juga akan tumbuh sebagai keluarga yang
bahagia.
Nah, suami dan istri hanya mungkin menjadi bahagia jika mereka memiliki
sebuah relasi yang indah. Indah.
Bukan sekedar baik-baik saja.
Sebuah perkawinan yang indah adalah perkawinan yang hangat, mesra dan penuh
gairah.
Wah, apa mungkin sih? Mana ada perkawinan yang demikian?
Bukankah cinta akan memudar dengan berjalannya waktu?
Bukankah segala getar gairah itu akan menghilang?
Mana mungkin kita bisa tetap bergairah?
Apakah saya becanda?
Jelas Tidak dong…. Mengapa tidak?
Ingat kan? Ketika anda berdua mengucapkan janji perkawinan di depan altar,
anda bersumpah untuk hidup bersama pasangan selama-lamanya bukan?
Alangkah ruginya, jika kehidupan tersebut kita jalani dengan sekedar
baik-baik saja, tetapi hambar, dan biasa-biasa saja kan?
Bukankah akan indah sekali jika bersama pasangan kita menjalani kehidupan
perkawinan yang betul-betul
mengasyikkan dan sehat untuk berdua???
Dalam mengupayakannya, mengupayakan semuanya itu,
saya mengibaratkan perkawinan adalah sebuah bangunan.
Bangunan yang kokoh memberikan rasa aman.
Rasa aman itu membuat orang menjadi lebih mampu untuk merasa nyaman.
Dan rasa nyaman itu memungkinkan ia untuk menjadi lebih bahagia.
Untuk membangun sebuah bangunan yang kokoh, aman, dan mampu mengakomodasi
kebutuhan anggota keluarganya,
ada tiga hal utama yang menjadi pilar penopang perkawinan, yaitu *love,
hope, *dan* trust. *
Ketiga pilar ini saling menopang satu sama lain.
Semakin kokoh ketiga pilar ini, semakin kokoh perkawinan tersebut.
Namun, bila salah satu pilar roboh, seluruh bangunan bernama perkawinan itu
bisa rontok berantakan.
Jika sudah rontok, dan bangunannya oleng, bahkan berantakan, apakah mungkin
untuk membangunnya kembali?
Bisa saja.
Tetapi jelas sangat tidak mudah.
Bahkan ada beberapa kasus yang nyaris mustahil.
Yang jelas bangunan bernama perkawinan itu tidak akan pernah bisa kembali
seperti semula.
Jadi kita memang harus berhati-hati menjaga ketiga pilar itu bukan?
Tetapi pilar manakah yang paling rentan terhadap pengroposan?
Pilar bernama TRUST.
Mengapa?
Karena begitu trust ini roboh, pilar kedua yang segera ikut hancur adalah
LOVE.
Padahal love inilah yang membuat sebuah pernikahan menjadi indah.
Ia pula yang membuat pilar HOPE menjadi kuat.
Lalu bagaimana cara menjaganya?
Bagaimana cara merawatnya?
Untuk pilar TRUST, mau tidak mau hanya dengan memelihara kesetiaan kita
kepada pasangan.
Untuk itu, fokuslah kepada pasangan, kepada keluarga.
Jangan berselingkuh!!
Ingat, siapapun yang tidak berkepentingan DILARANG MASUK!
Karenanya lebih baik tidak jahil membuka peluang untuk masuknya pihak
ketiga,
siapapun ia...
Untuk pilar LOVE, *don't take for granted *
bahwa cinta sudah mampu bertahan dan tumbuh dengan sendirinya tanpa harus
diekspresikan.
Cinta tidak cukup hanya disimpan dalam hati.
Percayalah, cinta itu harus diungkapkan.
Ungkapkan dengan perkataan dan perilaku.
Melalui ciuman, pelukan, serta berbagai ungkapan sayang lainnya.
Tentu saja, cara mengungkapkannya juga harus benar..
Dan, jangan lupa, cinta harus selalu diberi makan.
Supaya cinta bisa tumbuh baik, makanannya juga harus makanan yang sehat.
Apakah makanan cinta? Makanan cinta adalah KEMESRAAN…..
Karenanya, jangan pernah ragu untuk mengungkapkan kemesraan Anda kepada
pasangan.
Juga untuk menerima kemesraan dari pasangan.
Bercumbulah lebih sering dengan pasangan..
Jika cukup makan, love akan akan membuahkan banyak sekali keajaiban dalam
hidup Anda dan keluarga Anda.
Termasuk untuk mengokohkan TRUST serta menumbuhkan HOPE.
Selain cinta, Hope akan menjadi kokoh jika kita sungguh memelihara kehidupan
spiritual yang benar sebagai umat beriman. …..
Yang terakhir, saya mendoakan kebahagiaan dan keceriaan hidup bagi kita
semua, seluruh keluarga dan semua yang kita cintai.
Selamat Hari Natal dan Tahun Baru.
--- End Message ---
--- End Message ---