Selamat pagi. Betul demikian, akan tetapi pengungkapan anda tentang sunnah tentu tidak serta merta sama dengan pendapat seseorang atau pendapat ilmiah tertentu, misalnya saja apa itu sunnah? mengapa harus mengikuti sunnah? bagaimana kehidupan Qur'ani yang kemudian direfleksi oleh Rasulullah dan menjadi kondisi masyarakat tertentu? Marilah kita mengkaji kembali tentang sunnah itu, mengapa kemudian ada yang mengartikannya dengan tradition atau living tradition? mengapa demikian? proses pengujian kebenaran hal tersebut bagaimana? berbagai keilmuan hadits apakah sudah mencukupinya untuk menjawab kebutuhan ilmiah akademik, misalnya. Apa yang Rasulullah jadikan pedoman dalam berkehidupan? Al-Qur'an (wahyu)? bagaimana anda menjelaskan wahyu itu? bagaimana mungkin para sahabat, masuk Islam, mengikuti al-Qur'an dengan serta merta mengikuti pendapat muhammad saw tersebut? Saya berpendapat bahwa, keilmuan irfan yang saya tawarkan sebagai pelengkap antara filsafat, wahyu dan amal shaleh, tidaklah sesempit tasawuf yang anda bayangkan. Persoalan-persoalan yang menuntut penyelesaian bijak dan ilmiah, tidaklah mungkin untuk dijawab dengan pemaparan yang sesederhana pendapat anda..tatanan metodologis harusnya juga menyertai pendapat anda. Marilah kita tidak menutup mata terhadap wahyu yang Allah berikan pada Rasul saw, oleh karena itu perasaan-perasaan a priori awal marilah kita perbaiki. marilah kita bergiat dalam pengkajian Islam dengan lebih bersungguh-sungguh
----- Pesan Asli ---- Dari: qalam26 <[EMAIL PROTECTED]> Kepada: [email protected] Terkirim: Jumat, 18 Januari, 2008 4:37:37 Topik: Re: Bls: [filsafat] Meanggungkan AKAL dan menegosiasikannya Bung Friss tentang praktek penyingkapan alam gaib dalam metode tasawuf pertanyaan saya ada tidak praktek tersebut dalam perjalanan hidup nabi muhammad SAW dan para sahabatnya. Pernahkah mereka mencontohkan hal tersebut? jika ada perintah dari nabi untuk bertasawuf tentu itu adalah sunnah nabi dan harus dijalani.... tapi tidak pernah nabi memerintah kan hal tersebut. ini masalah keyakinan jadi harus mengikuti yang membawa ajaran dan keyakinan tersebut kalau dalam islam ya nabi muhammad SAW. Ini menyangkut ibadah kepada alloh...dan ibadah itu haram hukumnya hingga ada dalil dan perintah yang menyuruh kita untuk melakukakannya. dari Sunnah nabi muhammad SAW. ITU EPISTEMOLOGI BERAGAMA SAYA BUNG... --- In [EMAIL PROTECTED] s.com, Muhammad Friss <[EMAIL PROTECTED] .> wrote: > > Itulah paradigma Cartesian-Newtonian , kalau tidak mau menyebutnya phobia-positivism bagi anda, walaupun telah sukses meningkatkan kesejahteraan material umat manusia, namun akhirnya menggiring umat manusia ke dalam kubangan krisis multidimensional dalam kehidupannya, seperti penghancuran masal oleh militer akibat penggunaan senjata nuklir, kimia, biologi militer; kerusakan lingkungan hidup oleh polusi, degradasi, exploitation- depletion (eksploitasi sampai habis menipisnya Sumber Daya Alam); fragmentasi sosial yang disebabkan oleh industrialisasi, urbanisasi, fragmentasi & konflik sosial akut, keterasingan psikologis manusia dari hal yang alami, sosial dan tenikal. > > saya menawarkan kecelakaan logika anda dengan konsep ‘Irfan (gnosis). Konsep Irfan adalah ilmu pengetahuan tertentu yang diperoleh tidak melalui indera maupun pengalaman (positivisme- empirisme & eksperimentasi) , tidak pula melalui rasio atau cerita orang lain, melainkan melalui penyaksian ruhani dan penyingkapan batiniah. Kemudian fakta tersebut digeneralisasikan menjadi suatu proposisi yang bisa menjelaskan makna penyaksian dan penyingkapan tersebut antara lain melalui argumentasi rasional (misalnya dalam filsafat iluminasi (Isyraqiyah) . Inilah yang disebut dengan Irfan (teoritis). Dan karena penyaksian dan penyingkapan tersebut dicapai melalui latihan-latihan ruhaniyah (riyadah) khusus dan perilaku perjalanan spiritual tertentu (syair wa suluk) maka yang terakhir ini disebut Irfan ‘Amali (praktik Sufisme/Tashawwuf) . inilah konsep yang tawarkan sebagai jembatan antara penalaran akal dan wahyu, yang memang membatasi akal sekaligus memungkinkan > penalaran yang tak terbatas dalam dimensi prespektif yang berbeda. > > gimana bung.... > > > ----- Pesan Asli ---- > Dari: qalam26 <[EMAIL PROTECTED] s.com> > Kepada: [EMAIL PROTECTED] s.com > Terkirim: Jumat, 18 Januari, 2008 2:02:59 > Topik: [filsafat] Meanggungkan AKAL Merendahkan WAHYU > > Manusia kerap kali meninggikan akalnya dan merendahkan wahyu dengan > akalnya. padahal akal merupakan bagian dari ciptaan tuhan yang > menurunkan wahyu tersebut. Dengan akalnya manusia menolak wahyu dan > menggelarinya dengan kata wahyu tidak lagi relevan dengan zaman. > sehingga ia lebih berpihak pada hukum yang dibuat oleh akalnya dan > para pemikir barat dalam menentukan HALAL-HARAM, BAIK dan BURUK. > sehingga tak pelak lagi mereka menghalalkan apa yang diharamkan alloh > dan menghalalkan apa yang diharamkan oleh alloh. > > ITULAH NAMANYA ORANG YANG MEMPERTUHAKAN AKALNYA > > > > > > > ____________ _________ _________ _________ _________ ________ > Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! > http://id.yahoo. com/ > ________________________________________________________ Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/
