HAM dan Demokrasi

Kalau ada bentrok antara Ustadz dengan Pastur, pihak
Depag, Polsek, dan Danramil maka yang harus disalahkan
adalah Ustadz. Sebab, kalau tidak, itu namanya
diktator mayoritas. Kalau mayoritas kalah, itu memang
sudah seharusnya, asalkan mayoritasnya Islam dan
minoritasnya Kristen. Namun, kalau mayoritasnya
Kristen dan minoritasnya Islam, Islam yang harus
kalah. Baru wajar namanya…

“Agama” yang paling benar adalah demokrasi.
Anti-demokrasi sama dengan setan dan iblis. Cara
mengukur siapa dan bagaimana yang pro dan yang kontra
demokrasi ditentukan pasti bukan oleh orang Islam.
Golongan Islam mendapat jatah menjadi pihak yang
diplonco dan dites terus-menerus oleh subyektivisme
kaum non-Islam…

Orang-orang non-Muslim, terutama kaum Kristiani dunia,
mendapatkan previlese dari Tuhan untuk mempelajari
Islam tidak dengan membaca al-Quran dan menghayati
Sunnah Rasulullah Muhammad saw., melainkan dengan
menilai dari sudut pandang mereka.

Maka dari itu, kalau penghuni peradaban global dunia
bersikap anti-Islam tanpa melalui apresiasi terhadap
al-Quran, saya juga akan siap menyatakan diri sebagai
anti-demokrasi karena saya jembek dan muak terhadap
kelakuan Amerika Serikat di berbagai belahan dunia…


*****

Paragraf di atas sengaja saya nukil dari sebuah kolom
kecil seorang budayawan terkenal di Tanah Air. Lewat
sindirannya yang tajam, ia mengungkapkan kegeramannya
terhadap praktik demokrasi yang sering bersikap tidak
adil terhadap Islam dan kaum Muslim. 

Di sisi lain, kita juga sering menyaksikan
ketidakadilan terhadap Islam dan kaum Muslim atas nama
HAM yang tercermin dalam beberapa contoh kasus
berikut:

Jika ada sekelompok umat Islam mengobrak-abrik
tempat-tempat mesum, mereka akan dianggap bertindak
semena-mena dan melanggar HAM. Mereka layak dihukum.
Sebaliknya, para pelacur dan lelaki hidung belang yang
biasa mangkal di tempat-tempat maksiat itu tak
tersentuh. Mereka dianggap tidak melanggar HAM. Yang
wanita dibiarkan karena sekadar sedang mencari
penghidupan. Mereka dipandang sedang bekerja hanya
karena mereka diberi status sebagai “pekerja” seks
komersial. Yang laki-laki pun tak diapa-apakan karena
sekadar sedang mencari hiburan. Apalagi mereka telah
membayar uang sekian kepada pengelola pelacuran, yang
kebetulan dipajaki oleh Pemda setempat sebagai salah
satu sumber pendapatan.

Ketika umat Islam menghujat kelompok sesat seperti
Ahmadiyah atau al-Qiyadah al-Islamiyah, kaum liberal
ribut sembari menuduh umat Islam tidak dewasa, tidak
menghormati kebebasan dan melanggar HAM. Bahkan fatwa
“sesat” MUI yang dinisbatkan kepada kelompok sesat
itu mereka pandang sesat. Sebaliknya, ketika ada
sekelompok umat Islam menyuarakan aspirasinya tentang
perlunya Indonesia menerapkan syariah dan menegakkan
Khilafah, atas nama kebebasan dan HAM pula kaum
liberal mencap mereka sebagai musuh kebebasan, dan
syariah yang diusungnya berpotensi melanggar HAM dan
mengancam keragaman.

Demikianlah, atas nama HAM pelaku asusila dibela,
sementara pelaku amar makruf nahi mungkar dicerca;
para penoda kesucian agama Islam dibiarkan, sementara
MUI yang berniat melindungi kehormatan Islam
disalahkan. Atas nama HAM, pelaku perselingkuhan
(perzinaan) dipandang wajar, sementara pelaku poligami
dianggap kurang ajar; para para penolak
pornografi-pornoaksi dicaci-maki, sementara para
pelakunya dipandang pekerja seni. Atas nama HAM pula,
para pejuang syariah dituduh memecah-belah, sementara
para pengusung sekularisme dan liberalisme dianggap
membawa berkah. 

Itulah secuil gambaran tentang betapa bobroknya
demokrasi dan HAM. Tak ada demokrasi meskipun itu
mayoritas, asal yang mayoritasnya adalah Islam. Tak
ada HAM walaupun terjadi pelanggaran hak asasi, asal
pelanggaran hak asasi itu menimpa umat Islam. 


*****

Di samping jelas-jelas bobrok, demokrasi dan HAM juga
nyata-nyata tidak jelas juntrungannya. Dalam
demokrasi, katanya rakyat yang berdaulat. Faktanya,
yang sangat adikuasa adalah para pemodal kuat. Ralph
Nader, pada tahun 1972 menerbitkan buku, Who Really
Runs Congress? Buku ini menceritakan betapa kuatnya
para pemilik modal mempengaruhi dan membiayai
lobi-lobi Kongres dalam pemerintahan Amerika Serikat.
Adapun Hedrick Smith, lewat bukunya, The Powergame
(1986), menegaskan bahwa unsur terpenting dalam
kehidupan politik Amerika yang “demokratis”
adalah: (1) uang; (2) duit; dan (3) fulus. Dengan
begitu, benarlah apa yang diteriakkan oleh Huey
Newton, pemimpin Black Panther, pada tahun 1960-an,
“Power to the people, for those who can afford it
(Kekuasaan diperuntukkan bagi siapa saja yang mampu
membayarnya).” 

Dalam tataran praktiknya, demokrasi juga menghasilkan
sejumlah kerumitan. Sejak berdirinya pada tahun 1776,
Amerika Serikat—sebagai kampiun demokrasi di
dunia—memerlukan waktu 11 tahun untuk menyusun
konstitusi, 89 tahun untuk menghapus perbudakan, 144
tahun untuk memberikan hak pilih kepada kaum wanita,
dan 188 tahun untuk menyusun draf konstitusi yang
“melindungi” seluruh warganegara (Strobe Talbott,
1997). Bahkan setelah ratusan tahun hingga hari ini,
demokrasi Amerika belum juga “rela” memberikan
kursi kepresidenan kepada seorang wanita. Padahal
demokrasi—katanya—menjunjung tinggi kesetaraan dan
memberikan hak politik yang sama kepada laki-laki
maupun perempuan. 

Anehnya, dengan perjalanan masa lalu yang demikian
kelabu serta masa kini yang penuh dengan ironi dan
kontradiksi, Amerika dengan pongahnya memberikan
kuliah tentang demokrasi—juga HAM—kepada
negara-negara berkembang yang mayoritasnya
negeri-negeri Islam. Lebih aneh lagi adalah para
pemuja demokrasi dan HAM dari kalangan Muslim, yang
tetap buta terhadap kebobrokan demokrasi serta menutup
mata terhadap kebejatan negara adikuasa AS sebagai
pengusung utamanya.

Benarlah Sir Winston Churchill (PM Inggris pada masa
PD-II) yang pernah mengatakan, “Demokrasi bukanlah
sistem yang baik; dia menyimpan kesalahan dalam
dirinya (built-in-error).” 

Wamâ tawfîqi illâ billâh.


      ________________________________________________________ 
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi 
Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/



******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke