Marxisme : Masihkah Relevan?
Dengan runtuhnya Tembok Berlin pada penghujung abad
XX, bipolarisasi kekuatan Barat dan Timur berakhir.
Politik hegemoni dua negara adikuasa terjungkal.
Orientasi ideologi disubstitusi oleh orientasi
persaingan ekonomi. Uni Soviet bubar sementara Amerika
Serikat menjadi hansip dunia. Runtuhnya imperium Uni
Soviet, Kebangkitan RRC menjadi negara kuat, Kuba dan
Korea tetap bertahan, Vietnam terobsesi menjadi negara
yang patut diperhitungkan, paling tidak di regional
ASEAN.
Dari fenomena tersebut muncul pertanyaan: Apakah
marxisme masih relevan dewasa ini?. Terhadap
pertanyaan ini jawabnya singkat dan pasti, yaitu
relevan. Dikatakan demikian karena pemikiran Marx,
terutama karya-karya awal, Marx muda yang
mempercakapkan alienasi dan humanisme merupakan
sumber rujukan bagi upaya untuk mengatasi disorientasi
humanitas dan kondisi akut anomali moralitas yang
semakin memprihatinkan dewasa ini. Marxisme masih
relevan bahkan penting untuk dipercakapkan terutama
dalam diskursus ilmiah. Dikatakan penting mengingat
pemikiran Marx sarat dengan filsafat kerja. Filsafat
kerja tersebut secara radikal membongkar harkat dan
martabat manusia sebagai mahluk alam. Berhadapan
dengan alam manusia sebagai mahluk serba utuh harus
bekerja. Melalui kerja sebagai mediasi manusia dengan
alam, manusia mengaktualisasikan segenap potensi,
bakat dan kemungkinannya. Kerja membedakan manusia
dengan binatang. Melalui kerja, segenap potensi dan
kemungkinan individu berkembang secara optimal. Frasa
filosofis ini sering terabaikan. Individuasi
berlangsung melalui kerja. Melalui kerja dunia dan
alam termanusiakan.
Kendatipun tidak beorientasi individualitas, namun
individuasi dan bukan individualisasi. Istilah ini
bukan dari Marx, akan tetapi dari saya sendiri (Pen)
selama ini terkaburkan dalam keseluruhan karya Marx.
Individuasi adalah suatu kekuatan tersembunyi
mengakibatkan marxisme relevan untuk dipercakapkan
dewasa ini. Dalam individuasi, individu dengan cahaya
kesadaran kelas terafirmasikan. Individu adalah sarang
kesadaran kelas dalam bingkai societal, inilah
humanisme. Individuasi dalam humanisme Marx
mengisyaratkan setiap orang menjadi dirinya menurut
syarat-syarat dan tuntutan sosietal. Setiap orang
menikmati kebebasan dan berpeluang untuk
mengaktualisasikan segenap potensi dan kemungkinan,
bakat dan berbagai kecenderungan lainnya secara
optimal. Individuasi sebagai 'mode eksistensi'
humanitas Marxisme mencerminkan keselarasan antara
individu dan masyarakat. Penampilan orientasi
individuasi ini terbuka untuk diperdebatkan, namun
dapat menjadi pemicu bagi reiniventisasi makna
tersembunyi dari marxisme. Analisa tentang manusia dan
interaksi dengan sesama tertuang dalam karya karya
awal Marx, terutama dalam Naskah-Naskah Paris. Hanya
saja, karena Marx selama ini dikaitkan dengan
manusia sebagai mahluk sosial, menyebabkan konsep ini
terabaikan. Individuasi yang menjadi kepedualian Marx
dan hubungannya dengan kerja menjadi relevan justru
karena kondisi humanitas dewasa ini, individu
dalam konteks sosial semakin kehilangan hakikatnya
sebagai manusia. Dalam individuasi manusia sebagai
mahluk sosial terafirmasikan. Dan hanya dalam
komunitas atau masyarakat, individu berkembang.
Gagasan Marx tentang kerja berkaitan dengan konsep
tentang alienasi. Istilah alienasi yang dipinjam dari
Hegel. Marx menggeserkan alienasi roh ke tataran
kehidupan kongkret dan bukan abstrak, dalam pengertian
dialektika roh Hegel. Selain alienasi manusia dari
kerja, Marx selanjutnya juga mengetengahkan alienasi
lain seperti alienasi sosial dan alienasi religius.
Pada Marx, konsep alienasi merupakan sumbangan
berharga bagi pemahaman kondisi masyarakat
posmodernitas dewasa ini.
Untuk menjawab relevansi Marxisme paska runtuhnya
imperium Uni Soviet, penting untuk membedakan
marxisme dengan Neo-Marxisme. Yang disebutkan
terakhir secara tegas mengutuk kediktatoran
Stalinisme. Validitas ajaran Marx tua pada umumnya dan
Marx muda pada khususnya, dalam kaitannya dengan
kapitalisme tua secara kritis dipertanyakan dan
diberikan tafsiran baru. Gagasan Marx awal tentang
alienasi, humanisme dibongkar dalam upaya untuk
memperoleh pola dan hukum hukum perkembangan
kapitalisme tua abad XX. George Luckack mengintrodusir
kesadaran sejarah, sedangkan Ernest Bloch menempatkan
utopi Marx justru sebagai kekuatan emansipatoris.
Mereka bersikukuh pada pendirian bahwa marxisme
sebagai metode tidak keliru. Kedua tokoh ini tak
pelak lagi dikenal sebagai pendahulu Mazhab
Frankfurt. Premis-premis filosofis Marx yang bertumpu
pada humanitas dijadikan sebagai dasar pencerahan
untuk memperoleh pola dan hukum perkembangan
masyarakat dalam system kapitalisme. Orientasi ini
selanjutnya menjadi perhatian Hoikheimer. Sementara
Gramcy mencurahkan perhatian pada dominasi dan
kekuasaan, Adorno pada seni dan estetika. Ardono
menafsirkan kembali gagasan-gagasan emansipatoris Marx
muda terutama tentang humanisme dan alienasi, serta
mensiasati transformasi watak eksploitatif
kapitalisme. Mereka terobsesi untuk mengaktualisasi
humanisme Marx demikian Jurgen Habermas, generasi
kedua mazhab Frankfurt memperkaya marxisme dengan
menampilkan komunikasi sebagai salah satu watak dasar
manusia. Melalui konglomerasi kerja dan komunikasi
suatu makna emansipatoris terpahamkan melalui dialog.
Dengan dialog, ia hendak menuntaskan aspirasi Marx
sekaligus mengakhiri eksploitasi kapitalis pada abad
modernitas dewasa ini.
Pada neo-marxisme dimensi psikoanalisa dan kebudayaan
dimasukkan ke dalam marxisme. Fetitisme yang
berpuncak pada orientasi konsumeristik menjadi
perhatian Adorno dan Marcuse. Berbagai dimensi
manusia dibongkar. Marx adalah filsuf dengan
gagasan-gagasan revolusioner, dekonstruktif dan
emansipatoris. Pemikiran Marx muda mengusung
premis-premis filosofis dan utopia sarat dengan
advokasi dan bermuatan proyektif emansipatoris ke masa
depan. Karl Korsch, tokoh Neo-Marxisme mengangkat
unsur utopi yang tersebar hampir di seluruh karya
Marx. Dikatakan bahwa utopi sebagai biang kerok
kegagalan perjuangan kelas justru merupakan kekuatan
dahsyat bagi antisipasi terhadap realisasi masyarakat
tanpa kelas. Atas orientasi utopi ini marxisme
membuka berbagai perspektif baru. Validitas Marxisme
justru terletak pada visi humanisme. Kegagalan Marx
dalam tingkat praxis bukan berarti kegagalan di
dataran teoritik. Hal senada diungkapkan oleh George
Luckack bahwa secara teoritis Marxisme tetap sahih.
Ditambahkan, Marxisme jangan dihakimi karena kegagalan
dalam implementasi. Ditegaskan bahwa secara teoritik,
episteme Marx tetap dijadikan acuan.
Gagasan-gagasan Marx, terutama karya-karya awal
menjadi landasan teori kritisisme Neo-Marxisme
diproyeksikan sebagai upaya untuk membongkar
eksploitasi permanen kapitalis tua sekaligus
melepaskan manusia dari eksploitasi manusia atas
manusia. Marxisme direinterpretasikan secara
kontekstual sesuai dengan perkembangan kapitalisme
tua. Marxisme diteropong melalui ancangan baru. Unsur
psikoanalisa dan kebudayaan, historisitas dikawinkan
dengan basis ekonomi Marxisme ortodoks. Dengan
demikian, relevansi marxisme terletak pada unsur
humanisme, alienasi dan filsafat kerja yang
diusungnya. Atas dasar asumsi ini, Marx menegaskan
bahwa komunisme adalah penghapusan hak milik,
alienasi diri manusia. Komunisme tidak lain adalah
kembalinya manusia kepada fitrahnya sebagai mahluk
sosial. Marx menegaskan bahwa: 'komunisme sebagaimana
suatu perkembangan penuh naturalisme adalah
humanisme', selanjutnya ditandaskan bahwa
'sebagaimana suatu perkembangan penuh humanisme
adalah naturalisme'. Dalam Thesis On Feuerbach,
dikatakan bahwa: 'Para filsuf selama ini sibuk
menafsirkan dunia, pada hal yang terpenting adalah
bagaimana mengubah dunia'. Filsafat harus bersifat
praxis, tidak untuk berpangku tangan melainkan
berfungsi terapheutik bagi terciptanya humanisme.
Dalam nubuat praxis ini, Marx menekankan bahwa
komunisme adalah resolusi definitif terhadap
antagonisme antara manusia dan alam, antara manusia
dan manusia, antara eksistensi dan esensi, antara
obyektifikasi dan afirmasi diri, antara kebebasan
dan nesesitas, antara individu dan spesis. Komunisme
adalah solusi bagi teka-teki sejarah dan pengetahuan
tentang dirinya sendiri, tertorehkan dalam Economic
and Philosophical Manuscript. 1). Magnus opus Ideologi
Jerman, Naskah-Naskah Paris, Grundrisse dan Das
Kapital merupakan polemik melawan Bruno Bouer, Max
Stirner, L. Feuerbach dan Hegelian Muda pada umumnya,
dan dengan Karl Grun dan Sosialisme Jerman pada
khususnya. Buku Jerman Ideologi memuat pandangan
materialisme-historis, teori transformasi
sosio-historis, dan teori-teori ilmu pengetahuan,
termasuk prinsip-prinsip moral humanisme. Posisi
normatif politik dikokohkan dalam advokasi komunisme
dan revolusi komunisme, visi humanisme dalam bentuk
kasar. Dikatakan bahwa komunisme memungkinkan
seseorang melakukan pekerjaan hari ini, dan yang
lain keesokan harinya, berburu di pagi hari,
memancing pada sore hari, mengembalakan ternak pada
siang hari, mengkritisi sehabis makan malam, tanpa
harus menjadi seorang pemburu, nelayan, pengembala
atau seorang kritikus. Citra manusia paripurna dalam
bingkai masyarakat tanpa kelas ini tertuangkan dalam
The German Ideology. 2).
Relevansi marxisme dewasa ini juga terletak pada
kondisi obyektif kapitalisme tua upaya sistematik
untuk mentransformasikan eksploitasi mereka ke dalam
sistem ekonomi global dewasa ini. Dalam pelanggengan
kekuasaan dan eksploitasi melalui transformasi dalam
globalisasi dewasa ini marxisme menjadi semakin
relevan. Persoalan akut kapitalisme bisa diteropong
melalui humanisme Marx. Marx menjadi mandul dan
kadaluwarsa tatkala meletakkan marxisme hanya pada
pandangan deterministik ekonomi. Gagasan Marx tentang
relasi sosial tidak melulu tergantung pada faktor
tunggal ekonomi-politik melainkan bagaimana ekonomi
saling mempengaruhi unsur-unsur lain. Dikatakan:
'tanpa naungan segenap relasi masyarakat. Bagaimana
sesungguhnya suatu formula logis tunggal dalam sekuen
waktu perkembangan menjelaskam struktur masyarakat,
dimana segenap relasi berkoeksistensi secara simultan
dan saling mendukung satu sama'. Althusser memberikan
interpretasi terhadap perdebatan kekuatan determistik
sub-struktur sebagai satu-satunya turbin penggerak
perkembangan masyarakat. Pertama, Marx mengusulkan
suatu pandangan masyarakat sebagai sesuatu relasi
independen kompleks ketimbang suatu pola sebab dan
akibat. Kedua, Ia menolak formula logis tunggal.
Althusser mengutip surat Engels kepada Ernest Bloch,
ditulis tahun 1890, Engels menandaskan bahwa basis
ekonomi 'menentukan', tetapi hanya 'dalam tahapan
akhir'. Lebih dari itu Marx dan Saya tidak pernah
menekankan, demikian Engels. Karena jika orang
mengkaitkan hal ini dengan mengatakan bahwa unsur
ekonomi satu-satunya faktor penentu, maka ia
mentransformasikan proposisi ini kedalam sesuatu tanpa
makna, ke dalam frasa abstrak dan kosong. Meyer dan
Althusser mengatakan bahwa relasi fungsional basis
ekonomi dianggap sebagai yang dominan, tetapi bukan
penentu eksklusif, yang ada adalah interaksi timbal
balik. Produksi melalui basis ekonomi saling
berkaitan dengan unsur lain dari kompleks sosial. 3)
Inter-relasi antar unsur dan bukan bertumpu pada basis
ekonomi sebagai satu satunya unsur penggerak
perkembangan masyarakat yang selama ini terlupakan
boleh memperkuat argumen bahwa marxisme masih relevan
dewasa ini. Fenomin post-modernisme dan dekonstruksi
terhadap logosentrisme, marxisme memberikan kontribusi
bukan saja pada epistemology, melainkan juga pada
tujuan praktis. Humanisme Marx yang tertuang dalam
Naskah-Naskah Paris sarat dengan humanisme, hakikat
kerja dan relasinya dengan manusia, keterasingan
manusia dalam masyarakat global dewasa ini serta
berbagai situs pemikiran Marx lainnya yang bersentuhan
dengan permasalahan akut manusia global dewasa ini.
Watak rakus dan eksploitatif kapitalisme semakin
canggih sesuai dengan perkembangan teknologi dalam
dunia maya dewasa ini dapat disasati melalui ancangan
marxisme.
Melalui pesan pesan emansipatoris marxisme yang sarat
dengan filsafat kerja, konsep alienasi dan nilai
humanisme lainnya, suatu proyeksi ke masa depan dengan
nuansa humanitas yang telah didesain semakin penting
dan bahkan mendesak untuk dicermati.
Catatan Kaki
1). Peffer R.G, Marxism, Morality, and Social
Justice. Princeton University 1990. Hal. 54-55.
2). Ibid.
3). Maguire J, Marx's Paris Writings. An analysis.
Gill and Macmillan, 1972.
(Mohon tanggapan dari rekan-rekan milis, untuk tulisan
lainnya silahkan kunjungi blog saya di
www.meontology.blogdrive.com)
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ
******************************************************
Milis Filsafat
Posting : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/filsafat/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/