SAKIT DAN MAUT
Setiap orang pasti akan sakit dan menghadapi maut. Apakah sakit dan apakah
maut itu? Hehehe
ah, saya tidak ingin menggurui anda, hanya sekadar untuk
sharing saja.
Fuad Hassan (kini sudah almarhum) menulis sebuah buku yang menarik, sehingg
saya membacanaya berulangkali. Judulnya Berkenalan Dengan Eksistensialisme.
Dalam buku ini, Fuad menulis tentang lima filsuf eksistensialisme, yaitu
Kierkegaard, Nietzsche, Berdyaev, Jaspers dan Sartre.
Karl Jaspers menyebutkan bahwa manusia selalu berada dalam situasionalitas,
atau situasi tertentu. Istilahnya situasi batas (grentzsituationen). Saya
kutipkan selengkapnya,Kita bisa menghindarkan diri dari suatu situasi; kita
bisa melarikan diri dari suatu situasi. Akan tetapi ini berarti bahwa kita akan
tiba pada situasi lainnya. Kenyataan bahwa kita ada sebagai manusia adalah
selalu ada-dalam-situasi tertentu yang tidak mungkin dihindari oleh manusia.
Manusia adalah manusia-dalam situasi. (Fuad Hassan, hal. 103)
Ada beberapa situasi batas, diantaranya penderitaan dan maut. Penderitaan di
sini bisa berupa sakit. Penderitaan ini (baca: sakit) adalah sesuatu yang harus
ditanggung sendiri dan tidak bisa dipertukarkan dengan orang lain.
Jadi kalau anda sakit, anda cuma bisa menjalaninya dan tak bisa menukarnya
dengan orang lain, sekalipun anda punya uang segunung, atau punya pasukan
pengamanan yang siap menggantikan. Hehehe
tulisan ini memang terinspirasi dari
sakitnya Eyang Soeharto.
Situasi batas yang paling final adalah maut. Fuad menulis,Maut melekat pada
eksistensi sebagai suatu situasi-batas yang tidak bisa dielakkan. Apakah
sebenarnya maut itu, kita tidak tahu. Yang pasti ialah bahwa maut akan
mengakhiri eksistensi pada suatu saat yang tidak bisa ditentukan sebelumnya.
Mors certa, hora incerta. Bahwa maut itu pasti, tidak akan mungkin kita
sangkal. Bila maut tiba dan apa sebenarnya maut, itulah yang pasti tak kkita
ketahui. Betapapun juga, maut adalah batas terakhir eksistensi. (Fuad
Hassan, hal. 104 105)
Sebagai pembanding, saya berikan juga pandangan Jean-Paul Sartre tentang maut
ini. Bagi Sartre, maut adalah sesuatu yang absurd. Maut tidak bisa ditunggu
saat tibanya, sekalipun bisa dipastikan akan tiba. (Fuad Hassan, hal. 130)
Ditambahkan oleh Sartre, bahwa maut juga tidak mempunyai makna apa-apa bagi
eksistensi sebab begitu maut tiba, eksistensi pun selesailah; dengan tibanya
maut eksistensi menjadi esensi. Dengan perkataan lain, bagi Sartre, maut
adalah sesuatu yang berada di luar eksistensi. (Fuad Hassan, hal. 131)
Soal maut ini, ada satu pertanyaan yang selalu menggantung dalam pikiran
saya. Kita sebagai manusia selalu datang dengan cara yang sama, melalui rahim
ibu setelah dikandung selama 9 bulan 10 hari. Tetapi mengapa kita selalu pergi
dengan cara yang berbeda-beda?
Ada yang meninggal dengan damai dan tenang di atas ranjangnya dalam keadaaan
tidur, ada yang setelah shalat, ada yang setelah bermain tennis, tetapi ada
juga yang mati ketabrak bus, terkena ledakan bom, terkena peluru nyasar, mati
di medan perang, dan lain-lain. Kenapa kita harus pergi dengan cara yang
berbeda-beda?
Saya sempat mendapat sebuah jawaban dari seorang pemerhati masalah-masalah
metafisika, Ibu Sita Soedjono yang tinggal di Ciawi, Bogor. Tetapi jawaban
tersebut, mungkin lebih baik disimpan saja untuk saya sendiri, saat ini.
Selebihnya kita hanya bisa percaya bahwa lahir, jodoh, rezeki dan mati ada
di tangan Tuhan. Walau kita juga tidak tahu, di tangan kiri atau di tangan
kanan-Nya. *** (16 Januari 2008, Urip Herdiman K.,
http://theurhekaproject.blogspot.com)
---------------------------------
Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.