MEMBACA RAMALAN   
  Di awal  tahun ini, atau setiap menjelang Imlek, selain membuat resolusi, apa 
yang menarik? Hahaha… Anda mungkin malu untuk mengakuinya. Melihat atau membaca 
ramalan diri Anda sendiri, yaitu nasib, karir, kesehatan dan percintaan serta 
hubungan pernikahan Anda.  Anda mungkin mencari majalah atau tabloid yang 
memuat ramalan, bisanya  astrologi ataupun kartu tarot dan feng shui yang 
semakin popular.  Atau juga menunggu acara ramalan di televisi, yang umumnya 
lebih global. 
  Lepas dari apakah Anda percaya atau tidak percaya, bagaimana seharusnya 
membaca dan mensikapi sebuah ramalan? 
  Sebuah ramalan dibuat dengan suatu metode tertentu dan memerlukan persyaratan 
atau kondisi-kondisi  tertentu untuk terlaksananya ramalan tersebut. Jika hal 
itu tidak ada atau tidak terpenuhi, maka ramalan itu tidak akan terjadi atau 
meleset. Juga  perlu batasan waktu, misalnya enam bulan atau setahun. Lewat 
dari batas waktu itu, maka ramalan itu memang tidak terjadi.
  Seseorang pergi ke ahli ramal, karena ia  lebih ingin mendengar apa yang ia 
mau dengar, dan tidak ingin  mendengar apa yang akan dikatakan sesungguhnya 
oleh  si peramal. Pendeknya, ia hanya mau mendengar yang menyenangkan hatinya, 
dan tidak mau yang lain, yang mungkin lebih mendekati peramalan sebenarnya. 
Sehingga seringkali  terjadi, ada informasi yang mungkin terlewatkan.
  Banyak orang yang mengaku tidak percaya pada ramalan, namun diam-diam 
mengintip ramalan yang berserakan di media-media cetak. Dan kadang-kadang minta 
dibacakan  secara pribadi ke ahlinya yang berpraktek. Tetapi ketika ramalan itu 
disampaikan, siapa yang akan tahu apakah ramalan itu diingat atau dilupakan 
oleh orang itu? Yang jelas, alam bawah sadarnya telah merekam ramalan terebut   
  Hal itu saya dapat dari pengalaman saya  bermain dengan pendulum sebagai 
media peramalan saya. Dan  untungnya saya tidak terlalu sukses sebagai peramal, 
mungkin karena saya  terlalu jujur, tidak bisa tipu-tipu sedikit biar manis.  
Padahal meramalkan juga perlu seni mengelabui perasaaan orang yang diramalkan. 
Hahaha…
  Ada satu kisah yang saya baca di Tabloid Detik periode pertama, sebelum 
dibredel oleh rezim Orde Baru,  menceritakan pertemuan Ali Sadikin dengan 
Permadi.  Ali Sadikin ( Gubernur DKI Jakarta 1966 – 1977), kesal pada Permadi, 
paranormal yang selalu berbaju hitam. Dahulu Permadi di awal tahun,  selalu 
membuat ramalan bahwa  Soeharto akan jatuh pada tahun itu juga. Nyatanya, 
bertahun-tahun Soeharto tidak jatuh-jatuh juga, hingga membuat Bang Ali kesal.  
  Suatu ketika Bang Ali bertemu Permadi dan seperti biasa, dengan 
meledak-ledak, ia bertanya pada Permadi. Apa jawab Permadi? “Suatu ramalan 
membutuhkan persyaratan dan kondisi tertentu untuk terjadi. Dan peluang untuk 
terjadi itu, 90% hampir pasti terjadi, karenanya you boleh percaya itu, 9% 
milik si peramal, dan 1% milik Tuhan,” kata Permadi.
  “Lho, kenapa Tuhan cuma 1%?” tanya Bang Ali yang terkejut.
  “Tuhan memang hanya dikasih 1%, tapi tanpa izin-Nya, semua tidak akan 
terjadi,” jawab Permadi tegas.
  “Lalu kenapa untuk si peramal harus 9% itu?” Bang Ali mengejar lagi.
  “Ya, karena si peramal perlu memikirkan jalan keluar kalau ramalannya tidak  
tepat,”  jawab Permadi cengengesan.
  “Hahaha…,”  tawa Bang Ali pun meledak. “ You cuma cari-cari alasan saja 
namanya.”
  Tetapi mereka berdua pun tertawa bersama-sama. Ini bukan karena Bang Ali yang 
orang Sunda itu tidak pernah bisa benar-benar marah, tetapi karena peramal pun 
masih manusia yang bisa salah.  *** (4 – 31 Januari 2008, Urip Herdiman K., 
http://theurhekaproject.blogspot.com) 

       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

Kirim email ke