TUHAN YANG JAUH, TUHAN YANG DEKAT
Kami sudah berusaha sebaik-baiknya, selebihnya kita serahkan saja kepada
Yang Di Atas, kata dokter memberi keterangan kepada keluarga pasien, sembari
jarinya menunjuk ke atas, ke arah langit.
Kalimat tersebut biasa kita dengar jika ada kerabat kita yang sakit, dan
rasanya sudah hampir semua yang mendengar memahaminya. Basi banget!
Tetapi siapa yang ada di atas? Atap rumah, kabel listrik, awan, burung atau
pesawatkah? Hehehe
Atau Tuhan? Ah, ya, pasti maksudnya Tuhan. Tetapi mengapa
harus ke atas? Apakah Tuhan memang jauh sekali dari kita, di tepi galaksi, di
jantung alam semesta atau entah di mana? Mengapa Ia harus jauh dari kita?
Apakah Ia sedang sembunyi dari kita, makhluk ciptaan-Nya yang bandel,
bengal, suka memberontak dan membangkang, tetapi lucu dan imut ini?
Kita selalu mengasumsikan Tuhan jauh di atas sana, dan jarang terpikir bahwa
mungkin Ia ada di dekat kita. Kalau Tuhan terasa begitu jauh, seharusnya Ia
juga bisa dekat dengan kita, di antara kita, bahkan mungkin di dalam diri kita.
Tuhan yang transenden, juga Tuhan yang imanen. Bukankah ada satu ayat dalam Al
Quran yang mengatakan bahwa Ia ada bahkan lebih dekat dari urat leher kita?
Tuhan gheeto looh
!
Jadi kalimatnya mungkin bisa seperti ini,Kami sudah berusaha sebaik-baiknya,
selebihnya kita serahkan saja kepada Yang Ada Di Dalam Diri Kita, kata dokter
sembari jarinya menunjuk ke arah dada.
Hehehe
Aneh ya? Atau janggal? Ah, mungkin karena kita belum terbiasa
mengucapkan dan mendengarnya. *** (19 24 Januari, Urip Herdiman K.,
http://theurhekaproject.blogspot.com)
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.